Acara berlangsung hingga malam hari. Acara itu dibuat untuk merayakan kesuksesan perusahaan Malik Company dengan berdirinya salah satu anak perusahaan yang akan dikelola oleh Arham Malik Diningrat.
Di acara tersebut banyak sekali tamu undangan dari berbagai perusahaan. Arham sebagai pemilik perusahaan baru banyak dikelilingi oleh para wanita dari berbagai kalangan.
Beberapa dari mereka juga berharap bisa menjadi istri dari Arham namun pria itu sama sekali tidak tertarik dengan siapapun. Dia tidak akan mengkhianati permintaan terakhir dari saudara kembarnya.
"Selamat datang semuanya," ucap Adhar yang sudah berdiri di podium menatap para tamu undangan.
"Saya ucapkan terima kasih banya karena sudah mau menghadiri acara kami ini."
"Saya sangat bangga kepada kedua anak saya karena sudah berhasil membangun perusahaan mereka sendiri."
"Di sini saya juga akan mengumumkan sesuatu kepada kalian semuanya."
Adhar tersenyum menatap satu persatu para tamu undangan.
"Anak saya yang bernama Arham Malik Diningrat akan segera menikah."
Zaki memperlihatkan gigi rapinya saat mendengar ungkapan dari orangtuanya. Begitu pun dengan Oma Inggit dan Sera juga ikut bahagia.
"Tapi anak saya ini penuh dengan teka-teki. Dia tidak bilang wanita mana yang akan ia lamar."
Arham Malik Diningrat tidak percaya jika Adhar akan mengumumkan rencananya itu di depan semua orang. Rasa khawatir dalam dirinya semakin tambah besar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kebahagian itu akan membuat kekacauan lagi dikemudian hari.
[] [] []
Keluarga Malik Diningrat sudah sampai di rumah saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Acara itu terlalu lama hingga memakan waktu berjam-jam.
Semua orang mulai lelah, Oma Inggit sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Saat Arham hendak melangkahkan kakinya pergi ke kamar, Sera malah menahan pergerakan anaknya itu.
"Ham."
"Iya, Ma."
"Duduk dulu ... Mama mau ngomong sama kamu."
Arham duduk di sofa, tepat di samping kedua orangtuanya. Tidak ada Zaki bersama mereka karena laki-laki itu juga sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu beneran mau nikah?"
"Iya, Ma ... Tadi Arham udah bilang sama Papa."
"Tapi dia nggak mau bilang siapa wanita yang berhasil merebut hatinya." Ungkap Adhar mencoba untuk menggoda anaknya.
Arham tersenyum simpul.
"Memangnya wanita itu siapa? Apa kami kenal dia?"
"Kenal," batin Arham. "Dia ... Dia baik, pakai hijab."
"Pakai hijab," ucap Sera penuh semangat. "Pasti cantik ... Tapi kenapa kamu nggak pernah bawa dia ke rumah?"
"Eummm ... Arham ngantuk, Ma. Arham mau tidur dulu. Besok 'kan harus kerja juga."
"Mama tau kamu malu 'kan membahas ini," ucap Sera. "Tapi ya udah, kamu tidur sana. Istirahat yang cukup."
Arham segera berlalu pergi dari hadapan kedua orangtuanya.
"Arham bilang dia mau menikah secepat mungkin."
Sera menatap suaminya. "Tapi kita 'kan nggak kenal sama perempuan itu, Mas."
"Itu yang aku maksud ... Kalau kita kenal dengan perempuan itu, kita bisa temui orangtuanya. Jadi Arham hanya perlu fokus pada kantor barunya dan kita bisa mengurus semua urusan pernikahannya."
"Memangnya Arham nggak kasih tau siapa perempuan itu?" tanya Sera memastikan . "Atau Mas juga sekongkol sama Arham buat merahasiakan semuanya"
"Ah, kamu ini ada-ada aja ... Arham 'kan memang gitu, mana mau dia cerita terlalu banyak tentang urusannya."
Adhar beranjak dari tempat duduknya, ia lebih dulu masuk ke dalam dan meninggalkan istrinya di luar.
"Ham, Ham ... Mama seneng kamu mau nikah, jadi permintaan Irham tidak perlu kamu turutin."
"Semoga wanita itu bisa membahagiakan kamu. Mama berharap kejadian beberapa tahun yang lalu tidak terjadi menimpa kamu."
[] [] []
Terlalu letih membuat Arham bangun kesiangan. Hingga ia harus buru-buru mandi dan segera bersiap-siap.
"Oma! Oma!" panggilnya.
