Airin seketika terkejut, matanya membulat. "Sinar! Jangan bercanda kamu, ya!" bentaknya penuh emosi. Sinar menoleh dan memandang wajah sang ibu. "Aku gak bercanda, Bu. Aku udah gak suci lagi dan orang yang--" Belum sempat Sinar menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan, telapak tangan Airin sudah terlebih dahulu melayang ke udara lalu mendarat di wajahnya keras dan bertenaga. Tubuh Sinar bahkan hampir terlempar ke arah samping. Namun, salah satu preman dengan sigap menahan kedua bahunya dan membantu wanita itu kembali berdiri tegak. "Jangan asal ngomong kamu, ya. Kamu wanita baik-baik, gak mungkin kamu tidur sama cowok, gak mungkin!" Airin kembali berteriak kesal. "Cepat bilang sama Ibu kalau kamu cuma bercanda, Sinar." Sinar memejamkan mata, menyeka satu sisi wajahnya yang terasa nyeri

