"Nggak, aku gak mau," tegas Sinar, berusaha melepaskan diri, tapi kedua tangannya di cengkraman kuat membuatnya tidak mampu berkutik. "Lepasin aku, Tuan. Anda lupa Nenek bilang apa tadi? Sebelum janur kuning melengkung, Anda gak boleh nyentuh aku, Tuan."
Aryo tersenyum sinis, menindih tubuh Sinar, memandang wajahnya dengan tajam. "Nenek udah tidur, Sinar. Beliau gak bakalan tau apa yang kita lakuin asalkan kamu tutup mulut."
Sinar kembali menggerakkan tubuhnya. "Lepasin, Tuan. Kalau nggak, aku bakalan teriak!"
Aryo menarik kedua tangan Sinar ke atas kepalanya, memeganginya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menutup mulut Sinar. "Salah kamu sendiri kenapa harus membahas masalah itu, hah? Sekarang, kamu harus tanggung jawab, layani saya sebentar, oke?"
Sinar menggelengkan kepala, balas memandang wajah Aryo dengan mata memerah dan berair. Bagian intinya saja masih nyeri, bagaimana bisa ia melayani Aryo sementara ia masih trauma dengan rasa sakit saat junior pria itu menembus, mengoyak kesuciannya. Membayangkan hal tersebut membuatnya takut, rasa perih bagai disayat pisau tajam kembali membayangi otak kecilnya. Apalagi, junior yang berada di balik piyama yang dikenakan oleh pria itu mulai menegang, menyentuh bagian atas tubuhnya membuat Sinar semakin ketakutan.
"Hmmm ..." Sinar hanya bisa bergumam, ingin berteriak, tapi tidak bisa.
"Jangan coba-coba teriak, kalau kamu berani teriak, saya akan kasih tau ibu tiri kamu kalau kamu ada di sini," ancam Aryo, hasratnya mulai sulit dikendalikan, keinginannya semakin kuat, napasnya berhembus tidak beraturan ingin segera mengobati rasa haus akan nikmatnya bercinta di atas ranjang.
Sinar kembali menggelengkan kepala, buliran bening perlahan mulai luruh dari sudut matanya. Apa dirinya harus mengikuti keinginan Aryo Widiatmoko? Atau berteriak minta tolong dan membuat kegaduhan? Lantas, bagaimana jika Aryo benar-benar menemui ibu tirinya dan memberitahukan di mana keberadaannya? Sinar memejamkan mata sejenak, merasa terjebak pada pilihan yang sulit.
"Lagian, kamu sendiri yang bilang kalau saya ini calon suami kamu, Sinar. Apa salahnya kalau kita ngelakuin itu?" bujuk Aryo. "Saya akan buka mulut kamu asalkan kamu gak teriak, paham?"
Sinar menganggukkan kepala, dadanya mulai terasa sesak karena menahan berat tubuh Aryo. Sepertinya, ia tidak memiliki pilihan, selain memberikan apa yang diinginkan oleh pria itu. Melihat anggukan Sinar membuat Aryo senang, pria itu menyunggingkan senyuman sebelum akhirnya menurunkan telapak tangannya.
"Saya janji gak akan lama, kamu cukup diam dan nikmati, oke?"
Sinar kembali mengangguk, menarik napas dalam-dalam, meraup udara sebanyak mungkin setelah menahan napasnya selama beberapa detik terakhir. Dadanya nampak naik turun, menatap wajah Aryo dengan pasrah. Ya, lagi-lagi Sinar hanya pasrah dengan keadaan, ia terlalu lemah untuk berontak, terlalu takut untuk berteriak dan benar-benar tidak berdaya. Aryo hendak mendaratkan bibirnya di bibir Sinar dengan penuh gairah, tapi suara ketukan di pintu seketika mengejutkannya.
"Sinar, kamu udah tidur?" tanya Nenek Rosa, mengetuk pintu pelan dan beraturan.
Aryo sontak menahan kepalanya sesaat sebelum bibirnya mendarat, matanya membulat, suara sang Nenek berhasil menenggelamkan hasrat yang semula menggelora. Rasanya benar-benar jengkel luar biasa. Lebih dari itu, ia takut aksinya diketahui oleh Nenek Rosa.
"Sial," umpatnya, bangkit dengan tergesa-gesa, lalu berjongkok dan bersembunyi di bawah ranjang.
Sinar memejamkan mata sejenak dengan perasaan lega. Bangkit lalu duduk tegak dengan napas tersengal-sengal, mengusap kedua matanya yang berair. Suara Nenek Rosa pun kembali terdengar diiringi dengan ketukan di pintu.
"Sinar, ini Nenek. Boleh Nenek masuk?"
Sinar menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan, "Masuk, Nek."
Pintu pun dibuka dari luar, Nenek Rosa melangkah memasuki kamar dengan senyum hangatnya. "Maaf mengganggu kamu malem-malem, Sinar," ucapnya dengan lembut. "Nenek pengen ngobrol sebentar sama kamu."
"Nggak, Nek. Aku gak ngerasa keganggu ko. Justru aku seneng banget Nenek ke sini. Nenek dateng di waktu yang tepat," jawab Sinar dengan senyum kecil.
"Untung Nenek dateng, kalau nggak aku pasti udah diperdaya lagi sama Tuan Aryo. Makasih, Tuhan. Makasih karena udah ngirim Nenek Rosa ke sini," batin Sinar penuh syukur.
Nenek Rosa duduk di tepi ranjang, memandang kotak P3K yang masih tergeletak di sana. "Kamu terluka? Kenapa ini ada di sini?" tanyanya dengan bingung lalu kembali memandang wajah Sinar. "Kayaknya kamu habis nangis, Sinar? Katakan, bagian mana yang sakit? Apa perlu kita ke Rumah Sakit?"
Sinar menggelengkan kepala. "Gak usah, Nek. Aku gak apa-apa ko," jawabnya singkat.
Nenek Rosa menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, meraih dan menggenggam telapak tangan Sinar, memandang wajahnya dengan sayu. "Nenek ke sini mau minta maaf karena udah maksa kamu buat menikah sama Aryo, Nenek sadar, cucu Nenek itu kasar, dingin, arogan dan agak nakal."
Aryo yang tengah meringkuk di bawah ranjang hanya bisa tersenyum sinis, sejelek itukah ia di mata sang Nenek? Tapi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia mengakui bahwa apa yang baru saja diucapkan oleh Neneknya itu benar.
"Nenek apaan sih, apa perlu hal seperti itu di omongin sama Sinar? Nenek macam apa yang tega menjelek-jelekkan cucunya sendiri?" batinnya, kembali mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Tapi, Sinar. Aryo adalah cucu satu-satunya yang Nenek punya. Dia udah ditinggalkan sama Ibu kandungnya sejak remaja. Menantu Nenek yang sialan itu selingkuh sama pria lain, menelantarkan Aryo dan meninggalkan Ayahnya, putra Nenek," ucap Nenek Rosa dengan mata berkaca-kaca. "Nenek mohon, tolong maklumi sikap kasar Aryo. Nenek gak bermaksud buat membenarkan sikap kasarnya dia, tapi Nenek yakin dia akan berubah jika bersama wanita yang tepat."
Sinar hanya terdiam, sikap keras Aryo terbentuk karena pria itu korban keegoisan orang tuanya, broken home dan harus menerima kenyataan bahwa pria selingkuhan ibunya lebih berharga dari dirinya, putranya sendiri. Rasa kecewanya kepada sang ibu menghilangkan rasa percayanya kepada kaum hawa dan menyebabkannya masih melajang hingga sekarang.
"Kamu paham apa yang Nenek katakan? Nenek ngerasa kamulah wanita yang cocok untuk Aryo, Sinar. Nenek mohon, tolong dampingi dia. Nenek udah kenalin dia ke banyak wanita, tapi Aryo selalu nolak dengan alasan gak siaplah, gak cocoklah."
"Iya, Nek. Aku janji akan selalu mendampingi Tuan Aryo, kalau kita sudah menikah pun, aku janji akan lebih sabar menghadapi sikap dia," jawab Sinar dengan tidak yakin, dirinya pun ragu, pernikahan tanpa dilandasi dengan cinta akan bertahan lama.
"Nenek yakin kamu tak seperti si Airin, Ibu kandungnya Aryo. Nenek percaya kamu wanita baik-baik, Sinar. Jadi, Nenek mohon jangan pernah ngecewain Nenek."
Sinar terdiam sejenak, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. "Nama Ibunya Tuan Aryo, Airin?"
Nenek Rosa menganggukkan kepala.
"Gak ... gak mungkin, ada banyak nama Airin di dunia," batin Sinar seraya menggelengkan kepalanya samar.
Bersambung ....