13. Berburu Bukti Baru

1525 Words
“Ayo, Fathia cepat sedikit. Kita bisa ketinggalan jejak mereka,” ucap dokter Dewa tak sabar setelah membuka pintu mobilnya untuk Fathia. “Dokter tinggalin saya saja. Saya bisa tutup sendiri pintunya,” ucap Fathia sambil masuk ke dalam kursi mobil dengan sedikit terburu-buru. Sementara dokter Dewa sudah berlarian di tengah rintik hujan mengitari mobilnya tanpa menunggu ucapan Fathia selesai. Sampai di dalam, dia segera masuk dan menutup pintunya. Lalu cepat-cepat dia hidupkan mesin mobilnya. Tak lupa dia lihat Fathia sudah duduk manis. Dokter Dewa melihat sebentar ke arah mobil Abrar yang sudah berjalan sampai di dekat pintu gerbang rumah persemayaman ini. Namun, dia tidak bisa membiarkan Fathia tanpa sabuk pengaman. “Fathia, pasang sabuk pengaman dulu,” ucapnya sambil meraih tali sabuk dengan menjulurkan badannya membuat Fathia terkejut. Tidak begitu memperhatikan reaksi Fathia, dokter Dewa dengan cekatan mengaitkan sabuk pengaman pada diri gadis itu. Sementara tidak tahu kenapa Fathia merasa grogi dan berdebar merasakan sebagian tubuh dokter Dewa berada di dekatnya. “Sudah selesai. Kita berangkat sekarang,” ucap dokter Dewa, kemudian berganti memasang sabuknya sendiri. “Sampai di mana mereka sekarang, Dok?” tanya Fathia terlihat tidak sabar. “Mereka baru saja keluar dari pintu gerbang,” jawab dokter Dewa lalu beralih pada kemudinya. “Oh ya? Kalau begitu, cepat susul mereka, Dok. Jangan sampai kita kehilangan jejak,” ucap Fathia dengan raut tegang tidak sabar. “Siap, Nona. Kita berangkat sekarang,” sahut dokter Dewa setengah bercanda dan tersenyum pada Fathia. Hujan kembali turun dengan deras. Dokter Dewa tidak bisa membawa mobil keluar dengan cepat. Tadi, setelah Abrar sepakat mengantar Sonya, dokter Dewa mendekati Fathia dan mengajaknya membuntuti dua orang itu. Dokter Dewa yakin kedua orang itu tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka mungkin akan menghabiskan malam berdua di hotel atau di suatu tempat. Awalnya Fathia tidak mengerti apa tujuan dokter Dewa mengikuti dua orang itu. Namun, setelah dokter Dewa mengatakan kalau Fathia harus mendapatkan bukti lain perselingkuhan Abrar dan Sonya, baru dia memahaminya. Bila malam ini mereka bisa mendapatkan bukti itu, Fathia tidak perlu cemas bila video yang dikirim di ponselnya tidak bisa diunduh lagi. Memasuki jalan depan pintu gerbang rumah persemayaman itu, dokter Dewa masih bisa melihat mobil Abrar di depannya. Dia tetap menjaga harus menjaga jarak agar tidak terlau dekat dan disadari oleh Abrar kalau dia sedang menguntitnya. “Apa dokter sudah melihat mobil mas Abrar?” tanya Fathia yang merasakan laju mobil dokter Dewa menurutnya terlalu lambat. “Iya, aku sudah melihatnya. Tapi kita, jangan terlalu dekat. Mereka bisa menyadari keberadaan kita nanti,” jelas dokter Dewa. “Alhamdulillah. Semoga malam ini kita bisa mendapatkan bukti itu,” ucap Fathia dengan tersenyum penuh semangat. “Tenang saja, Fathia. Kita akan segera mendapatkan bukti itu,” sahut dokter Dewa sangat yakin. “Dokter kelihatannya yakin sekali. Apa yang membuat dokter Dewa sangat yakin?” tanya Fathia dengan polosnya. Dokter Dewa agak bingung. Dia mengacak rambutnya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Fathia. “Apa, Dok? Tolong jelaskan padaku. Apa yang membuat dokter merasa sangat yakin malam ini mereka akan menghabiskan malam bersama?” tanya Fathia dengan polosnya, dia pikir seorang dokter mungkin telah mempelajari ilmu semacam itu di bidang kedokteran. “Jangan terlalu polos Fathia. Kamu ini mantan wakil presiden direktur dan sudah cukup dewasa, masak menebak hal seperti itu kamu nggak bisa,” ucap dokter Dewa lalu menggelengkan kepala. “Ini tidak ada hubungannya dengan jabatanku, Dok. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dokter maksudkan itu. Mengapa dokter sangat yakin? Bagaimana cara dokter mendeteksinya?” tanya Fathia dengan polos. “Saat ini sedang hujan Fathia. Cuaca juga sangat dingin. Apalagi yang dilakukan dua orang dewasa yang sedang dimabuk asmara di malam hujan deras seperti ini kalau bukan menghabiskan malam bersama dengan saling berbagi kehangatan,” tandas dokter Dewa lalu memperhatikan raut wajah putih Fathia yang seketika berubah bersemu merah dan terlihat grogi. “Ohh, maksudnya itu. Kalau aku, meskipun telah bersama berpacaran dengan mas Abrar, aku tidak pernah membiarkan dia meminta terlalu jauh. Selama ini aku berprinsip tidak mau punya anak di luar nikah. Aku ingin anakku tercipta dan terlahir di dalam sebuah pernikahan yang sah,” tegas Fathia, dia tidak mau dokter Dewa mengira dirinya sama dengan Sonya. Yang dengan mudah dijamah oleh Abrar tanpa status yang jelas. “Aku juga hanya menduga saja Fathia. E... Itu, biasa yang aku dengar ini dari teman-temanku,” jelas dokter Dewa jadi agak gugup sendiri. Dia tidak ingin penjelasannya akan ditafsirkan berbeda oleh Fathia. Dokter Dewa tidak ingin menganggap dirinya penganut hubungan bebas sebelum menikah seperti Abrar dan Sonya. “Aku bukan pria penganut hubugan bebas Fathia. Aku juga sama sepertimu, bahwa hubungan antara pria dan wanita hanya baik dilakukan bila setelah adanya pernikahan. Karena itulah yang benar dan demi menjaga kesehatan,” ungkap dokter Dewa, selanjutnya. Setelah itu tiba-tiba dokter Dewa mengalihkan pandangannya pada mobil Abrar. Mobil warna hitam di depannya itu berbelok ke sebuah restoran bukan sebuah hotel. “Mereka pergi ke restoran, Fathia. Bukan ke hotel. Sepertinya dugaanku salah,” ungkap dokter Dewa mulai mengurangi kecepatannya. “Oh, benarkah? Tapi bisa saja mereka memutuskan makan dulu. Baru kemudian mereka check in,” sahut Fathia, dengan kedua bola matanya yang bergerak-gerak. “Bisa juga begitu. Tapi, bagaimana kalau mereka nggak check in dan langsung pulang ke rumah Sonya?” tanya dokter Dewa, kemudian menghentikan mobilnya di tepi jalan. Fathia terlihat diam dan kebingungan. Sungguh ini tidak seperti yang mereka duga. Ternyata Abrar dan Sonya hanya pergi makan. Padahal mereka telanjur membuntuti keduanya. “Bagaimana kalau kita tunggu sebentar? Bisa saja, ‘kan setelah ini, mereka pergi ke hotel? Saat ini mungkin mereka ingin makan dulu.” “Oke, tidak masalah Fathia. Tapi coba kamu pikir. Coba pakai logika kamu, deh. Hujan-hujan begini, untuk apa mereka pergi ke restoran hanya untuk makan kalau mau pergi ke hotel?” tanya dokter Dewa. “Iya, sih. Itu masuk akal juga, Dok. Tapi, bisa saja mereka malas pesan, atau sekarang keburu lapar, mungkin.” “Di hotel juga ada restoran Fathia, kecuali yang mereka pilih hotel melati. Tapi nggak mungkin juga, ‘kan calon suami kamu yang tajir mau menginap di hotel melati. Apalagi Sonya dengan gaya hidupnya wah itu,” jelas dokter Dewa lagi. Fathia terdiam. Dia merasa kecewa. Tadi dia baru saja menemukan secercah harapan untuk mendapatkan bukti baru. Namun sekarang sepertinya bukti itu gagal mereka dapatkan. Sementara waktu pernikahan akan berkurang satu hari lagi. Enam hari lagi, dia ragu apa masih bisa menghentikan rencana pernikahan ini tanpa bukti yang kuat. Sementara orang tuanya tidak pernah mau mendukung. “Aku tidak masalah menunggu dan menemani kamu di sini, Fathia. Kamu jangan putus asa dulu. Aku hanya ingin menyampaikan kenyataan yang ada dan memberi tahu segala kemungkinannya. Bukan untuk mematahkan semangat kamu,” tutur dokter Dewa, rupanya juga menyadari kekecewaan yang terlihat dari raut wajah Fathia. “Ingat, Fathia. Malam ini kita hanya mencoba mendapatkan bukti baru. Bukan berarti harus dapat. Masih ada jari esok dan bukti lama di dalam ponsel kamu yang rusak itu. Jadi, kamu jangan putus asa,” tuturnya lagi. “Setiap waktu semakin berkurang, Dok. Sementara bukti-bukti itu masih belum pasti aku dapatkan. Diponsel itu, kita juga belum tahu apakah masih ada? Bila masih ada, bisakah kita mengunduhnya? Semuanya masih samar-samar. Aku takut pernikahan itu akan tetap terjadi dan aku akan terjebak selamanya di sana. Aku takut tidak bisa keluar lagi, Dok,” jelas Fathia dengan air mata yang menetes perlahan di kedua pipinya. “Malam ini belum usai Fathia. Kita akan terus buntuti mereka. Siapa tahu setelah ini mereka memang akan benar-benar ke hotel? Jangan mudah menyerah atau patah semangat. Memang segala kemungkinan bisa terjadi. Entah itu gagal atau pun berhasil. Kesempatan itu masih lima puluh persen-lima puluh persen,” jelas dokter Dewa, sedikit mengurangi kecemasan dan kekecewaan Fathia. Namun, jauh di dalam hatinya, bayang-bayang pernikahan tetap menghantuinya. Lalu pria tampan itu mengambil tisu kemudian menaruhnya di tangan kanan Fathia. Setelah beberapa saat mereka berbincang, dokter Dewa ingat kalau mereka belum makan sejak siang tadi. Dirinya dan Fathia sibuk mengawasi pembuatan dekorasi ruangan tempat sumpah pocong tadi. Dokter Dewa memperhatikan beberapa penjual makanan di pinggir jalan sekitar restoran itu. Lalu dia pamit pada Fathia keluar sebentar untuk mencari makanan dan minuman. Dokter Dewa tidak mau kelaparan sementara di dalam restoran itu Abrar dan Sonya. Tak berapa dokter Dewa kembali masuk ke dalam mobil. Dia membawa dua kotak mi dan juga dua cup kopi hangat. Dokter sedikit basah. Sebentar dia mengusap rambut dan baju agar menjadi lebih kering. Setelah itu dia berikan sekotak mi dan satu cup kopi untuk Fathia. “Hmm, aromanya sangat lezat. Kopi ini juga sangat harum,” ucap Fathia tersenyum bahagia. Rupanya aroma kopi dan mi itu telah sanggup mengubah suasana hatinya menjadi ceria dan semangat lagi. Sambil tetap konsentrasi memperhatikan pintu pagar depan restoran, dokter Dewa dan Fathia menikmati makanan dan kopi mereka. Namun ketika mereka baru menghabiskan setengahnya, mobil Abrar terlihat keluar dari pintu pagar. Buru-buru dokter Dewa menghentikan makannya lalu menghidupkan mesin mobilnya lagi. “Apa mobil Abrar sudah keluar, Dokter?” tanya Fathia setelah merasakan mobilnya hidup kembali. “Iya, Fathia. Ayo, kita ikuti mereka kembali,” ucap dokter Dewa terdengar sedikit panik. Karena mobil Abrar ternyata langsung melaju kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD