TERCIPTA JARAK

881 Words
Semoga saja apa yang ku perbuat membuahkan hasil, semoga saja semua kembali. Kembali pada yang seharusnya. *** Erin mendengus kesal, pagi ini terasa sangat menyebalkan. Ini semua karena dia tertidur membuat Kenzie yang tadi malam ke rumahnya menjadi balik pulang. Kenzie tadinya hendak menginap tapi Erin tak lekas membukakan pintu karena tertidur pulas akibat kekenyangan. Erin menyibakkan selimutnya tapi sebelum beranjak dari kasur kesayangannya, bunyi notifikasi Line menghentikan Erin. Erin meraih malas benda pipih yang terletak di sebelah bantalnya dan membuka pesan tersebut. Lagi. Erin dibuat kesal karena pesan yang masuk membuatnya urung beranjak dari kamarnya dan berencana membolos sekolah. Pesan dari seseorang yang di beri amanah oleh kedua orang tuanya. Ken. Sorry, Rin. Gue gak bisa jemput lo. Gue mau jemput Tiara, sorry ya. Gue udah bilang bunda kalo gak bisa jemput lo. Trus kata bunda, lo boleh bawa motor bunda. Erin berteriak frustasi, mengapa bundanya memberi izin pada Kenzie untuk tidak menjemputnya?! Mengapa bunda tidak menghubungi Erin, mengapa harus Kenzie yang memberitahukan bahwa dirinya boleh mengendarai motor milik bundanya itu?! Ting! Notifikasi watsapp yang terdengar kali ini. Erin dengan kekesalannya mengusap ponselnya. Lisa. Lo nggak sekolah? Bu Andra ngabsen lo ini, gue disuruh chat lo. Kalo lo nggak masuk dan ada alasannya, bu Andra bisa ngabsen lo sakit atau ijin. Erin mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu melihat jam di layar ponselnya. 7.30, Erin membaca angka tersebut. Detik berikutnya Erin beranjak terburu-buru sambil berteriak meluapkan kekesalannya. Dia terlambat! Dan Kenzie baru mengirimkan pesan padanya. Kenzie s****n! Erin memutuskan berlari menuju sekolahan karena jika menaiki skateboardnya, dia akan semakin terlambat melihat betapa banyak pejalan kaki di trotoar. Alhasil, Erin mengendong skateboardnya sambil berlari sekuat tenaga. Tidak sarapan, tidak mengerjakan tugas, tidak membereskan kamarnya, tidak mengenakan sepatu yang selaras, tidak menyisir rambut. Itulah yang Erin lupakan karena terburu-buru. Dia tidak mau mencetak Alpa di absensinya, tidak untuk sekarang karena ingin mendapatkan uang yang di janjikan kakeknya jika selama semester satu tidak mencetak alpa satupun. Erin memacu langkah kakinya semakin cepat hingga tak terasa dia sudah sampai di depan pagar. Erin masuk dengan menunduk karena pak Marno sedang bertugas di pos bersama guru bk jahat yang sedang mewejangi murid-murid yang terlambat. Murid sebanyak lima belas orang itu langsung bernapas lega karena kedatangan Erin menghentikan ocehan panjang lebar selama setengah jam yang terdengar begitu nyaring dan membosankan. Kedatangan Erin langsung membuat mereka bersorak senang karena berkat Erin mereka bisa bebas dari ocehan pak Tono Suratman, yang mereka pikir tidak ada faedahnya karena berisi curahan hatinya dan kenangan hidupnya. Erin yang sempat beradu argumen dengan pak Tono mendengus kesal dan memilih menuruti perkataan guru tersebut untuk menyapu halaman. Saat sibuk menyapu halaman, sebuah tepukan mendarat di bahunya. "Thank's. Karena lo, gue, sama yang lainnya bisa bebas dari ocehannya pak Tono." Erin hanya berdeham pelan sambil sibuk menyapu dedaunan membalas ucapan Lia, teman ekstrakulikulernya. Erin membuka pintu kelas dengan kasar hingga suara bedebam terdengar sehingga penghuni kelas yang ada terkejut bahkan Billa yang sedang memoles lipstik dibibirnya langsung melenceng dari yang di kehendakinya. Erin membawa aura hitam berbagai sisi ketika memasuki ruangan kelasnya, untung saja tidak ada guru pengajar, jika tidak habis sudah Erin di hukum kembali. Semua tidak ada yang berani mengajukan protes melihat Erin dengan wajah garang dan gejolak kemarahannya. Erin duduk di kursi dan langsung membenamkan kepalanya di lipatan lenganya. Hari ini moodnya benar-benar rusak! Lisa dan Syiela menghampiri Erin di bangkunya. Mereka berdiri di samping Erin. Erin masih saja memejamkan matanya dengan menahan seluruh sumpah serapahnya. "Rin." panggil Lisa. Panggilan Lisa Erin abaikan, Erin tak mau meluapkan kekesalannya pada Lisa maupun Syiela, hingga dengan sangat terpaksa Erin harus membentak Syiela karena Syiela mendorongnya sampai terhuyung ke samping, menabrak tubuh Danco, teman duduk Erin. Sentakan yang di hadiahkan Erin pada Syiela membuat perhatian seluruh kelas mengarah pada keduanya. Semua terkejut sama seperti Syiela. Lisa pun juga tak kalah terkejut, ini pertama kalinya Erin bersikap seperti ini, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Erin menghela napas berulang kali, dia telah meluapkannya pada Syiela yang kini terlihat gemetaran dan berkaca-kaca. Bahkan Lisa kini menatapnya dengan... Ah, Erin tidak bisa mengartikannya. Erin ingin meminta maaf tapi Lisa sudah berdiri, menarik Syiela ke belakang tubuhnya. "Lo kenapa? Kenapa lo sampe bentak Syiela?" Erin hendak bersuara, menjawab ucapan Lisa namun Lisa dengan cepat memotongnya. "Kalo lo ada masalah, bisa kan baik-baik ngomongnya?! Jangan pakai bentak segala! Kita ini temen lo!" Erin menunduk sejenak, berusaha mengontrol emosinya, entah mengapa hari ini benar-benar menjengkelkan. "Gue minta maaf." lirihnya. Namun, sepertinya Lisa sedang tidak menyadari keadaan mood Erin, Lisa terbawa emosi karena baru melihat Erin seperti ini. Sekedar info bahwa ketiga cewek yang tengah bermasalah itu baru saja menjalin pertemanan selama satu tahun. Lisa berdecih, "Kalo minta maaf tuh yang bener. Lo salah, lo harus tatap Syiela, minta maaf ke dia, bukan gue. Asal lo tau, semenjak lo liat Kenzie--" "Stop!" pungkas Erin dengan mata berkilat-kilat menatap Lisa membuat Lisa sedikit mundur, takut akan tatapan yang Erin berikan. "Oke! Syiela, gue minta maaf, gue gak sengaja bentak lo!" Erin beralih menatap Lisa. "Asal kalian berdua tau, gue hari ini lagi nggak mood, gue gak bisa kontrol emosi. Dan asal lo tau, Lisa. Jangan pernah lo nyingung tentang Kenzie, ngerti?!" ungkap Erin marah. Erin langsung keluar kelas mengabaikan teriakan Lisa, bahkan guru pengajar yang kembali kedalam kelas, Erin mengabaikan ancaman guru tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD