Bab 5. Nenek Rosa

1003 Words
Sinar terkejut, memandang wanita tua dengan rambut disanggul dengan make up tebal dan perhiasan juga pakaian ala sosialita. Gugup dan takut, gadis itu melangkah mendekati Nenek tersebut seraya tersenyum kecil. "A-aku Sinar, Nek. Eu ... anu aku--" "Akhirnya aku bakalan punya cicit," sela Nenek tersebut, seketika tersenyum lebar. Sinar membulatkan kedua mata dengan perasaan bingung. "Hah? Ma-maksud Nenek apa? Aku bukan siapa-siapanya Tuan Aryo, Nek. Aku cuma--" Sinar terpaksa menahan ucapannya saat Nenek tersebut tiba-tiba menyentuh dagunya seraya menggoyangkan kepala dengan senyum lebar. Melihat aksi sang Nenek, Sinar hanya terdiam, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan dengan perasaan bingung dan senyum canggung. Jika boleh berkata jujur, Sinar merasa terhibur, sikap hangat sang Nenek seolah mengobati perasaanya yang sempat down setelah melewati serangkaian peristiwa yang menguras energi dan tenaga. "Kamu cantik sekali, siapa nama kamu?" tanya Nenek dengan senyum kecil. "Si-Sinar, Nek," jawab Sinar dengan terbata-bata. "Eu ... Nenek sendiri siapa? Neneknya Tuan Aryo?" Nenek mengerutkan kening, menurunkan telapak tangannya dengan helaan napas panjang. "Ko manggil calon suami dengan sebutan Tuan sih? Mas dong," protes Nenek dengan lembut. "O iya, perkenalkan aku Rosa, Neneknya Aryo." "Hah? Ca-calon suami?" tanya Sinar dengan mata membulat. "Tuan Aryo bukan calon suamiku, Nek." "Terus, lagi ngapain kamu di rumah ini kalau bukan calon istrinya cucu Nenek yang nakal itu, hah?" Sinar bergeming, menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. Tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan sang Nenek. Dirinya pun tidak tahu, ia tinggal di rumah mewah itu sebagai apa. Pelayan, bukan. Teman, sodara juga bukan. Calon istri, apa lagi. "Kenapa kamu diem aja, cah ayu?" tanya sang Nenek Rosa tersenyum hangat. "Eu ... anu, Nek. Sebenarnya aku--" "Nenek!" seru Aryo memasuki rumah dengan terkejut. "Kapan Nenek dateng? Kenapa Nenek gak bilang dulu sama saya mau ke sini? Kalau Nenek bilang 'kan saya bisa jemput Nenek ke bandara." Nenek Rosa memutar badan, sementara Sinar sontak memundurkan satu langkah, memandang wajah Aryo seraya tersenyum canggung. "Tadinya Nenek mau kasih surprise buat kamu, Aryo, tapi malah Nenek yang disurprisein sama kamu," jawab Nenek seraya memutar bola matanya kesal. "Kenapa kamu gak bilang kalau kamu udah punya calon istri? Tau gitu 'kan, gak perlu Nenek capek-capek cariin jodoh buat kamu, Aryo." Aryo mengerutkan kening dengan perasaan bingung. "Calon istri siapa? Saya?" tanyanya, seraya menunjuk wajahnya sendiri menggunakan jari telunjuk dengan mata membulat. "Ya siapa lagi? Emangnya Nenek punya berapa cucu, hah?" "Ya, tapi wanita itu bukan calon istri saya, Nek, dan saya belum mau menikah." "Ingat umur, Aryo. Ingat umur!" tegas Nenek Rosa penuh penekanan. "Mau sampe kapan kamu ngelajang kayak gini, hah? Mau jadi perjaka tua? Mau mutus keturunan Widiatmoko, begitu?" Bukannya menanggapi ocehan sang Nenek, yang dilakukan oleh Aryo adalah merentangkan kedua tangan lalu memeluk tubuh Nenek Rosa dengan erat. Memejamkan kedua mata, mengobati rasa rindu kepada wanita yang telah membesarkannya dengan sepenuh hati. "Ngomelnya nanti lagi, Nek. Emangnya Nenek gak kasihan sama saya? Baru ketemu udah dimarah-marahin kayak gini," rengek Aryo dengan manja, layaknya seorang anak yang tengah merajuk kepada ibunya sendiri. Nenek mengurai pelukan seraya mengerucutkan bibirnya. "Kamu yang gak kasihan sama Nenek, Aryo. Kamu yang kejam sama Nenek. Nenek udah pengen punya cicit, cuma kamu satu-satunya harapan Nenek, tapi apa? Kamu masih betah sama kesendirian kamu! Emangnya bagus jadi perjaka tua?" Aryo menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara kasar. Sejauh ini, ia memang tidak memiliki keinginan untuk menikah, membina rumah tangga seperti pria normal pada umumnya. Pria berusia 35 tahun itu memiliki luka yang disembunyikan, trauma dengan yang namanya rumah tangga dan hilang kepercayaan kepada kaum hawa pasca ditinggalkan oleh ibu kandungnya sendiri. Arini, ibu kandung Aryo meninggalkannya dan sang ayah demi laki-laki lain. Mencampakkannya sejak usianya masih remaja. Sang ayah yang merasa dikhianati memutuskan untuk tidak menikah lagi dan Aryo ingin mengikuti jejaknya. Ia berfikir bahwa, dirinya bisa hidup tanpa seorang wanita seperti apa yang dilakukan oleh ayahnya, bahkan hingga azal menjemputnya pun, sang ayah masih menduda. "Saya 'kan udah bilang, Nek. Saya belum siap menikah." Aryo kembali merengek manja, sisi lain yang baru Sinar lihat dengan kedua mata. "Dih, manja banget. Kayak anak kecil aja sih, tapi lucu juga sih mukanya Tuan Aryo kalau lagi kayak gitu," batin Sinar, diam-diam menyunggingkan senyuman. Aryo mengalihkan pandangan matanya kepada Sinar, raut wajahnya pun seketika berubah. "Apa kamu senyum-senyum kayak gitu? Ngetawain saya kamu, ya?" bentaknya dengan kesal. Sinar tersenyum lebar. "Dih, siapa yang ngetawain Anda, Tuan. PD banget sih!" decaknya dengan santai. Nenek Rosa tiba-tiba menjewer telinga Aryo dengan kesal. "Ck! Ck! Ck! Kasar kali kamu sama perempuan, hah?" bentaknya dengan mata membulat. "Dia ini calon istri kamu, Aryo. Dasar anak nakal!" Aryo meringis kesakitan. "Argh! Lepasin, Nek. Sakit!" rengeknya seraya memegangi telinganya sendiri. "Lagian, Sinar bukan calon istri saya, Nek. Saya belum mau menikah." Nenek Rosa menurunkan telapak tangannya dengan perasaan kecewa. Memandang wajah Aryo dan Sinar secara bergantian. "Kalau Sinar bukan calon istri kamu, lalu siapa? Kenapa dia ada di rumah ini? Kayaknya, dia juga bukan pelayan di sini. Coba, jelasin sama Nenek." Aryo terdiam, memandang wajah Sinar dengan perasaan bingung. Gadis itu memang akan tinggal di rumah itu, tapi bukan sebagai pelayan, melainkan sebagai pemuas ranjang. Lantas, apa ia akan mengatakan kejujuran? Rasanya tidak mungkin. Jika Nenek Rosa tahu apa yang telah ia lakukan bersama Sinar, sudah pasti dirinya dan Sinar akan dinikahkan sementara ia belum siap untuk merajut mahligai rumah tangga. Sementara Sinar, ia pun dibuat bingung. Sama halnya seperti Aryo Widiatmoko, tidak mungkin ia mengatakan kejujuran, tapi menyembunyikannya pun rasanya tidak pantas. Melihat sikap hangat Nenek Rosa kepadanya, membuat hatinya senang. Apalagi, ia kerap mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu tirinya sendiri. "Kenapa kamu diem aja, Aryo?" tanya Nenek Rosa dengan tegas. "Kenapa Sinar bisa ada di rumah ini dengan pakaian seperti ini?" Nenek Rosa memandang tubuh Sinar dari ujung kaki hingga ujung rambut, pakaian yang dikenakan oleh wanita itu masih sama. Dress berwarna merah terang dengan bagian d**a terbuka. Sementara Aryo dan Sinar masih bergeming, bergulat dengan pikiran masing-masing. "Kalau dia bukan calon istri kamu, apa dia wanita panggilan, alias p*****r?" tuduh Nenek Rosa membuat Sinar terkejut. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD