MENYEBALKAN

806 Words
Janji itu di buat untuk di tepati bukan untuk di khianati! *** Erin menghela napas panjang berulang kali, mengingat kejadian di kelas tadi membuat Erin tak enak hati. Erin menghela napas panjang lagi, sehingga suara yang familiar di dengarnya menginterupsi. "Kenapa, sih, lo?" Erin membuka matanya, dia tengah berada di rooftop sambil berbaring di atas kardus yang Erin gelar. Tidak ada sofa usang yang terletak di rooftop sekolahnya, tidak seperti di film-film ataupun di novel-novel. "Ngapain lo kesini?!" sarkas Erin. Kenzie membelalakkan matanya dan langsung duduk di sebelah Erin. "Lo, kenapa? Kesurupan? Kerasukan? Kesetanan?" tanyanya bertubi-tubi. Erin menepis tangan Kenzie yang menangkup pipinya, "Gara-gara lo!" tuduhnya. Erin beranjak namun Kenzie menarik pergelangan tanganya hingga Erin kembali duduk. "Sorry, gue tadi lupa ngasi kabar ke lo Kalo gue jemput Tiara." Erin menoleh ke arah Kenzie yang menunduk. "s****n ya lo! Gara-gara lo, gue telat, gara-gara lo, gue berantem sama Syiela sama Lisa!" murkanya. Kenzie menghela napas pasrah, dia tau apa yang Erin maksudkan. Kenzie tau Erin membolos pelajaran dari Syiela. Syiela mengiriminya pesan bahwa mereka bertiga tengah bertengkar. Syiela tidak dapat mengejar Erin karena Lisa menahannya, menganggap bahwa Erin yang salah. Padahal Syiela sadar, perbuatannya mendorong Erin tadi itu memicu pertengkaran terjadi. Kenzie merangkul Erin dari samping dan beralih memiting Erin membuat Erin berontak minta di lepaskan. "Lepasin, Ken! Kenzie, lepasin!" Kenzie masih terus memitingnya hingga Erin mengigit lengan Kenzie membuat Kenzie mau tidak mau melepaskan pitingannya dan mengelus bekas gigitan Erin. "s***s banget lo, Rin." adunya sok kesakitan. Erin membenahkan rambutnya yang berantakan. "Gue pergi, jangan ganggu gue dulu." Erin melongos pergi meninggalkan Kenzie, yang Erin dengar terakhir adalah Kenzie berteriak mengingatkan Erin dengan janji makan siang di kantin bersama nanti. Amarah Erin sedikit mereda mendengar hal tersebut. Saat Erin berada di depan pintu kelasnya, Erin berhenti, hendak masuk tapi takut di hukum. Hendak masuk tapi masih tak enak hati pada kedua temannya. Erin berbalik, sudah! Untuk hari ini biarkan tercatat di absensi alpa, Erin sedang dalam mood yang buruk! Biarkan kesepakatannya dengan kakeknya batal! Biarkan! Erin memutuskan untuk pergi ke kantin, menunggu bel istirahat. Sampai bel istirahat berbunyi, Erin tak melakukan sesuatu selain melamunkan cara untuk menjauhkan Tiara dan Kenzie, serta cara untuk berdamai dengan Lisa serta Syiela. Erin tersadar dari lamunannya saat mendengar tawa Kenzie masuk ke area kantin, buru-buru Erin mengangkat tangan kanannya untuk memanggil Kenzie, namun percuma. Di belakang Kenzie ternyata ada Tiara, Erin mendengus kesal, apa Kenzie akan mengajak Tiara makan bersamanya, makan bertiga begitu? Tapi ternyata, Kenzie tidak melihatnya, Kenzie duduk jauh dari bangkunya bersama pacar barunya, Tiara. Erin menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak menonjok Kenzie di tempat umum seperti ini. "Panas!" pekik Erin keras karena kuah bakso menyiram roknya. Itu berkat adik kelasnya yang tidak sengaja menumpahkan kuah panas. Adik kelas Erin itu jatuh ke mejanya, bersamaan mangkuk bakso yang jatuh di rok seragam Erin. Erin segera berdiri dan memekik setelah itu bunyi pecahan mangkuk beradu dengan lantai. Adik kelas yang terjatuh diatas meja Erin buru-buru bangkit dan meminta maaf. "Kak, saya minta maaf, tadi, tadi.. Tadi itu --" Erin menatap garang adik kelasnya, lalu beralih menatap kakak kelas sok kecantikan yang tadi sempat Erin lihat menyenggol adik kelas yang tengah bingung memohon maaf padanya. "Sinting!" Erin memekik dengan keras, membuat Dona dan ketiga anteknya itu menghentikan tawa kemenangannya. Dona menghampiri Erin dengan tampang sok beraninya, sayang, Erin tidak takut dan semakin gencar ingin menghajarnya. Kekuatan mood buruk benar-benar beda! "Apa lo bilang?!" Erin membusungkan dadanya, "Sinting! Lo, sinting! Paha gue panas, g****k!" kemarahan yang terpendam langsung menguak begitu saja. Kenzie, Kenzie yang tengah asik dengan suasana bahagianya bersama Tiara langsung mengalihkan pandangannya saat suara pekikan yang dia kenal menginterupsi kegiatannya mengoda Tiara. Kenzie diam sejenak lalu terdengar suara pecahan nyaring membuat Kenzie membelalak dan langsung berdiri. Kenzie baru saja teringat akan sesuatu. Dia melupakan janjinya makan siang dengan Erin! Dan sekarang Erin terlibat perkelahian, Kenzie langsung berlari menghampiri Erin. Sedangkan sebelum Kenzie melerai, Erin sudah naik pitam karena tamparan Dona. Erin segera menendang tulang kering Dona dengan sangat keras, antek-anteknya pun menjambak rambutnya. Tasya, adik kelas yang tak sengaja menumpahkan baksonya ke Erin langsung membantu Erin melawan, alhasil kedua antek Dona mengeroyoknya. Erin melihat sekilas dan langsung memelintir lengan satu antek Dona hingga dia meringkuk kesakitan. "Dasar oncom!" BUK BUK "AWHH!" Erin menendang tulang kering kedua antek Dona hingga mereka berdua melepaskan jambakannya pada Tasya. Erin mengibaskan roknya. "Lo nggak kenapa-napa, kan?" tanya Erin khawatir sambil memegang bahu Tasya. "Kakak gimana? Itu, kuah baksonya..." Erin menggeleng. "Ini mah panas banget, parah lo." terangnya dengan mata berkaca-kaca. "Rin," Erin menoleh, mendapati Kenzie dengan wajah khawatirnya. "Lo, nggak kenapa-napa?" Kenzie melepas jaketnya dan hendak melingkarkan di pinggul Erin tapi Erin menepisnya kasar. "s**l! Lo pergi aja sana! Makan noh, sama pacar baru lo!" Setelah itu, Erin menyempatkan menginjak kaki Dona dan meraih tangan Tasya, pergi dari kantin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD