Pagi ini Arham Malik Diningrat tidak pergi ke kantornya. Setelah ia menghubungi orang kantor untuk bertanya tentang alamat toko Aliza's Flower, laki-laki itu segera bergegas menuju ke sana.
Aliza's Flower, toko itu tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil. Banyak bunga-bunga yang indah di sana. Arham merasa nyaman ketika berjalan di sekitaran bunga-bunga tersebut.
"Permisi, Pak."
Arham menoleh kearah wanita itu.
"Maaf, Pak ... Apa ada masalah di acara Malik Company kemaren. Sehingga Bapak langsung datang ke sini?"
"Tidak, Mbak. Acaranya berjalan dengan lancar."
"Terus Bapak ngapain ke sini?" tanya karyawan itu. "Ada perlu sesuatu?"
"Saya mau ketemu pemilik toko bunga ini. Apa dia ada di dalam?"
"Bu, Liza sedang keluar mengantarkan bunga pesanan orang."
"Sudah lama?"
"Lumayan lama, Pak," jawabnya. "Bapak mau pesan bunga?"
"Tidak ... Saya mau ketemu sama Bos kamu."
"Bapak bisa menunggu beliau dulu."
"Baiklah."
Arham duduk di kursi yang sudah tersedia untuk tamu. Dia berharap jika Aliza akan menerima rencana yang sudah ia susun dengan sangat rapi.
Setengah jam sudah berlalu ia menunggu gadis itu. Arham sudah mulai bosan, ia merasa tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu dengan Aliza Aurelia.
Saat dia hendak beranjak dari tempat duduknya, orang yang dia tunggu-tunggu mulai melangkah menuju masuk ke dalam gedung itu.
"Aliza."
Sambil membawa bunga lainnya, Aliza masuk ke dalam tokonya. Betapa kagetnya dia saat melihat Arham Malik Diningrat ada di hadapannya.
"Arham."
Pria itu semakin mendekat kearah Aliza. Gadis itu memandangi sekeliling mereka takut keluarga pria itu juga ikut ke sana.
"Aku mau ngomong sama kamu."
"Mau ngomong apa lagi, Ham? Aku nggak ada waktu." Aliza berlalu begitu saja tanpa menoleh kearah Arham.
Tetapi Arham tidak tinggal diam, ia terus saja menghampiri wanita itu walaupun sikap Aliza membuatnya kesal karena terus dihindari.
"Tolong Aliza. Apa kamu mau menyiksa diri kamu sendiri?" tanya Arham. "Kamu masih mencintai aku terus apa salahnya kalau kita menikah."
"Nggak semudah itu Arham. Kamu harus pikirin orang tua kita."
"Kita udah dewasa Aliza. Kita berhak menentukan pilihan kita sendiri."
"Tapi rencana mu itu bisa aja membuat masalah yang lalu kembali datang."
"Aliza ... Aku tau kamu masih nungguin aku karena aku juga begitu. Aku berharap sama Allah supaya bisa ketemu lagi sama kamu," ungkap Arham. "Dan setelah lima tahun kita ketemu lagi."
"Sekarang kamu pulang Arham! Aku sibuk!"
Aliza melangkahkan kakinya namun lengan bajunya di tarik oleh Arham. Hal itu membuat dirinya merasa tidak enak dihadapan beberapa karyawan.
"Apalagi?"
"Kamu sama sekali nggak mikirin aku?" tanya Arham.
"Arham. Aku nggak ada waktu untuk bahas semua ini."
"Aliza, aku—"
"Mama," ucap Aliza.
Wanita itu kaget saat orangtuanya tiba-tiba saja datang ketempat toko bunga. Dia tidak tau apa yang akan terjadi ketika Arham terlihat di sana. Aliza langsung menarik lengan Arham untuk membawa pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Eh, kok aku di dorong."
"Kamu masuk dulu, nanti Mama lihat kamu ada di sini."
"Biarin! Aku akan bilang sama Tante kalau kita mau nikah."
"Jangan sembarang kamu Arham. Itu sama aja kamu akan menimbulkan masalah lagi."
Aliza langsung mendorong tubuh Arham, dan mengunci laki-laki itu di dalam sana.
"Aliza."
"Mama."
Ajeng mengernyitkan dahinya. "Kamu kenapa kaget gitu?"
"Nggak apa-apa kok, Ma," ucap Aliza. "Ayo duduk dulu." Aliza membawa ibunya untuk duduk di luar.
"Kenapa nggak duduk di ruangan kamu aja sayang."
"Eummm ... Ruangan Liza lagi di renovasi," jawabnya berbohong.
"Renovasi? Mama denger nggak ada suara apa-apa di dalam sana."
"Pekerjanya belum datang, Ma. Tapi di dalam berantakan banget."
"Oh ... Kamu sibuk nggak?"
"Untuk sekarang nggak sih, Ma. Liza baru nganterin bunga tadi. Kenapa?" tanya Aliza.
"Temenin Mama belanja bahan masakan. Soalnya Papa kamu belum pulang."
"Boleh, Ma ... Sekarang?"
"Iya, sayang."
[] [] []
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Aliza baru saja selesai beres-beres di kamarnya. Aktifitas di luar sungguh melelahkan membuat dirinya harus banyak istirahat sekarang.
Wanita itu berbaring di sofa, ia tengah memikirkan kejadian yang beberapa hari ini mengganggu konsentrasinya untuk bekerja. Masa lalu kembali datang menghampiri perjalanan hidupnya. Rasa bersalah pada Irham kembali tumbuh saat bertemu dengan Arham.
Aliza pun tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya. Di tambah lagi dengan kedatangan orang yang ia cintai.
Ditengah Aliza sedang memikirkan semua kejadian masa lalunya, tiba-tiba ponsel Aliza berbunyi. Sedari tadi nomor itu terus saja mengganggunya namun Aliza mengabaikannya. Karena rasa penasaran kali ini ia pun menjawab panggilan dari seseorang itu.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..." jawab seorang pria dari seberang telepon sana. Napasnya tersengal-sengal seperti orang kecapekan.
"Siapa ya?" tanya Aliza penuh penasaran.
"Arham. Kamu di mana Aliza?" terdengar suara pria yang sedang bertanya dari benda pipih itu.
"Kamu mau apa lagi Arham? Aku belum bisa memikirkan itu."
"Aliza ... Ruangan kamu ini nggak ada AC ya. Aku kepanasan ini. Napas ku sesak. Tolong aku!"
"Nggak ada AC," ucap Aliza.
Plak!
Aliza menepuk jidatnya, ia baru sadar kalau Arham sedang terkunci di dalam ruangannya. Karena kesibukannya dengan Ibunya sendiri membuatnya lupa pada seorang pria yang sedang ia kunci.
"Kamu masih di sana?"
"Gimana aku mau keluar sedangkan pintunya kamu kunci. Mana udah malam lagi," ucap laki-laki itu terdengar sedikit kesal.
"Aku minta maaf, Arham."
"Cepat ke sini Aliza. Aku susah bernapas, ruangan kamu udah sempit nggak ada AC lagi."
"Aku ke sana sekarang."
Aliza bergegas pergi ke toko bunganya dan dia tidak sempat untuk berpamitan kepada kedua orangtuanya. Wanita itu merasa bersalah karena sudah membuat Arham terkunci hingga beberapa jam lamanya.
"Liza, Liza. Kenapa kamu ceroboh sih."
Wanita itu terus fokus untuk menyetir mobil. Ada rasa khawatir ketika Arham mengatakan bahwa dia susah bernapas. Aliza pun terkadang merasakan hal yang sama karena ruangan di toko bunga miliknya sendiri memang tidak terlalu besar.
Sepanjang perjalanan Aliza terus beristigfar. Tidak henti-hentinya mendoakan Arham agar laki-laki itu baik-baik saja.
[] [] []
Kondisi Arham sudah berantakan. Suasana panas seperti di sauna membuatnya ingin membuka baju.
"Panas banget," lirih Arham sambil membuka beberapa kancing bajunya.
"Aliza juga, masak dia lupa sama aku."
Arham sangat kesal namun dia tidak akan membenci gadis yang ia cintai. Arham hanya terbawa emosi dengan kejadian ini. Arham mengambil kertas yang ada di sana. Dia terus saja mengipas tubuhnya dengan lembaran kertas itu.
"Arghhh!!!"
"Aliza kenapa kamu menyiksa aku."
Arham mengacak-acak rambutnya, ia seperti kehilangan jati diri karena kondisinya benar-benar berantakan saat ini.
"Huuuh ..." Hembusan napas masih ia lakukan agar meredam emosi.