Aku berdiri terpekur di depan kamar Athaya. Seseorang tak kalah terkejutnya melihat penampilanku saat ini. Bik Inah hampir saja menjatuhkan sapu ijuk dan pengki yang ada di kedua tangannya. Oh, ya ampun! Bagaimana aku bisa seceroboh ini? Sejak Bik Inah mengetahui drama yang kumainkan dengan Athaya, kami memang membuka akses lantai dua untuknya. Jadi, Bik Inah bisa membersihkan seluruh kamar yang ada di lantai dua. Tanganku refleks menutup pakaian menerawang yang membalut tubuhku. Ini gila! Kalau tahu akhirnya akan begini, aku akan dengan senang hati menarik bedcover yang digunakan Athaya dan membiarkannya kedinginan dalam kondisi bugil. Bik Inah memindaiku dari atas sampai bawah. Hal itu jelas membuatku semakin merasa tak nyaman. “Mbak Ayya ....” “B-bik ... ngapain? Adzan subuh juga bel

