Satu bulan yang lalu....
Istana keluarga Harrison tengah ramai dikunjungi beberapa orang berseragam. Mereka adalah para pria yang tengah mengikuti seleksi pengawal yang dilakukan oleh Thomas Harrison, pemilik kekayaan Harrison group yang merajai bisnis ritel terbesar di Amerika .
Thomas menatap satu persatu pria yang berbaris berdiri tegap menghadapnya. Namun dengan jelas, telinganya menangkap setiap perkataan seorang yang tengah berbicara mengenai identitas dan latar belakang para peserta pengawal itu. Lalu di sampingnya, William duduk ikut mengamati, tatapannya tajam meneliti setiap pria di depannya.
"Benjamin Christopher, berasal dari kaki pegunungan Blue Ridge, Virginia. Mantan seorang perawat kuda di peternakan kuda Johnson. Ia sangat terlatih dan terampil dalam merawat kuda. Ia juga yang mengambil alih dalam melatih kuda yang bertanding di lapangan."
"Aku butuh seseorang yang terampil menjaga putriku, bukan kudaku."
Semua orang disana tertawa, terkecuali Thomas dan Chris. Lalu, deheman keras Thomas berhasil menghentikan tawa mereka seketika. Sorot tajamnya masih terpaku akan sosok yang tengah dibicarakannya.
"Apa alasanmu pindah ke kota ini?" tanya Thomas masih tertuju kepada Chris.
"Aku ingin mencari suasana baru dan meninggalkan kenangan buruk di tempat asal ku." jawab Chris datar namun lugas.
"Kenangan buruk?" tanya Thomas, merasa penasaran dengan jawaban pria itu.
"Istriku telah meninggal dunia." jawab Chris.
"Jadi, kau tinggal sendirian saat ini?"
"Saat ini aku bersama anakku yang masih berusia 3 tahun."
"Cukup repot jika kau tinggal dengan seorang anak kecil. Bagaimana dengan anakmu jika kau diterima bekerja denganku? Aku tidak mau repot dengan tangisan anak kecil di rumahku ini." pertanyaan Thomas sedikit membuat hati Chris putus harapan.
"Aku harus bertanggung jawab untuk putriku, namun aku juga tidak bisa memaksa jika anda tidak menginginkan kehadiran putriku. Aku memilih mengundurkan diri." jawabnya lugas, tanpa ragu sama sekali. Setidaknya ia harus membuat Ruby aman dan nyaman dimana pun ia tinggal dan bekerja nanti.
Thomas terdiam beberapa saat, keningnya berkerut memikirkan hal-hal yang tengah menjadi pertimbangannya, hingga beberapa saat kemudian, sebuah keputusan sudah ia dapatkan secara final.
"Bagus, aku menerimamu."
****
Keesokan harinya, Chris memasuki ruang utama dalam istana tersebut. Ia berdiri tegap di bawah ujung tangga, menunggu kehadiran seseorang yang sebentar lagi akan datang. Entah kenapa, rasa gugup sedikit melingkupi dirinya saat akan bertemu dengan putri yang akan dijaga olehnya.
Terlebih, ia teringat akan perkataan pengawal senior disini bahwa nona muda Harrison itu begitu angkuh dan galak.
Dalam hatinya, Chris mendesah lega, setidaknya nonanya itu bukan gadis manja dan cerewet yang bisa membuatnya pusing ketika mengawalnya.
Suara derap sepatu memenuhi indra telinganya yang tajam. Jantungnya terasa berdetak kencang dengan nafas yang tertahan menunggu sosok itu datang. Sebisa mungkin, Chris menahan kepalanya untuk mendongak dan menatap sosok itu dengan matanya.
Ia tak tak mau dituduh lancang dan menjadi awal yang buruk bagi pekerjaannya.
Kemudian, sosok itu datang, berhenti tepat di hadapannya dengan anggun. Heels merah maroon yang mengkilap nampak muncul di awal penglihatannya sebelum kemudian ia mendongak dan menatap wajah itu.
Wajah yang teramat familiar dengan polesan make up tipis yang pernah mengisi hari-harinya.
Chris tertegun, tubuhnya mundur sejengkal, nafasnya terhenti seketika. Ia merasa tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini
Emily yang dicarinya selama 2 tahun kini berdiri angkuh di hadapannya.
****
"Chris, kenalkan putriku, Scarlett. Dan Scarlett, dia Christopher, orang yang akan menjadi pengawalmu." ucap Thomas mengenalkan. Nada suaranya terdengar lebih ramah dibandingkan saat seleksi kemarin.
Chris berusaha mengendalikan diri dari perasaannya yang tak karuan. Sementara di hadapannya, Scarlett menoleh ke arahnya, menatapnya tanpa minat melihat penampilan Chris yang berpakaian serba hitam.
Chris berusaha menjaga sikapnya, namun wajah pucat akan keterkejutannya sulit disembunyikan.
Di sisi lain, Thomas menatap heran ekspresi Chris yang dirasa terlalu berlebihan saat menatap putrinya. Ia merasa ada sesuatu yang sedang pengawal itu sembunyikan.
"Kenapa harus ada pengawal?"
Scarlett bertanya dengan datar, merasa tindakan sang ayah yang menugaskan seorang pengawal terlalu berlebihan untuknya.
Sejak menapaki kehidupan barunya di dalam mansion besar ini, banyak sekali aturan yang harus ia patuhi dengan baik. Ada norma dan tata krama yang turun temurun dan harus Scarlett pelajari demi keberlangsungan hidupnya di dalam lingkup keluarga kaya.
"Aku ingin memastikan keselamatanmu. Akan lebih baik jika ada seseorang yang menjagamu." jawab Thomas lembut. Kehadiran Scarlett membuat rasa posesifnya kini kembali untuk melindungi sang putri dari hal-hal yang tak diinginkan.
"Aku baik-baik saja, ayah." kata Scarlett meyakinkan. Merasa enggan jika hidupnya kini harus dipantau oleh orang lain.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu." Thomas tersenyum lembut, meminta pengertiannya kepada Scarlett yang hanya bisa pasrah menerima keadaan.
"Sebaiknya kita segera pergi." ujar Thomas seraya menggiring Scarlett berjalan di sampingnya.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan mansion dengan berbagai pertanyaan dalam benak masing-masing.
****
Chris bertanya-tanya dalam benaknya, benarkah dia Emily yang hilang? Tidak, Emily-nya sudah meninggal. Dia hanya seseorang yang begitu mirip dengan mendiang istrinya. Tidak mungkin Emily yang hanya seorang putri dari pemerah s**u di peternakan Blue Ridge tiba-tiba ditemukan menjadi seorang putri konglomerat yang memiliki darah biru bangsawan.
Mungkin, mereka adalah salah satu dari sebagian kecil yang memiliki wajah yang sama. Chris berusaha meyakini itu.
Namun begitu melihatnya, Chris tak bisa menampik bahwa Scarlett benar-benar mirip Emily. Membuat kerinduannya dengan sang istri sedikit terobati.
Setidaknya, Chris dapat diyakinkan oleh suatu hal, bahwa Scarlett yang kini duduk di kursi belakang bukanlah Emily Thompson yang sederhana dan memiliki tatapan lembut, dia adalah Scarlett Harrison yang elegan dan terkesan angkuh dengan tatapan tajamnya.