"Jangan!" seru Sinar dan Aryo secara bersamaan.
Nenek Rosa seketika mengerutkan kening, memandang wajah Sinar dan sang cucu secara bergantian. "Kalian kenapa? Nenek 'kan cuma mau izin sama orang tuanya Sinar. Kenapa gak boleh?" Wanita tua itu kembali duduk tepat di samping Sinar, memandang wajahnya dengan tajam. "Sebenarnya apa yang terjadi, Sinar? Kenapa Nenek gak boleh dateng ke rumah kamu?"
Sinar menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan dengan mata terpejam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang Nenek. "Sebenarnya, aku kabur dari rumah, Nek," jawabnya dengan kepala menunduk.
"Kabur?"
Sinar menganggukkan kepala dengan wajah pucat.
Aryo yang semula hanya berdiri, perlahan mulai melangkah menuju sofa lalu duduk di samping Nenek Rosa. "Jadi begini, Nek ...." Aryo menceritakan apa yang terjadi hari ini, awal pertemuannya dengan Sinar dan bagaimana ia melawan para preman, tapi ia melewatkan bagian ranjang.
Semua itu ia ceritakan dengan penuh semangat dan penuh rasa percaya diri seolah dirinya adalah dewa penolong bagi wanita bernama Sinar. Nenek Rosa hanya mengangguk-anggukkan kepala, mendengarkan dengan seksama tanpa mengatakan sepatah katapun hingga Aryo mengakhiri ceritanya.
"Benar kejadiannya seperti itu, Sinar?" tanya Nenek Rosa, kembali menatap wajah Sinar dengan iba.
"Iya, Nek," jawab Sinar singkat, bola matanya seketika memerah dan berair. Mengingat apa yang dilakukan oleh ibu tirinya membuatnya terluka, ia bahkan enggan untuk kembali ke rumah peninggalan sang ayah yang seharusnya diwariskan kepadanya.
"Astaga, Ibu macam apa yang maksa anaknya menikah dan dijadiin istri kedua? Dasar gak punya perasaan," decak Nenek Rosa dengan kesal. "Ya udah, pokoknya mulai sekarang kamu akan tinggal di sini sama Nenek. Gak usah balik lagi ke rumah kamu, oke?"
Sinar kembali menganggukkan kepala, rasa aneh seketika menyelusup masuk ke relung hatinya yang paling dalam. Perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Nenek Rosa membuatnya tenang dan senang. Ternyata, masih ada manusia yang memiliki hati nurani setelah ia diperlukan secara tidak adil hari ini, bahkan oleh Aryo Widiatmoko yang memaksanya merelakan mahkota kesucian yang ia miliki dengan alasan membalas budi.
"Makasih karena Nenek udah baik banget sama aku," lemah Sinar, masih dengan kepala menunduk. "Aku pikir gak ada lagi orang yang simpati sama aku, aku juga berpikir kalau hidup aku akan berakhir dengan menjadi istri kedua juragan tanah. Aku beruntung ketemu sama Nenek."
Nenek Rosa memeluk tubuh Sinar, mengusap punggung tangannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Kamu boleh menganggap Nenek seperti Nenek kandung kamu sendiri. Nenek janji, mau nggak mau Aryo harus menikahi kamu."
Sinar menganggukkan kepala, mengusap buliran bening yang tiba-tiba memenuhi kedua mata. Ia benar-benar bahagia karena dipertemukan dengan Nenek Rosa, merasa memiliki harapan untuk masa depannya yang semula terlihat suram. Gadis berusia 21 tahun itu ingin memulai hidup baru, awal yang baru dan melupakan masa lalu kelam juga melupakan ibu tirinya yang mungkin saja sedang mencarinya sekarang. Satu harapannya saat ini, semoga sang ibu tidak mengetahui keberadaannya.
"Terima kasih karena Engkau telah mempertemukan aku sama Nenek Rosa, Tuhan. Semoga Ibu gak menemukan aku di sini," batin Sinar, memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengurai pelukan.
Sementara Aryo hanya bisa menarik napas dalam-dalam, menatap wajah Nenek Rosa dan gadis bernama Sinar dengan perasaan campur aduk. Melihat sang Nenek bahagia membuat perasaannya senang, menyaksikan air mata yang bergulir membasahi kedua sisi wajah Sinar membuat hatinya terenyuh. Apa ia terlalu kejam kepada wanita itu? Memperlakukannya dengan kasar setelah merenggut kesuciannya? Lantas, apa Aryo Widiatmoko akan benar-benar menikahi wanita yang baru ia kenal? Entahlah, Aryo masih terkurung rasa trauma yang membelenggu jiwanya.
"Masa iya saya harus menikahi ni cewek? Astaga, kenapa sih Nenek tiba-tiba pengen tinggal di sini segala? Jadi kacau, 'kan?" batinnya memalingkan wajah ke arah samping.
***
Sinar kembali ke kamarnya dengan perasaan bahagia. Ia tidak pernah sebahagia ini dalam hidupnya, tinggal di rumah mewah dengan status calon istri sang pemilik rumah, diperlakukan dengan baik oleh Nenek Rosa dan terbebas dari belenggu ibu tiri kejam yang hanya bersikap baik di depan ayahnya saja. Bahkan, setelah sang ayah telah tiada, sang ibu memaksakannya untuk menikahi pria beristri dengan alasan membayar hutang yang ditinggalkan mendingan ayahnya itu.
Sinar melangkah menuju ranjang besar lalu merebahkan tubuhnya di sana, berbaring telentang seraya menatap langit-langit kamar di mana lampu LED nampak terang menyilaukan. Kedua sisi bibirnya menyunggingkan senyuman lebar.
"Ya Tuhan, amalan apa yang udah dilakukan sama mendiang ayahku, hingga putrinya bisa tinggal di rumah semewah ini?" gumamnya dengan mata berbinar. "Hmm ... mudah-mudahan ibu gak nemuin aku di sini, kalau dia sampe tau aku ada di sini, bisa gawat. Aku bisa diseret pulang dan dipaksa kawin sama si tua bangka itu."
Suara ketukan di pintu mengejutkan Sinar, wanita itu sontak bangkit lalu duduk tegak, menatap ke arah pintu dengan penasaran. "Siapa?" serunya dengan suara lantang.
Pintu pun dibuka dari luar, Aryo dengan membawa kotak P3K melangkah memasuki kamar membuat Sinar takut dan gugup. Untuk apa pria itu mendatanginya malam-malam begini? Batin Sinar sontak merapatkan kedua kakinya.
"Mau apa Tuan malam-malam ke kamarku?" tanya Sinar dengan gugup.
Aryo menghentikan langkah tepat di depan wanita itu. "Rumah kamu?" tanyanya dengan sinis. "Ini rumah saya, semua ruangan yang ada di rumah ini milik saya. Jadi, terserah saya dong, rumah-rumah saya."
Sinar hanya terdiam sejenak seraya memalingkan wajah ke arah samping. "Iya-iya, rumah ini rumah Anda, tapi aku calon istri Anda, Tuan. Jadi, rumah ini calon rumahku juga," jawabnya dengan dingin.
Aryo duduk di tepi ranjang, seraya meletakan apa yang ia bawa. "Udah, jangan banyak omong, dasar bawel. Sini kaki kamu!"
"Hah? A-Anda mau ngapain, Tuan?" Sinar menjauhkan kedua kakinya dari jangkauan Aryo. "Jangan sekarang, Tuan. Anuku masih sakit. Sumpah aku gak boong!"
Aryo mendengus kesal, menarik paksa kedua kaki Sinar lalu meletakan di atas pangkuan. Sinar bergeming, matanya membulat. Tubuhnya pun seketika gemetar. Namun, rasa takut itu seketika hilang saat Aryo membuka kotak P3K lalu mengeluarkan obat luka.
"Udah tau kakinya luka, malah diem aja. Dasar bodoh!" maki Aryo, seraya mengoleskan obat luka di telapak kaki Sinar. Aryo mengangkat satu kaki wanita itu, menatap luka di jari-jari mungilnya bahkan permukaan telapak kakinya pun seperti melepuh karena berlari di aspal ketika matahari sedang bersinar terik-teriknya. Membayangkan kejadian tadi siang membuat Aryo menarik napas panjang.
"Sejauh apa kamu berlari sampe kaki kamu melepuh kayak gini? Astaga!" decaknya seraya menggelengkan kepala.
Sinar menarik kedua kakinya. "Aku bisa sendiri, Tuan. Aku bisa mengobati lukaku sendiri, gak usah repot-repot!" pintanya dengan sinis.
Aryo kembali menarik paksa kedua kaki Sinar dan meletakan di atas pangkuannya lagi. "Udah diem, kamu emang udah ngerepotin saya, sangat-sangat merepotkan. Hari ini adalah hari tersial dalam hidup saya karena ketemu sama kamu."
"Tapi, aku 'kan udah membayar, Tuan. Hutangku lunas," celetuk Sinar dengan polos.
Aryo bergeming, kembali membayangkan apa yang mereka lakukan di atas ranjang. Jiwanya tiba-tiba bergejolak, membayangkan nikmatnya bercinta dan keinginan itu kembali datang. Ia tiba-tiba menjatuhkan tubuh Sinar dengan kasar dan menindihnya membuat Sinar terkejut.
"A-Anda mau ngapain, Tuan?" tanyanya dengan gemetar.
"Kenapa harus membahas itu, hah?" bentak Aryo dengan suara yang sedikit ditahan. "Saya 'kan jadi pengen tau. Pokoknya, layani saya malam ini, Sinar."
Bersambung ....