Arham menuju meja makan. Ternyata wanita yang ia panggil Oma ada di sana sedang menikmati hidangan.
"Pagi, Oma."
"Pagi sayangnya, Oma."
"Papa sama Mama mana?"
"Mereka udah pergi ... Mama kamu sengaja nggak bangunin kamu karena dia tau kamu pasti capek."
"Zaki?" tanyanya.
Umurnya yang hanya beda satu tahun membuat Arham malah tidak memiliki panggilan khusus kepada kakak tertuanya itu.
"Dia juga udah pergi ke kantor." Jawab Oma Inggit.
"Eummm ... Kalau gitu Arham pergi dulu ya."
"Duduk dulu. Oma mau tanya sesuatu."
Arham Malik Diningrat sangat dekat dengan Oma Inggit, hingga wanita itu ia jadikan tempat curhatnya. Terkadang ia mungkin bisa membantah perkataan orangtuanya namun tidak dengan Omanya.
"Kenapa Oma? Mau jalan-jalan hari ini?" tanya Arham.
"Oma mau tanya kamu sedikit. Beneran kamu mau menikah?"
Sejenak Arham terdiam sebelum akhirnya dia menjawab. "Seperti yang Oma denger tadi malam."
"Siapa wanita yang berhasil mencuri hati cucu Oma ini?"
Arham kembali terdiam, ia tidak bisa menjawabnya.
"Kenapa kamu malah diam?"
"Oma, maafin Arham ya."
"Maaf buat apa?" tanya Oma Inggit heran.
"Sebenarnya wanita itu Oma pasti kenal."
"Oma kenal dia?" tanya Oma Inggit tersenyum lebar. "Bagus dong, jadi nggak perlu perkenalan lagi 'kan."
Arham menggenggam kedua tangan wanita itu. Dia menatap lekat wajah neneknya berharap apa yang ia katakan bisa diterima dengan baik.
"Arham harap Oma nggak akan marah sama pilihan Arham."
"Mana mungkin Oma marah. Pilihan Arham pasti yang terbaik buat Arham sendiri 'kan," ucap wanita itu.
"Tapi dia pernah buat kesalahan sama keluarga kita Oma."
"Maksud kamu apa?" tanya Oma Irma.
"Arham akan melaksanakan permintaan terakhir Irham."
Deg!
Genggam tangan mereka berdua terlepas begitu saja. Oma Inggit tidak percaya bahwa hati cucunya yang satu ini begitu tulus.
"Aliza's Flower. Jangan bilang itu memang dia?"
Arham menundukkan pandangannya. "Iya ... Kemaren dia ada di kantor, tapi dia langsung pulang saat Oma dan yang lainnya sudah sampai di kantor."
Oma Inggit menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Apa kamu yakin, Ham?"
"Arham yakin, Oma."
"Apa kamu dan dia sudah membicarakan ini sebelumnya?"
"Hari ini Arham akan ketemu sama dia. Arham yakin dia pasti mau melakukan permintaan terakhir Irham."
"Kenapa kamu sangat yakin, sayang?"
"Karena Arham dan dia saling mencintai."
"Mencintai." Oma Inggit mengernyitkan keningnya karena tidak percaya dengan ucapan cucunya itu. "Tapi dia udah pernah jadi calon istri Irham."
"Salah paham ... Oma harus tau, sebenarnya Aliza pikir yang melamarnya adalah Arham tapi ternyata bukan. Karena itulah dia belum siap dan membatalkan pernikahan secara sepihak. Membuat Irham—" Arham menghentikan perkataannya. Dia tidak sanggup mengatakan jika Irham meninggal karena ulah gadis yang ia cintai.
"Bagaimana dengan Mama sama Papa kamu. Kamu yakin mereka setuju?" tanya Oma Inggit.
"Arham nggak yakin Oma. Tapi Arham berhak memilih dengan siapa Arham menikah. Iya 'kan Oma?"
Oma Inggit mengusap kepala cucunya. "Menikahlah sayang. Mungkin kalian memang ditakdirkan untuk bersama dengan jalan yang menyakitkan."
"Oma setuju?"
"Irham udah nggak ada. Dan Oma harus bisa memberikan kebahagiaan buat kamu dan juga Zaki."
Air mata Arham menetes, ia dan Oma Inggit saling berpelukan satu sama lain. Laki-laki itu tidak percaya jika neneknya akan merestui hubungan itu. Walaupun terkesan aneh harus menikah dengan calon istri almarhum kembarannya.
"Jemput dia, Ham. Dia takdirmu."
"Makasih, Oma ... Oma adalah orang yang paling mengerti dengan Arham."