Perjalanan menuju Aliza's Flower cukup memakan waktu yang lama. Walaupun seperti itu Arham tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Dia tidak mau kehilangan Aliza Aurelia untuk kesekian kalinya. Sebisa mungkin Arham Malik Diningrat akan membuat Aliza yakin bahwa dirinya sangat serius kepada wanita itu.
"Aliza's Flower."
Sekilas Oma Inggit membaca template yang ada di atas gedung itu. Sungguh indah banyak bunga-bunga berbagai macam jenis warna yang ada di sana.
"Ya ampun, laki satu ini keras kepala banget." Kesal Aliza.
Dari dalam gedung Aliza mengernyitkan keningnya saat melihat Arham kembali datang. Namun wanita berkerudung itu sama sekali tidak melihat ada orang lain lagi karena Oma Inggit terhalang oleh bunga-bunga.
"Ngapain sih dia ke sini lagi."
Aliza beranjak dari tempat duduknya, ia sedikit kesal ketika melihat Arham. Perlahan wanita itu melangkahkan kakinya menghampiri Arham. Hanya beberapa langkah saja Aliza berhenti ketika melihat wanita tua di samping Arham Malik Diningrat.
"Oma," lirihnya.
"Arham apaan sih, udah tenang malah cari masalah."
Aliza panik saat ini, ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Dalam pikirannya saat ini Arham sudah mendatangkan masalah yang sudah lama menghilang.
"Aliza!"
"O-oma."
"Oma? Kamu siapa berani memanggil saya dengan sebutan itu?" tanya Oma Inggit.
"Oma, Aliza minta maaf."
"Minta maaf kamu bilang? Setelah kamu membuat cucu saya meninggal?"
"Aliza beneran minta maaf Oma. Aliza akan jelasin semuanya sama Oma."
"Jelasin apa Aliza? Percuma, Irham udah meninggal gara-gara kamu."
Plak!
Aliza tersadar dari lamunannya, ternyata itu hanyalah halusinasinya saja. Sekarang Aliza tambah ketakutan ketika melihat Arham sudah berdiri di depannya dan juga ada Oma Inggit.
"A-Arham."
Arham hanya tersenyum menatap gadis pujaannya. Pandangan Aliza beralih kepada Oma Inggit. Raut wajah wanita itu sungguh datar tanpa ekspresi.
"O-oma," ucapnya dengan sangat gugup.
Aliza meraih tangan wanita itu, jantungnya seperti semula lagi ketika Oma Inggit menyambut baik telapak tangannya dengan senang hati. Perlahan Aliza mencium punggung tangan Oma Inggit. Setelah melepaskannya, ia tersenyum kepada wanita itu ketika Oma Inggit tersenyum kearahnya.
"Duduk dulu," ajak Aliza.
Aliza duduk di depan dua orang dari masa lalunya. Wanita itu menundukkan kepalanya karena takut memandangi wajah Oma Inggit.
"Ini toko kamu?"
Aliza semakin tenang ketika mendengar suara wanita itu. "I-iya, Oma."
"Kamu kenapa grogi?" tanya Oma Inggit.
Aliza terdiam.
"Malu lihat wajah calon suami?"
Mendengar pertanyaan dari Oma Inggit, Aliza memandang wanita tua itu. Dia bingung sendiri dengan pengucapan wanita di samping Arham Malik Diningrat.
"Calon suami? Maksud Oma?" tanyanya.
Sejenak Oma Inggit menghela napasnya. "Oma ke sini mau melamar kamu untuk cucuk kesayangan Oma," ucapnya menyentuh lengan Arham.
"Me-melamar?" Aliza masih bingung dengan semuanya, benarkah Oma Inggit tidak marah kepada dirinya.
"Kamu nggak kasian sama Arham. Dia bela-belain nggak masuk kerja hari ini karena dia mau ketemu sama kamu. Dia mau melamar kamu."
"Oma, Aliza minta maaf. Aliza nggak bisa."
Jawaban dari Aliza membuat raut wajah Arham datar. Ada rasa kecewa dalam dirinya ketika ditolak oleh gadis itu. "Nggak bisa kenapa lagi Aliza?" tanya Arham.
"Arham. Kamu juga tau alasannya. Terus kenapa kamu tetap mau menikahi aku?"
"Cinta! Aku cinta sama kamu. Aku yakin kamu juga seperti itu."
Aliza terdiam tanpa berkata lagi.
Oma Inggit beranjak dari tempat duduknya. Dia berpindah tempat duduk mendekati Aliza. Gadis berkerudung itu tidak mengerti ketika Oma Inggit menggenggam telapak tangannya.
"Aliza ... Apa kamu yakin tidak mau menikah dengan cucu Oma?"
"Oma. Aliza—"
"Jawab Aliza. Jangan banyak basa-basi."
"Aliza malu Oma. Aliza malu sama keluarga Diningrat, terutama Arham," lirihnya.
"Kenapa kamu malu sama aku?" tanya Arham. "Ini semua bukan salah kamu."
"Karena aku, kamu kehilangan saudaramu. Aku minta maaf."
"Aku—"
"Arham diam, jangan ngomong," ucap Oma Inggit memotong perkataan cucunya. "Kamu takut sama orangtuanya Arham?"
Aliza menatap wajah wanita tua itu, kemudian dia kembali menundukkan pandangannya.
"Semua yang terjadi itu adalah takdir sayang. Oma juga yakin kalau ini semua bukan kemauan kamu."
"Maafin Aliza, Oma. Aliza udah buat Oma kehilangan cucu."
"Ssst ... Kita semua tidak tau apa yang sedang direncakan oleh Allah. Tapi yang Oma tau sekarang. Kamu dan Arham saling mencintai."
"Oma," lirih Aliza. "Aliza nggak mungkin—"
"Jangan sampai kamu kehilangan kesempatan yang sudah ada Aliza. Kalau kamu menolak pinangan Arham, kamu akan kehilangan cucu Oma selamanya."
"Maksud Oma apa?" tanya Arham yang juga tidak mengerti dengan ucapan neneknya.
"Kamu tau maksud Oma, Arham. Anak dari teman orang tua mu."
"Arham udah bilang sama Papa, Arham nggak mau nikah sama dia. Kenapa nggak ada yang mengerti dengan Arham."
Aliza memandang Arham. Dia tidak percaya jika pria itu sudah dijodohkan.
"Papa 'kan juga udah tau kalau Arham punya calon sendiri."
"Tapi mereka nggak tau kalau calon kamu itu Aliza." Ucap Oma Inggit. "Kalau mereka tau dan Aliza juga menolak kamu ... Ya, terpaksa kamu harus menikah dengan wanita itu."
"Arham udah punya calon istri?"
"Nggak! Itu Papa yang mau, bukan aku," jawab Arham. "Aliza, aku mohon jangan siksa aku, aku nggak mau menikahi wanita itu."
Sejenak Aliza memejamkan matanya, dia juga tidak ingin Arham menikah dengan wanita lain. Perlahan dia pun memandang Oma Inggit.
"Oma."
"Kenapa sayang?"
"Bantu Aliza, Oma ... Bantu Aliza meyakinkan Om dan Tante." Ucapnya seketika. "Aliza, Aliza masih sayang sama Arham. Aliza nggak mau kehilangan Arham lagi setelah lima tahun berpisah."
Arham tersenyum dengan perkataan wanita itu.
"Kamu mau menikah dengan Arham?" tanya Oma Inggit.
"Bismillahirrahmanirrahim," batin Aliza. "Aliza siap, Oma."
Kedua orang itu tersenyum gembira. Arham terlihat sangat bahagia mendengar ucapan dari wanita tersebut. Dia tidak percaya jika Aliza akan luluh juga kepadanya.
[] [] []
Di kantornya Arham terlihat sangat bahagia, ekspresinya sungguh ceria. Bahkan para karyawan berbicara dibelakang karena bos mereka itu terlihat beda. Arham Malik Diningrat sangat bersemangat dalam bekerja. Suasana hati pria itu saat ini begitu sangat bahagia.
Ceklek!
Pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan Arham.
"Bos! Nanti jam tiga sore bos ada meeting di luar."
"Cancel," ucap Arham.
"Kenapa di batalkan Bos?"
"Saya ada urusan penting. Saya tidak bisa rapat untuk di jam itu. Atur waktu lain saja."
"Baik, Bos."
Wanita berambut sepundak itu keluar dari ruangan sana. Arham Malik Diningrat sudah punya rencana bahwa ia akan pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan masa lalu itu. Dia juga berharap agar pernikahannya dengan Aliza lancar seperti yang mereka berdua inginkan.