Kebahagiaannya dimulai, kesabaranku pun ikut mulai diuji.
***
Kenzie berjalan bersandingan dengan Erin yang terlihat memberengut sendiri tadi, bahkan Kenzie yang asik bercerita pun hanya dibalas Erin dengan tiga kata pendek. "Ha?","Oh.", "Hmm."
Erin menunduk, menatap ujung kakinya dan mengesah kecewa beberapa kali. Kenzie sangat antusias menceritakan keberhasilannya menembak Tiara, Kenzie tidak tahu bahwa Kenzie telah menyakiti hatinya.
Kenzie tak tahu, seberapa besar usahanya menyabarkan hati yang tersakiti.
"Gue tadi ya! Gilaaaa!!! Awalnya gue takut ditolak. Dan ternyata, Tiara mau nerima gue, a***y!!!! Parah, seneng bangt gue, Rin." ungkapnya berjalan mundur karena berdiri tepat di depan Erin.
Erin mengangguk lemas. "Hmm."
Kenzie menghentikan langkahnya membuat Erin otomatis ikut berhenti dan mendongak pelan menatap Kenzie malas.
"Lo, kenapa?" tanyanya.
"Ha? Apanya yang apa? Kenapa?"
Kenzie mendengus, lalu mendorong kening Erin dengan telunjuknya. "Gue tanya, malah tanya balik." sebalnya.
Erin mengusap dahinya. "Gara-gara lo!" tuduhnya.
Kenzie yang tak tau mengapa Erin menyalahkannya mengernyit dan mengejar Erin yang sudah melangkah cepat didepannya. Setelah berhasil mengejar Erin, segera Kenzie menarik pergelangan tangan Erin sehingga Erin terpaksa membalik badannya menghadap tepat didepan Kenzie.
"Lo kenapa, sih?"
Erin tersenyum kecut. "Lo lupa janji lo hari ini." ungkapnya terus terang.
Kenzie terdiam, terlihat berpikir, janji? Janji apa yang dia lupakan?
Tau bahwa Kenzie benar-benar sangat melupakan janjinya, Erin tersenyum miris, mulai hari ini. Pasti Kenzie akan menciptakan jarak, ya, jarak yang akan menyiksa Erin.
"Makan di kantin, bareng gue, traktir gue."
Kenzie langsung teringat dan menjentikkan jarinya. "Ah! Itu! Sorry, gue tadi udah janji mau nemenin Tiara gue kan baru aja pacaran tuh... Jadiii... Lo maafin gue kan?" renggek Kenzie.
Tiara lagi! "Tapi lo kan janji duluan ke gue."
Kenzie memeluk lengan Erin dan menggoyangkannya. "Erinnn... Sorry dong... Besok deh, besok gue traktir, janji." melihat dan mendengar rengekan Kenzie membuat Erin menghela napas panjang, dan pada akhirnya Erin mengangguk. Memilih memaafkan Kenzie.
Mereka kembali berjalan, Erin memutuskan untuk diam, dia sedang malas menanggapi cerita Kenzie, yang selalu membahas kekasih barunya.
Sampai di rumah buru-buru Erin berganti pakaian, makan dan mandi.
Setelah selesai dia merebahkan diri di sofa ruang tamu bersama ponsel yang dia genggam. Erin membuka google, mengetikkan sesuatu yang mungkin akan membantunya mengatasi masalah yang ada. Masalah yang harus di tuntas dengan cepat. Masalah mengenai hubungan Kenzie dan Tiara.
Cara membuat sepasang kekasih menjauh.
"Nggak, nggak. Kalo cuman jauhan kan, bisa baikan." Erin menghapus ketikannya dan kembali mengetikkan sesuatu yang dianggapnya benar.
Cara membuat hubungan pacaran langsung putus seketika.
Erin memilih beberapa blog yang ada untuk dibaca sebagai referensi setelah merasa mendapat masukan, dia langsung mengetikkan sesuatu kembali.
Model cewek yang dibenci cowok.
Erin membaca salah satu blog dan membayangkan bagaimana kesesuaian antara apa yang tertera di dalam blog tersebut dengan Tiara.
"Gemuk," Erin menerawang, sepertinya Tiara tak gemuk, bahkan bisa dibilang langsing, atau body goals? Erin menggelengkan kepalanya, menampis bayangan itu.
"Jelek," Erin membayangkan apakah wajah Tiara jelek, tapi yang terlintas adalah sebuah fakta, dimana Tiara itu tidak jelek-jelek amat.
Erin kembali menscroll ke bawah berharap ada yang tepat untuk rencananya. "Badannya bau?" Erin menggeleng, tidak! Itu tidak cukup kuat! "Tidak memiliki fashion yang baik?"
Erin berpikir keras, membayangkan gaya berpakaian Tiara, setelah dirasa tidak ada yang tepat, Erin langsung melempar ponselnya ke meja dan mengacak rambutnya frustasi.
"Ahhh!!! Ngapain sih gue gini juga?!"
"Apanya yang gini?" Erin langsung diam, tak bergerak. Lalu ekor matanya melirik ke belakang kepalanya bersandar ternyata itu Ayahnya.
"Ehh, ayah. Kenapa, Yah?"
Ayah menyondorkan enam lembar uang seratus ribu pada Erin yang membuat Erin menerimanya dengan heran.
"Ayah mau keluar sama bunda, uang itu buat jaga-jaga aja. Siapa tau kamu mau nyamil."
Erin menganggukkan kepalanya, tapi belum memahami maksud perkataan ayahnya. Detik berikutnya Erin kembali mendongak menatap ayahnya. "Loh, Ayah sama Bunda mau kemana?!"
Ayah Erin menggaruk-garuk tekuknya yang tidak gatal, bingung mau menjelaskan kepada anak tunggalnya itu. Mau bilang ingin honeymoon juga tidak mungkin, mau bilang kencan lebih tidak mungkin, jadi harus berkata apa ini? Bingung Ayah Erin.
Tiba-tiba bunda muncul dengan menggeret koper. "Ayo, Yah." serunya membuat perhatian kedua orang yang berada di ruang tamu mengarah pada bunda.
"Bunda. Bunda mau kemana? Pake bawa koper segala?" tanya Erin, heran.
"Bunda sama Ayah mau ke rumah nenek, tapi sebelum itu, bunda mau ke Malang dulu, ke pantai apa gitu namanya, tau dah, temen bunda kasih tau bunda. Katanya bagus." ungkapnya menggebu-gebu.
"Lahh?! Bunda sama Ayah mau liburan?" kedua orang tuanya mengangguk. "Kok nggak ngajak Erin?" kedua orang tuanya bersamaan menyengir.
"Bunda sama Ayah cuman sehari di Malang, abis itu ke Bandung, nenek kangen sama Bunda, tadinya sih bunda mau ajakin kamu, ijinin kamu. Cumannn... Kayaknya nggak dulu, deh, ya."
"Bunda kok jahat sih?!"
Bunda ikutan berkacak pinggang dan menuding Erin seperti Erin yang menyebutnya jahat. "Kamu tuh, yang jahat."
"Kok Erin?"
Bunda mengangguk antusias. "Kenapa, kamu minta adik segala?!"
Erin dengan wajah polosnya menjawab, "Ya, yaa... Erin pengen punya adiklah, masa Erin nggak boleh jadi kakak sih?"
"Tuh!" Seru Bunda, menunjuk Erin. "Gara-gara kamu minta adik, Ayah jadi semangat buat minta jatah."
Ayah Erin langsung terkejut akan mulut istrinya yang blak-blakan. Hendak menyela tapi Ayah Erin di buat melongo karena perkataan Erin.
"Kok gak jatah dirumah sih?!"
"Gak mau, ada kamu, masih kecil. Gitu kata Ayah." Erin tak menggubris Ayahnya yang sudah berujar cukup untuk mengakhiri perdebatannya dengan Bunda.
"Ayah, diem deh. Erin nggak mau ya ditinggal sendirian dirumah. Mendingan ayah sama bunda dirumah. Erin, emm, Erin nginap aja dirumah Kenzie."
Ah Erin tersenyum bangga atas ide cermelang yang baru saja melintas membuat dirinya mendapatkan ide brilian untuk berdekatan dengan Kenzie, dia tidak sabar jadinya menginap di rumah Kenzie.
"Nggak!" Erin mengerjap lalu membelalak.
"Ayah sama Bunda mau liburan dulu, gantian dong. Kemarin kamu sama Kenzie main, pakai menginap dua hari, giliran bunda sama ayah sekarang."
Erin merengek. "Ayahhhh.. Jangan tinggalin Erin, dong."
Kini pria paruh baya itu bingung, harus menuruti rengekan putrinya atau kode istrinya yang menuntutnya menolak rengekan Erin.
"Nanti mama telfon Kenzie deh. Biar nemenin kamu menginap disini."
Berhasil. Ucapan bundanya berhasil membuat Erin diam dengan segala pikirannya.
Dan pada akhirnya Erin mengangguk, menyetujui ucapan bunda dengan berlagak terpaksa. Bunda memekik karena tidak harus meladeni rengekan Erin, dia sudah tidak sabar untuk pergi ke pantai dan bertemu dengan sahabatnya yang sempat kehilangan kontak selama beberapa tahun.
Setelah mengantar kepergian kedua orang tuanya Erin yang tadinya memasang wajah cemberut dan nelangsa itu masuk kedalam rumah.
Dia memutar knop pintu dengan lemas tapi saat masuk kedalam rumah dan berbaluk, dia langsung membanting daun pintu tersebut dan memekik senang.
"Mantul boskuuuu!!! Bisa modush gue, chiyyy!" pekiknya sambil meninju udara.