2 | Penangkapan Dugaan Terkuat

1169 Words
Dalam satu jam, sekolah swasta itu penuh dengan garis polisi. Polisi di mana-mana, menginvestigasi kasus itu selama dua jam ke depan. Suasananya pun semrawut, para guru yang tadi sedang mengerjakan tugas untuk ujian menjelang liburan musim panas pun terhenti. Sebagian panik, sebagian ketakutan, ada juga yang biasa saja. "Siapa dalang di balik pembunuhan ini?" Beberapa siswa bertanya-tanya. Ada yang disimpan pertanyaannya sendiri, ada pula yang secara blak-blakan bertanya kepada siswa lain, sambil mendiskusikan hal mengerikan itu. "Apa menurutmu pembunuhnya adalah salah satu dari siswa kita?" tanya orang lain lagi. Mereka adalah para kakak kelas yang pulang telat karena habis mengikuti ekstrakulikuler. Seorang siswa berumur sekitar tujuh belas tahun ikut menatap, mayat Grey dikelilingi oleh banyak petugas polisi. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara dengan sedikit sibuk. "Kurasa tidak. Jika pembunuhnya salah seorang dari siswa sekolah kita, mengapa kematiannya terasa sangat tragis? Seolah sudah direncanakan sebelumnya. Seorang siswa berusia enam belas atau tujuh belas tahun tidak sepiawai itu menggunakan belati untuk menikam perut sampai tiga kali." "Bisa saja dia tidak memakai belati?" "Dilihat dari luka tusukannya yang tidak begitu dalam dan besar, sudah pasti pelaku memakai belati." "Jadi, kau menduga jika pelakunya bukan dari kalangan siswa?" Siswa berambut cepak itu sedikit kecewa, padahal menurutnya pembunuhan yang dilakukan siswa kasusnya masih sangat sedikit. Dan itu sangat menarik. "Kurasa tidak. Untuk ukuran siswa, pembunuhan ini terlihat sangat keji. Biasanya, anak sekolah akan menikam korban hanta sampai pendarahan, lagi pula mereka hanya akan menusuk sekali. Kebanyakan para anak di bawah umur akan merasa ketakutan jika membunuh seseorang." "Bagaimana jika dua kali? Bagaimana jika pelaku itu memiliki penyakit mental? Lalu, bagaimana jika si pelaku sudah sering melakukan aksi pembunuhan?" Sir Arthur datang dari ruang kepala sekolah. Di depannya ada seorang lelaki tua gembul berkacamata, berjas warna biru tua dengan celana yang senada. Dia berjalan tergopoh mendekati keramaian. "Bagaimana jika pembunuhnya adalah salah seorang dari guru?" "Kau sedang mengira-ngira jika pembunuhnya adalah Sir Arthur?" tanya salah satu dari mereka dengan suara pelan. Bisik-bisik yang terlalu banyak malah membuat kebisingan bagi Akio. Lelaki itu cukup membuat kesimpulan jika Grey mati karena dibunuh oleh teman sekelasnya, Dev. "Bagaimana jika pembunuhnya adalah Dev? Anak sekelasnya yang baru saja mengajaknya berkelahi?" Berita itu sudah menyebar ternyata. Akio melirik mereka satu per satu. Tiga remaja yang sekarang ini berdiri di sampingnya, masih mengamati jasad Grey yang sedang ditangani oleh pihak kepolisian. Mulut mereka mengeluarkan argumen-argumen dugaan si pelaku. Mereka bahkan tahu lebih baik mengenai permasalahan ini dibanding Akio sendiri, sang teman sekelas. "Polisi bilang jika anak itu punya alibi." Akio mendengarkan sebentar, dia memasang telinga baik-baik untuk menguping pembicaraan mereka. Walaupun kejadiannya terhitung baru saja terjadi, tetapi orang-orang sudah mengetahui hal-hal penting seperti itu yang bahkan dia saja tidak tahu. "Saat itu dia sedang mengikuti ekstrakulikuler." Mata Akio mengerjap beberapa kali, dia sekilas menatap kembali kerumunan siswa yang mengelilingi garis polisi. Bisa saja, pembunuhnya adalah Dev. Motifnya sudah sangat jelas, yaitu kesal karena perdebatannya dengan Grey beberapa jam yang lalu. Akan tetapi, bukti apa yang mematahkan alibi Dev? Bagaimana jika anak lelaki itu sebelum pergi ke ruang ekstrakulikuler mengajak Grey bertemu, membunuhnya, lalu menyembunyikan jasadnya di semak-semak. Dia berpikir jika menyembunyikan di semak-semak tidak akan ketahuan—paling akan ketahuan setelah tiga hari, saat jasad Grey sudah membusuk. Sialnya, Akio lebih dulu menemukannya secara tidak sengaja. Akio menghela napas. Otaknya bekerja dengan sangat cepat, baru kali ini dia memeras otaknya sampai membuatnya meneteskan keringat di dahi. Biasanya, saat dia membaca novel misteri anak berumur enam belas tahun itu tak pernah mengeluarkan keringat. Ponselnya berbunyi. Dirogohnya saku seragam miliknya, lalu mulai membuka kunci layar benda persegi panjang yang sekarang menjadi benda terpenting di zaman ini itu. Tertera nama Mizuki di sana, sang ketua kelas. Sekaligus, cinta pertamanya. Dari: Mizuki Ada kasus pembunuhan? Grey mati dengan keadaan tak wajar? Menghela napas lagi, kali ini sedikit lelah. Beberapa kali dia didesak oleh siswa-siswa yang berada di sekelilingnya. Mereka sama-sama ingin melihat tontonan gratis yang menarik ini. Dengan susah payah, dia keluar dari siswa yang berdesak-desakan itu. Seragamnya berantakan. Baju yang semula dimasukkan kini keluar sendiri, rambutnya acak-acakan. Akio sudah seperti preman sekolahan saja. Padahal, biasanya, dia adalah siswa paling rapi di antara anak kelasnya. Matanya mengedar ke penjuru ruangan. Suasana masih diliputi ketakutan, rasa mencekam, lalu kemudian kengerian. Beberapa guru ada yang berteriak, "Ada pembunuh, ada pembunuh!" Salah seorang guru wanita dengan rambut dikuncir sedikit menenangkan. "SEKOLAH KITA INI SUDAH TIDAK AMAN, ADA PEMBUNUH! ADA PEMBUNUH! ADA PEMBUNUH DI ANTARA WARGA SEKOLAH!" Bagi siapa saja yang mengalami kejadian seperti ini, pasti menimbulkan trauma dan rasa takut untuk mendatangi sekolah. Apalagi Akio, anak kelas satu sekolah menengah atas yang menjadi orang pertama 'penemu' jasad temannya sendiri dengan keadaan mengenaskan. Tiga tusukan di perut, kepala yang berlumuran darah bekas dibenturkan di tembok, lalu wajah Grey yang berwarna biru pucat karena kekurangan darah. "AKU TIDAK INGIN PERGI KE SEKOLAH INI LAGI! AKU TIDAK INGIN MENGAJAR DI SINI LAGI!" Guru yang tadi berteriak, masih berteriak lagi. Beberapa guru menenangkan, termasuk guru wanita yang memiliki gaya rambut dikuncir tersebut. Ribut di mana-mana. Itu sudah pasti. Bayangkan tiba-tiba ada kasus pembunuhan secara tak wajar di sekolahmu. Pasti kau akan merasa ngeri juga, was-was jika nanti giliranmu yang menjadi korbannya, atau barangkali pelakunya adalah orang-orang yang kau kenal. Hidup penuh dengan kejutan. Banyak sekali sisi buruk manusia yang tidak pernah ditampakkan. Bisa saja dia adalah siswi cerdas, ramah, dan periang. Namun, memiliki sisi kelam suka menindas, senang dengan erangan kesakitan manusia dan minta tolong, bahkan gemar membunuh. Macam psikopat ulung yang memiliki kelainan mental. Selama dua detik matanya menyapu sekeliling sekolah dan hanya mendapati wajah-wajah para guru dan siswa yang takut, akhirnya Akio menemukan sebuah pohon besar dengan diameter sekitar satu meter di dekat tempat pembuangan sampah. Biasanya, itu adalah tempat favorit anak laki-laki nongkrong sembari bermain ponsel. Anak perempuan tidak ada yang mau nongkrong di sana, karena takut bau. Melangkahkan kaki, dia berjalan dengan sedikit tergesa. Dia tidak bisa membalas pesan Mizuki di bawah sinar matahari, karena menurutnya sinar oranye yang menyengat kulitnya itu sedikit merusak kontras ponselnya. Maka, dia membalas di tempat yang sedikit redup. Dia segera mengetikkan beberapa pesan, menekan tombol kirim, lalu hanya dalam sedetik pesan itu sudah terkirim. "AKU SUDAH BERKATA BERULANG KALI JIKA AKU TIDAK MEMBUNUHNYA! ATAS NAMA TUHAN JIKA AKU BERBOHONG!" Dev berterik, matanya mendelik sedikit merah. Sedangkan kedua tangannya terlihat bergerak dengan gemetar. Sepertinya, anak laki-laki itu takut. Pasalnya, kedua tangannya sudah diborgol oleh polisi dan digiring menuju mobil polisi. Hanya dalam beberapa detik, orang-orang yang tadi berkerumun pun membuat jalan untuk polisi dan juga Dev. Beberapa langkah, Dev sedikit memberontak. Akan tetapi, setelah memakan waktu sedikit lama, akhirnya polisi bisa mengamankannya. Hanya berkata, "Silakan ikut kami dulu ke kantor polisi, kami butuh penjelasanmu. Hanya meminta penjelasan." Dari jauh, Akio melihatnya. Melihat gerak bibir para polisi, sepertinya mereka berkata demikian untuk menenangkan Dev. Sembari menginvestigasi kasus pembunuhan Grey, mereka menginterogasi Dev, pelaku yang memiliki dugaan terkuat. Mata Akio menyipit sebentar. Tangan Dev gemetaran, wajahnya takut bukan kepalang. Bagaimana jika polisi salah... bagaimana jika pembunuhnya bukan dia, melainkan salah satu dari guru mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD