9. Merasa Sangsi

1708 Words
Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya bersama dengan dokter Dewa, Fathia mencoba menelpon Abrar. Untuk sementara dia biarkan dokter Dewa fokus dengan kemudinya. Hatinya sudah mantap setuju dengan ritual sumpah pocong itu demi mengungkap kebohongan itu. Pernikahan tinggal seminggu lagi. Dia ingin tahu, kapan kira-kira Abrar akan melakukan sumpah itu. Jangan sampai itu hanya janji dan ucapan manis untuk mengulur waktu sampai tiba hari pernikahan dan dia tidak bisa mundur lagi. Karena Fathia harus meyakinkan papanya. Bahwa Abrar adalah bukan pria baik-baik dan tetap untuknya. “Halo. Fathia. Bagaimana hasil pemeriksaan kedua mata kamu? Nggak ada masalah, ‘kan?” sapa Abrar terdengar agak panik dan langsung menyerbu Fathia dengan pertanyaan untuk menunjukkan kepedulian dan perhatiannya. “Assalamualaikum, Mas,” sapa Fathia, dingin. “Oh, maaf. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu,” jawab Abrar agak gugup karena dia lupa mengucapkan salam. Sebab biasanya dialah yang melakukan itu. Kini setelah Fathia berhijab calon istrinya itu, justru yang menyapanya dengan salam. “Alhamdulillah, kedua mataku baik-baik saja, Mas. Yah, namanya mata baru saja cidera dan berkali-kali dioperasi, wajar bila kadang-kadang merasakan nyeri dan atau perih,” jelas Fathia mencari alasan jawaban yang tepat. “Alhamdulillah, syukurlah. Mas, lega mendengarnya. Mas, jadi kepikiran terus sejak kamu mengeluh tadi. Takutnya ini akan menjadi parah. Apalagi pernikahan kita sudah semakin dekat, Fathia,” ucap Abrar bagai seolah tidak ada masalah di antara dia dan Fathia sebelumnya. “Ingat, Mas. Tidak ada pernikahan bila aku belum yakin dengan kamu. Aku masih terbayang-bayang dengan video itu,” pancing Fathia. Setelah itu dia mendengar suara Abrar membuang napas cukup keras. “Fathia, Mas ‘kan sudah janji akan melakukan sumpah pocong. Setelah dari luar kota Mas akan lakukan sumpah itu. Kamu harus percaya, Fathia. Sumpah itu diyakini punya akibat buruk bagi yang berbohong atau melanggarnya. Yakinlah. Sumpah pocong itu bukan sumpah yang main-main,” tegas Abrar. “Jadi, mas Abrar sungguh-sungguh mau melakukan itu?” tanya Fathia. “Sungguh-sungguh, Fathia. Kapan sih, aku pernah mengingkari janjiku padamu?” tanya Abrar. “Kapan kira-kira itu, Mas? Sementara pernikahan kita tinggal tujuh hari lagi. Belum kita meyakinkan Papaku. Karena aku ingin, saat kamu melakukan ritual itu Papa dan Mama juga menyaksikannya,” jelas Fathia, selanjutnya. “Iya, Fathia, aku ingat kalau pernikahan kita sudah dekat. Bagaimana kalau besok malam? Karena malam ini Mas nggak bisa langsung pulang,” ungkap Abrar. “Apa? Jadi malam ini mas Abrar nggak bisa langsung pulang? Aku kira kamu bisa langsung pulang seperti biasanya,” ucap Fathia terdengar manja. “Maafkan, Mas, Sayang. Perjalanan kali ini aku tidak hanya bertemu dengan satu klien saja tapi ada tiga klien. Bahkan saat sarapan pagi besok, aku baru bisa bertemu dengan klien ke tigaku,” jelas Abrar. “Ya sudah, kalau memang begitu, Mas. Fokus dulu saja dengan tugas kamu. Aku saja yang akan menyampaikan perihal ritual sumpah pocong itu sama Papa. Jadi besok ketika kamu sudah pulang, Mas tinggal jalani saja ritualnya,” sahut Fathia, semakin membuat Abrar tidak bisa menghindar lagi dengan janjinya tadi. “Oh, bagus itu. Aku setuju. Kamu yang bilang ke Papa kamu soal rencana ritual sumpah pocong ini. Dan besok saat pulang, aku tinggal melakukan itu,” sahut Abrar terdengar antusias. “Satu lagi, Mas. Tolong sampaikan ke Sonya, ya. Kalau bisa dia juga mau melakukan ritual ini,” ucap Fathia terdengar ragu dan mengurangi sedikit volume suaranya. Abrar terdiam sejenak. Rupanya permintaan itu cukup mengejutkan dirinya. Dan apa yang diminta Fathia ini