bc

Sampai Restu Berpihak

book_age16+
80
FOLLOW
1.0K
READ
family
HE
second chance
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Lima tahun yang lalu seorang wanita tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya. Dia memutuskan hubungan tersebut secara sebelah pihak tanpa memberikan alasan yang jelas membuat pihak laki-laki kebingungan.

Akibat kejadian itu, pada hari sakral tersebut mempelai pria shock hingga meninggal dunia membuat si wanita tidak bisa memaafkan dirinya sendiri sampai bertahun-tahun lamanya.

Tapi setelan lima tahun berselang, terungkaplah bahwa wanita itu dan saudara dari laki-laki yang telah meninggal ternyata saling mencintai. Hingga takdir membawa keduanya kembali pada keluarga yang pernah di kecewakan dulu.

chap-preview
Free preview
Satu
Setelah proses membangun perusahaan baru berhasil. Arham Malik Diningrat melakukan syukuran di tempat itu. Perusahaan yang ia bangun adalah impiannya bersama saudara kembarnya. "Aliza Aurelia," panggil seseorang berpakaian sangat rapi. Seorang wanita berkerudung membalikkan tubuhnya saat namanya dipanggil. Matanya membulat ketika berhadapan dengan seorang pria yang sudah lama tidak bertemu dengan dirinya. "Arham Malik Diningrat," balas wanita itu. Aliza tidak sengaja datang ke kantor Arham untuk mendekor bunga karena ada acara penting di tempat itu. Wanita berkerudung itu sama sekali tidak tau jika orderan bunganya kali ini datang dari keluarga yang bermasalah dengan keluarganya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Arham mendekati wanita itu. "Aku permisi." "Aliza!" Arham menghalangi jalan gadis itu saat Aliza hendak berlalu pergi. "Arham jangan ganggu aku. Aku nggak ada urusan lagi dengan keluarga kalian. Aku minta maaf atas kejadian itu." "Kamu apa kabar?" tanya Arham. "Jangan halangi jalanku, aku mau pergi." "Aliza!" Kembali Arham menutup jalan untuk wanita berkerudung itu. "Bagaimana kabar kamu?" "Alhamdulillah ... Aku baik." "Kenapa setelah kejadian itu kamu nggak pernah menemui keluarga kami untuk menjelaskan semuanya?" "Aku benar-benar menyesal. Karena aku, kamu kehilangan saudara mu." Mata Arham berkaca-kaca mengingat kembarannya yang meninggal dunia tepat di hari pernikahan saudaranya lima tahun yang lalu. "Mas! Arham! Zaki!" Seorang wanita berteriak di dalam kamar. Ketiganya segera menghampiri sumber suara yang berada dari dalam kamar pengantin pria. "Irham!!!" ucap ketiganya kaget melihat kondisi seorang pria tergeletak di lantai dengan sayatan di pergelangan tangannya. Sera menangis sejadi-jadinya, begitu juga dengan wanita berusia senja yang sudah memangku kepala cucunya dengan berlinang air mata. "Irham kenapa, Nak?" tanya Adhar. "Aliza ... Dia membatalkan pernikahan ini." "Batal gimana?" tanya Zaki. Sera mengambil ponsel Irham, dia memperlihatkan pesan singkat yang dikirim oleh calon pengantin wanita kepada anaknya. "Aku mau membatalkan pernikahan ini." Betapa kagetnya pihak keluarga mendapatkan pesan singkat dari wanita itu. Wanita yang seharusnya menjadi menantu mereka malah membuat malu di depan banyak orang. "Cepat bawa Irham ke rumah sakit." Ucap Oma Inggit. "Aku minta maaf." Lirih Aliza. Lamunan Arham terhenti mengingat kejadian itu. Perlahan dia menggelengkan kepalanya menatap Aliza. Kejadian lima tahun yang lalu tiba-tiba saja melintas dipikirannya saat bertemu dengan gadis itu. Karena ulah gadis di depannya ini, Arham dan keluarga harus kehilangan Irham. Laki-laki yang memiliki wajah mirip dengan Arham Malik Diningrat. "Aliza ... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." "Aku mau pulang sekarang. Aku nggak mau keluarga kamu tau kalau aku ada di sini." "Aliza—" "Arham," ucap Aliza menatap Arham. "Please ... Aku tersiksa selama beberapa tahun. Aku mohon jangan halangi aku pergi, aku takut berurusan dengan kalian." Aliza melangkahkan kakinya namun tidak sampai pergi karena Arham menyebutkan sesuatu kepada wanita itu. "Ada pesan dari Irham sebelum dia meninggal." Aliza berbalik badan. "Pesan?" tanyanya mengernyitkan dahi. "Aku tau kenapa kamu membatalkan pernikahan dengan Irham." "Kamu tau?" Arham sedikit menurunkan dagunya, bahkan ia tidak menatap kearah Aliza. "Maafin aku." Aliza meneteskan air matanya, dulu ia pikir Arham lah yang melamar dirinya. Laki-laki yang sudah lama ia cintai. Tetapi ia salah besar, ternyata kembaran dari Arham yang melamar dirinya. Hingga pada waktu itu tiba, Aliza membatalkan pernikahan tersebut karena tidak siap untuk hidup dengan orang yang tidak dicintai. Dan kisah itu berakhir dengan duka dengan meninggalnya Irham Malik Diningrat. "Aku akan melamar kamu." "Apa?" Aliza kaget mendengar ucapan pria itu. "Melamar?" "Aku tau kamu masih memendam perasaan dengan ku 'kan?" "Jangan terlalu percaya diri kamu, itu udah lama! Udah lima tahun yang lalu Arham." "Aliza ... Jangan membohongi perasaan kamu. Kalau kamu memang udah melupakan aku, kamu pasti udah menikah." "Aku belum menikah karena aku menyesal dengan perbuatanku kepada Irham," ucap Aliza. "Aku sampai nggak bisa memaafkan diriku sendiri karena kejadian itu." "Itu yang aku maksud, Aliza ... Aku mau kamu memenuhi pesan terakhir Irham supaya kamu bisa melupakan kesalahanmu itu." "Dia punya pesan untukku?" tanya Aliza memastikan. "Iya ... Dia ingin kamu tau bahwa tidak ada yang salah dalam hal ini. Semuanya karena sudah takdir yang di atur oleh Allah." Aliza terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Laki-laki di depannya ini sungguh membuat hatinya tidak karuan. "Irham mau melihat kamu bahagia." Aliza menatap lekat wajah Arham. "Dia mau kamu mendapatkan kebahagiaan itu dengan menikah bersama orang yang kamu cintai." "Maksud kamu apa?" "Irham mau aku menikahi kamu, itu permintaan dia sebelum meninggal." Aliza membulatkan matanya mendengar pengakuan dari Arham. "Aku nggak bisa, Arham. Itu nggak mungkin terjadi." "Kenapa nggak mungkin Aliza? Kamu mau terus-menerus seperti ini merasa bersalah kepada orang yang udah nggak ada?" Aliza terdiam, rasanya seperti mimpi. Bertemu dengan orang yang ia cintai dan dilamar secara mendadak. "Aliza—" "Bagaimana dengan kamu. Pasti kamu juga sudah memiliki perasaan kepada orang lain 'kan?" "Enggak ... Sebenarnya aku juga mencintai kamu. Tapi aku nggak mau merebut kebahagiaan saudara ku sendiri." "Kamu cinta sama aku?" Air mata Aliza terus saja menetes tanpa hentinya. Sejenak Arham memejamkan matanya. "Maafkan aku." "Lupain Arham! Kita nggak akan bisa bersatu." "Kamu Tuhan yang menentukan kita bersatu atau enggak?" tanya Arham. "Arham ... Kalaupun kita berhubungan. Aku nggak yakin jika orang tua kita akan merestui itu." "Aliza! Aku mengerti yang kamu maksud. Tapi aku nggak mau dibebani oleh permintaan Irham sebelum ia meninggal." "Aku harus pergi. Keluarga kamu udah datang." Aliza panik karena itu ia langsung bergegas pergi dari tempat sana. Arham Malik Diningrat menyambut kedatangan keluarganya. Sebisa mungkin ia harus bersikap lebih tenang agar pertemuannya dengan Aliza tidak diketahui oleh kedua orangtuanya. "Gimana, Ham? Semuanya udah selesai?" tanya Zaki, saudara kandung Arham. "Udah, Ki ... Kita tinggal menunggu tamu-tamu datang." "Wow, bunganya bagus," ucap Sera, ibunya Arham. "Bunga dari mana ini?" tanyanya. "Arham nggak tau, Ma." "Kamu nggak tau." Sera celingak-celinguk memperhatikan sekeliling mereka. "Mbak." Panggilnya. Seorang wanita datang menghampiri mereka semua. Dia adalah karyawan Aliza yang sedang mendekorasi bunga tersebut. "Mbak owner dari bunga ini?" "Bukan, Bu ... Saya hanya karyawan dari pemilik bunga ini." "Bunganya cantik, nama tokonya apa?" tanya Sera. "Aliza's Flower." Senyum Sera menghilang ketika mendengar nama tersebut. Mimik wajah dari keluarga lainnya juga datar ketika karyawan itu menyebutkan nama itu. "Terima kasih informasinya." Ucap Sera pelan. Karyawan itu kembali melanjutkan tugasnya untuk merapikan bunga-bunga yang sudah mereka bawa dari toko milik Aliza. "Setelah lima tahun nama wanita itu kembali terdengar," lirih Sera. "Kalau dia ada dihadapan ku. Aku akan mempermalukan dia seperti dia mempermalukan keluarga kita." "Udahlah Sera. Itu masalah udah berlalu. Lagian nggak mungkin juga dia orangnya," ucap Oma Inggit. "Aku nggak masalah sama pemilik bunga ini, Ma. Tapi aku benci mendengar nama itu." "Mama nggak perlu mikirin nama itu. Nanti yang ada Mama malah sakit lagi," ucap Zaki menenangkan ibunya. "Apakah kalian akan bertingkah seperti ini kalau kalian tau Aliza benar-benar pemilik bunga ini," batin Arham. "Sudah lah. Jangan sampai karena nama itu acara ini jadi terganggu," gumam Adhar. "Pa ... Arham mau ngomong sama Papa." "Ngomong apa?" tanya laki-laki yang sedang berdiri di samping Sera. "Bisa ikut Arham sebentar, Pa." Adhar mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Arham berkelakuan seperti ini membuat keluarganya merasa aneh. "Kayaknya serius banget." Zaki menahan senyumnya agar tidak terlihat. Arham melangkahkan kakinya menjauh dari orang-orang tersebut, dan diikuti oleh Adhar Malik Diningrat. "Arham kenapa, Ma?" tanya Zaki pada ibunya. "Nggak biasanya dia gitu." "Mama juga nggak tau ... Biarin ajalah, mungkin dia mau ngomong sesuatu sama Papa kamu." "Kalau kelakuan Arham seperti ini pasti ada yang ingin dia katakan." Timpal Oma Inggit. "Ya udah deh Ma, Oma ... Zaki mau keliling-keliling dulu, siapa tau ada yang membutuhkan kita." Oma Inggit dan Sera mengangguk perlahan, mereka menyaksikan kepergian Zaki menghampiri beberapa pekerja yang sedang menghias lobi gedung perusahaan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook