Bab 4. Pelan-Pelan, Tuan. Sakit

1021 Words
Sinar seketika menutup mata, saat kenyalnya bibir Aryo menyentuh permukaan bibirnya. Dingin, membuat bulu kuduknya merinding, ini adalah pertama kalinya seorang laki-laki menyentuh bagian tubuhnya yang satu itu. Namun, ia segera memundurkan kepala. Nalurinya menolak, mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Aryo tersenyum kecil, kembali mengurai jarak wajahnya. "Saya tau, ini adalah ciuman pertama kamu, 'kan?" tanyanya dengan dingin. Sinar masih bergeming, perasaannya campur aduk sulit untuk diungkapkan. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya pun gemetar. Akan tetapi, ciuman singkat yang baru saja dilayangkan oleh Aryo membuat jiwanya bergejolak. Rasanya aneh, benar-benar aneh. "Kenapa kamu diem aja, Sinar? Ini adalah ciuman pertama kamu, 'kan?" Sinar mengangguk dengan wajah pucat lalu menundukkan kepala. "Udah saya duga," decak Aryo, menyentuh satu sisi wajah Sinar menggunakan satu jarinya, menyisir permukaan wajahnya dengan lembut. Mata Sinar kembali terpejam, rasa aneh kembali hadir mengusik jiwanya. Namun, wanita itu segera membuka kedua mata seraya memundurkan langkahnya. "Maaf, Tuan. Apa tak ada cara lain yang bisa aku lakukan buat membalas budi kepada Anda? Aku bisa ko kerja sebagai pelayan di rumah Anda tanpa digaji," ucapnya dengan gemetar dan ketakutan. "Kamu emang akan kerja di rumah saya, tapi bukan sebagai pelayan." Sinar mengerutkan kening. Aryo mendekatkan wajahnya di telinga Sinar lalu berbisik lirih, "Kamu akan tetap tinggal di sini, sebagai wanita tawanan saya, tapi kalau kamu mau pergi juga silahkan. Saya yakin para preman suruhan Ibu tiri kamu akan menangkap mu." "Nggak, aku gak mau. Mendingan aku tinggal di sini dari pada aku dipaksa dijadikan istri kedua sama si juragan tanah itu," tolaknya, kembali memundurkan langkah karena tidak kuasa dengan hembusan napas Aryo yang terasa dingin, membasuh permukaan telinga. "Pilihan yang bagus," decak Aryo dengan senyum lebar Tanpa basa-basi lagi, Aryo meraih tubuh Sinar lalu menggendongnya. Wanita itu sontak melingkarkan kedua tangannya di leher Aryo. Jiwanya kembali bergejolak, darahnya seakan mendidih. Rasa takut semakin memenuhi d**a. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah. Bahkan, ketika tubuhnya dibaringkan di atas ranjang pun, wanita itu hanya bergeming dengan d**a naik turun menahan berbagai rasa yang tak mampu ia ungkapkan. "Aku tau ini salah, Tuhan, tapi aku tak punya pilihan lain. Hanya rumah ini tempatku berlindung, jika Ibu sampe menemukan aku, dia pasti akan memaksaku menikah sama juragan itu dan dijadiin istri kedua. Nggak, aku gak mau," batinnya, kembali memejamkan mata, saat tengkuknya mulai dijamah sedemikan rupa. "Rasanya akan sakit, tapi saya yakin setelah kamu terbiasa, kamu akan menikmati permainan saya, Sinar," bisik Aryo, sebelum akhirnya menurunkan bagian atas pakaian yang dikenakan oleh wanita bernama Sinar. Aryo memulai permainan dengan sedikit pemanasan, hanya untuk merileksasi tubuh Sinar agar tidak terlalu tegang. Memberikan sentuhan hangat, menyuguhkan sedikit kenikmatan agar wanita itu larut dalam permainan yang ia ciptakan, sebelum junior miliknya benar-benar menjebol gawang yang akan melahirkan rasa sakit yang luar biasa. "Argh! Pelan-pelan, Tuan. Sakit," rengek Sinar, kenikmatan yang ia rasakan hanya sesaat ternyata. "Tahan bentar, Sinar. Arghh, sempit banget," lirih Aryo, masih berusaha membobol gawang sempit yang terasa menggigit. Rasanya benar-benar nikmat luar biasa. Pria itu bahkan mengabaikan rengek dan isakan Sinar, kuku tajamnya tanpa terasa menembus permukaan punggung sebagai pelampiasan rasa sakit yang dirasakan. Aryo larut dalam rasa nikmat, sedangkan Sinar tersiksa dengan rasa sakit yang teramat sangat, saat pria itu berhasil merenggut kesucian yang telah ia jaga selama 21 tahun ini. Buliran bening tak henti-hentinya bergulir, kedua tangannya semakin erat mencengkram punggung Aryo Widiatmoko. Sinar merasa hidupnya telah hancur, masa depannya pun suram, semakin lengkap penderitaan yang ia alami setelah kehilangan mahkota kesucian, harta satu-satunya yang ia miliki sebagai seorang wanita. *** Satu jam kemudian, Sinar meringkuk dibalik selimut. Buliran bening membanjiri kedua sisi wajahnya. Rasanya bukan hanya sakit, bagian intinya bagai tersayat pisau tajam, perih dan nyeri. Tidak hanya itu saja, sekujur tubuhnya terasa remuk, luka di kakinya pun semakin menjadi-jadi. Wanita itu mencoba untuk bangkit seraya menahan rasa sakit. "Argh!" ringisnya, rasa sakit di bagian intinya semakin menjadi-jadi, kembali berbaring dengan mata terpejam. Aryo yang tengah terlelap seketika membuka kedua mata. "Mau ke mana kamu?" tanyanya, meraih pinggang Sinar, membawanya ke dalam dekapan. "A-aku mau mandi, Tuan," jawab Sinar, menggigit ujung kuku jari jempolnya sendiri seraya menahan air mata. "Nanti aja, saya belum puas, Sinar." "Saya mohon jangan, Tuan. Anuku masih sakit." "Sekali lagi, saya janji kali ini gak akan lama." Aryo kembali melakukannya, mengindahkan rengekan dan tangis kesakitan wanita yang berada di bawah kungkungannya. Jiwa seorang Aryo Widiatmoko benar-benar dibutakan oleh kenikmatan surga dunia, mata hatinya seolah mati, nuraninya tak lagi berfungsi. Di otaknya hanya ada nafsu belaka, birahinya tidak mampu ia kendalikan, hanya ingin mengobati rasa hausnya akan nikmatnya tubuh wanita bernama Sinar yang tanpa sadar telah menjadi candu baginya. "Arghhh!" lenguhan panjang pun terdengar penuh kenikmatan saat pelepasan berhasil diraih dengan amat sempurna. Mata Aryo terpejam, jiwanya seolah melayang, rasanya luar biasa nikmat. Tubuhnya terjatuh ke arah samping dengan napas tersengal-sengal. Aryo tersenyum lebar, berbaring telentang lalu menoleh dan memandang wajah Sinar. "Sana kalau mau mandi, tapi ingat jangan coba-coba kabur dari rumah ini, paham?" Sinar menganggukkan kepala, merapatkan kedua kakinya seraya menahan rasa nyeri. Berusaha untuk bangkit lalu meraih satu-persatu pakaian yang tergeletak di atas lantai sebelum akhirnya melangkah menuju kamar mandi dengan berjinjit kaki. "Dasar gak punya perasaan. Habis manis sepah dibuang, giliran udah puas aja disuruh pergi. Mana anuku sakit banget," batin Sinar, seraya menyeka kedua matanya yang berair. *** Malam hari tepatnya pukul 19.30, Sinar berjalan menuruni satu-persatu anak tangga menuju lantai satu. Langkahnya nampak pelan dan sangat hati-hati menahan rasa nyeri. Bagian intinya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ia sama sekali tidak menyangka, rasanya akan sesakit ini diperawani. Sinar mengedarkan pandangan matanya, menatap sekeliling rumah mewah dan luas dilengkapi dengan perabotan mahal lengkap dengan lampu kristal yang bertengger di langit-langit, nampak berkilau dan megah memancarkan cahaya yang menerangi ruangan luas yang berada di bawahnya. Namun, rumah tersebut tidak ada bedanya dengan kuburan. Sepi dan hening, seolah tidak ada kehidupan. "Sepi banget, buat apa rumah segede ini tapi gak ada orangnya," gumamnya, menghentikan langkah tepat di ujung tangga. Seorang wanita tua berpenampilan elegan dengan gaun berwarna hitam melangkah dari arah depan, menatap wajah Sinar dengan kening dikerutkan. "Hey, siapa kamu?" bentaknya membuat Sinar terkejut. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD