MENEMANI

748 Words
Rasa kepeduliannya, kepercayaannya, bahkan perhatiannya. Ternyata membuahkan satu luka yang tak kunjung sirna. *** Kepergian Erin membuat Kenzie kelabakan, hendak menyusul Erin tapi Tiara? Ah dia harus bagaimana? Meninggalkan Tiara sendirian di kantin atau mengejar Erin? Kenzie mengesah kesal, akhirnya dia memilih makan bersama Tiara terlebih dahulu lalu berencana menghampiri Erin. Ya, dengan begitu dia bisa tenang, meskipun janjinya pada Erin lagi-lagi terlupakan, setidaknya Kenzie berharap Erin akan selalu memakluminya, Erin pasti akan memaafkannya kali ini, begitulah pikirnya. Dan kini Erin berganti rok karena Tasya tiba-tiba membelikannya rok di koperasi, Erin duduk sambil meringis saat pahanya bergesekan dengan kain rok seragam barunya. Tasya menjadi merasa bersalah pada Erin. Tasya mengantar Erin ke uks untuk mengobati pahanya, pasti panas, Tasya takut paha Erin melepuh. Erin bergerak gelisah, bagaimana ini? Erin harus menahan rasa sakit di kulit pahanya tanpa kedua orang tuanya? Erin harus tidur di bawah dan membawa semua barang dari lantai atas? Erin menghela napas panjang membuat Tasya beranjak dan meraih tangan Erin. "Kak, saya, minta maaf ya. Tadi itu--" belum selesai Tasya meminta maaf, Erin sudah memotongnya. "Sstt! Santai, bukan salah lo, itu salah medusa k*****t s****n itu. Lo tenang aja, gue gak marah sama lo, dan lo, gue peringatin satu hal..." Tasya mendadak bungkam kala Erin menghadiahi tatapan serius dan menuntut itu. Tasya berpikir setelah ini pasti Erin akan-- "Kalo lo di ganggu Dona. Lawan, kalo perlu, nih. Lo tendang aja tulang keringnya, kayak gue tadi." Tasya melongo, perkataan Erin yang menggebu-gebu barusan menghentak keras perkiraannya. Erin, apakah kakak kelasnya ini tidak berniat memarahinya? Tidak berniat menuntut permintaan maafnya? "Emm kak..." "Ha?" "Boleh saya--" Erin mengangkat tangannya, mengisyaratkan bahwa Tasya harus menghentikan ucapannya. "Ah ya! Satu lagi, lo biasa aja sama gue, gak perlu pake saya, aku, atau kamu. Pake lo-gue aja, santai." Tansya mengangguk. "Bisa gue minta nomor lo, kak?" Erin mengernyit. "Buat apa?" tanyanya, bingung. "Siapa tau, kakak butuh bantuan ak- gue." Erin berpikir, memangnya Tasya membantunya apa? Menurunkan barangnya dari kamar atas ke kamar bawah nanti? Ah, buat apa? Kan ada Lisa dan Syiela, mereka kan... Erin menghentikan pikirannya, dia lupa bahwa Lisa dan Syiela tengah marah padanya. Erin lupa, tapi Erin juga tidak perlu bantuan Tasya, kan sudah ada Kenzie. "Kak." Erin mengerjap. "Ah?" "Mana ponsel lo? Gue, minta nomor lo, atau id line?" tanpa berpikir panjang Erin langsung memberikan ponselnya pada Tasya. Tasya mengetikkan nomor beserta id linenya. Erin pun mengendikkan bahunya acuh, sudahlah, siapa tau benar, nanti dia akan membutuhkan Tasya. Ya, siapa tau. Erin meminta Tasya mengambil tasnya di kelas, bukan karena dia manja atau apa. Hanya saja, Erin belum siap menampakkan diri di depan kedua temannya, Erin memilih diam. Semoga saja, dengan dia diam, kemarahan kedua temannya akan mereda dan hubungan mereka kembali baik seperti sediakala. Erin berjalan dengan perlahan, rasa panas meskipun pahanya sudah di beri salep teryata hal itu hanya memberi sedikit efek saja. Pahanya sampai sekarang masih terasa panas.  Erin menenteng skateboardnya, tiba-tiba di depan sana dia melihat Lisa dan Syiela bertengkar, entah apa yang mereka perdebatkan hal itu membuat Erin tanpa sadar mendekat. Saat Erin mendekat, keduanya menoleh, tanpa di duga keduanya langsung masuk ke dalam sebuah mobil yang Erin tau itu mobil Lisa, meninggalkannya. Erin tercenung sesaat, dia baru ingat kedua temannya pasti masih marah padanya. Erin menggerang frustasi. "Ah! Ini gimana dong? Susah banget sih, mau minta maaf!" serunya frustasi. Erin menghentakkan kakinya kesal hingga pahanya bergesekan dengan rok membuat rasa perih menjalar begitu saja. Erin berbalik, menemukan Kenzie dengan motornya, Erin mengangkat tangan, bersiap memangil Kenzie. Namun, suaranya tercekat di tenggorokan begitu saja saat Kenzie tersenyum dan merentangkan kedua tangannya kemudian gadisnya memeluknya. Ah ya! Kenzie bahkan melupakannya. Erin mendengus kuat-kuat. "Emang bener ya! Dasar! Setan! Kuda! Baj-- Astaga!" Erin terkejut kala suara klakson mobil nyaring memekakkan telinganya. Erin memutar kepalanya menatap mobil yang berhenti tepat di sampingnya kemudian kaca mobil bagian belakang turun. Melihat Tasya di dalam sana membuat Erin urung memaki-maki pengendara mobil yang berhenti di sebelahnya. "Mau bareng kak?" Tawar Tasya, namun Erin mengibaskan tangannya. "Ehh, nggak usah, Sya. Gue pulang bareng Kenz--" diam, Erin terdiam. Merasa janggal dengan Erin, Tasya keluarkan pandangannya melihat apa yang di pandang oleh Erin. Ternyata Kenzie, ya, Tasya tau Kenzie. Siapa yang tidak mengenal kakak kelas idaman bernama Kenzie itu. Tasya mengangguk mengerti atas diamnya Erin dan akhirnya Tasya keluar dari mobil. "Ayo deh kak, sekalian gue main ke rumah lo." Erin terkesiap saat Tasya memaksanya masuk ke dalam mobil. Erin heran, kenapa adik kelasnya ini mendadak sok dekat dengannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD