Sinar terdiam dengan tubuh gemetar. Ketakutan yang sempat sirna kembali memenuhi d**a. Terbebas dari sarang singa, kini ia masuk ke kandang macan. Oleh ibu tirinya, ia dipaksa menikah dengan juragan tanah guna membayar hu ta ng sang ayah yang baru tiada beberapa Minggu silam, dan kepada Aryo, dirinya terpaksa menyerahkan tubuh nya demi membalas budi. Dengan kondisi yang berbeda, dirinya sama-sama harus menyerahkan ha rta satu-satunya yang ia miliki sebagai seorang perempuan. Lari pun ia tidak bisa, tu b uh nya sudah terlalu lelah, mentalnya sudah hancur tidak bersisa. Gadis berusia 21 tahun itu hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada.
"Ya Tuhan, kenapa berat sekali cobaan yang Engkau berikan kepadaku?" batinnya dengan kepala menunduk, memandang sepasang kakinya yang tanpa mengenakan alas kaki.
"Silahkan ikut saya, Nona," pinta salah satu pelayan.
Sinar kembali mengangkat kepala, memandang wajah sang pelayan dengan wajah pucat. "Jangan panggil aku Nona, Bi. Panggil aja Sinar," pintanya dengan datar.
Kedua pelayan, melangkah mendekat lalu memapah tubuh Sinar untuk berjalan.
"Aku bisa jalan sendiri," pinta Sinar lagi, melepaskan kedua tangan sang pelayan lalu melangkah dengan sedikit berjinjit kaki.
Bukan karena takut mengotori lantai marmer yang berkilau memantulkan benda-benda lain yang berada di sekitarnya, tapi karena telapak kakinya terluka dan melepuh akibat berlari di aspal. Sinar berjalan mengikuti pelayan dengan perasaan tidak karuan.
Sedangkan Aryo, memandang punggung wanita itu. Menyisir tu buh nya dari arah belakang hingga matanya berhenti di kedua kakinya. Ada rasa iba yang terselip di lubuk hatinya yang paling dalam, melihat cara berjalan Sinar yang seperti menahan kesakitan.
Aryo menggelengkan kepala seraya memalingkan wajah ke arah samping. "Tak usah jadi pahlawan kesiangan, Aryo. Apaan sih, setelah menyelesaikan tugasnya, dia akan saya usir dari rumah ini," batinnya, berbicara kepada diri sendiri.
***
Sinar memasuki kamar mewah yang luasnya lima kali lipat dari kamar pribadinya. Kamar itu dihiasi dengan ranjang besar yang terletak tepat di samping jendela dengan tirai berwarna abu-abu yang lembut. Dengan perasaan pasrah, Sinar mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling, menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Satu pelayan nampak berjalan ke arah kamar mandi, satu lainnya membuka lemari pakaian, sementara pelayan lainnya nampak berdiri di sampingnya dan hendak membuka pakaian yang dikenakan oleh Sinar.
"Aku bisa sendiri, Bi," pinta Sinar dengan senyum hambar.
"Tak bisa, Nona. Tuan Aryo memerintahkan kami untuk membantu Anda mandi dan berganti pakaian. Saya tak berani membantah perintah beliau," jawab pelayan dengan sopan.
"Tapi aku bukan Tuan Putri, Bi. Aku bisa mandi dan ganti bajuku sendiri."
"Tolong bantuannya, Nona. Kami masih butuh pekerjaan, kalau Anda melakukannya sendiri, kami bisa dipecat."
Sinar terdiam, keningnya mengerut heran. Sepatuh itu pelayan kepada majikannya, hanya karena tidak mengikuti apa yang diperintahkan, mereka bisa dipecat? Sinar menelan salivanya dengan tubuh gemetar, apa yang akan terjadi dengan dirinya apabila ia menolak dan berontak?
"Permisi, Nona. Izin membuka baju Anda," ucap sang pelayan, mulai melucuti satu-persatu pakaian yang dikenakan oleh Sinar.
Meski merasa tidak nyaman, Sinar hanya bergeming, benar-benar pasrah dengan keadaan karena tidak ingin mereka berada dalam masalah besar jika ia menolak. Tubuh polosnya yang hanya dibalut handuk berwarna putih dipapah menuju kamar mandi, di mana bathub air hangat berisi kelopak bunga sudah siap dan mengeluarkan harum yang menenangkan.
"Mimpi apa aku semalam, seumur-umur aku gak pernah tuh yang namanya mandi kembang," batin Sinar tersenyum sinis sebelum akhirnya melangkah menuju bathub lalu memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam air.
Sinar memejamkan mata, rasa perih seketika terasa di kedua telapak kakinya. Luka di kakinya itu memberikan respon terhadap air hangat, tapi rasa nyeri itu perlahan mulai berkurang, tergantikan dengan rasa nyaman dan rileks. Sinar mulai menikmati perannya, melupakan masalah besar yang sedang mengejarnya di belakang, dan melupakan masalah lain yang mungkin saja sedang menantinya di depan.
"Silahkan panggil kami kalau Anda udah selesai, Nona," pinta pelayan dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Sinar.
***
Aryo berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan perasaan gelisah. Kamar bernuansa abu-abu hampir mendominasi ruangan luas tersebut. Sudah hampir satu jam ia menunggu kedatangan wanita bernama Sinar, rasanya benar-benar tidak sabar ingin segera mencicipi kemolekan tubuhnya. Ia yakin, dibalik penampilannya yang lusuh, tersimpan keindahan yang belum pernah terjamah oleh tangan laki-laki manapun. Hal tersebut terlihat dari wajah polos Sinar. Membayangkannya saja membuat air liurnya menetes, sudah lama sekali ia tidak merasakan nikmatnya sensasi bercinta dengan seorang perawan.
"Akh, sial! Lama banget sih si Sinar?" gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam.
Tidak lama kemudian, pintu kamar pun diketuk pelan dan beraturan. Aryo sontak menghentikan langkah, menoleh ke arah pintu dengan senyum lebar sebelum akhirnya berjalan cepat menuju kursi yang berada di depan jendela dengan perasaan senang.
"Masuk!" pintanya, duduk dengan bersilang kaki, menggigit kuku jari jempolnya sendiri untuk mengurangi rasa gugup.
Pintu pun dibuka, Sinar dengan mengenakan dress mini berwarna merah terang dengan bagian d**a terbuka nampak memasuki kamar dengan tubuh gemetar. Kepalanya menunduk, kakinya bergetar dan ketakutan.
Aryo sontak berdiri tegak dengan mata membulat. Wanita dihadapannya itu terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya. Wajahnya nampak dipoles dengan make up tipis, tanpa kaca mata minus, benar-benar cantik luar biasa bak bidadari yang turun dari khayangan. Belum lagi, dress seksi yang dikenakan oleh wanita itu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, kedua kakinya yang seputih salju semakin menambah gairah.
"Ka-kamu beneran Sinar, wanita yang tadi saya tolong, 'kan?" tanyanya dengan gugup, jantungnya berdegup kencang, celana dalam nya semakin menyempit karena junior miliknya tiba-tiba menegang
Sinar melangkah mendekat dengan pelan dan tidak seimbang, high heels yang ia kenakan membuatnya tidak nyaman. Terlebih, ada luka di telapak kaki dan jari-jarinya. Sinar menghentikan langkah tepat di depan Aryo seraya menaikan bagian atas dress yang ia kenakan, mencoba menutupi gumpalan padat berbentuk hati, membuatnya benar-benar gugup dan semakin takut.
"I-iya, i-ini aku, Tuan," jawab Sinar dengan kepala menunduk.
Aryo meraih dagu Sinar, mengangkat wajahnya, ingin melihat kecantikan paripurna yang terpancar dari wajah wanita itu. Sinar menatap bola mata Aryo, sorot matanya semakin membuatnya takut. Tubuhnya membeku, jiwanya bergejolak. Apa ia siap melepas mahkota kesucian kepada orang yang telah menolongnya itu? Batin Sinar, gelisah.
"Kamu cantik sekali, Sinar. Kamu seperti bidadari yang turun dari khayangan," bisik Aryo di telinga Sinar, hembusan napasnya seketika membuatnya merinding. "Mulai hari ini, kamu milik saya."
Sinar meneguk salivanya dengan bersusah parah, memandang kedua mata Aryo dengan tajam. "Setelah aku membayar balas budiku sama Anda, apa Anda akan membiarkan aku pergi dari sini?"
Aryo menghela napas panjang seraya mengurai jarak wajahnya. "Silahkan aja pergi dari sini kalau kamu mau ketangkep sama pre man tadi. Kamu tinggal pilih, mau tetap di sini sebagai wanita tawanan saya, atau ditangkap sama mereka, orang suruhan Ibu tiri kamu," jawab Aryo seraya mendaratkan bibirnya di bibir Sinar, mengecupnya singkat, penuh gairah.
Bersambung ....