"Malaikat Tampan?" celetuk Anna sambil menepuk-nepuk pipinya, berharap objek pandangannya bukanlah halusinasi.
Beberapa saat kemudian Anna tersenyum dan yakin jika lelaki itu sosok yang dia temui di hutan tempo lalu, meski heran kenapa pemilik rambut perak itu bisa ada di sini, lagi pula Anna yakin jika laki-laki itu yang menolongnya dari lubang mengerikan itu. Tanpa membuang waktu, Anna langsung melangkah ke arahnya, bermaksud untuk menyapa dan mengucapkan rasa terima kasih karena telah berbaik hati membantunya.
Akan tetapi, langkah Anna urung kala sebuah tangan menariknya dan membekapnya dari belakang.
"Dasar kau ini!" desis Ganza, pelaku penarikan paksa itu. Kemudian melepas Anna dari kungkungannya.
Anna menatap Ganza dengan raut bingung. "Kenapa kau menarikku ke sini?" tanyanya sembari menatap sekeliling.
Ganza berkacak pinggang seraya menggeleng beberapa kali, seolah Anna baru saja melakukan hal buruk.
"Kau mau mendatangi bocah tengik di bawah pohon itu, kan?" tebak Ganza, lalu mencebik sinis.
Kening Anna mengerut saat mendengar Ganza menyebut laki-laki rambut perak itu dengan sebutan bocah tengik. Terdengar aneh dan lucu di saat bersamaan.
"Kenapa memangnya?" tanya Anna. Dia ikut berjalan di samping Ganza sembari menyusuri kolam ikan koi berbentuk segi panjang yang terletak di samping kastel.
"Terlihat jelas dari wajahmu." Ganza menjawab tak acuh, menoleh sekilas untuk melihat wajah Anna dari samping. Setelah itu dia berdeham sambil menggaruk belakang lehernya.
"Maid s****n itu memberimu parfum, ya?"
Anna menoleh untuk mendapati raut garang Ganza. Belum sehari Anna mengenal Ganza dan selama itu pula laki-laki itu kerap terlihat kesal tanpa alasan jelas, meski di mata Anna tidak lebih dari kepura-puraan.
"Maid s****n itu bernama Lucia," koreksi Anna. Tadi dia menanyakannya saat Lucia mengantarkan baju.
Ganza mengangkat bahu tidak peduli, kemudian berjalan lebih cepat dan berhenti tepat di depan Anna dengan jarak lima langkah. Laki-laki itu menunjuk Anna tepat di depan wajah.
"Kau mencoba menggodaku, yaa?" katanya sambil tersenyum miring.
Anna menggeleng cepat. "Kenapa aku harus menggodamu?"
"Karena aku tampan," jawabnya penuh rasa percaya diri.
Usai menghela napas, Anna memegang tangan Ganza yang terulur dan menepisnya pelan. "Aku tidak menggunakan parfum apa pun ...." Anna mengendus aromanya sendiri, lalu menggeleng—tak membenarkan tuduhan Ganza mengenai parfum.
"Tapi harum tubuhmu seperti gula." Ganza kembali melangkah, berjalan bersisian dengan gadis itu. Kini mereka naik ke tangga kastel yang kiri kanannya terdapat Patung berbentuk manusia, demi apa pun terlihat menyeramkan.
Anna tak menanggapi. Fokusnya terpecah saat lewat di depan patung itu. Dia merasa seperti sedang diperhatikan dan tanpa sadar membuatnya merinding takut.
"Sebenarnya ini terasa aneh," gumam Ganza. Tetap berceloteh meski Anna tak menimpali. "Sebenarnya kau ini siapa, asal mana, dan golongan apa? Lalu kenapa bisa ada di depan kastel dalam keadaan menyedihkan, heh?"
Anna sontak berhenti melangkah dan mendongak untuk menemukan sepasang bola mata legam—yang menyorotnya penasaran.
"Aku—"
"Manusia, kan?" potong Ganza seraya menjentikkan jarinya di udara. "Sudah aku duga. Dari awal aku sudah merasakan aura berbeda dari tubuhmu. Aneh sekali, aku lupa kapan terakhir kali kastel ini kedatangan Manusia, selain maid s****n itu, ya walaupun aku yang memungutnya dari jalanan," ungkap Ganza. Selalu tampak ringan saat mengatakan sesuatu meski terdengar aneh di pendengaran orang lain.
"Manusia," gumam Anna dengan hati bertanya-tanya.
Salahkah jika Anna merasa ambigu mendengar cara Ganza menyebut kata manusia sedang dirinya juga manusia? Anna menggeleng, menepis pikiran aneh yang merayapi isi kepalanya, mencoba untuk berpikir jernih meski potongan kejanggalan-kejanggalan yang sempat dia temui kembali terlintas.
"Tadi aku merinding saat melewati patung itu." Anna menunjuk patung yang dia maksud diikuti oleh Ganza yang berdecak.
"Itu hanya patung," katanya santai. "Dasar Manusia lemah," gumam Ganza, hanya dapat di dengar oleh dirinya.
"Jadi siapa bocah tengik yang kau maksud itu?"
Ganza mengibaskan tangannya di udara. "Halah, dia itu ... sepertinya kita harus kembali ke kamarmu," kata Ganza tiba-tiba sambil meraih tangan Anna dan menyeretnya kembali melewati patung itu.
Anna mengikuti langkah terburu-buru Ganza dan sesekali melirik ke belakang dan tidak menemukan siapa pun. Sedang Ganza yang tidak sengaja melihat Xanza bersama Warzad di undakan tangga menuju lantai dua kastel—langsung menarik gadis itu dengan bibir komat-kamit.
"Kau ini hobi menarik orang tanpa alasan jelas, ya!" rutuk Anna setelah Ganza melepas genggamannya tepat di depan pintu kamar Anna. Sepertinya orang-orang telah tidur karena Anna tak lagi menemukan orang lain selain dirinya dan laki-laki yang kini mengacak rambutnya asal.
"Tadi ...." Ganza mengacungkan telunjuknya. "Aku melihat bocah tengik itu bersama teman kurang ajarnya. Seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih karena aku telah menyelamatkanmu," katanya sambil melengos sebal.
"Kenapa memangnya?" Anna mendorong tubuh Ganza agar tidak menghalangi langkahnya, berniat untuk kembali ke tempat semula.
"Jangan main-main," desis Ganza dan menarik Anna agar kembali ke tempat awal. "Dia itu berbahaya, apa lagi bagi perempuan sepertimu."
"Maksudmu?"
Ganza mencondongkan tubuhnya dan bermaksud membisikkan sesuatu, "Dia—"
"Ganza!"
Anna dan Ganza sontak menoleh ke sumber suara. Menatap pemilik suara itu dengan raut berbeda. Anna yang mengerjap, sedang Ganza melotot kesal.
Tidak jauh dari tempat mereka, berdiri laki-laki yang sedang dibicarakan. Menatap Anna dan Ganza secara bergantian dengan tatapan sama dinginnya.
"Ke ruangan Ayah," lanjutnya lalu mengalihkan pandangannya dari wajah Anna. Kemudian berbalik begitu saja dan tidak memberi kesempatan pada gadis itu untuk menyapa.
******
Salah satu ruangan kastel yang terletak di bawah tangga menuju aula, kini tak sesunyi biasanya. Karena Vandlez meminta orang-orang kepercayaannya agar berkumpul untuk membahas hal yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Di mana adikmu?" Vandlez langsung bertanya saat Putra sulungnya melangkah masuk dan tidak diikuti oleh Ganza.
Semua pasang mata di ruangan itu menatap ke arah Xanza yang biasanya enggan untuk ikut berkumpul dan membahas hal-hal yang tidak berkaitan dengan dirinya—karena Vandlez sempat berkata ingin membahas sesuatu yang lumayan penting. Namun jika laki-laki berwajah tegas itu sudah menampakkan diri yang biasanya bermain belakang, maka dipastikan telah terjadi sesuatu yang berkaitan dengannya.
"Menuju ke sini," katanya dengan nada rendah. Kemudian duduk di samping perempuan yang ditemui Anna tempo lalu. Perempuan cantik yang memiliki rambut sebatas pinggang dengan kulit putih bercahaya.
Dikenal dengan nama Zera. Perempuan tangguh, memiliki kecantikan yang diagung-agungkan warga Vulganira, yang diperkirakan menjadi Ratu golongan Holy untuk ke depannya.
Xanza melirik perempuan itu yang juga sedang menatapnya, lalu kembali menatap ke depan, memutus kotak terlebih dahulu. Hal yang selalu dia lakukan jika berinteraksi dengan Zera di depan banyak orang.
"Aku tidak salah ruangan, kan?" Orang yang ditunggu-tunggu kini sudah menampakkan diri dan menatap ayah dan Bundanya dengan raut bertanya-tanya. Kemudian beralih pada Arnom, Wazard, Zera, dan berhenti pada wajah Xanza, lalu melengos malas.
"Kemarilah," panggil Nyonya Vandlez meminta putra bungsunya itu agar duduk di kursi samping kanannya, sedang di sebelah kiri ditempati oleh Vandlez.
Di ruangan itu terdapat meja persegi panjang dengan dua belas kursi. Sejak dahulu memang sudah dipersiapkan sebagai tempat untuk membicarakan sesuatu yang dianggap penting.
"Tuan Muda dari mana saja?" tanya Wazard. Karena sejak semalam, dia tidak pernah melihat Ganza berkeliling kastel—aktivitas yang selalu dilakukan laki-laki itu jika sedang bosan.
Satu alis Ganza menukik satu tingkat sebagai respon atas pertanyaan sahabat dari kakaknya itu. "Bukan urusanmu, cih," katanya yang dihadiahi cubitan di pahanya oleh Nyonya Vandlez.
"Jadi, kenapa memintaku datang ke sini?"
"Kata ayahmu, kau yang membawa masuk gadis itu ke mari." Arnom menyela saat Vadlez ingin menjelaskan.
"Gadis yang kau maksud itu memiliki nama, Paman." Ganza berdecak. "Namanya Anna," lanjutnya sambil melirik Xanza dengan raut sinis, sedangkan yang dilirik hanya menatap lurus.
"Kenapa kau membawanya masuk? Bukankah berbahaya membawa orang asing masuk ke kastel ini tanpa izin dari Ayahmu?" Arnom kembali melayangkan pertanyaan, merasa tidak puas atas jawaban Ganza.
Gerakan bahu naik turun sebagai jawaban atas pertanyaan lelaki berjanggut itu. "Naluri seorang pria." Ganza menjawab santai.
Sekilas, Xanza melirik adiknya dan tidak luput dari perhatian Nyonya Vandlez yang kemudian menggeleng tak mengerti atas watak ke dua putranya.
Arnom tak lagi membuka suara. Memberikan ruang pada Vandlez untuk menyampaikan maksud dan tujuannya mengumpulkan mereka.
"Seperti yang kau ketahui, gadis yang kau selamatkan dari depan kastel itu adalah manusia. Jadi ayah pikir, sebaiknya kau tidak mengatakan hal-hal aneh dengannya, sampai menggiring opini untuk mengira jika kita makhluk yang berbeda," terang Vandlez.
"Karena dia satu-satunya orang yang selamat dari p*********n Blood Sucker di desa pinggir kota itu." Nyonya Vandlez ikut menambahkan sambil mengusap pelan punggung putranya.
Ganza mengangguk mengerti meski sempat mengernyit bingung. Kini kebingungannya mengenai Anna sudah terjawab.
"Dulunya Golongan Blood Sucker tidak pernah menyerang desa secara brutal hingga menewaskan semua orang. Tentunya yang dapat menimbulkan kecurigaan bagi orang awam. Mereka tidak sebodoh itu untuk menunjukkan jati diri." Zera yang sedari tadi diam, kini mengemukakan pendapatnya.
"Zera ada benarnya," kata Vandlez dan disetujui oleh semua orang di ruangan itu, selain Xanza yang tidak menampilkan raut apa pun.
"Aku rasa penyebab p*********n tersebut karena gadis bernama Anna itu," ujar Nyonya Vandlez seraya menatap suaminya.
Vandlez mengangguk. "Karena dia bukan manusia biasa," ucapnya membuat Ganza mengernyit heran.
"Manusia campuran sepertinya memang sering diburu oleh Penguasa Blood Sucker. Karena selain istimewa, darah campuran itu juga bisa menyempurnakan dendam Damned Sucker," kata Vandlez. Orang-orang di ruangan itu tampak sibuk dengan pikirannya.
Xanza melirik Ayahnya yang tengah menatapnya penuh arti, kemudian kembali ke posisi semula.
"Berarti kehadiran Anna di kastel ini jelas membawa bahaya untuk warga Vulganira." Wazard menyimpulkan sembari menatap Vandlez.
Nyonya Vandlez dan Ganza saling melempar pandangan. Sedang Arnom tampak mengetuk-ngetuk dagunya.
"Namun, jika dibiarkan pergi dan jatuh ke tangan yang salah, maka golongan Holy bisa binasa, begitu pun dengan isi kota ini." Ucapan Vandlez sontak menarik perhatian semua orang.
"Maka solusinya hanya satu." Xanza yang sedari tadi hanya diam, kini membuka suara, membuat semua orang di ruangan itu menatapnya terkesiap.
"Maksudmu?" timpal Zera, bertepatan saat Ganza tiba-tiba izin keluar dengan alasan mengantuk.
"Pertahankan atau lenyapkan." Xanza menjawab lugas tanpa menerbitkan satu ekspresi yang dapat menebak isi kepala laki-laki itu.
Arnom dan Wazard saling pandang dengan tatapan sama terkejutnya.
"Keputusan itu ada di tanganmu." Vandlez mengedikkan bahu. "Karena dari awal kau yang menolongnya, maka kini kembali padamu lagi. Pertahankan sampai kita menemukan solusinya, atau bunuh dia secepatnya, maka masalah dianggap selesai. Dan kau yang harus melakukannya." Usai berkata seperti itu, Vandlez menutup diskusi malam ini dan menyisakan Xanza yang terdiam seorang diri.
Haruskah Xanza mengambil pilihan ke dua?