Bab 9. Airin

1060 Words
"Kamu kenapa, Sinar?" tanya Nenek Rosa saat melihat wanita itu menggelengkan kepala, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Hah? Eu ... nggak ko, aku gak apa-apa, Nek," jawab Sinar, menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. "Jangan berpikir yang bukan-bukan, Sinar. Ingat, ada banyak nama Airin di dunia ini, gak mungkin kalau Airin Ibu kandungnya Tuan Aryo adalah Airin yang sama dengan Ibu tiriku. Nggak, gak mungkin," batin Sinar, seraya memalingkan wajahnya ke arah samping. "Pokoknya, kamu harus berusaha naklukin hati Aryo, Nenek yakin kamu bisa, Sinar," ucap Nenek Rosa, mengusap punggung tangan Sinar dengan lembut. "Kamu cantik dan polos, kelihatannya juga kamu orangnya sabar banget. Mau Nenek kasih tau apa kelemahan Aryo?" Aryo yang masih meringkuk di bawah ranjang seketika mengerutkan kening, menggerakkan matanya ke kiri dan kanan dengan penasaran. "Nggak, jangan sampe Nenek bilang sama Sinar apa kelemahan saya. Bisa gawat kalau Sinar tau, malu saya," batinnya ketakutan dan kembali mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh sang Nenek. Nenek Rosa tersenyum lebar, belum memberitahukannya saja sudah membuatnya geli sendiri. "Ko Nenek senyum-senyum kayak gitu? Ayo bilang sama aku apa kelemahan Tuan Aryo? Eu ... bisikin aja deh," pinta Sinar, sempat melupakan keberadaan Aryo di bawah ranjang. "Gak usah bisik-bisik segala, Sinar. Di sini gak bakalan ada yang denger ko. Nenek kasih tau, ya. Sebenarnya--" "Tidak, jangaaaan!" teriak Aryo dari bawah ranjang membuat Nenek terkejut, sontak menahan ucapannya seraya berdiri tegak. "Aryo!" gumamnya, menatap sekeliling, sebelum akhirnya melihat tubuh Aryo yang perlahan mulai keluar dari bawah ranjang. "Astaga, lagi ngapain kamu di situ, hah?" bentak Nenek Rosa dengan murka, matanya membulat. Telapak tangannya seketika memukul bahu Aryo dengan keras. "Argh! Sakit, Nek," ringis Aryo, mengusap bahunya sendiri. Nenek Rosa kembali memukul sang cucu secara berkali-kali seraya menggerutu kesal. "Lagi ngapain kamu di sini, hah? Dasar anak nakal, keluar kamu dari sini, keluar!" bentaknya seraya memukul dan mendorong tubuh Aryo keluar dari dalam kamar. "Iya, Nek. Iya, saya bakalan keluar. Udah cukup, sakit, Nek. Argh!" Nenek Rosa menjewer telinga sang cucu, membawanya keluar dengan perasaan kesal. Meskipun begitu, ia melakukan hal tersebut karena rasa sayangnya kepada cucu satu-satunya yang ia miliki, cucu yang sangat ia sayangi. Dirinya tidak ingin Aryo melakukan hal terlarang. Terlebih, Sinar hanya wanita polos yang mudah diperdaya. Ia tahu Aryo pria normal yang mudah tergiur dengan tubuh indah seorang wanita, meskipun hatinya sulit tersentuh tulusnya cinta. Sinar tertawa kecil, melihat ekspresi wajah Aryo benar-benar lucu dan menggemaskan. Nyali Aryo seketika ciut saat mendengar suara Nenek Rosa, sikapnya pun berubah 180° ketika berhadapan dengan Neneknya. Ia benar-benar bersyukur karena memiliki calon Nenek mertua seperti Nenek Rosa. "Mampus, akhirnya ketauan, 'kan? Untung Nenek dateng di waktu yang tepat. Kalau nggak, aku yang mampus," gumam Sinar, melangkah ke arah pintu lalu menutup dan menguncinya, tidak ingin Aryo kembali dan diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar. *** Sementara itu di tempat yang berbeda, seorang wanita tengah murka, berdiri di depan lima orang preman yang sempat mengejar Sinar. Matanya membulat, telapak tangannya seketika melayang ke udara lalu mendarat di masing-masing wajah sang preman yang telah ia bayar dengan harga mahal. "Dasar bodoh!" bentaknya penuh emosi. "Masa ngejar satu cewek aja gak bisa sih? t***l, badan aja gede, ngelawan satu orang aja kalah. Percuma aku bayar kalian mahal-mahal!" "Maaf, Nyonya. Bukan satu orang, tapi dua orang dan dua-duanya jago bela diri, makannya kami kalah." Salah satu dari mereka mencoba membeli diri dan karena seperti itulah kenyataannya. "Tapi kalian berlima dan badan kalian guede, masa ngelawan dua orang aja gak bisa sih? Astaga!" Kelimanya hanya bisa terdiam dengan kepala menunduk dan menahan rasa nyeri di satu sisi wajah akibat tamparan. Ya, mereka sudah mendapat bayaran yang lumayan, sebesar apapun tubuh mereka, tidak akan mampu melawan kekuatan uang meskipun mereka bisa dengan mudahnya memperdaya dan membalas perbuatan wanita berusia 60-han itu. Wanita tersebut berkancah pinggang seraya memandang wajah mereka berlima secara bergantian. "Pokoknya, aku gak mau tau, kalian cari Sinar dan bawa ke hadapanku dalam keadaan hidup, paham?" "Pa-paham, Nyonya. Kami permisi sekarang, boleh?" "Pergi!" jawab wanita tersebut singkat dengan wajah sinis. Mereka berlima berjalan meninggalkan ruang tamu kediaman Airin, ibu tiri wanita bernama Sinar. Wanita paruh baya itu terduduk di sofa seraya memijit pelipis wajahnya yang berdenyut pusing. Ia harus menemukan Sinar bagaimana pun caranya, jika tidak maka rumah yang ia tinggali beserta isinya akan disita oleh rentenir. "Dasar anak kurang ajaaar!" teriak Airin murka. "Anak gak tau terima kasih. Udah dibesarkan dari kecil, diurus dan di kasih makan, malah kabur gitu aja. Awas aja kau Sinar, kalau sampe ketemu, aku bejek-bejek kau, ya." Suara ketukan di pintu seketika mengejutkan Airin, wanita paruh baya itu sontak berdiri tegak, memandang laki-laki seusianya yang tengah melangkah memasuki kediamannya. "Juragan Arman," sapanya seraya tersenyum ramah. "Eu ... si-silahkan duduk, Juragan." Pria bernama Arman, bertubuh agak pendek dan berpeci khas Betawi hanya menganggukkan kepala, melangkah ke arah sofa lalu duduk dengan bersilang kaki. "Mana calon istri kedua saya?" tanyanya seraya memandang sekeliling rumah mewah bercat putih tersebut. "Anu, Juragan. Eu ... sebenarnya Sinar kabur, Juragan, tapi aku janji akan menemukan dia secepatnya dan mengantarkan dia ke rumah Anda," jawab Airin dengan gugup. Arman membulatkan kedua mata dengan kesal. "Apa? Kabur?" Airin mengangguk lalu menunduk. Arman berdiri tegak, kembali mengedarkan pandangan matanya menatap setiap jengkal rumah mewah yang menjadi jaminan atas pinjaman yang dilakukan oleh wanita bernama Airin tersebut. "Saya minta kamu angkat kaki dari rumah ini secepatnya. Karena kamu gak bisa melunasi hutang dan gak bisa menjaga satu-satunya orang yang bisa menembus hutang, maka rumah ini akan saya sita!" Airin terkejut dan ketakutan. "Aku mohon jangan, Juragan. Kalau rumah ini disita, aku harus ke mana? Masa iya aku jadi gelandangan, Anda tau sendiri suamiku baru meninggal beberapa Minggu yang lalu. Aku ini janda, Juragan. Kasihanilah aku," rengeknya dengan mata berkaca-kaca. "Ya, itu urusan kamu, bukan urusan saya." "Kasih aku waktu beberapa hari, Juragan. Kalau aku gak nemuin Sinar, aku janji bakalan lunasi hutang-hutang suamiku." "Satu Minggu, Airin. Kalau kamu gak bisa nemuin Sinar dan gak bisa lunasi hutang kamu berikut bunganya, maka kamu harus angkat kaki dari rumah ini, paham?" bentak Arman, lalu melangkah meninggalkan rumah tersebut. Airin menyandarkan punggung berikut kepalanya di sandaran sofa dengan frustasi, kepalanya makin berdenyut pusing. Tubuhnya pun melemas memikirkan ancaman Arman. Ke mana ia harus mencari uang untuk melunasi hutang? "Aryo," gumamnya seketika duduk tegak. "Kenapa aku gak minta bantuan dia aja. Aku yakin Aryo masih ingat sama aku, Ibu kandungnya." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD