Fathia merasa lega akhirnya Papanya setuju dan bersedia menjadi salah saksi dalam sumpah pocong yang akan dilakukan oleh Abrar dan Sonya besok malam. Kini dia harus mulai mempersiapkan semua yang diperlukan untuk ritual sumpah itu. Dia tidak mau menyerahkan semua persiapan pada Abrar saja. Karena bisa saja dia hanya menyiapkan alat ala kadarnya. Tidak. Fathia tidak mau ritual ini akan jadi sia-sia. Sebab ritual ini bertujuan untuk membongkar kebohongan Abrar dan Sonya atas perselingkuhan keduanya. Jadi dia harus membuat kedua orang terpengaruh secara psikoligis. Fathia ingin dua orang itu mengalami ketakutan dan mau mengakui kesalahan setelah melakukan ritual itu.
“Tolong bantu aku, Dok. Apa Anda kira-kira punya ide membuat ritual itu terasa seram dan menegangkan?” tanya Fathia pada pagi harinya saat dia menemui dokter Dewa di poli mata di rumah sakit Mitra Medica.
“Rencananya kamu mau laksanakan ritual sumpah pocong itu di mana?” tanya dokter Dewa yang duduk di seberang meja menatap Fathia yang duduk di kursi di depannya.
“Aku mau melaksanakan ritual itu di area pemakaman, Dok,” ucap Fathia.
“Apa? Pemakaman? Yang benar saja, Fathia? Bagaimana caranya? Apa kamu minta dia mengenakan kain kafan dan benar-benar masuk ke dalam liang lahat begitu?” tanya dokter Dewa, dengan raut terkejut mencoba menebak ide gila salah satu pasiennya itu.
“Nggak seserem itu juga, Dok. Walau tidak bisa melihat aku juga merasa ngeri bila melakukan ritual di tengah pemakaman malam-malam,” sahut Fathia tenang. “Rencananya aku ingin mengadakan ritual itu di rumah persemayaman di dekat makam saja. Setidaknya walau tidak di tengah makam, namun masih terbawa suasananya yang seram. Sepi, gelap itulah yang ingin aku dapatkan dan dirasakan oleh mas Abrar dan juga Sonya,” jelas Fathia kemudian.
“Walau cuma begitu, bukan Abrar dan Sonya saja yang merasa takut. Tapi, aku juga merasa takut,” celetuk dokter Dewa menatap Fathia serius. Dia tidak menyangka Fathia punya ide gila seperti ini.
“Aku harus total, Dok. Dengan begitu kita bisa membuat mereka ketakutan akan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Kalau ritual itu kita laksanakan di masjid atau rumahku, aku khawatir tidak akan membuat mereka ketakutan dan mengakui kesalahannya,” jelas Fathia.
Dokter Dewa manggut-manggut. Dia sebetulnya bisa memahami maksud dan tujuan Fathia melakukan ritual itu seseram mungkin. Sebagai wanita yang terkhianati, mungkin ini juga jadi salah satu pembalasan yang bisa dia lakukan untuk membuat syok terapi pada calon suami dan juga mantan sahabatnya itu.
“Bagaimana, Dok? Apa Anda sudah menemukan ide? Kira-kira seperti apa acara ritual sumpah pocong itu agar terasa sangat menyeramkan untuk mas Abrar dan Sonya?” tanya Fathia lagi.
“Kita cari saja designer interior atau penata latar yang biasa bekerja dalam sebuah drama panggung dan semacamnya,” usul dokter Dewa.
“Wah, ide bagus itu. Aku setuju, Dok. Kalau begitu apa dokter tahu di mana kita bisa minta bantuan orang itu?” tanya Fathia kemudian, dengan wajah ceria penuh semangat. Satu masalah telah menemukan jalan keluarnya. Semoga orang dia cari hari ini akan segera dia dapatkan. Sebab nanti malam, Abrar dan Sonya akan datang dari Bandung. Dan dia ingin tempat melakukan sumpah pocong itu sudah siap.
Dokter Dewa bangkit dari tempat duduknya. Lalu dia berjalan mendekati Fathia. Pria itu kemudian berhenti dan berdiri di depan Fathia. Tepatnya di samping meja.
“Aku ada teman yang mungkin kenal dengan orang yang punya keahlian seperti itu. Tapi, kalau nggak ada yang bisa bantu, kamu nggak usah cemas. Kita rancang sendiri saja. Kamu tinggal minta tolong beberapa ART kamu untuk membantu membuatnya design ruangan serem yang kamu inginkan. Kita bisa beli bahan-bahan dan alat yang diperlukan. Aku akan mengawasi mereka,” jelas dokter Dewa.
Mendengar itu, Fathia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan para ART-nya saja. Karena mencari designer interior atau pun penata latar yang bersedia langsung bekerja hari ini, dia rasa tidaklah mudah. Fathia tidak mau mengambil resiko. Beruntung untuk hari ini dokter Dewa, hanya bertugas sampai pukul dua belas siang saja. Jadi, setelah dari rumah sakit, dia bisa langsung menuju rumah persemayaman di dekat area pemakaman yang telah dipilih oleh Fathia.
Sebelumnya Fathia sudah memerintahkan salah satu ART di rumahnya untuk membeli kain kafan dan alat-alat dekorasi ruangan yang membuat kesan seram. Seperti tirai berwarna hitam, lilin, bunga tabur, minyak wangi khusus dan lain-lain yang telah disebutkan oleh dokter Dewa setelah dia searching di internet. Tak lupa Fathia juga telah memanggil seseorang ustadz untuk membimbing sumpah itu. Untuk yang satu ini bukan ide Fathia, namun Abrar yang meminta supaya nanti dia dibimbing seorang ustadz saat melafalkan sumpah itu.
Fathia paham, meskipun Abrar yang punya inisiatif melakukan sumpah pocong, tapi pria itu sebenarnya timbul perasaan takut juga. Karena ini hanyalah ritual yang bermula dari masyarakat di jawa pada zaman dahulu yang dia percaya sebagai salah satu budaya berbau klenik, Fathia sebenarnya tidak ingin memanggil seorang ustadz. Justru dia ingin memanggil paranormal sekalian, agar ritual ini terasa seram. Namun, terpaksa dia mau mengikuti kemauan Abrar agar pria itu memenuhi janjinya melakukan ritual ini.
Agar tidak salah paham, Fathia telah mengungkap maksud dan tujuan mengapa dia melakukan ritual ini pada sang ustadz. Dia menceritakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Abrar dan Sonya. Bahwa bukan dia pula yang menginginkan sumpah pocong ini. Tapi justru Abrar lah yang menginginkannya untuk meyakinkan dia tidak bersalah.
Sambil menikmati es teh di dalam mobil di depan rumah persemayaman yang dia sewa, Fathia bersama dokter Dewa sedang merancang lafal sumpah pocong sekaligus akibat yang dia terima bila ternyata selama ini benar-benar mengkhianati Fathia dan punya hubungan dengan Sonya. Fathia menyebut akibat-akibat satu persatu. Sementara dokter Dewa menulisnya pada secarik kertas yang nanti akan diberikan pada pak ustadz pembimbing sumpah itu.
“Itu masih kurang seram, Fathia. Buat lebih mengerikan lagi. Buat dia sulit dan terbata-bata saat mengucap kalimat itu karena takut benar-benar akan terjadi dan menimpa mereka di kemudian hari,” protes dokter Dewa. “Masak hanya diberi penyakit mematikan dan umur yang pendek. Itu kurang seram,” lanjutnya.
“Terus, apa dong, Dok? Aku bingung dan tidak punya ide lagi,” ungkap Fathia bingung.
“Kalau dia terkena penyakit mematikan dan cepat mati, kita tidak bisa menyaksikan dia hidup sengsara, dong. Sebaiknya, suruh dia menyebut kalau ternyata selama ini dia memang selingkuh dengan Sonya atau sebaliknya, maka dia rela menjadi impoten, sakit menahun sampai tua, miskin sampai tujuh turunan dan tidak akan diberi keturunan seumur hidup,” sebut dokter Dewa yang membuat Fathia merasa merinding.
“Itu sengsara sekali, Dok. Aku tidak tega. Jangan, Dok. Asal dia mengakui dan mau melepaskan aku dari rencana pernikahan saja, itu sudah cukup. Aku sudah merasa muak dengan dia. Namun aku tidak ingin menyiksa mereka dengan doa buruk seperti itu. Dan sebenarnya sumpah pocong ini hanya untuk membuat mereka mau mengakui kesalahan saja. Itu sudah cukup, Dok,” ungkap Fathia.
“Apa kamu sudah marah pada Abrar? Apa kamu sudah menangis padanya mengenai masalah ini?” tanya dokter Dewa dengan suara rendah dan melembut.
“Sudah, Dok. Aku sudah marah dan menangis pada mereka berdua. Tapi rasanya aku seperti marah dan menangis pada tugu. Mereka tidak mau mengakuinya dan seolah ingin mengelabuhi dengan memanfaatkan kebutaanku ini. Aku seperti berteriak-teriak di ruang yang gelap dan kosong yang hanya ada aku penghuninya. Itu sangat menyakitkan, Dok. Aku benar-benar merasa sendiri. Sementara kedua orang tuaku yang aku harapkan bisa mendukung dan membelaku justru malah meminta acara pernikahan kami dipercepat,” ungkap Fathia, dengan suara dan tangis yang tertahan.
Dokter Dewa terenyuh dan tersentuh melihatnya. Tak sadar dia raih jemari tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan lembut. “Sabarlah, Fathia. Yakinlah, Allah pasti akan menolongmu. Semoga setelah melakukan ritual ini jiwa mereka akan selalu dihantui rasa bersalah. Mereka akan ketakutan sendiri dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Karena itulah, aku minta kamu menyebutkan balasan-balasan karma yang akan mereka dapat seberat mungkin. Aku harap mulai malam ini mereka akan dihantui hal itu. Setelah hari ini semoga mereka hidup tidak tenang lalu mengakui kesalahannya.”
Fathia akhirnya menuruti permintaan dokter Dewa. Dia menyebutkan banyak karma balasan yang lebih menakutkan lagi pada lafal sumpah pocong yang akan diucapkan Abrar dan Sonya nanti.
***
Malam telah tiba. Fathia bersama kedua orang tuannya telah berada di rumah persemayaman di area pemakaman. Dokter Dewa dan pak ustadz sudah berada di sana. Sesuai dengan keinginan Fathia, ruangan persemayaman itu didekorasi selayaknya rumah paranormal atau dukun-dukun dengan sentuhan kelambu hitam, taburan bunga-bunga di lantainya, serta nyala lilin-lilin kecil, ornamen gayung dari batok kelapa dengan lukisan tengkorak manusia yang biasanya untuk memanggil permainan arwah jelangkung. Tak lupa aroma bunga mawar dan melati yang cukup menyengat menambah suasana terasa cukup seram. Padahal lampu belum dimatikan. Karena selain Abrar dan Sonya belum datang. Acara ritual memang belum dimulai. Bagi yang bisa melihat pasti akan merasa merinding. Pak Ustadz saja tadi sempat melakukan protes dan hampir membatalkan kesediaannya membimbing sumpah ini. Namun, sekali lagi Fathia mengungkapkan ini bukan keyakinan yang dia percayai. Apa yang tergambar pada ruangan ini hanya untuk membuat suasana lebih seram saja. Pak ustadz akhirnya bisa mengerti. Pria itu bersedia tetap bertahan di tempat persemayaman itu sampai ritual selesai.
“Fathia! Apa-apaan ini? Tahu begini Mama nggak mau ikut. Ini tidak boleh, Nak. Selain seram, kamu bisa terjerumus ke dalam perbuatan syirik, Nak. Kamu bisa dilaknat Allah dengan melakukan ini. Kamu, ‘kan sudah berhijab dan berhijrah sekarang. Bagaimana kamu bisa lakukan hal-hal seperti ini?” bisik Sundari Nugraha dengan raut kesal.
“Ini hanya drama, untuk membongkar kebohongan Abrar, Ma. Kemarin malam aku sudah menjelaskan hal ini, ‘kan? Mengapa Mama masih mempertanyakan ini lagi, sih?” sahut Fathia, dengan raut yang sama kesalnya dengan sang Mama.
“Mama, benar-benar nggak habis pikir. Bagaimana Abrar kamu perlakukan seperti ini? Kamu ini sudah beruntung, mendapatkan pria yang memilki bibit bebet dan bobot jelas seperti dia. Orang tuanya berpangkat tinggi. Nanti setelah, dia pensiun, akan masuk ke dalam dunia politik. Mertua kamu bisa menjadi presiden atau wakil presiden. Apa kamu tidak bangga punya kehidupan seperti itu? Tapi mengapa kamu malah ingin mengadili dia dengan cara seperti ini. Ingat, Fathia, bila setelah ritual ini Abrar pergi, kamu tidak akan bisa mendapatkan pria seperti dia Fathia. Kamu tidak bisa!” bisik Sundari lagi.
“Memang itu yang aku harapkan, Ma. Aku tidak berharap mendapatkan pria seperti Abrar. Aku tidak peduli, papa akan menjadi presiden atau sekjen PBB sekali pun. Aku hanya ingin hidup tenang dan jauh dari pria munafik seperti dia. Kalau Mama dan Papa menyukainya dan ingin punya besan calon presiden, angkat saja dia jadi anak Mama dan Papa,” sahut Fathia ketus.
Seorang ART pria yang ditugaskan Fathia di depan menelpon. Dia menyampaikan bila Abrar telah datang. Sekarang dia sedang berjalan menuju ke ruangan ini. Sementara Sonya juga baru sampai dengan mobil yang berbeda. Fathia menarik napas lega. Akhirnya mereka yang dia tunggu-tunggu telah tiba juga. Kini dia tidak sabar mereka tiba di ruangan ini dan segera melakukan sumpah pocong itu.