12. Emosi Meninggi

1498 Words
“Tolong, diulang sekali lagi ustadz Imron. Mas Abrar sepertinya masih ragu dengan sangsi yang dia ucapkan tadi,” pinta Fathia. “Apa, Fathia? Diulang lagi?” sahut Abrar dan terbangun dari berbaring dengan cepat menatap Fathia yang tentu tidak bisa melihat wujudnya yang menakutkan di tengah keremangan cahaya lilin saja. Tapi tidak dengan mamanya dan Sonya. Keduanya langsung menjerit tertahan ketakutan lalu mengalihkan pandangan ke pundak kanan dan kiri Fathia. “Iya, diulang lagi, Mas. Aku dengar suara kamu tadi masih ragu. Mas harus yakin dengan ucap, Mas. Tidak perlu takut dengan sangsi atau karma dari sumpah itu bila memang kamu tidak pernah melakukannya,” jelas Fathia, kedua tangannya sambil mengelus kepala mama dan Sonya yang masih menunduk ketakutan. “Ulang saja, Nak. Biar cepat selesai. Ini sudah malam. Lihatlah, Mamanya Fathia dan Sonya ketakutan melihatmu,” perintah Danu Nugraha. “Bagaimana, pak Abrar? Apakah Anda bersedia mengulang lagi?” tanya ustadz Imron, menatap Abrar yang terlihat ragu. Abrar tidak punya pilihan lain. Lalu mengangguk pelan. Kemudian setelah itu membaringkan diri lagi. Pak ustadz Imron kembali menuntunnya. Namun kembali saat dia harus menyebut impoten Abrar lidahnya terasa berat mengucapkan kata itu. Fathia dan dokter Dewa, diam-diam keduanya sama-sama menahan tawa. Karena setidaknya usaha mereka untuk menakuti Abrar telah berhasil. Sumpah yang dilakukan Abrar sudah selesai. Dengan dibantu ustadz Imron, Abrar melepaskan kain kafannya. Kini giliran Sonya. Namun Sonya merasa takut. Dia merengek pada Fathia sambil memegangi lengannya. “Aku mohon Fathia. Jangan minta aku melakukan ini Fathia. Kamu sudah mengenalku bertahun-tahun. Bagaimana mungkin kamu bisa menuduhku serendah ini? Aku sangat menghargai persahabatan kita Fathia. Tidak mungkin aku sanggup mengkhianatimu,” tutur Sonya sambil merengek memilukan hati di hadapan semua yang berada di ruangan itu. Bila yang tidak melihat video itu, Fathia mungkin akan terlihat kejam. Apalagi rengekan Sonya terdengar menyayat hati. Andai saja dia mengetahui perselingkuhan mereka hanya dari mulut orang lain, pasti hatinya akan luluh. Namun, mata Fathia saat masih sangat normal. Malam itu, dia juga tidak sedang mengantuk. Perselingkuhan itu bukanlah ilusi. Itu nyata dan Fathia yakin dengan mata kepalanya sendiri. “Jika kamu memang masih menghargai persahabatan kita, seharusnya kamu tidak begini, Sonya. Setidaknya jika kamu masih punya harga diri dan ingin menjaga nama baikmu, kamu lakukan saja sumpah itu. Aku tidak masalah bila setelah ini kamu membenciku karena tuduhan itu,” tegas Fathia dengan suara lirih dan dingin. Semua orang di tempat yang cukup gelap itu memperhatikan keduanya. Termasuk Abrar yang sudah selesai melepas kain kafannya dan beranjak dari tempat itu. “Lakukan saja, Sonya. Kita harus buktikan bahwa kita tidak bersalah. Yakinlah. Selama kita benar. Jangan takut melakukan sumpah itu. Demi calon istriku dan juga sahabatmu,” tutur Abrar. Sonya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Fathia. Setelah beberapa saat menata hati dan perasaannya, perlahan dia bangun dari tempatnya menuju ke tempat sumpah itu. Sonya melihat pada Abrar sebentar. Masih terlihat jelas ada keraguan dari sorot matanya yang samar. Walau tidak bisa melihat, Fathia bisa merasakan langkah berat Sonya. Namun, dia tidak tahu kalau Sonya menyempatkan diri berkali-kali menatap Abrar. Fathia tidak tahu, bahwa mantan sahabatnya itu berusaha meyakinkan diri melakukan sumpah itu dengan mencari dukungan dari Abrar yang juga cemas meyakinkan Sonya melalui tatapan dan ekpresi wajah. Hanya dokter Dewa yang bisa memperhatikan semua itu. Dia tidak yakin, papa Fathia dan mamanya masih peduli dengan kejanggalan sikap keduanya. Sonya kemudian dikafani dengan dibantu salah satu asisten rumah tangga perempuan di rumah fathia dengan bimbingan ustadz Imron. Setelah itu dia diminta membaca sumpah pocong dan juga sangsinya. Suara Sonya terdengar gemetar dan juga terbata-bata. Walau dia sudah berusaha berani, nyatanya nyalinya ciut juga. Sonya sampai mengulang beberapa kali saat dia membaca sangsi sumpahnya yang berisi, bila dia berbohong akan mendapatkan sangsi atau balasan, kehilangan kecantikannya, akan mendapatkan penyakit menahun, suami playboy dan miskin tujuh turunan juga tidak bisa punya keturunan. Setelah ritual selesai dan kedua orang tua Fathia serta ustadz Imron pulang. Fathia masih di tempat persemayaman itu bersama dokter Dewa, Abrar, Sonya dan beberapa asistennya. Dokter Dewa sedang sibuk membantu Sonya karena tiba-tiba hampir jatuh pingsan. Sepertinya Sonya masih belum bisa menghilangkan rasa takut yang menderanya. “Aku tidak tahu kamu sekejam ini Fathia. Lihatlah sahabatmu sampai tidak sanggup berjalan untuk pergi dari sini. Dia sangat ketakutan karena harus memakai kafan segala,” protes Abrar dengan emosi saat mereka berada di dekat Sonya yang sedang diperiksa dokter Dewa. “Kalau tidak melakukan kesalahan atau berbohong kenapa harus takut, Mas? Andai aku yang diuji, aku tidak akan takut selama aku tidak bersalah atau berbohong,” sahut Fathia tenang. “Tapi tidak semua orang yang masih hidup sanggup memakai kain kafan. Baru melihat saja biasanya mereka akan ketakutan,” jelas Abrar. “Sumpah pocong ini, bukankah ide dari mas Abrar. Kalau aku minta Mas saja yang melakukan rasanya tidak adil juga, ‘kan. Lagian, kemarin itu aku hanya mengusulkan saja. Kalau memang Sonya tidak bersedia seharusnya bilang saja,” sahut Fathia, membela diri. Dia tahu, Abrar sebenarnya sudah kesal dengan dirinya sejak kemarin-kemarin. Hanya saja, baru sekaranglah dia punya kesempatan untuk melampiaskan itu. Padahal sejak tadi, andai bisa pasti sudah marah-marah padanya karena ritual sumpah yang sengaja dia buat secara berlebihan ini. Namun karena ada kedua orang tuanya, ustadz Imron dan dokter Dewa, Abrar jadi menahan diri. “Kamu memang pintar cari alasan, Fathia. Sudah aku jelaskan bahwa tidak ada apa-apa dengan kami. Masih saja kamu tidak percaya. Sekarang kalau terjadi apa-apa dengan Sonya bagaimana? Apa kamu mau bertanggung jawab?” tanya Abrar. “Aku kembalikan pertanyaan itu, Mas. Bagaimana kalau kejadian ini ada hubungannya dengan sangsi yang telah dia ucapkan tadi?” tanya Fathia. “Fathia! Jaga ucapanmu! Sudah aku bilang berkali-kali. Aku dan Sonya tidak ada hubungan seperti yang kamu tuduhkan itu. Apa yang terjadi dengan Sonya sekarang itu hanya karena dia ketakutan saja. Bukan karena sangsi atau karma yang kamu pikirkan itu,” tegas Abrar. “Pak, sepertinya aku nggak kuat pulang sendirian, Pak. Sampai sekarang tubuhku rasanya lemas sekali,” keluh Sonya yang masih duduk di lantai bersandar di dinding ruangan persemayaman ini. “Sebenarnya tubuh Sonya baik-baik saja. Dia hanya merasa cemas. Karena tangannya cukup dingin,” ucap dokter Dewa lalu berdiri. “Tapi aku merasa tubuhku lemas, Dok. Rasanya aku tidak sanggup menyetir mobil sendiri,” sahut Sonya. “Kalau begitu kamu jangan pulang sendirian. Kamu harus ada yang mengantar pulang. Atau kalau kamu mau, aku bisa mengantar kamu pulang, Sonya,” tutur dokter Dewa kemudian menawarkan diri sekalian ingin membuat Abrar resah. “Jangan, Dok. Arah rumah Anda berlawanan dengan rumah Sonya. Anda bisa kemalaman sampai di rumah,” larang Abrar. “Kalau begitu kamu antar saja, Mas. Aku bisa pulang sendiri dengan para ART-ku,” usul Fathia, sudah menduga bila Abrar memang ingin mengantar Sonya pulang. Begitu juga sebaliknya, Sonya, pasti juga berharap diantar pulang oleh Abrar. “Tentu saja. Aku harus bertanggung jawab mengantar dia pulang. Dia jadi seperti ini gara-gara aku, bukan?” sahut Abrar. “Kalau memang ingin mengantar Sonya pulang, antar saja, Mas. Nggak perlu cari alasan karena merasa bertanggung jawab. Meskipun kamu yang punya ide sumpah pocong itu tapi akulah yang meminta Sonya turut melakukan juga. Jadi seharusnya akulah yang bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada Sonya karena kecemasan dan ketakutannya itu,” jelas Fathia terdengar ketus. “Bukan begitu Fathia. Aku hanya----,” “Sudahlah, Mas. Kita nggak perlu debat seperti ini terus. Seharusnya sumpah pocong ini nggak perlu terjadi kalau kamu mau melepasku. Aku juga tidak akan memintamu mengakui hubunganmu dengan Sonya,” ucap Fathia memotong kalimat Abrar dengan emosi mulai meninggi. “Kamu ini bicara apa, Fathia? Lama-lama aku jadi bingung dengan sikapmu. Aku sudah berusaha membuktikan bahwa aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan itu,” ucap Abrar, berlagak bingung. “Itulah yang aku maksud, Mas. Mas Abrar jangan terus bertele-tele. Pernikahan kita tinggal seminggu, Mas. Sebaiknya kita akhiri saja semuanya. Untuk apa kamu menikah bila wanita yang kamu sukai adalah Sonya?” ucap Fathia tidak dapat lagi menahan emosi karena merasa Abrar hanya ingin terus bersandiwara untuk mengelabuhinya. “Tidak Fathia! Aku hanya ingin menikahimu! Mas, tidak pernah ingin menikahi wanita lain,” tegas Abrar mencengkram kedua lengan Fathia. Lalu dia menoleh pada dokter Dewa dan juga beberapa ART Fathia yang masih berada di ruangan itu. “Kalian dengarkan aku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan, Sonya. Aku hanya ingin menikahi Fathia. Karena itulah aku rela dan berani melakukan sumpah pocong tadi. Jadi, jangan pernah berpikir seperti Fathia. Apa yang dia tuduhkan itu tidak benar,” tandas dia selanjutnya. Tiba-tiba petir menggelegar bersahutan. Angin kencang berhembus hingga membuat pintu rumah persemayaman itu terbuka. Hujan pun turun dengan begitu deras. Saat ini memang musim hujan. Entah kebetulan atau tidak. Namun suasana ini semakin membuat pertengkaran Fathia dan Abrar menjadi terasa mencekam. Semua yang berada di ruangan itu sejenak terdiam. “Berhati-hatilah dalam berbicara, Mas. Allah dan semestaNya mendengarmu. Aku hanya mengingatkan saja. Terkadang kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu,” ucap Fathia dengan nada rendah namun terdengar dingin dan tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD