3 | Pembunuhan Berantai

1095 Words
Berita itu telah tersebar. Hanya dalam beberapa jam, media massa meliputnya. Para wartawan berdiri di depan gerbang sembari memasang wajah bingung, ada yang berharap jika mereka mendapatkan salah satu seorang siswa saja yang masih tersisa untuk dimintai wawancara. Sayangnya, sejak polisi mengamankan Dev, para siswa diimbau pulang terlebih dahulu, pintu gerbang ditutup rapat-rapat, seperti ingin menutupi kejadian barusan. Akio sudah berjalan beberapa ratus meter dari sekolah, dia masih memeras otaknya. Tidak ada bukti yang jelas jika pelakunya adalah Dev. Anak itu seperti sedang dijadikan kambing hitam lantaran polisi belum bisa menemukan pelakunya. Tidak mungkin Dev yang melakukannya. Toh, ruang ekstrakulikuler yang diikuti oleh Dev berada sangat jauh dari tempat kejadian perkara. Jika dihubungkan, selesai pesta liburan musim panas dan berkelahi dengan si korban, dia tidak akan sempat tepat waktu ke ruang ekstrakulikuler karena harus membunuh Grey terlebih dahulu. Kesaksian para kakak kelas pun mengatakan jika Dev sampai di kegiatan ekstrakulikuler tepat waktu. Lagi pula, pembunuhan ini terlihat membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga Dev benar-benar sudah memiliki alibi yang kuat. Bagaimana jika pelakunya adalah salah seorang guru? Mereka ada yang membenci Grey dan melakukan hal tersebut? Para polisi memeriksa absen guru, meliputi ruang cctv. Siapa yang berada di kantor guru pada saat kejadian perkara. Menurut Akio sendiri, saat Akio menemukannya di balik semak-semak belukar, tubuhnya masih sedikit hangat. Biru pucat kurang darahnya belum terlalu tua, jadi anak laki-laki berusia enam belas tahun itu berasumsi jika pembunuhan baru saja dilakukan, selepas pertemuan usai, yang hanya menyisakan anak-anak yang memiliki kegiatan ekstrakulikuler kecuali dia dan Mizuki. Besar kemungkinan, tersangkanya adalah seorang guru. Terlebih lagi, pelaku pandai sekali menutupi identitas dirinya. Siswa biasa tidak akan bisa melakukan hal tersebut. Hanya orang yang sudah profesional, barangkali. Dan semua deduksi itu menandakan bahwa Dev tidak bersalah, melainkan para orang dewasa. Katanya, setelah sesi interogasi ini, Dev akan dimasukkan ke dalam pusat rehabilitasi anak. Umur 16 tahun masih digolongkan sebagai anak-anak, dan jika benar Dev pelakunya, dia tidak akan dipenjara. Dia masih dilindungi oleh undang-undang tentang anak. Jika tersangkanya guru.... Siapa guru yang menjadi tersangkanya? Langkahnya semakin pelan, dia berjalan sambil memeras otak. Satu per satu kemungkinan dia jabarkan menjadi beberapa deduksi. Matanya mengerjap beberapa kali sesaat setelahnya suara ponselnya berdering, memecah lamunan dan kemungkinan-kemungkinan deduksinya yang rumit. Grup kelas. X: Menurutmu siapa pelakunya? Y: Dev? Z: Katanya dia tidak bersalah. Y: Lalu siapa? Z: Entahlah, tapi yang pasti menurutku bukan Dev. Pukul setengah lima sore tadi, dia sudah berada di ruang klub ekstrakulikuler bersamaku. X: Bagaimana jika dia membunuh terlebih dulu lalu bersama denganmu ke ruang klub ekstrakulikuler? Z: Tidak cukup waktu. Lagi pula, sejak keluar dari kelas setelah perkelahian itu dia sudah bersamaku menuju ruang ekstrakulikuler. X: Jika bukan Dev, jangan-jangan kakak kelas? Z: Tidak tahu, ya, soalnya aku tidak pernah melihat dia berurusan dengan kakak kelas. Y: Benar, Dev adalah lelaki yang pendiam, tidak pernah punya masalah dengan kakak kelas. Atau bahkan, anak itu tidak kenal dengan kakak kelas satu pun di sekolah kita saking kurang pergaulannya X: Padahal, di sekolah kita hanya memiliki siswa sedikit. Hm.... Setelah pesan terakhir X, tidak ada lagi yang membalas. Beberapa jam terakhir sejak pristiwa pembunuhan Grey, grup ramai membahas itu. Ada yang menduga-duga, bertukar pendapat, hingga ada pula yang secara terang-terangan menuduh individual. Padahal, grup biasanya sepi. Ramai hanya saat pembagian tugas sekolah saja. Akio menghela napas pelan, matanya menatap pesan terakhir yang dikirimkan oleh X, lantas memantapkan diri untuk menjawab dalam beberapa menit setelahnya. Jemarinya mengetik satu per satu huruf dan merangkainya menjadi beberapa kalimat yang bisa dibaca. Dua menit mengetik di bawah rimbunan pohon berdiameter sekitar satu meter, dia menyandarkan diri di sana. Hanya soal waktu saja jika dia menekan tombol kirim, maka pesannya benar-benar akan terkirim di grup dan dibaca oleh teman-teman sekelasnya. Kirim. Sedetik pesan itu terkirim. Dibaca oleh empat temannya yang saat itu online. Akio: Bagaimana jika pelakunya adalah seorang guru? Grup yang selama dua menit tadi sepi, kini mendadak ramai. Beberapa teman sekelasnya mengirim pesan untuk menanggapi Akio. A: Akio benar! Kenapa kita tidak menduganya sejak awal? Bukankah orang-orang dewasa lebih pandai membunuh, mengatur strategi pembunuhan, kemudian mereka bisa menghilangkan jejak secara sempurna? Z: Iya, mengapa kita tidak memikirkannya, ya? Bisa saja salah satu guru adalah pelakunya. Tapi, siapa yang kau curigai, Akio? Sebentar, Akio semakin menyandarkan diri di pohon. Dia menatap pesan di layar ponselnya dari Z, teman sebangku Dev. Dia menggeser layar persegi panjamg itu ke bawah, kembali mencermati pendapat teman-temannya. Saat ini dia buntu, dan hal yang bisa membuatnya membantu mencari jalan keluar adalah pendapat dari teman-temannya. Bercanda pun itu, Akio tetap akan merumuskan masalahnya. Ini seperti teka-teki, dan dia sangat menyukai hal-hal seperti ini. Dia yang biasanya hanya menerka alur cerita misteri, kini dia benar-benar harus memecahkan kasus antara hidup dan mati seseorang. Dan itu... sangat menyenangkan. Dia menyengir sebentar sangat antusias, kemudian mengetikkan beberapa pesan. Akio: Aku juga belum bisa menebaknya karena hampir semua guru memiliki alibi. Bagaimana denganmu, Z? Kau punya kandidat guru yang patut dicurigai? Z mengetik, beberapa siswa yang online ikut menimbrung bahasan yang sangat menarik ini, ingin mengetahui isi pikiran Z, siapa yang dijadikan tersangka di kalangan para guru. Z: Aku tidak bisa menjawab dengan pasti, karena aku pun tidak memiliki bukti yang konkret mengenai ini. Akan tetapi, aku pernah mendengar jika Sir Arthur sedang melakukan ritual pembasmian manusia tak suci dari muka bumi. Lalu, mengapa harus Grey? Memangnya sekotor apa Grey, atau paling tidak, anak itu memiliki masalah apa dengan Sir Arthur? Akio: Grey pernah membuat masalah dengan Sir Arthur? Kurasa Grey adalah anak penurut yang siapa pun guru pasti akan menyukainya. Y: Sir Arthur tidak menyukai semua muridnya. Terdengar helaan napas dari Akio. Helaan napas yang menandakan bahwa dia mulai lelah dengan permainan teka-teki ini, lalu dia ingin menyerah saja dengan masalah yang begitu rumit ini. Polisi sampai sekarang juga belum bisa melacak siapa pelakunya. Sesekali salah satu dari mereka menanyai Akio sebagai manusia pertama yang melihat kejadian itu. Besar kemungkinan, Sir Arthur adalah pelakunya. Akan tetapi, itu semua masih dugaan. Bisa saja Sir Arthur hanya membasmi manusia yang benar-benar dianggapnya hama masyarakat. Dia melirik jam yang melingkar di tangan kiri. Sudah pukul enam malam, dan pesan dari ibu terus-terusan masuk memenuhi notifikasi Akio. Dengan sedikit tergesa dia pulang. Selama perjalanan, batinnya tak luput dari dugaan-dugaan rumit yang harus dia pecahkan. Lalu saat hampir sampai di depan rumah, matanya menangkap sebuah pohon tetangga yang hanya diberi sekat tembok satu setengah meter dengan rumahnya. Anehnya, tidak seperti biasanya, dia menemukan sesuatu di sana. Ada jasad seorang gadis yang memakai seragam sama dengannya. Mayat Mizuki. Ditemukan menggantung. Apakah pelakunya sama? Jika iya, maka.... Ini pembunuhan berantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD