Meskipun kecewa, Fathia ikut saja maunya dokter Dewa untuk terus membuntuti kemana Abrar dan Sonya pergi setelah keluar dari restoran itu. Sementara suasana hujan kembali deras lagi. Petir terdengar menggelegar olehnya. Sungguh perjuangan yang tidak mudah. Fathia merasa tidak enak hati terus merepotkan dokter di sampingnya itu. Tapi, dokter Dewa rupanya belum mau menyerah. Tadi dia yang mengusulkan mengajak Fathia mencari bukti baru. Sekarang dia meyakinkan Fathia agar tidak menyerah. Bahkan sampai ke rumah Sonya pun, mereka akan tetap mengikutinya.
“Kira-kira mereka mau pulang atau pergi ke suatu tempat, Dok?” tanya Fathia penasaran.
“Kita masih di jalan tadi, Fathia. Mobil Abrar masih berjalan lurus saja. Kita tunggu sebentar lagi. Dia mau belok kemana?” jawab dokter Dewa dengan hanya melihat ke arah Fathia sebentar lalu kembali fokus ke depan.
“Oh ya, Dok. Tolong ceritakan, seperti apa wajah mas Abrar dan Sonya saat melakukan sumpah pocong tadi?” pinta Fathia, tiba-tiba ingat ritual sumpah pocong yang belum sempat mereka bahas karena tegang mengikuti Abrar dan Sonya.
Dokter Dewa tertawa kecil merasa geli. “Kamu tahu, mereka terlihat sangat lucu sekali setelah mengenakan kafan, Fathia. Abrar dan Sonya terlihat ketakutan dan tegang. Kamu pasti dengar, ‘kan, bagaimana reaksi dan protes keduanya saat melakukan ritual. Jadi, aku yakin kamu bisa bayangkan raut wajah mereka seperti apa lucunya.”
“Benarkah mereka terlihat sangat lucu, Dok?” tanya Fathia bersemangat sambil mengolah imajinasinya membayangkan raut Abrar dan Sonya ketika memakai kain kafan yang dipocong.
“Tentu saja, Fathia. Dan, aku merasa sangat puas melihat itu. Kamu telah berhasil mengerjai mereka Fathia. Sekarang kita tinggal tunggu saja, apakah sumpah pocong itu akan benar-benar memberikan akibat yang buruk pada keduanya,” ungkap dokter Dewa terlihat menggebu dengan kedua mata berbinar saat menoleh pada Fathia lagi.
Fathia tertawa kecil. Seakan bisa merasakan cerita dokter Dewa yang menggebu sekaligus membayangkan raut wajah Abrar dan Sonya ketika memakai pakaian pocong itu.
“Kalau akibat buruk itu, aku tidak yakin, Dok. Apalagi setelah melakukannya mereka masih bisa saling berduaan dan saling menguatkan. Padahal setidaknya, sebelumnya aku berharap, malam ini setelah mereka melakukan itu, akan merasakan ketakutan-ketakutan yang luar biasa hingga mereka tidak bisa tidur. Keesokan hari, atau pada akhirnya mereka akan mengakui kesalahan dan dusta mereka setelah merasa ketakutan-ketakutan itu, Dok,” ucap Fathia.
“Harapanmu sudah terjadi, Fathia. Kamu lupa, kalau tadi Sonya merasa lemas karena ketakutan saat melakukan sumpah pocong itu? Kamu tidak perlu menunggu, hasilnya sudah jelas. Kita tinggal tunggu saja babak selanjutnya. Bisa saja keadaan psikologis Sonya itu, juga akan mempengaruhi Abrar. Dia juga jadi ketakutan seperti Sonya,” tutur dokter Dewa.
Kedua mata Fathia melebar mendengar itu. “Iya-ya, Dok. Mengapa aku sampai lupa, dengan kecemasan Sonya tadi.”
“Percayalah, Fathia. Walaupun kecil, aku yakin, sumpah pocong tadi telah mempengaruhi psikologis mereka. Berdoa saja pada Allah agar segera ditunjukkan dan dibongkar pengkhianatan mereka selama ini,” tutur dokter Dewa lagi.
“Aamiin. Semoga Allah segera menunjukkan kebohongan mereka dalam minggu-minggu ini bagaimana pun caranya. Aku benar-benar tidak ingin hanya jadi istri pajangan dia saja,” ungkap Fathia.
“Kamu harus yakin, Fathia. Karena bila kamu yakin Allah akan membantumu. Apa yang kamu ingin itu sudah benar. Karena tidak mencintaimu dengan setulus hati,” sahut dokter Dewa kemudian membelokan mobilnya mengikuti mobil Abrar yang sudah berbelok lebih dulu. “Sepertinya, Abrar mengantar Sonya pulang ke rumahnya,” ungkap dokter Dewa saat membelokkan mobilnya.
“Terus, sekarang bagaimana, Dok? Apa kita akan ikuti mereka sampai ke depan rumah, Sonya?” tanya Fathia dengan raut wajah kembali menegang.
“Tentu saja. Kita harus memastikan Abrar tetap di sana atau segera pulang,” jawab dokter Dewa.
“Kalau dia tetap di sana, bahkan bermalam di sana, terus apa yang akan kita lakukan, Dok?” tanya Fathia bingung. “Kita mana bisa menangkap basah mereka?” lanjutnya.
“Kita lihat dulu saja, Fathia. Baru kita cari solusinya,” balas dokter Dewa santai.
“Baik, Dok. Kita lihat saja nanti,” ucap Fathia, dengan perasaan tidak menentu dan tentu saja masih kebingungan.
Abrar ternyata mengantar Sonya pulang ke rumah. Andai nanti Abrar menginap di rumah Sonya, lantas bagaiman cara menangkap basah mereka. Apakah dia harus melapor pada RT setempat. Dan menyampaikan kalau di dalam rumah Sonya ada calon suaminya menginap di sana. Tapi bagaimana dia bisa tahu rumah RT di lingkungan sekitar rumah Sonya.
“Kita sudah sampai. Mobil Abrar masuk ke dalam halaman rumah Sonya. Kita tunggu saja di sini. Sekarang kita berada di pinggir jalan dekat depan rumahnya Sonya,” ungkap dokter Dewa setelah itu menghentikan mobilnya dan mematikan mesin.
“Iya, Dok. Kita tidak boleh membuat mereka merasa curiga. Kalau tepat di depan rumah Sonya. Mobil ini bisa membuat mereka curiga,” sahut Fathia menimpali.
Dokter Dewa menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan suara cukup keras. Lalu dia mengamati bagian depan rumah Sonya yang mungil dan asri hanya berlantai satu saja.
“Apakah Sonya tinggal di rumah ini sendirian?” tanya dokter Dewa.
“Iya, Dok. Kedua orang tua Sonya sudah meninggal. Sementara Kakak perempuannya sudah menikah dengan orang Inggris. Sekarang dia menetap di sana bersama suaminya. Rumah yang ditempati Sonya sekarang adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya,” jawab Fathia, sudah tentu cukup paham dengan seluk beluk keluarga dan sejarah rumah Sonya.
“Oh, pantes. Rumah itu masih berlantai satu dan model lama. Tapi cukup menarik dan bagus meskipun tidak besar,” ungkap dokter Dewa. “Aku cukup surprise. Karena aku lihat penampilan Sonya cukup mewah. Aku bayangkan dia lebih senang tinggal di apartemen dengan penghasilannya sebagai salah satu manajer di perusahaan keluargamu,” tambah dokter Dewa.
“Papanya Sonya hanya seorang pegawai kecil dan mamanya ibu rumah tangga biasa. Sonya sebenarnya juga sudah punya apartemen sendiri dari hasli jerih payahnya selama berkarir. Tapi, dia tidak merasa nyaman tinggal di sana. Sonya merasa lebih nyaman tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Akhirnya, apartemennya dia sewakan,” ungkap Fathia.
“Kalau begitu, kamu masih ingat kira-kira di mana, letak kamar Sonya?” tanya dokter Dewa yang cukup mengejutkan Fathia.
“Mengapa dokter menanyakan itu? Apakah kita akan menggerebek mereka malam ini?” tanya Fathia.
“Kita harus ingat tujuan awal kita Fathia. Jangan terburu-buru melakukan penggerebekan. Andai malam ini kita bisa mendapatkan video saat mereka sedang melakukan adegan panas, aku rasa kita tidak perlu melakukan penggerebekan. Walau mereka salah, menurutku kita tidak perlu mempermalukan mereka,” tutur dokter Dewa serius.
“Iya, Dok. Aku mengerti. Aku juga tidak ingin masalah ini menjadi besar dan diketahui banyak orang. Aku hanya ingin berpisah dengan Abrar. Bukan ingin mempermalukan dia,” tegas Fathia.
“Bagus, Fathia. Menjaga aib seseorang itu lebih baik meskipun mereka telah menyakitimu. Percayalah, Allah pasti sudah mengatur balasan untuk mereka,” tutur dokter Dewa.
“Iya, Dok. Terima kasih atas nasehatnya,” ucap Fathia dengan tulus. “Aku tidak tahu, bagaimana nasibku sekarang tanpa Anda, Dok. Anda seperti cahaya yang terus menyinari hidup saya yang tiba-tiba menjadi gelap. Aku pasti tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya meratapi nasib saja,” tambah Fathia.
“Lupakan itu, Fathia. Berterima kasihlah, pada Allah karena telah mempertemukan kita. Mungkin salah satu tugas hidupku di atas bumi ini adalah untuk membantumu. Aku juga tidak mengapa merasa sangat tertarik dan ingin membantu berpisah dengan Abrar. Aku merasa kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini apalagi dengan keterbatasan kamu sekarang. Dua orang itu seperti sengaja mempermainkan dan menertawakanmu dengan musibah yang baru kamu alami,” ucap dokter Dewa sepenuh hati.
Sekali lagi Fathia mengucapkan terima kasih. Dia merasa terharu dengan kepedulian dokter matanya itu. Namun dokter Dewa menolak ucapan terima kasih itu. Fathia baru boleh mengucapkan terima kasih setelah dia berhasil membantunya lepas dari ikatan Abrar.
Hujan masih sangat deras. Sampai saat ini Abrar belum keluar dari rumah Sonya. Akhirnya dokter Dewa memutuskan untuk masuk ke halaman rumah Sonya. Namun, Fathia tidak mau tinggal di mobil sendirian. Dia ingin ikut bersama doker Dewa. Fathia ingin menjadi penunjuk jalan bagi dokter itu untuk mengintai kamar Sonya yang berada dibagian depan rumahnya.