7. Rela Sumpah Pocong

1163 Words
“Fathia, ayo, duduklah dulu. Kita sarapan dan dengarkan penjelasanku,” ucap Abrar menyentuh pergelangan tangan Fathia bermaksud ingin menuntunnya ke meja makan. “Tolong, lepaskan tanganmu, Mas. Maaf, kita belum resmi menikah. Mas pasti tahu itu, ‘kan?” ucap Fathia dingin berusaha melepaskan genggaman tangan Abrar. “Oh iya, maaf. Aku lupa bila sekarang kamu sudah berhijrah. Kita dilarang bersentuhan sekarang,” ucap Abrar melepaskan genggaman tangannya. Fathia tidak membalas ucapan itu. Dia kemudian melangkah menuju ke meja makan dengan bantuan tongkatnya. Sementara mamanya dan Abrar mendampingi mama di sebelah kanan dan kirinya. Mereka berusaha mengalah dan memahami sikap keras kepala dan emosinya yang tidak stabil setelah kehilangan penglihatannya. Sebenarnya Fathia merasa berdosa pada Allah. Perubahan penampilannya sekarang, tidak semata-mata karena ingin lebih dan mendekatkan diri pada Allah saja. Tadi itu tiba-tiba muncul ide untuk menghindari sentuhan dengan Abrar. Selama ini walau dia dan Abrar belum menikah dan Abrar sendiri dikenal sebagai pria alim, gaya pacaran mereka sudah cukup panas. Walau belum sejauh hubungan suami istri, Fathia dan Abrar sering melakukan ciuman. Bahkan sudah kerap mereka hampir hilang kendali. Tapi Fathia selalu dapat menghentikan keinginan Abrar untuk merenggut kesuciannya sebelum pernikahan. Karena waktu itu Fathia bukan wanita yang taat, baginya apa yang diinginkan Abrar itu sebagai hal yang wajar. Apalagi keduanya memang sudah sepakat akan menikah. Baginya sikap nakal Abrar yang dikenal alim bukanlah sikap yang aneh. Fathia tidak pernah terbersit sedikit pun bila ternyata selama ini, calon suaminya itu telah mengkhianatinya dan melakukan hubungan terlarang dengan Sonya. Abrar telah menyiapkan tempat duduk untuknya. Pria itu meminta Fathia duduk di kursi di sampingnya. Sementara di seberang meja, mama dan papanya juga duduk berdampingan. Tidak seperti biasanya, dengan penuh perhatian Abrar segera mengambilkan makanan untuk Fathia. Lalu memberikan petunjuk di mana letak makanan dan minumnya itu berada tanpa menyentuhnya. “Aku mohon berikan aku waktu. Saat ini aku belum merasa lebih baik. Aku belum siap menikah sekarang. Biarkan aku lebih tenang dulu. Kita menikah sebulan lagi. Seperti rencana awal yang telah kita sepakati selama ini,” pinta Fathia setelah sebelum memasukkan makanannya ke mulut. “Ini sudah diputuskan Fathia. Papa tidak mau berubah lagi. Kamu dan Abrar seminggu lagi harus menikah,” tegas Danu Nugraha setelah menyesap kopi dan menaruhnya di atas meja lagi. “Tapi, Pa. Apa Papa tahu berapa kerugian yang harus Papa tanggung pada jasa WO yang sudah kita tunjuk? Itu tidak sedikit, Pa,” tegas Fathia kemudian menaruh sendoknya di piring. “Tentu saja Papa sudah tahu itu dan siap menanggung kerugian bila memang ada yang perlu Papa tanggung. Papa tidak keberatan menghabiskan sebagian besar harta Papa asal kamu bisa mendapatkan jodoh seperti Abrar,” sahut Danu. “Siapa yang menginginkan pernikahan ini dipercepat? Mas Abrar atau Papa?” tanya Fathia. Abrar dan Danu Nugraha saling berpandangan. Keduanya terlihat bingung dan saling menatap seolah bertanya siapa yang menjawab pertanyaan itu. “Aku Fathia. Mas tak sabar ingin segera menjagamu, Sayang. Setiap saat Mas selalu mencemaskan keadaanmu. Tapi tidak bisa selalu berada di dekatmu,” jawab Abrar yang membuat Fathia ingin muntah. “Nah, dengar itu, Fathia. Kamu sudah dengar sendiri, ‘kan jawabannya?” sahut Sundari, mama Fathia. Fathia diam saja. Dengan menahan sejuta kekesalannya dia memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut. Dia menduga mungkin ini karena kejadian semalam. Abrar merasa cemburu setelah melihat dirinya bersama dengan dokter Dewa di restoran jepang itu. Atau, papanya telah mendesak untuk menikahi dirinya. Papanya pasti merasa cemas karena kemarin dia berniat mengakhiri hidup. Dia pikir dengan mempercepat pernikahan adalah solusi terbaik. *** “Sebenarnya apa maumu, Mas? Kamu sudah tahu bukan, aku tidak melanjutkan rencana pernikahan kita. Lalu sekarang mengapa malah dipercepat? Sudahlah, Mas! Hetikan sandiwara ini! Jangan terus-terusan berdusta. Lepaskan aku! Akui saja hubunganmu dengan Sonya. Jangan menyandera aku yang tidak bersalah dengan pernikahan palsu ini,” ucap Fathia dengan emosi mulai naik saat keduanya sudah berada di dalam mobil menuju ke toko perhiasan. “Kamu ini bicara apa, Fathia? Mas, sudah bilang ‘kan. Mas tidak ada hubungan apa-apa dengan Sonya selain hubungan kerja. Mengapa kamu tetap sulit percaya, Sayang?” jelas Abrar berusaha tetap tenang seakan tidak merasa bersalah dan tidak pernah melakukan perselingkuhan itu. “Sudah aku bilang video itu hanyalah editan yang ingin menghancurkan hubungan kita dan persahabatanmu dengan Sonya. Kamu jangan percaya dengan yang kamu lihat waktu itu,” tegas Abrar masih berusaha meyakinkan Fathia dengan ucapan dan kalimat yang hampir sama saat dia mencoba mengkonfirmasi video panasnya dengan Sonya. “Kamu tidak perlu terus mengelak, Mas. Aku tahu, semalam sebelum masuk ke dalam restoran apa yang telah kalian lakukan di dalam mobil itu,” ucap Fathia, ketus dan yakin. Abrar terlihat terkejut dan langsung menoleh pada Fathia yang tentu saja dia yakin tidak melihat raut wajahnya. “Kamu terkejut, Mas? Mengapa menatapku seperti itu?” tanya Fathia yang kembali mengejutkan Abrar yang hampir lupa dengan kemudinya. Dia merasa Fathia seolah bisa melihat gerak-geriknya. “Fa--- Fathia kamu sudah bisa melihat lagi?” tanyanya dengan sedikit terbata. “Kenapa, Mas? Kamu terkejut aku bisa tahu apa yang kamu lakukan dengan Sonya di dalam mobil itu?” tanya Fathia dingin dan ketus. “Iy--- I—Ya. Eh bukan. Maksudku aku terkejut kamu bisa tahu aku sedang menatapmu,” jelas Abrar kembali terbata. “Apa benar kamu sudah bisa melihat Fathia? Benarkah itu?” tanya Abrar serius namun sekaligus ingin mengalihkan topik perbuatan panas yang telah dia lakukan dengan Sonya di mobil di parkiran depan restoran Jepang semalam. “Lepaskan saja aku, Mas. Aku sudah ikhlas dan rela kamu bahagia bersama Sonya. Meskipun kalian mengkhianatiku, aku tidak akan membalas dendam. Tapi tolong lepaskan aku. Ayo, kita batalkan pernikahan ini, Mas,” bujuk Fathia. Tidak menggubris ucapan dan pertanyaan Abrar sebelumnya. “Sumpah, Fathia. Demi Allah. Aku tidak melakukan yang kamu tuduhkan itu. Aku tidak selingkuh dengan Sonya atu pun melakukan perbuatan yang tidak benar itu. Apa yang harus aku lakukan Fathia? Apa aku perlu melakukan sumpah pocong agar kamu percaya padaku?” tantang Abrar yang membuat Fathia terkejut dan kemudian menoleh kepada Abrar. Fathia diam dan berpura-pura berpikir dengan menahan emosi. “Mengapa kamu diam, Fathia? Apa kamu ingin aku benar-benar melakukannya?” tanya Abrar seraya menatap Fathia sebentar. Lalu kembali fokus pada kemudinya. “Baiklah. Aku akan lakukan sumpah pocong sebelum pernikahan ini terjadi agar kamu percaya bahwa aku tidak selingkuh dengan Sonya,” tegas Abrar terlihat emosi. “Untuk apa sumpah pocong segala, Mas. Kamu yang cukup paham agama, pasti tahu agama kita melarang hal itu. Itu sama saja kamu melakukan perbuatan syirik. Kamu bisa menjadi musyrik, Mas,” tutur Fathia. “Itu memang bagian dari kepercayaan masyarakat kita. Tapi aku yakin segala sesuatu itu terjadi di dunia ini atas seizin Allah SWT. Jadi aku harap dengan melakukan sumpah pocong itu, kamu bisa lebih percaya denganku," tegas Abrar. “Baiklah. Bila kamu yakin. Lakukan saja. Tapi aku tidak meminta kamu melakukannya. Karena aku tidak percaya. Aku lebih percaya apa yang aku lihat sebelum kecelakaan dan aku dengar saat aku tempat parkir semalam," tegas Fathia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD