11. Sumpah Dimulai

1347 Words
“Assalamualaikum.” Terdengar suara Abrar mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Lalu tak lama kemudian pintu terbuka. Fathia dan yang lain menoleh ke arah pintu. Meskipun tidak bisa melihat, dia bisa mendeteksi dari mana arah datangnya suara. Fathia penasaran. Ingin tahu bagaimana reaksi Abrar sekarang setelah melihat dekorasi ruangan ini. Sampai sekarang dia tidak mendengar atau merasakan suara dan getaran langkah Abrar masuk ke dalam ruangan ini. Kira-kira apakah yang sedang dia perhatikan saat ini. “Mengapa berdiri saja di situ, Nak? Ayo, masuklah,” ucap Danu Nugraha, papanya Fathia. “Mari, Mas. Silakan duduk,” sahut Fathia turut bersuara. Dia harus bersikap seramah mungkin agar Abrar tidak kesal atau pun berniat mundur dari ritual ini setelah melihat dekorasi ruangan ini. Dokter Dewa yang duduk di samping pak ustadz Imron segera berdiri untuk menghampiri Abrar. “Ada apa, Mas? Mengapa masih termangu di sini? Ayo, Mas. Duduklah bersamaku di situ,” ucapnya sambil menyentuh punggung Abrar. “I---- Iya, Dokter. Mari,” sahut Abrar lalu melangkah bersama dokter Dea masuk ke dalam ruangan dengan perasaan takut. Dia sama sekali tidak menyangka Fathia melakukan ritual ini di rumah persemayaman dan dengan dekorasi menyeramkn seperti ini. Dokter Dewa mengajaknya duduk di samping ustadz Imron dan juga Danu Nugraha beralaskan karpet berwarna hitam. “Jangan takut, Nak. Aku akan yakin kamu akan baik-baik saja. Sebenarnya aku juga tidak percaya dengan ritual ini. Tapi, kamu lakukan saja. Buat hati putriku merasa puas agar dia mau menikah denganmu,” bisik pak Danu Nugraha setelah Abrar duduk di samping. Sementara itu, dokter Dewa yang juga mendengar ucapan Danu Nugraha barusan, merasa miris dengan jalan pikiran papanya Fathia itu. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menyerahkan putrinya pada pria yang sudah jelas-jelas berselingkuh dengan wanita lain. Dan, yang membuat Dewa merasa aneh, seolah perselingkuhan itu dianggap wajar. Fathia harus bisa menerima bahwa seorang pria itu sudah biasa melakukan perselingkuhan yang penting, dia tidak menikahinya. Kembali seisi ruangan menoleh ke pintu. Sonya telah datang dengan mengetuk pintu dan salam. Seolah sudah janjian. Keduanya memakai busana dengan tema yang sama. Yakni busana muslim berwarna serba putih. “Sonya, masuklah, Nak. Duduklah kemari. Di samping Ibu dan Fathia,” ucap Sundari Nugraha begitu melihat Sonya membuka pintunya dan berdiri menatap ruangan itu dengan raut agak ketakutan. “Bagaimana reaksi Sonya, Ma?” tanya Fathia. “Sesuai yang kamu inginkan. Gadis itu tampak ketakutan,” sahut bu Sundari sambil membetulkan kerudungnya yang melorot dengan nada terdengar agak ketus pada putrinya itu. “Sonya, kemarilah. Duduklah di sini,” ucap Fathia dengan senyum ramahnya. Sonya mengangguk lalu dengan wajah tegang dia melangkah ke dekat Fathia dan mamanya yang duduk di atas karpet di depan Abrar yang berada di seberang karpet. Sesekali dia mengarahkan pandangannya pada Abrar. Sungguh, tidak diduga Fathia telah mempersiapkan ritual sumpah pocong ini dengan maksimal. Tadi, dia sebenarnya sudah enggan datang ketika tahu tempat ritual ini di area pemakaman, tepatnya di dalam rumah persemayaman ini. Selanjutnya, Fathia tak mau menunggu lama. Dia segera meminta pak ustadz untuk memulai ritual sumpah pocong itu. Tapi sebelumnya dia bertanya pada Abrar dan Sonya apakah sudah siap bila ritualnya dimulai sekarang juga. “Mas Abrar dan Sonya sudah siap 'kan?” tanya Fathia, sengaja tidak mau menjelaskan atau membahas lebih detail lagi untuk apa dan mengapa acara sumpah pocong ini dilakukan. Dia yakin semua orang di ruang persemayaman ini sudah tahu semua tujuan sumah pocong ini. Abrar mengangguk serius. “Aku sudah siap, Fathia.” “Aku juga, Fathia. Aku sudah siap,” sahut Sonya. “Alhamdulilah... Kalau begitu silahkan dimulai sekarang pak Ustadz,” ucap Fathia pada ustadz Imron. “Baik, mbak Fathia,” ucap ustadz Imron. Lalu dia menoleh pada Abrar yang duduk di barisannya. “Mari pak Abrar. Ikuti saya. Anda duluan. Baru mbak Sonya kemudian,” ucapnya. “Tidak, pak Ustadz. Saya mau bersama-sama dengan Abrar saja. Bisakah sumpah ini dilakukan bersama-sama,” ucap Sonya terliha tegang dan ketakutan. Mendengar itu Fathia tersenyum tipis. Sementara yang lain terlihat menatap Sonya. “Baru dimulai saja. Tapi kalian sudah ketahuan,” bisik Fathia dalam hati. “Maaf, mbak Sonya. Akan lebih baik satu persatu. Karena kalian bukan muhrim dan bukan suami istri,” tegas pak Imron. “Tapi saya merasa takut bila melakukan ritual itu sendirian,” ungkap Sonya sambil meremas jemarinya sendiri. “Tidak perlu takut mbak Sonya. Saya akan berada di dekat Anda. Sama seperti yang akan saya lakukan pada pak Abrar sebentar lagi,” jelas ustadz Imron. “Kamu jangan cemas, Sonya. Ikuti saja perintah pak ustadz. Nanti pak Imron akan menuntun dan menjagamu,” tutur Fathia menambahi. Tangannya berusaha mencari tangan Sonya yang duduk di sampingnya. Dia merasakan jemari kedua tangan sahabatnya itu terasa sangat dingin. “Baiklah. Terserah pak ustadz saja,” ucap Sonya pasrah. Fathia kembali tersenyum seraya mengelus jemari Sonya. Tidak ada yang tahu kecuali Tuhan, bila saat ini bila senyumnya itu mempunyai makna sebuah kepuasan. Setidaknya malam ini sedikit banyak dia telah bisa membuat dua manusia pengkhianat itu tegang dan ketakutan. Apa yang dirasakan Sonya, bisa juga dirasakan Abrar. Selain itu, sikap Sonya ini, semakin menunjukkan kalau memang sebenarnya mereka telah melakukan perselingkuhan dan sekarang mereka sedang dihantui dosa yang telah mereka lakukan sendiri. Abrar bersama pak ustadz Imron melangkah ke tengah ruangan yang sudah dialasi karpet dan bertabur bunga-bunga mawar dan juga melati. Ustadz Imron meminta Abrar berbaring. Lalu dia mengambil kain kafan yang ditumpuk di dekat kepala Abrar. Setelah itu dia memulai membungkus tubuh Abrar dengan kain berwarna putih. Fathia sangat penasaran. Menyesal tadi, mengapa dia minta duduk di dekat dokter Dewa. Andai sekarang dia ada di dekatnya, pasti sekarang dia tahu bagaimana reaksi dan sikap Abrar dan Sonya dengan jelas. “Kamu akan menyesal Fathia karena telah memperlakukan calon suami dan sahabat sendiri seperti ini,” ucap Sonya dengan nada kecewa berbisik ke telinga Fathia sambil menatap Abrar yang dikafani pak Imron. “Entah mas Abrar mengatakan padamu atau tidak. Sumpah pocong ini dia yang minta. Aku hanya menuruti kemauannya. Jadi, apa yang akan aku sesalkan, Sonya?” balas Fathia bergerak mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Sonya. Percakapan itu terpaksa berhenti. Karena pengkafanan telah selesai. Abrar persis jenazah yang sudah dipocong hanya dengan menyisakan raut mukanya saja. Kemudian pak ustadz Imron mulai menuntun Abrar untuk bersumpah. “Baiklah, kita mulai saja sumpah ini. Pak Abrar, apakah Anda sudah siap?” tanya ustadz Imron sambil membuka ponselnya. “Saya sudah siap, Pak. Silakan dimulai,” jawab Abrar rautnya wajahnya menegang. “Apakah Anda bersedia mengucapkan sumpah ini atas nama Allah?” tanya ustadz Imron. “Kalau atas nama Allah saya yang akan menuntun sumpah ini. Tapi bukan atas nama Allah saya akan mundur,” jelas ustadz Imron selanjutnya “Tentu saja, pak Ustadz. Saya akan melakukan sumpah ini atas nama Allah dan rasulullah,” ucapnya mantap. “Benar-benar munafik sejati. Kamu yang menginginkan sumpah pocong ini, mas Abrar. Maka tanggung sendiri dosamu,” bisik Fathia dalam hati. “Kita mulai sekarang. Ikuti ucapan saya,” pinta pak Ustadz “Siap, pak Ustadz,” balas Abrar dengan jantung mulai berdebar kencang. Apalagi setelah itu lampu dimatikan, dia jadi semakin ketakutan. Suasana memang berubah menjadi gelap temaram dan seram. Mungkin hanya Fathia dan pak ustadz saja yang tidak merasakan hawa berbeda. Tapi tentu saja Abrar tidak menunjukkannya. Dia merasa malu pada semuanya bila terlihat seperti pria penakut. “Demi Allah saya bersumpah. Bahwa saya tidak mempunyai hubungan terlarang, tidak mempunyai hubungan percintaan dan tidak pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri dengan Sonya seperti yang dituduhkan oleh calon istri saya, Fathia,” ucap Abrar mengikuti yang diucapkan ustadz Imron terdengar gemetar. “Saya siap menanggung akibatnya bila saya ternyata telah berdusta dan melakukan hubungan terlarang tersebut. Saya rela ditakdirkan hidup miskin tujuh turunan. Saya relah tidak diberi keturunan. Saya rela diberikan penyakit menular menahun hingga tua. Dan saya akan menjadi pria impo--- “ Abrar tidak mau melanjutkan kalimat itu. “Tidak. Aku tidak mau menjadi pria impoten,” ucapnya kemudian. “Eh, maksudku, mengapa akibatnya mengerikan sekali?” protes Abrar tanpa dia sadari menjelaskan maksud ucapannya dengan gugup. “Kalau kamu tidak melakukannya, tidak perlu ketakutan seperti itu, Mas,” ucap Fathia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD