Malam harinya, Chris tak bisa tidur. Ia masih memikirkan sentuhan yang dilakukannya kepada Scarlett siang tadi.
Selama perjalanan pulang, Chris tak henti-hentinya memijat bagian kepala Scarlett yang mengeluh sakit. Lamanya pijatan membuat jari-jarinya terasa kebas dan tak bisa digerakkan beberapa saat. Namun bukan itu fokus utamanya, ada hal lain yang mengganggunya hingga sampai malam ini.
Erangan dan desahan Scarlett yang keenakan saat dirinya memijat kepala perempuan itu berhasil membuat Chris memikirkannya hingga saat ini. Terlebih, tangan lentik itu beberapa kali meremas kain celananya di bagian paha saat titik pijatnya mengenai bagian yang sakit.
Chris mengusap wajahnya kasar, "Sial!! Berhenti berpikir m***m, man!" umpat Chris kepada dirinya sendiri.
Chris murutuki diri yang merasa begitu gelisah saat ini. Sebagai seorang pria dewasa yang belum kembali merasakan hangatnya percintaan, Chris merasa kalang kabut ketika mendapat sentuhan halus-meski tak sengaja- dari seorang perempuan, terlebih perempuan cantik dan menawan seperti Scarlett, yang sialnya begitu mirip dengan mendiang istrinya.
Chris mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan segala keresahan di hatinya. Kemudian, melirik Ruby yang tengah nyenyak memejamkan mata. Bayi kecil itu tertidur pulas setelah menghabiskan sebotol s**u sejak 2 jam yang lalu.
Chris menyentuh pipi bulat Ruby perlahan, mengusap kelembutan di permukaan kulit putih itu.
Rasa sesak kembali menerpa dirinya, terlebih saat melihat wajah polos Ruby yang harus kehilangan sosok ibu yang menyayanginya.
Chris memilih bangkit dari pembaringannya. Ia berjalan keluar kamar dan membuka jendela depan paviliun yang menjadi tempat tinggalnya di mansion keluarga kaya ini. Angin malam berhembus begitu jendela terbuka, menerpa tubuh bagian atasnya yang hanya terbalut kaos singlet sederhana.
Chris mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya dengan korek. Ia mulai menyesap rokok yang menyala, lalu menghembuskan asap yang menggumpal keluar dari mulutnya.
Cahaya bulan nampak menyinari langit malam. Chris menatap bulan yang utuh itu dengan perasaan yang tak tergambarkan. Sebelah tangannya bertumpu ke dinding jendela, sementara yang lainnya memegang sebatang rokok yang masih menyala.
Dua tahun lalu...
Berita bencana alam yang terjadi di jalanan curam mengguncang seluruh warga Virginia kala itu. Sebuah bencana tanah longsor di kaki pegunungan Blue Ridge terjadi dikarenakan salah satu tebing curam sudah tak mampu menopang beban yang milikinya, membuat tanah bergerak dan meluncur ke bawah menutupi beberapa titik akses jalanan.
Berita bencana alam yang terjadi di jalanan curam mengguncang seluruh warga Virginia kala itu. Sebuah bencana tanah longsor di kaki pegunungan Blue Ridge terjadi dikarenakan salah satu tebing curam sudah tak mampu menopang beban yang milikinya, membuat tanah bergerak dan meluncur ke bawah menutupi beberapa titik akses jalanan.
Chris yang malam itu kehilangan Emily, merasa semakin panik mendengar berita yang kini tayang di seluruh tv nasional.
Ia mencoba menghubungi orang tau Emily, berharap mendapat jawaban bahwa istrinya tengah berada bersama mereka. Namun bukan jawaban hangat dan penuh kekhawatiran yang ia dapat, hanya jawaban datar dan dingin yang menyatakan bahwa Emily tidak bersama mereka.
Dengan perasaan yang semakin tak menentu, Chris berusaha mencari Emily, ia mulai mendatangi kantor bus di desa dan menanyakan jadwal keberangkatan ke Purchellville, dan disana ia menemukan fakta bahwa Emily salah satu dari penumpang yang menaiki bus menuju Purchellville.
Dan benar saja, sebuah bus kehilangan informasi setelah kejadian longsor itu. Membuat orang-orang berasumsi bahwa bus yang membawa 20 penumpang itu ikut terperosok dan tertimbun tanah longsoran.
Saat itu, tubuh Chris terasa lemas seketika. Kehilangan yang ia anggap sementara kini menjadi selamanya ketika Emily menjadi korban dari bencana tersebut.
Ia kira, dengan membiarkan Emily menyendiri sementara waktu setelah kesalahpahaman itu membuat ia kembali mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Namun hingga saat ini, hanya penyesalan lah yang dapat ia rasakan ketika mengingat peristiwa itu.
Lalu, sebuah suara gemerisik terdengar di semak-semak halaman samping paviliun, menyentak kesadaran Chris, membuat indera pendengarannya menajam seketika. Instingnya bergerak cepat membawa kakinya keluar rumah dan menyusuri tempat asal suara.
"Siapa disana?" gertak Chris dengan suara beratnya.
Namun tidak ada jawaban dari sana, hanya ada suara rintihan pelan seorang wanita. Dengan cepat, Chris menyibak semak belukar yang cukup tinggi dan menemukan siluet seorang perempuan yang terduduk memunggunginya.
"Nona Scarlett?" tanya Chris memastikan. Pria itu berjalan mendekati Scarlett dimana perempuan itu masih meringis memegang sebelah kakinya.
"Kenapa anda disini?" tanya Chris kembali, menghalau rasa terkejut yang sempat melanda dirinya kala mendapati sosok atasannya berada di semak-semak dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
Scarlett mendongak menatap Chris yang masih bertanya-tanya di tempatnya. "Aku sedang mengejar Lady, dia kabur entah kemana." jelas Scarlett dengan nada kesal yang kentara dengan raut wajahnya saat ini.
Chris membuang rokok yang masih tersisa setengah dan menginjaknya, lalu dengan inisiatifnya, Chris menghampiri Scarlett dan menggendongnya, membawa perempuan itu keluar dari semak-semak. Kini, Chris dapat melihat dengan jelas beberapa sayatan merah di beberapa titik kakinya di balik gaun putih yang sedikit kotor ujungnya.
Chris mendudukkan Scarlett di kursi teras paviliunnya, lalu melihat kembali bagian kaki yang terdapat luka itu.
"Aku akan membawa air dan obat dulu, nona tunggulah disini."
Chris segera berbalik ke dalam rumahnya, namun suara lantang Scarlett menghentikan langkahnya seketika.
"Kau menyuruhku menunggu di luar dengan udara yang dingin ini?" tanya Scarlett dengan nada menantang.
Chris berbalik menghadap Scarlett, lalu membawa perempuan itu kembali ke dalam gendongannya dan memasuki rumah, "Maaf, kalau begitu nona bisa menunggu di dalam." ujar Chris seraya meletakkan Scarlett di atas sofa.
Kemudian Chris berjalan menuju ke belakang dan kembali lagi dengan sebuah wadah berisi air dan kotak P3K. Chris duduk di samping Scarlett yang terdiam memperhatikan setiap gerak-gerik pengawalnya itu.
Dengan hati-hati, Chris mengangkat kaki kanan Scarlett dan menyimpannya di atas paha, lalu mengusapnya menggunakan kain lap basah hingga bersih. Ia pun mengulang hal yang sama dengan kaki Scarlett yang lainnya.
Setelah bersih, Chris membuka kotak P3K dan membawa sebuah obat tetes luka. Ia meneteskan cairan itu ke permukaan kulit kaki Scarlett yang terluka dengan perlahan.
"Pelan-pelan..."
Scarlett menggigit bibir dan meringis kecil merasakan sengatan perih di kedua kakinya, hal yang tanpa disengaja terekam oleh penglihatan Chris yang menatapnya.
Scarlett menatap Chris yang masih memperhatikannya, namun dengan segera Chris mengalihkan tatapannya kembali ke bawah dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah selesai, nona. Apakah nona ingin kembali ke kamar sekarang?" tanya Chris setelah membereskan bekas pengobatan yang dilakukannya.
"Aku ingin menemukan Lady sekarang..." ucap Scarlett keras kepala. Kucing betina berbulu putih dan memiliki ras persia itu kabur dan menghilang entah kemana saat Scarlett mengajaknya jalan-jalan menikmati udara malam beberapa saat yang lalu.
"Aku akan mencarinya."
Chris beranjak dari duduknya, lalu pergi keluar menghilang dari pandangan Scarlett yang memperhatikannya.