Empat

1253 Words
Tidak butuh waktu lama, Aliza sampai di tempat tersebut. Sebelum ia masuk wanita itu tengah berpikir sejenak. Dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak-tidak dikarenakan harus berduaan bersama laki-laki di dalam sana. Namun rasa cintanya yang belum hilang terhadap Arham membuat Aliza segera masuk untuk mengeluarkan laki-laki itu dari dalam ruangan yang memang tidak ada AC. Ceklek! Pintu terbuka, Aliza merasa canggung melihat keadaan Arham. Dengan beberapa kancing baju yang terbuka karena pria itu sudah merasa kepanasan. "Arham." Arham menghela napasnya. "Kamu lihat keadaanku sekarang, aku kepanasan di dalam. Berjam-jam aku di sana dan kamu sama sekali nggak mikirin aku?" Arham keluar dari dalam ruangan itu. Pria itu mengusap dadanya mencoba untuk mengambil udara bebas. "Aku minta maaf, aku lupa." "Nanti kalau udah jadi istri nggak boleh pelupa." "Siapa juga yang mau nikah sama kamu." "Jangan ngomong gitu ... Nanti kalau beneran aku nikah sama orang lain kamu nangis semalaman." "Apaan sih, nggak jelas banget." Timpal Aliza. "Kamu mau aku cium?" tanya Arham mendekati Aliza. "Arham jangan kurang ajar ya." Aliza memejamkan matanya karena takut dengan tatapan laki-laki itu. Beberapa detik lamanya tidak ada pergerakan apapun lagi. Aliza membuka mata dan melihat Arham sudah duduk di kursi. "Kamu kenapa?" "Napas ku sesak. Ini semua gara-gara kamu." "Aku beneran minta maaf sama kamu." "Sekarang kamu harus tanggung jawab." Ucap Arham yang kembali berdiri menghadap Aliza. "Tanggung jawab?" "Kamu udah kunciin aku di sini. Dari pagi sampai ma—" "Iya Arham! Aku 'kan udah minta maaf." "Nanti kalau udah nikah nggak boleh potong perkataan suami ya. Aku nggak suka." "Arham, ngapain sih bahas begituan. Sekarang aku udah buka pintunya, kamu boleh pulang." "Enak aja kamu ngusir aku. Kamu harus tanggung jawab." "Tanggung jawab apa lagi?" tanya gadis itu. "Temenin aku makan. Aku lapar." "Nggak mau." "Aliza, aku mohon ... Kita masih ada kesempatan buat perbaiki semuanya." "Aku udah kenyang, kamu makan sendiri." Aliza mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Tiba-tiba saja Arham merenggangkan kedua tangannya membuat Aliza memundurkan tubuhnya kebelakang. "Kamu mau ngapain?" tanya Aliza mulai panik. "Nggak ada orang di sini. Kalau kamu membantah, aku akan peluk kamu." "Arham. Kamu kenapa sih, aneh banget." "Aku nggak bercanda Aliza," ucap Arham tersenyum simpul. Kemudian ia semakin mendekati Aliza. "Oke, aku temenin ... Jangan jauh-jauh, di depan ada orang jualan." "Nah, gitu dong. Nanti kalau udah jadi istri, harus nurut seperti ini ya." Arham berlalu pergi, Aliza dengan wajah kesalnya mengikuti langkah pria itu dari belakang menatap punggung Arham Malik Diningrat. [] [] [] Tepat di depan toko bunga Aliza ada penjual nasi goreng yang selalu berjualan di sana. Mereka berdua pun akhirnya duduk di tempat itu. "Nak, Liza ... Mau makan apa?" tanya si penjual karena dia sudah akrab dengan wanita itu. "Bukan saya, Pak. Dia yang mau makan." Penjual nasi goreng pun menoleh kearah Arham. "Saya calon suaminya." Ucap Arham. "Arham!" "Apa sayang," ucap Arham dengan nada lembut. Aliza menyipitkan kedua matanya, ternyata laki-laki yang ia idam-idamkan ini sungguh jahil. Beberapa menit sudah berlalu, Arham masih sibuk dengan suapannya. Sedangkan Aliza sibuk sendiri dengan ponselnya. "Aliza!" "Kenapa lagi Arham?" "Aku di sini tapi kamu malah main hp." "Hubungannya aku main hp sama kamu apa?" "Ada ... Aku 'kan calon suami kamu. Kamu malah mengabaikan aku. Kamu harus perhatiin aku lagi makan. Lihatin aku sampai selesai dari pada main hp nggak jelas." "Arham. Sekali lagi kamu ngomong gitu aku beneran pulang." Ucap Aliza Aurelia memberikan ancaman. "Kalau kamu pulang. Aku ikut." Wanita itu memutar bola mata malas. Arham sungguh menyebalkan untuk saat ini. Acara makan malam pria itu selesai. Kini mereka sudah kembali berada di depan toko Aliza, tepatnya di samping mobil Aliza. "Aliza. Kamu beneran nggak mau nikah sama aku?" Aliza terdiam, itu bukan pertanyaan yang sangat mudah untuk di jawab. Karena dari dalam hatinya yang paling dalam ia masih mencintai laki-laki di depannya ini. "Diam kamu ku anggap mau," ucap Arham membuat dirinya di pandang Aliza. "Terus apa lagi yang kamu pikirin. Kamu sendiri masih mencintai aku." "Aku nggak tau Arham, aku bingung ... Pagar kita sekarang adalah orang tua mu dan orang tua ku." "Terus kenapa? Kita yang menjalani Aliza. Bukan mereka." "Aku mau pulang Arham, ini udah terlalu malam." Arham memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang. "Kamu hati-hati ya. Aku harap malam ini kamu meminta kepada Allah. Apakah aku masih layak untuk kamu atau enggak," lirih Arham. "Aku akan berdoa yang terbaik buat kamu. Supaya kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dibandingkan dengan aku." Aliza masuk ke dalam mobil. Arham mengusap air mata yang hendak jatuh. Dia sungguh menginginkan gadis itu. [] [] [[ Pagi harinya Arham baru keluar dari dalam kamar. Saat hendak duduk pertanyaan mulai keluar dari mulut Adhar. "Kemaren kamu kemana?" tanya laki-laki itu. "Nggak masuk kantor." "Tadi malam kamu pulang jam berapa?" tanya Oma Inggit. "Arham keluar, Pa." "Keluar? Sama siapa?" "Mama tau ... Anak Mama yang ganteng ini pasti keluar sama calon istrinya. Benarkan?" Tebak Sera. "Hmmm ... Zaki sepemikiran dengan Mama." Sambung laki-laki yang ada di samping Oma Inggit. "Ham, Ham ... Lebih baik kamu bawa dia ke rumah dari pada kamu ajak dia keluyuran. Nggak baik," lanjutnya. "Papa setuju dengan Zaki." Keluarga lain tersenyum simpul karena berhasil menggoda Arham, sedangkan Oma Inggit biasa saja, apalagi dia sudah tau siapa perempuan itu. "Arham ... Nggak baik keluar dari pagi sampai larut malam sama perempuan. Kalau kamu benar-benar udah siap, Papa sama Mama bisa pergi ke rumah mereka pagi ini," ucap Adhar. "Secepatnya, Pa ... Arham akan menikahi wanita itu." "Baguslah ... Mama udah nggak sabar timang cucu." timpal Sera. "Nungguin Abang kamu ini juga nggak tau kapan mau nikah." "Apa kalian akan menerima keturunan dari wanita itu?" batin Oma Inggit. Mereka melanjutkan makan pagi, hanya ada suara piring dan sendok yang saling bersahutan. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Arham sudah selesai makan tetapi dia belum pergi juga dari rumah itu. "Kamu nggak ke kantor?" "Eummm ... Arham ada urusan sebentar, Pa." "Urusan atau urusan," sahut Zaki. "Kemana lagi? Mau ketemu sama wanita itu?" tanya Sera. "Mama ikut dong." "Enggak, Ma. Arham mau ketemu sama temen." "Temen apa temen." Lagi-lagi Zaki memberikan godaan kecil pada adik kandungnya. "Zaki ... Lihat wajah Arham, dia sampai malu tau." Sera ikut menggoda anak laki-lakinya. Arham hanya memasang raut wajah biasa saja. "Papa nggak ke kantor?" tanyanya balik. "Ke kantor." Jawab Adhar. "Papa duluan ya." "Zaki ikut, Pa. Anterin Zaki ya." "Mobil kamu?" tanya Adhar. "Mobil Zaki lagi di bengkel." Ungkapnya. "Kenapa nggak sama Arham aja." "Arham 'kan udah bilang kalau Arham punya urusan sebentar. Nanti Zaki telat lagi." "Alasan," ucap pria itu. Akhirnya Zaki dan Adhar pergi berdua. Sedangkan Sera melakukan pekerjaan rumah seperti pada umumnya. Tinggal nenek dan cucu itu di dalam sana. Arham sedang menunggu omanya selesai makan. Karena pria itu hendak mengajak Oma Inggit bertemu dengan Aliza. "Kamu ngapain lihatin Oma? Katanya mau pergi." "Arham bohong, Oma." "Bohong? Nggak boleh gitu Arham. Nggak baik, Oma nggak suka." "Iya, Arham tau Oma." "Terus kamu mau kemana?" tanya Oma Inggit. "Arham mau ajak Oma ke suatu tempat." "Ke mana?" tanya wanita itu penasaran. "Ketemu Aliza," lirih pria itu. "Oma mau ikut?" "Tapi Mama kamu." "Arham ... Arham belum bisa mengatakan ini sama mereka, Oma. Arham harus pastikan kalau Aliza mau menikah dengan Arham." "Baiklah ... Oma cuma bisa berdoa yang terbaik buat kamu." Wanita tua itu semangat untuk bertemu dengan gadis yang hampir sempat menjadi menantu anaknya dulu. Mereka segera bersiap-siap untuk bergegas pergi ke Aliza's Flower. Arham masih kekeuh pada pendiriannya, ia akan menikahi gadis itu atas dasar permintaan almarhum kembarannya dan pastinya karena rasa cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD