Aliza sama sekali tidak berniat untuk melawan kedua orangtuanya namun ia juga tidak mau kehilangan Arham untuk kedua kalinya.
Aliza dan Arham pergi ke tempat toko gadis itu. Mereka tidak tau harus ke mana lagi. Aliza sangat kasihan kepada Arham yang penuh dengan lebam akibat pukulan dari orangtuanya.
"Aku obatin ya."
Arham menahan tangan gadis itu untuk tidak mengobati luka pada bibirnya.
"Kenapa kamu lakuin itu Aliza?"
"Lakuin apa?" tanya Aliza.
"Kenapa kamu bilang sama Om dan Tante kalau kita udah pernah tidur berdua?"
"Hanya itu cara yang aku punya Arham. Aku mau supaya Mama dan Papa ku menerima kamu."
"Tapi bagaimana dengan ekspresi mereka tadi. Mereka terlihat kecewa mendengar ucapan kamu."
"Arham ... Kamu harus ingat satu hal, aku melakukan ini semua untuk kamu." Ucap Aliza berlinang air mata.
"Aku minta maaf sama kamu, Aliza. Kamu harus melawan orang tuamu karena aku."
"Enggak! Ini semua bukan karena salah kamu. Aku punya jalan hidup sendiri dan aku memilih kamu karena aku udah lama menantikan kesempatan ini." Aliza segera mengobati luka pada bagian bibir Arham. "Maafin Papa ya karena udah buat kamu luka-luka."
"Enggak apa-apa Aliza. Semua orang tua pasti melakukan hal yang sama demi kebahagiaan anaknya." Lirih Arham.
"Tapi aku nggak bahagia karena kamu dipukul sama Papa."
"Aliza ..."
"Eummm ..." Gadis itu terus fokus mengobati luka pada bibir Arham Malik Diningrat.
"Sebesar itukah rasa sayang kamu kepada ku? Sampai-sampai kamu melawan orang tua mu?"
Aliza menghentikan aktifitasnya, tatapannya begitu dalam keadaan Arham. "Arham ... Aku harap kamu nggak akan mengecewakan aku," ucap Aliza. "Aku mau kamu perjuangin aku dihadapan orang tuamu, seperti yang aku lakukan tadi."
Arham menghela napasnya sejenak. "Aliza. Kamu beneran udah siap menikah dengan ku?" tanyanya. "Walaupun orang tua kita nggak akan memberi restu?"
"Aku mau ... Aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamu sendiri yang bilang bahwa kita punya jalan hidup sendiri."
Arham menggenggam telapak tangan gadis itu. Dia pun beranjak dari sofa. "Ikut aku sekarang."
"Kemana?" tanya Aliza kebingungan. "Luka kamu harus diobati."
"Aku akan menikahi kamu hari ini."
"Ka-kamu serius?" tanya Aliza gugup.
"Aku nggak akan membuat perjuangan kamu sia-sia."
Air mata Aliza menetes, ia sangat kagum dengan pembuktian dari pria itu. Kali ini ia yang meraih telapak tangan Arham. Mereka bergegas pergi menuju suatu tempat.
[] [] []
Malam setelah sholat Maghrib, keluarga Diningrat sedang santai menyantap makanan. Hanya ada suara piring dan sendok yang saling bersahutan.
Arham Malik Diningrat pulang ke rumah mereka dengan status yang sudah berbeda. Laki-laki itu telah resmi menikahi Aliza Aurelia. Mereka melakukan pernikahan itu pada salah satu kantor urusan agama.
Arham tidak mau jika perjuangan Aliza mempertahankan hubungan mereka sia-sia. Itu sebabnya dia menyunting gadis berkerudung itu menjadi istrinya.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..." jawab ketiga orang tersebut.
Sendok yang di genggam oleh Sera tiba-tiba terjatuh ketika melihat seorang wanita yang membuat anaknya meninggal ada di dalam rumah itu.
"Kamu!!!"
Adhar dan Zaki langsung berdiri, tidak dengan Oma Inggit yang kaget seperti mereka.
"Arham! Apa-apaan ini?" tanya Adhar.
"Ngapain kamu ke sini, dasar wanita pembawa sial," ucap Sera.
Aliza takut melihat ekspresi wajah keluarga Arham, dia bersembunyi di belakang punggung laki-laki itu. "Aku takut," lirihnya.
Sekilas pasangan suami itu saling menatap, sebelum akhirnya Arham membuka suara. "Pa, Ma. Sekarang Aliza adalah istri Arham."
"Maksud kamu apa Arham?" tanya Sera. "Kamu jangan main-main sama Mama."
"Wanita yang Arham ingin nikahi memang Aliza, Ma."
Adhar mendekati anak laki-lakinya, dan.
Plak!
Satu tamparan ia layangkan di wajah Arham. Semuanya kaget ketika laki-laki mendapatkan tamparan tersebut.
"Kamu nggak ingat apa yang udah dia buat sama saudara kamu," ucap Adhar. "Kembaran kamu meninggal gara-gara dia Arham."
Sedangkan Aliza menangis dibelakang sana.
"Adhar, kamu sadar nggak untuk pertama kalinya kamu menampar Arham gara-gara dia menikah," ujar Oma Inggit yang juga menghampiri Arham.
"Aku sadar, Ma. Arham pantas mendapatkan itu. Dia udah melampaui batas dengan menikahi perempuan ini."
"Melampaui batas apa?" tanya Oma Inggit. "Memangnya dia salah melaksanakan ibadah pernikahan?"
"Tapi nggak sama perempuan ini, Ma. Dia yang merusak kebahagiaan kita beberapa tahun lalu," ungkap Sera.
Zaki tidak berucap, dia sama sekali tidak berpihak pada siapapun. Hanya saja luka yang ditoreh oleh Aliza memang masih ada bekasnya.
"Tapi dia itu kebahagiaan anak kalian. Apa kalian berdua nggak mau melihat Arham bahagia?"
"Kenapa Mama belaian anak ini. Jangan-jangan Mama setuju kalau Arham menikahi perempuan pembawa sial ini?" Situasi semakin panas membuat Sera emosi.
"Sera! Perempuan yang kamu bilang pembawa sial ini adalah istri dari anak kamu."
"Aku nggak sudi menjadikan dia sebagai menantu," ucap Sera.
"Mama kenapa malah baik sama dia?" tanya Adhar.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Oma Inggit. "Cucu ku ini tau apa yang dia mau. Kita nggak perlu ikut campur dalam perjalanan hidupnya untuk memilih pasangan."
"Oma tau kalau Arham akan menikahi Aliza?" tanya Zaki.
"Tau, dan Oma setuju dengan pilihan Arham."
"Oma kamu mungkin setuju Arham. Tapi enggak dengan Papa," ucapnya dan langsung berlalu pergi.
"Aliza," ucap Sera dengan tatapan tajamnya. "Irham meninggal gara-gara kamu."
Sera maju hendak menyerang Aliza namun ditahan oleh Oma Inggit dan juga Zaki.
"Kamu mau ngapain?"
"Aku benci dia, Ma. Dia lah yang menyebabkan cucu Mama meninggal."
"Ma, jangan. Jangan lakukan itu, Ma. Jangan kotori tangan Mama dengan melukai wanita itu." Ucap Zaki menahan pergerakan ibunya.
"Sadar Sera. Semua yang terjadi adalah takdir," ucap Oma Inggit.
Sera terus mencoba untuk lepas dari genggaman kedua orang itu. "Lepasin. Aku akan bunuh dia."
"Mama cukup. Aliza sekarang udah jadi istri Arham."
"Mama nggak peduli Arham."
"Sera, cukup. Jangan seperti ini," ujar Oma Inggit
Sera terlepas membuat Aliza semakin takut. Saat Sera hendak menarik jilbabnya ia pun menghindar. Arham tidak tinggal diam, ia memeluk istrinya berharap terlindungi dari serangan ibunya.
"Jangan, Ma. Dia istri Arham." Ucap Zaki.
"Mama nggak peduli. Salah Arham sendiri memilih dia."
"Aku takut," lirih Aliza dengan wajah yang basah karena tetesan air matanya.
"Oma, tahan Mama. Arham nggak mau Aliza kenapa-kenapa."
Oma Inggit menarik tubuh Sera karena wanita itu terus saja mencoba menyerang istri Arham.
"Sera, cukup!"
"Mama udah." Zaki pun masih mencoba untuk menenangkan ibunya.
"Aku mau dia rasain gimana sakitnya kita kehilangan Irham."
"Sera!"
Plak!
Wanita itu terdiam.
"Oma," lirih Arham dan Zaki.
"Mama kenapa nampar aku?" tanya Sera mengusap wajahnya yang terasa perih.
"Jangan rusak kebahagiaan anak mu sendiri. Kalau kamu menyesal nggak akan ada gunanya."
Oma Inggit berlalu pergi, ia bisa pastikan jika Sera tidak akan menyerang Aliza lagi. Kembali tatapan Sera mengarah kepada Aliza. Dia tersenyum miring menatap gadis itu.
"Kamu senang sekarang?" tanyanya. "Aku ditampar sama Mama gara-gara kamu."
"Maaf," ucap Aliza.
Sera berlalu pergi, ia sangat kesal pada gadis itu. Sudah bertahun-tahun lamanya masalah tersebut kembali datang.
"Lihat Arham, kamu bawa masalah ke rumah ini. Gara-gara kamu Oma menampar Mama." Ucap Zaki. "Masuk kamar sekarang. Bawa istri kamu ini."
Zaki cukup dewasa dalam menghadapi situasi, tetapi walaupun begitu masih ada rasa benci kepada Aliza saat mengingat Irham meninggal dunia karena bunuh diri akibat ulah gadis itu.