Sinar seketika membulatkan mata, terkejut dengan pernyataan Nenek Rosa. "Hah? Pe-p*****r? Bu-bukan, Nek. Aku bukan p*****r," sanggahnya, sedikit kesal.
Ya, meskipun pada kenyataannya, ia tidak ada bedanya dengan p*****r, mengingat apa yang telah ia lakukan bersama Aryo. Membalas budi dengan memberikan satu-satunya harta yang ia miliki sebagai seorang perempuan. Mengingat hal tersebut membuat perasaannya terluka, rasa sakit kembali terasa. Sinar menundukkan kepala, raut wajahnya pun berubah seketika.
"Sebenarnya, apa bedanya aku sama p*****r. p*****r sih masih mendingan dapet uang. Nah aku? Aku bakalan terjebak di sini selamanya hanya karena takut ketangkap sama Ibu tiriku. Entah apa yang akan dilakukan Tuan Aryo sama aku, kalau dia minta dilayani lagi, gimana?" batin Sinar seraya menarik napas dalam-dalam, hingga helaan napasnya terdengar oleh Nenek Rosa.
Wanita tua itu memandang wajah Sinar dengan lekat. "Jawab pertanyaan Nenek, kamu bukan p*****r, 'kan?" tanyanya dengan tegas.
"Bukan, Nek. Aku bukan p*****r," jawab Sinar dengan lemah, kepalanya masih menunduk tidak berani hanya untuk sekedar menatap wajah Nenek Rosa.
"Iya, Nenek tau, Sinar. Wajah kamu terlalu polos buat jadi p*****r," jawab Nenek Rosa, meraih lalu menggenggam telapak tangan Sinar.
Sinar mengangkat kepala, memandang wajah Nenek Rosa dengan mata sayu. "Kenapa Nenek baik sama aku?"
Nenek Rosa memapah tubuh Sinar, membawanya duduk di sofa bersamanya. "Entahlah, Nenek juga gak tau, Sinar. Nenek ngerasa kamu ini wanita yang baik. Hati Nenek bergetar sejak pertama kali ngeliat wajah kamu."
Mata Sinar seketika berkaca-kaca, memandang wajah Nenek Rosa dengan perasaan bahagia. Ketika ibu tirinya memperlakukannya secara tidak adil, ada orang lain yang baru pertama ia jumpai melakukan hal sebaliknya.
"Boleh aku meluk Nenek?" tanya Rosa dengan suara lemah.
"Tentu saja boleh," jawab Nenek Rosa, merentangkan kedua tangan lalu memeluk tubuh Sinar dengan senyum lebar. "Berapa usia kamu, Cah ayu?"
"21 tahun, Nek."
"Hmm, usia yang pas buat menikah."
Sinar seketika mengurai pelukan. "Hah? Eu ... menikah sama siapa, Nek?" tanyanya dengan bingung.
"Ya sama cucu Nenek, siapa lagi?"
Aryo yang masih berdiri di tempatnya seketika mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam, melangkah mendekati sang Nenek. "Astaga, Nek. Saya 'kan udah bilang kalau saya belum siap menikah. Apalagi sama dia!" tegasnya seraya menunjuk wajah Sinar dengan mata membulat. "Nenek baru kenal sama dia, Nenek juga gak tau di mana keluarga dia, gak tau bibit, bebet, bobotnya dia. Enak aja main nikah-nikahin aja. Nggak, saya gak mau."
"Umur kamu udah 35 tahun, Aryo. Nenek udah kenalin kamu ke banyak wanita yang bibit, bebet dan bobotnya bagus, tapi apa? Kamu masih gak mau sama mereka, 'kan?" tegur Nenek Rosa dengan suara lantang. "Apa pentingnya semua itu buat kamu, hah? Yang bibit, bebet, bobotnya bagus aja kamu gak mau!"
"Tapi, Nek--"
"Gak ada tapi-tapian, Sinar akan tinggal di sini sama Nenek sebagai calon menantu. Kita tentukan tanggal pernikahannya nanti setelah Nenek ketemu sama orang tuanya Sinar. Paham?"
"Ya, Nenek tanya dulu sama dia. Apa dia mau nikah sama saya? Kalau Nenek terus-terusan maksa saya sementara dianya gak mau, gimana?"
Nenek Rosa mengalihkan pandangan matanya kepada Sinar, raut wajahnya seketika berubah. Jika ia menatap wajah Aryo dengan tatapan dingin dan sini, maka sorot matanya berubah sebaliknya ketika menatap wajah cantik seorang Sinar. Senyuman kecil pun ia layangkan, senyuman hangat yang membuat hati Sinar tenang.
"Gimana, Cah Ayu. Kamu mau 'kan jadi cucu menantunya Nenek?" tanyanya dengan lembut.
Sinar menoleh dan memandang wajah Aryo, pria itu menggelengkan kepala dengan mata membulat sebagai isyarat. Namun, yang dilakukan oleh Sinar adalah hal sebaliknya. Gadis itu kembali menatap wajah Nenek Rosa, melayangkan senyuman kecil lalu menganggukkan kepala.
"Iya, Nek. Aku mau," jawabnya dengan lemah.
Aryo mendengus kesal, kembali mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam. "Dasar cewek sialan. Dia sengaja memanfaatkan kebaikan Nenek. Saya emang pengen dia tinggal di sini, tapi gak nikah juga. Saya gak cinta sama dia, ya Tuhan," batinnya merasa frustasi.
Nenek Rosa tersenyum lebar, mengusap punggung tangan Sinar dengan perasaan bahagia. "Pokoknya, kamu tenang aja, setelah Nenek ketemu sama orang tua kamu, Nenek bakalan nikahin kamu sama cucu Nenek. Kamu akan tinggal di sini sama Nenek," ucapnya dengan lembut. "Akhirnya Nenek punya teman juga. Selama ini, Nenek ngarasa kesepian karena cuma Aryo cucu yang Nenek punya."
"Tapi saya gak mau nikah sama dia, Nek. Jangan paksa saya!" tegas Aryo penuh penekanan.
Nenek Rosa berdiri tegak, memandang wajah Aryo dengan tajam. "Sekarang jawab pertanyaan Nenek, kenapa Sinar bisa ada rumah ini, hah?" tanyanya dengan suara lantang.
Aryo bergeming, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa kamu diem aja, Aryo? Kamu gak bisa jawab pertanyaan Nenek, 'kan?"
Aryo masih membisu, bentakan sang Nenek membuatnya mati kutu.
"Ingat, Aryo. Wanita itu emang lemah dan mudah dimanfaatin sama laki-laki. Laki-laki akan mencari seribu satu cara buat memanfaatkan seorang wanita, memberinya banyak alasan dan tekanan agar mau melakukan apapun yang kamu minta, menuruti perintah tanpa timbal balik yang seimbang, tapi ingat, Aryo. Hukum karma itu ada, kalau kamu cuma mau manfaatin wanita polos kayak Sinar ini, Nenek gak akan membiarkan kamu ngelakuin hal itu, karena apa--" Nenek Rosa menahan ucapannya, menoleh dan menatap wajah Sinar sekejap lalu kembali menatap wajah sang cucu. "Karena Nenek gak mau kamu kena karma, Aryo. Kamu cucu Nenek, satu-satunya harapan Nenek. Kalau kamu hancur, bagaimana dengan Nenek?"
Aryo menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ya, ia memang berencana memanfaatkan Sinar. Menjadi pemuas nafsunya saja, mengobati rasa hausnya akan nikmatnya surga dunia tanpa status yang jelas, tanpa kepastian dan tidak menutup kemungkinan ia akan membuangnya ketika sudah puas dan tidak membutuhkannya lagi. Satu yang membuatnya heran, dari mana sang Nenek tahu isi hatinya bahkan seolah mampu melihat masa depan.
"Nenek apaan sih. Siapa yang mau manfaatin Sinar?" tanya Aryo, menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Udah, gak usah bohong. Pokoknya mulai sekarang, Nenek bakalan tinggal di sini sama kamu buat jagain Sinar, paham?"
"Astaga, Nenek," decak Aryo semakin merasa kesal. "Kalau Nenek tinggal di sini, rumah Nenek yang di Jawa, gimana? Mau dibiarin kosong gitu aja, begitu?"
"Gak usah mikirin rumah Nenek yang di sana. Pokoknya, Nenek mau tinggal di sini sama kamu, paham?"
Aryo menghela napas dalam-dalam memalingkan wajahnya ke arah samping. "Kalau Nenek sampe tinggal di sini bisa gawat. Apalagi saya gak boleh nyentuh ni cewek. Kalau gak bisa diapa-apain, buat apa Sinar tinggal di sini?" Batinnya menggerutu kesal.
Sementara Nenek Rosa, wanita tua itu kembali menatap wajah Sinar dengan senyum hangatnya. "O iya, Cah Ayu. Apa orang tua kamu tau kamu tinggal di sini? Eu ... gimana kalau besok kita ke rumah kamu? Bilang sama mereka kalau kamu mau nemenin Nenek tinggal di sini."
Bersambung ....