sungguh lebih berat dari pada dia menyanggupi melakukan ritual pocong nanti. Sonya adalah seoarang wanita. Dia mungkin akan menolak permintaan ini. Mungkin dia akan ketakutan melakukan ritual semacam ini. “Aku hanya ingin memperbaiki semuanya, Mas. Selama ini aku sudah menuduh kalian dengan bukti yang benar-benar aku lihat dengan kedua mata kepalaku sendiri. Dan, aku tidak meragukan kebenaran sedikit pun tentang keaslian video itu. Jadi kalau Sonya punya itikad baik untuk memperbaiki nama kalian di depanku, aku harap dia juga mau melakukannya. Kecuali dia memang sudah tidak ingin memperbaiki persahabatan kami lagi,” jelas Fathia. “Kalau itu aku tidak bisa berjanji, Fathia. Kenapa kamu tidak memintanya dengan Sonya langsung? Kamu bisa menelponnya, bukan?” ucap Abrar malah mencoba membalikkan itu sebagai pertanyaan dan menjadi tugas berat bagi Fathia. “Selama ini aku sudah sering mengatakan, kalau kami hanya dekat dalam urusan dan tugas kantor saja,” jelasnya kemudian, seolah dia dan Sonya memang tidak dekat dan tidak punya hubungan apa-apa. Namun, tidak begitu dalam rencana Fathia. Dia tidak hanya ingin mengganggu psikologis Abrar saja tapi juga Sonya tidak boleh dilupakan. Entah hasilnya seperti apa setelah ritual itu nanti dijalankan. Tapi yang jelas dia ingin mulai saat ini keduanya tidak bisa merasa tenang dan bahagia begitu saja. “Aku hanya meminta mas Abrar untuk menyampaikan hal itu saja. Sebagai teman kantor, masak sih, hanya untuk menyampaikan ini sulit sekali. Aku lihat kalian selama ini sering bercanda juga, bukan, saat kita sedang jalan-jalan bertiga,” jelas Fathia sengaja memaksa Abrar mau melakukan keinginannya. “Apa iya, setelah aku mengungkap video itu kalian tidak pernah bicara dan membahas soal ini sebagai teman?” tanya Fathia, penuh selidik. “Tentu saja, pernah. Bahkan kami sempat ingin menemui kamu bersama-sama untuk menyangkal tuduhan itu. Tapi, waktu itu kami urungkan. Takut kamu berpikir, kami memang punya hubungan,” jelas Abrar, terkadang sedikit terbata karena merasa setiap ucapan Fathia itu semacam interogasi yang menyelidiki dirinya dan Sonya. “Baiklah. Nanti aku akan coba sampaikan keinginanmu itu pada Sonya. Semoga saja dia bersedia melakukan sumpah pocong itu bersama-sama denganku. Dan semoga setelah ritual ini kami jalani, hubungan kita bertiga akan kembali seperti dulu,” ucap Abrar. “Aamiin, semoga begitu, Mas. Aku ingin kita bertiga bisa berbaikan seperi dulu lagi,” ucap Fathia demi untuk meyakinkan Abrar. Setelah itu dia mengakhiri sambungan teleponnya. Setelah itu dia bermaksud menghubungi pak Bram, direktur marketing di perusahaannya. Fathia ingin tahu, apa benar hari ini, dia ada kerja ke luar kota bersama Sonya dan Abrar. Baru tangan Fathia bergerak menekan nomor pada keypad ponselnya, dokter Dewa yang sejak tadi diam menyimak percakapannya dengan Abrar tiba-tiba mengajukan pertanyaan padanya,” Kamu mau telepon siapa lagi?” “Aku mau telepon pak Bram. Aku ingin tahu, apa benar mas Abrar dan Sonya hari ini pergi keluar kota bersamanya,” jawab Fathia. “Oh, begitu. Ya sudah. Kamu telepon saja,” sahut dokter itu lalu fokus kembali pada kemudinya. Fathia kemudian menelpon pak Bram. Namun sayang, ponsel pria itu sedang tidak aktif. Biasnya kalau begini, Fathia menduga pria itu sedang ada rapat penting atau sedang melakukan pekerjaan penting yang tidak bisa diganggu. Fathia lalu menekan keypadnya ponselnya lagi, dia ingin menelpon mantan sekretarisnya saja. Mungkin Alin, bisa memberinya informasi di mana direktur itu sekarang dari sekretaris pak Bram, Risa. “Halo, bu Fathia. Apa kabar? Ada apa, Bu? Apa kira-kira ada yang bisa saya bantu?” suara Alin segera menyapanya dengan penuh semangat dan banyak pertanyaan. “Alhamdulillah, kabarku baik, mbak Alin,” jawab Fathia. Kemudian diam sejenak. “Mabka Alin, aku mau meminta waktumu sebentar. Tolong carikan informasi ke sekretaris Risa, apa hari ini pak Bram sedang ke luar kota bersama pak Abrar dan manajer Sonya,” balas Fathia langsung pada pokok tujuan. “Tidak, Bu. Hari ini atau pu besok pak Bram tidak ada tugas di luar kantor. Bahkan sekarang dia sedang rapat bersama Papa Anda. Saya kebetulan juga sedang membantu beliau, karena hari ini Risa sedang sakit dan izin tidak masuk kerja,” ungkap Alin, seketika membuat Fathia terhenyak. Karena dugaan dan kecurigaannya benar, sepertinya Abrar telah berbohong. Dokter Dewa menoleh sebentar memperhatikan Fathia yang terlihat terhenyak. Lalu tangan kirinya menyentuh tangan kanan Fathia untuk membuat hatinya tenang. Fathia terkejut lalu menoleh ke arah dokter Dewa. Namun, dia kembali fokus pada ponselnya yang tertempel di telinga sebelah kiri. “La--- Lalu--- Lalu apa pak Abrar dan Sonya sekarang juga ada di kantor?” tanyanya kemudian. “Tidak, Bu. Pak Abrar hari ini izin tidak masuk kantor katanya izin mengantar Ibu periksa mata. Sementara bu Sonya memang ada tugas ke luar kota. Dia ada tugas ke bandung, Bu,” ungkap Alin, yang kemudian terdiam sejenak. “Maaf, Bu. Apa pak Abrar sampai sekarang belum datang menjemput bu Fathia? Bagaimana kalau saya yang mengantar Ibu saja untuk periksa? Di sini banyak sekretaris yang bisa menggantikan tugas saya. Saya akan mengantar Ibu saja,” usul Alin yang terdengar begitu perhatian pada mantan bosnya itu. Entah dia tahu atau pura-pura tidak tahu masalahnya antara Abrar dan Sonya. Fathia menolak tawaran itu dengan mengucapkan terima kasih karena mantan sekretarisnya sudah peduli padanya. Entah Alin tahu atau tidak tentang masalahnya dengan Abrar dan Sonya, Fathia tidak mau tahu tentang hal itu. Dia juga tidak peduli akan menjadi bahan gosip di antara para sekretaris atau karyawan lain. Yang penting sekarang dia sudah tahu bila, Abrar hari ini berbohong lagi. Abrar saat ini sedang mengantar Sonya bertugas di Bandung. “Apa yang kamu pikirkan Fathia? Percayalah saat ini kamu telah berhasil membuat dua orang itu merasa cemas,” ucap dokter Dewa setelah Fathia menutup teleponnya kemudian terdiam seperti sedang tegang memikirkan sesuatu. “Apa maksud, Dokter?” tanya Fathia tidak mengerti. “Permintaan kamu agar Sonya juga menjalani sumpah pocong, pasti akan membuat mereka berdua kehilangan hasrat untuk bermesraan malam ini. Yakinlah padaku, Fathia,” jelas dokter Dewa sambil tersenyum ke arah Fathia meskipun gadis itu tidak melihatnya. “Dokter bisa saja,” ucap Fathia sambil menggelengkan kepala seraya senyum-senyum juga. Sampai di rumah Fathia segera menyampaikan rencana sumpah pocong itu pada kedua orang tuanya. Mendengar itu, papanya seketika marah besar dengan membentak Fathia dengan suara tinggi dan lantang. Danu Nugraha tidak setuju Abrar melakukan ritual berbau klenik itu. Baginya masalah perselingkuhan itu sudah selesai. Fathia dan Abrar harus fokus untuk menyiapkan pernikahan mereka yang tinggal seminggu lagi. Bukannya terus mempermasalahkan perselingkuhan itu. Namun, bukan Fathia kalau tidak keras kepala. Dia menegaskan pada papanya, bila sumpah pocong itu dilakukan demi kebaikan bersama. Setelah menjalani ritual itu, akan membuat dia dan Abrar lebih tenang. Bila memang Abrar tidak melakukan perselingkuhan itu, tidak akan terjadi apa-apa dengannya. Fathia pun akan kembali percaya padanya. Mereka akan menjalani pernikahan dengan bahagia tanpa ada unsur rasa curiga lagi. Setelah mendengar penjelasan itu, papa Fathia diam untuk beberapa saat. Lalu akhirnya, dia memenuhi permintaan putrinya itu dan bersedia datang dalam ritual sumpah pocong besok malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD