8. Rela Sumpah Pocong 2

1762 Words
“Maafkan aku dokter Dewa. Aku masih ada kerjaan di kantor hari ini. Terpaksa aku tinggalkan Fathia di sini. Katanya dia mau konsultasi mengenai kedua matanya yang sering terasa nyeri sejak semalam,” ucap Abrar ketika mengantar Fathia ke poli dokter Dewa di rumah sakit Mitra Medica usai mereka pulang mengambil cincin pernikahan mereka. “Kamu tenang saja, mas Abrar. Aku akan menjaga Fathia dan kalau bisa nanti akan aku antar pulang juga seperti kemarin. Kamu tenang saja, Mas. Fathia insyaAllah aman bersamaku,” ucap dokter Dewa. “Wah kebetulan sekali. Hari ini aku ada rapat sampai malam, Dok. Terima kasih banyak kalau Anda mau mengantar calon istri saya pulang,” sahut Abrar terlihat senang. “Tidak perlu, Dok. Aku bisa pulang sendiri. Aku malu selalu merepotkan dokter. Padahal dokter juga banyak. Tapi masih punya waktu untuk mengantar aku pulang,” tolak Fathia agak ketus. Bermaksud menyindir Abrar. Rupanya pria itu merasa bila Fathia sedang menyindirnya. Dan bukan Abrar kalau tidak bisa mencari alasan agar orang percaya padanya. “Bukan begitu, Fathia. Aku benar-benar ada rapat nanti di luar kota bersama klien.” “Apakah Sonya juga ikut?” tanya Fathia penuh selidik. “Ehh, iya. Tentu saja dia ikut. Dia ‘kan manajer marketing. Direkturnya juga ikut,” jawab Abrar sedikit gugup. “Kalau pak Bram ikut, mengapa Sonya juga ikut? Apa pentingnya dia?” kejar Fathia terus. “Aku tidak tahu. Pak Bram yang mengajaknya seperti biasa. Jadi tidak enak kalau harus mempertanyakan itu,” jelas Abrar, mencoba menjelaskan bahwa keikutsertaan Sonya dalam rapat ke luar kota nanti bukanlah kehendaknya tapi kehendak direktur pemasaran. “Fathia, kenapa kamu masih curiga saja, sih? Bukankah aku sudah siap melakukan sumpah pocong. Masak kamu masih curiga terus sih, sama Mas,” protes Abrar kemudian. “Apa? Sumpah pocong?” sahut dokter Dewa dengan dahi berkerut menatap Abrar dan Fathia bergantian. Abrar menarik napas lalu membuangnya keras-keras. “Iya, Dok. Perlu dokter Dewa tahu. Selama ini Fathia berpikir aku telah berselingkuh dengan Sonya. Apalagi sebelum kecelakaan dia telah melihat sebuah video panas seperti sosok kami. Aku sudah mengatakan itu tidak benar. Video itu hanya editan agar hubungan kami putus. Namun, calon istriku yang cantik ini tidak percaya. Karena itulah, demi meyakinkan dia, aku akan melakukan ritual sumpah pocong saja. Aku harap besok dokter Dewa mau datang menjadi saksi ritual sumpah itu.” “Kadang kita memang harus melakukan perjuangan yang sangat keras demi untuk meyakinkan seorang wanita yang dilanda cemburu, mas Abrar,” ucap dokter Dewa setengah bergurau sambil menepuk bahu setelah bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari belakang mejanya berdiri di samping depan kursi Abrar. “Dengan senang hati aku datang. Aku juga penasaran ingin melihat ritual sumpah itu. Ngomong-ngomong, mas Abrar menurutku sangat berani mengambil resiko. Aku dengar ritual itu cukup serem dan akibatnya tidak main-main. Beneran nyata, Mas,” lanjut dokter Dewa turut menakuti-nakuti Abrar. “Kenapa tidak berani, Dok? Aku tidak bersalah. Ritual ini hanya untuk meyakinkan dia saja,” sahut Abrar bagai orang tidak berdosa seraya melirik Fathia yang duduk di sampingnya. “Aku kagum dengan keberanian, mas Abrar. Lakukan saja, Mas. Yakinkan Fathia bila memang kamu tidak bersalah,” ucapnya setengah berbisik ke dekat telinga Abrar. Namun tetap bisa didengan oleh Fathia, sambil tersenyum. Lalu, tak lama kemudian Abrar pamit pulang. Sebelumnya, dia berpesan pada Fathia agar menelpon dan memberitahu hasil pemeriksaannya nanti. Setelah Abrar pergi dokter Dewa, segera duduk di samping Fathia lalu segera mengajukan pertanyaan soal sumpah pocong tadi. “Katakan! Bagaimana awal mula kamu bisa menggiring dia untuk melakukan sumpah pocong itu? Kamu hebat Fathia. Aku yakin seberani-berani dia. Di dalam hati Abrar itu pasti ada rasa takut juga,” ucap dokter Dewa. “Apa tidak lebih baik kita bicarakan ini di mobi saja, Dok? Aku takut gerai kartu itu akan tutup sore nanti,” ucap Fathia justru mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Sesuai rencana mereka kemarin untuk mengaktifkan nomor ponsel Fathia yang lama. “Oke. Tidak masalah. Kita bisa bicarakan itu di dalam mobil. Ayo, kita berangkat sekarang,” sahut dokter Dewa kemudian berdiri dan segera menghampiri Fathia. Namun saat dia akan menyentuh gadis itu dia baru sadar bila hari ini busana yang dikenakan Fathia sudah berubah. “Tunggu! Apa kamu sekarang berhijab Fathia?” tanya dokter Dewa seraya mengerutkan dahi memperhatikan gadis cantik itu. “InsyaAllah, Dok. Doakan aku bisa istiqomah. Aku pikir ujian ini banyak maknanya, Dok. Bisa aja ini teguran. Tapi bisa juga ini adalah kesempatan,” jelas Fathia sambil berdiri. Dokter Dewa hanya berusaha berjaga-jaga saja tanpa menyentuh Fathia. Dia tidak mau menyentuh untuk gadis itu. Karena takut dia akan menolak setelah memutuskan berhijab. Padahal, seharusnya tidak masalah bila niatnya untuk membantu. Namun, dia takut, itu disalahpahami oleh Fathia dan membuatnya marah. “Bagus, Fathia. Aku sudah bisa mengambil hikmah dari ujian ini. Kamu harus tetap berpikir positif. Bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menentukan ujian untuk hambanya. Kamu mungkin salah satu hambanya yang Dia anggap kuat dan mampu menjalani ujian ini. Jangan pernah putus asa seperti kemarin. Ingatlah, kamu sebelum ujian ini adalah wanita yang hebat yang punya posisi penting dalam sebuah perusahaan multi company. Jadi, berusahalah tetap tegar seperti Fathia yang dulu meskipun ini untuk dilakukan,” tutur dokter Dewa. “Tapi, aku juga punya tujuan lain, Dok,” ucap Fathia sambil melangkah dengan berpegangan pada tongkatnya Dahi dokter Dewa kembali berkerut. “Tujuan lain? Apa itu?” “Tadi, aku hanya ingin menjaga jarak dengan Abrar. Sekarang aku sudah tidak percaya lagi padanya. Aku tidak mau dia menyentuhku meskipun hanya untuk membantu. Dokter tentu sudah tahu, andai bisa aku sudah tidak mau bertemu dengan dia lagi. Aku jijik. Aku sudah muak dengan dia, Dok. Mengapa dia masih saja tebal muka dan mau terus bertahan di sisiku?” keluh Fathia saat berhenti di depan pintu ruangan dokter Dewa yang masih tertutup dengan raut sedih. Lalu dia mundur beberapa langkah mempersilakan dokternya itu. “Sabarlah, Fathia. Aku yakin sebentar lagi kita akan segera menemukan jalan untuk mengusirnya dari hidupmu. Kamu, harus sabar sebentar dan berdoalah. Semoga Allah, segera menunjukkan jalan itu,” ucap dokter Dewa kemudian melangkah maju membukakan pintu untuk Fathia. “Bagaimana aku bisa sabar, Dok? Perlu dokter tahu. Papa dan Abrar mempercepat pernikahan kami hanya tinggal seminggu lagi,” sahut Fathia, seketika membuat dokter Dewa terkejut dan berhenti sejenak di depan pintu ruangannya menunggu Fathia keluar. Fathia melagkah keluar. Lalu dia ceritakan tentang rencana pernikahannya yang tiba-tiba berubah. Dan dia sudah memohon untuk tetap dilakukan pada bulan depan. Tapi dia tidak berdaya atas ketetapan papa dan Abrar. Fathia mengakui ini semua karena akibat ulah konyolnya kemarin yang ingin mengakhiri hidup. Sehingga papanya berpikir bila dia harus segera menikah agar Abrar bisa menjaganya. Menedengar itu, dokter Dewa menjadi tidak tenang dan ingin segera mendapatkan bukti video panas itu. Dia benar-benar tidak rela bila Fathia yang baik dan malang ini akan dinikahi p****************g seperti Abrar. Setelah itu keduanya berjalan menuju lift. Tak berapa lama Fathia dan dokter Dewa sudah sampai di basement tempat mobil dokter itu diparkir. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Tak butuh waktu lama dokter Dewa mengemudikan mobilnya keluar dari basement. Saat mobilnya sudah melenggang di jalan raya, dokter Dewa menagih janji. Dia minta Fathia menceritakan tentang ritual sumpah pocong disepakati akan dilakukan oleh Abrar. Dan setelah Fathia bercerita, dia dukung keputusan Fathia yang akhirnya membiarkan Abrar melakukan sumpah itu. Menurutnya Abrar harus diberi pelajaran. Dokter Dewa yakin, Abrar sebenarnya hanya pura-pura yakin dengan ritual sumpah pocong itu karena itulah dia berani melakukan ritual sumpah berbau klenik dari wilayah Jawa itu. Tapi justru Fathia perlu menguji nyalinya dan sekaligus memberi calon suaminya itu pelajaran. *** Sampai di gerai kartu, Fathia merasa kecewa karena ternyata nomor ponselnya sudah mati dan tidak bisa diaktifkan lagi. Padahal nomor ponsel itu tidak aktif baru sekitar sebulan saja. “Tapi, Mbak. Nomorku belum lama tidak aktif. Baru sekitar sebulan saja. Itu pun karena aku baru saja mengalami kecelakaan hingga kedua mataku tidak bisa melihat. Apa tidak bisa dihidupkan lagi dengan cara tertentu? Tolong bantu aku, Mbak. Aku rela membayar berapa pun asal nomorku bisa kembali lagi,” ucap Fathia dengan raut panik. “Maaf, Bu. Nomor ini sudah tidak bisa diaktifkan lagi. Saya tidak tahu kenapa? Ini bukan masalah uang. Tapi memang ada nomor-nomor tertentu yang tidak bisa diaktifkan lagi seperti nomor Ibu,” ucap karyawan muda itu dengan sopan. “Apakah itu artinya, nomor ini juga tidak bisa dipakai oleh orang lain?” tanya Fathia, setelah mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. “Benar, Bu. Entah untuk sementara atau selamanya. Tapi saat ini nomor ini, tidak bisa diaktifkan dan belum dipakai siapa pun,” jelas karyawan cantik itu, lagi. “Tenanglah, Fathia. Aku yakin kita masih punya cara lain untuk mengunduh video itu,” tutur dokter Dewa, tanpa sadar menyentuh kedua pundak Fathia seperti istrinya saja. Fathia dan dokter Dewa lalu memutuskan pergi dari gerai salah satu kartu ponsel yang cukup terkenal di negeri ini. Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Sepanjang perjalanan dari toko kartu tadi, dia hanya diam saja dengan sedikit mengerucutkan bibirnya yang tipis. “Kita bawa saja ponsel kamu pada ahli reparasi. Siapa tahu masih bisa diperbaiki?” Dokter Dewa menoleh pada Fathia. “Ponsel itu sudah hancur, Dok. Sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Sementara external storage-nya sudah hilang. Namun, aku rasa video itu masih tersimpan di dalam internal storage. Karena di sana masih cukup banyak ruang yang tersisa,” ungkap Fathia. “Sangat mencurigakan sekali. Bagaimana bisa hilang?” Dokter Dewa kembali menoleh pada Fathia. “Kata polisi kemungkinan terjatuh di jalan di sekitar tempat kecelakaan. Karena mereka tidak menemukan memoriku di ponsel ketika mencari barang bukti,” jelas Fathia. “Ya. Itu kemungkinan itu bisa terjadi. Tapi bisa juga itu dihilangkan atau dicuri orang. Asal kamu tahu saja, Fathia. Nomor ponsel itu pun bisa dengan sengaja dimatikan. Ingat, Abrar bukan orang yang tidak pintar. Setelah kamu mencoba mempertanyakan perselingkuhan itu. Aku yakin dia juga pasti berusaha menghilangkan jejak,” jelas dokter Dewa. “Betul, Dok. Aku juga berpikir demikian. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana kita bisa mendapatkan bukti video itu?” tanya Fathia. “Kita masih punya harapan ponsel kamu yang hancur itu. Nanti kamu berikan padaku. Aku akan coba serahkan pada ahlinya agar mengambil memori internalnya. Semoga kita masih bisa mendapatkan video itu,” jawab dokter Dewa. Fathia kembali lebih tenang. Apalagi dokter Dewa, untuk sementara memintanya untuk tidak memikirkan video itu. Sekarang dia minta Fathia fokus menantang Abrar melakukan sumpah pocong itu saja. Dia berharap dengan melakukan ritual itu, setidaknya, Abrar akan mengalami masalah psikologis, sehingga bisa membuatnya ketakutan. Dan, hal itu bisa membuatnya mengakui perselingkuhan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD