Seorang gadis melenguh panjang seraya merentangkan ke dua tangannya di atas kepala, merasa puas usai mengecap nikmatnya tidur panjang. Matanya perlahan terbuka, mengerjap sejenak untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk melalui jendela lebar di samping kirinya—yang pertama kali ia lihat setelah membuka mata.
Gadis itu Anna, yang jatuh tak sadarkan diri di depan kastel mewah bergaya klasik usai berjuang di tengah hutan. Setelahnya ia tidak ingat apa pun, membuatnya kebingungan setelah sadar.
"Dia sudah siuman, kukira dia mati."
Anna menoleh ke arah kanan tempat suara itu berasal. Di sana berdiri seorang perempuan berpakaian panjang dengan bando pita berwarna abu-abu di kepalanya. Namun suara itu Anna yakini berasal dari lelaki yang duduk di kursi ujung sambil bersidekap d**a.
"Kenapa masih hidup?" sinisnya terdengar sebal. Sedangkan perempuan yang berpakaian klasik itu sontak memukul kepala lelaki itu.
"Sopan kah maid memukul kepala Pangeran?" rutuknya sambil berdiri dan melotot ke arah perempuan itu.
Anna mengerjap bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dan di mana dia sekarang?
"Huh, Pangeran tidak seharusnya marah-marah," kata lelaki itu usai menghela napas panjang. Kemudian dia menghampiri Anna yang beringsut mundur sedang lelaki itu mengernyit aneh.
"Syukurlah Nona bangun dengan selamat dan terlihat segar." Perempuan berpita tersenyum ramah dan menarik kerah baju lelaki yang mengaku pangeran itu dan mengambil alih posisinya.
"Aku ada di mana?" tanya Anna bingung. Keningnya semakin mengerut dalam ketika lelaki pemilik rambut coklat itu mendengkus keras.
"Nona ada di kastel Tuan Vandlez. Semalam Nona ditemukan tak berdaya di depan pagar. Untunglah Tuan Muda menemukan Nona dan membawanya ke mari," kata perempuan itu ramah.
"Tuan muda yang dia maksud itu aku," sela lelaki pemilik rambut kemerahan tersebut. Menunjuk dirinya sendiri dengan raut bangga dan angkuh, kemudian mendorong perempuan berpita untuk minggir.
"Kau tau, aku yang menggendongmu masuk ke mari," katanya dengan raut sinis. "Lenganku ini sampai keram karenamu, ayo berterima kasih," rutuknya sambil menunjuk lengannya.
"Tapi kau menggendongnya seperti karung beras. Seharusnya yang sakit itu punggungmu, bukan lengan—"
"Diam kau." Lelaki itu menoleh kesal dan menaruh telunjuknya di depan bibir, lalu beralih pada Anna. "Pasti kau bertanya-tanya siapa sebenarnya lelaki tampan dan baik hati ini, jadi biar aku beritahu, di kastel ini orang-orang memanggilku Tuan Muda, tapi khusus untukmu cukup panggil aku Ganza," ucapnya sambil tersenyum miring dan bersidekap d**a.
Anna mengangguk mengerti meski tidak sepenuhnya. "Aku Anna." Anna memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
Lelaki bernama Ganza itu tersenyum tertahan sambil menutup bibirnya ketika tangan Anna terulur. Beberapa detik kemudian dia menormalkan ekspresinya seperti awal, lalu menyambut uluran Anna dan menggenggamnya dengan raut ogah-ogahan.
Perempuan berpita di belakangnya itu susah payah menahan diri agar tidak menendang p****t anak majikannya itu. Pencitraan!
"Tanganmu lembut," kata Ganza usai berdeham pelan. Lalu menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang tubuh. "Pasti harum juga," lanjutnya dan kembali ingin menggenggam tangan Anna untuk membawanya ke depan hidung.
Namun sebelum hal itu terjadi, perempuan yang disebut maid itu lebih dulu memukul tangan Ganza dan menyorotnya garang.
"Tidak usah modus!" bisik Maid itu yang dibalas pelototan.
"Maid kurang ajar. Untung aku menganggapmu teman!" rutuknya sebal.
Anna mengembuskan napas lelah yang kemudian mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan tuk meneliti setiap inci suasana kamar yang ditempatinya ini. Indah. Kata itu cukup menggambarkan rupa kamar ini. Plafonnya berwarna kuning keemasan sedang dindingnya berwarna kayu ebony. Terdapat cermin klasik dengan bingkai bermotif daun serta meja hias di bawahnya dengan motif yang sama, di sisi kanan yang tak jauh dari jendela terdapat satu lemari kayu ukuran besar, masih dengan motif yang sama. Sepertinya yang berbeda hanya ranjang yang berwarna putih s**u tanpa motif.
"Maaf karena aku telah merepotkan kalian," kata Anna tulus, menyela perdebatan antara Ganza dan Maid yang belum Anna ketahui namanya.
"Tenang saja, Non. Di sini kau tidak perlu merasa sungkan apa lagi merasa direpotkan. Karena aku siap direpotkan olehmu." Perempuan itu tersenyum lagi sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Kenapa kau memberi hormat?" bisik Ganza yang masih dapat didengar oleh Anna.
"Tuan Vandlez dan Nyonya Vandlez terlihat khawatir melihat keadaan gadis itu. Jadi aku pikir dia itu istimewa," bisik Maid itu sambil memiringkan kepalanya.
"Tapi kau tidak pernah memberi hormat kepadaku." Ganza berdecak tidak terima, sama sekali tidak sungkan meski Anna menatapnya bingung.
"Karena kau bodoh ... ahahaha, aku harap Nona tidak mengambil pusing kejadian barusan dan tidak memedulikan tingkah Tuan Muda, karena dia memang sedikit tidak berotak." Maid itu tertawa dibuat-buat dan tidak memedulikan Ganza yang siap mengeluarkan taring.
Terlepas dari itu semua, Anna tak lagi menghiraukan dua orang itu dan memintanya untuk meninggalkannya sendirian. Karena kembali teringat kejadian di desa kemarin serta meninggalnya sang Ibu membuat Anna diserang rasa sakit juga takut.
Terlalu sakit ketika diingat. Namun mustahil untuk lenyap dari pikiran. Begitulah kira-kira.
*****
"Berapa orang yang mati?" tanya lelaki yang dipanggil Tuan Vandlez. Lelaki yang normalnya diperkirakan berusia empat puluh tahun itu—meski nyatanya hampir dua abad, menaruh ke dua tangannya di atas meja dan mencerna informasi yang baru saja dia dengar.
Saat ini kota Vulganira digemparkan dengan adanya kabar bahwa desa yang terletak di pinggir kota yang berdampingan dengan hutan itu baru saja mendapat bencana berupa p*********n oleh makhluk yang tidak diketahui orang awam. Meski begitu, warga Vulganira jelas tahu siapa dalang di balik itu semua, walau terasa ada yang janggal karena peristiwa ini hampir tidak pernah terjadi sepanjang satu abad terakhir.
"Informasi yang kudapat menyatakan tidak ada yang selamat dari p*********n itu. Lagi pula mustahil ada yang selamat jika golongan Blood Suckerlah yang melakukannya. Yahh, meski alasannya belum diketahui," kata lelaki bernama Armon. Pembawa informasi itu.
"Salah." Vandlez menarik diri, berdiri di depan jendela. "Ada satu yang tersisa dan selamat," lanjutnya, membuat Arnom membeliak tak percaya.
"Bagaimana bisa?" ungkapnya tak yakin.
Vandlez mengedikkan bahu. Kemudian melirik lelaki yang sedari tadi bungkam tanpa ikut campur.
Dia Xanza Vandlez. Putra pertama Danza Vandlez. Laki-laki yang dijuluki pendiam k**i. Meski Vandlez sendiri tidak tahu letak k**i di diri putranya itu selain pernah mencabik orang hingga tewas yang melukai adiknya.
"Tentu bisa." Sudut bibir Vandlez berkedut samar. "Karena ada yang menolongnya," lanjutnya sambil menatap Xanza terang-terangan.
Merasa sedang menjadi pusat perhatian, pemilik rambut perak itu mengangkat kepala seraya menatap Ayahnya dengan raut datar.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Vandlez mengulum senyum, lalu menggeleng. Sedang Arnom mengernyit bingung.
"Semesta masih berpihak pada gadis itu," kata Vandlez dan kembali ke kursinya. "Meskipun dia bisa saja mati sia-sia di sebuah lubang usai kabur dari desanya. Beruntungnya ada yang berbaik hati menolongnya," lanjut Vandlez.
Merasa jika sang Ayah sedang menyinggungnya, Xanza tanpa rasa sungkan mendorong kursi tempat dia duduk dan berdiri menatap Vandlez dan Arnom yang langsung mendongak—menatapnya dengan raut berbeda.
"Aku pergi," katanya singkat dan berlalu begitu saja tanpa mendengar jawaban Vandlez yang memintanya untuk bergabung.
Arnom melihat tingkah laku anak sahabatnya itu menggeleng sambil terkekeh geli. "Anak itu tidak berubah sama sekali," ungkapnya jujur dan dibenarkan oleh Vandlez.
"Ngomong-ngomong, siapa yang selamat dari p*********n itu?" Arnom mengutarakan kebingungannya.
Vandlez menghela napas samar sambil menatap Arnom dengan raut serius. "Dia ada di sini."
Arnom sontak terbelalak mendengarnya. "Bagaimana mungkin bisa?" ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Salah satu putraku membawanya masuk kemari." Vandlez menjawab jujur sambil menyesap air yang tersaji di depannya.
"Xanza?"
Vandlez menggeleng dan menyorot Arnom lucu. "Kau seperti tidak mengenal dia saja."
Arnom diam-diam membenarkan. Karena watak putra Vandlez yang satu itu benar-benar sulit ditebak.
"Jadi si manja itu, ya, yang melakukannya," kata Arnom sambil menggeleng tak percaya.
Sedang Vandlez tertawa kecil, merasa lucu kala mengingat ekspresi Ganza yang berteriak histeris sambil memanggul gadis itu di punggungnya. Menghebohkan penghuni kastel, terlebih yang sedang sarapan. Putra keduanya itu bahkan mengancam akan memenggal dokter kastel jika gagal menyelamatkan gadis itu. Benar-benar berbanding jauh dengan Xanza yang tetap melanjutkan makannya, sama sekali tidak menggubris kehebohan yang dibuat adiknya.
******
Usai mandi dan mengisi perut—yang Anna tidak tahu hal tersebut bisa disebut makan siang atau makan malam, gadis itu berniat keluar dari kamarnya dan mencari tahu tentang kastel ini juga orang-orang di dalamnya. Tadinya Anna ingin segera pergi karena merasa dia hanya merepotkan, lagi pula Anna bukan siapa-siapa di sini, tidak lebih dari gadis malang yang tersesat dan ditolong oleh orang baik hati.
Saat Anna mengutarakan niatnya itu, Ganza langsung menentang dan mengatakan jika Anna pergi saat itu juga, maka dia pastikan Anna akan mati di tangannya. Ancaman yang mengerikan pikir Anna, meski begitu dia pikir jika lelaki yang disebut Tuan muda itu hanya bercanda.
Tidak ada siapa-siapa kala Anna menjejakkan kaki usai keluar dari kamar. Di hadapannya terpampang jelas bangunan mewah bergaya klasik dan Anna merasa sekitarnya berputar, karena tidak tahu kemana harus melangkah.
Anna berinisiatif untuk melangkah ke arah kiri yang terdapat lorong dengan pilar besar berjajar rapi.
Saat berbelok, Anna dikejutkan dengan hadirnya perempuan cantik yang tengah menyanggul rambut hitam pekatnya. Anna dapat melihat jika mata wanita itu berkilau meski di sekitar mereka hanya ada lampu temaram.
"Haii, aku ingin bertanya, di mana letak —"
Ucapan Anna terjeda karena perempuan cantik itu hanya menatapnya tanpa ekspresi lalu melangkah begitu saja, meninggalkan Anna yang mengerjap bingung.
Raut perempuan itu sedikit pun tidak menyiratkan keramah-tamahan.
Tanpa memikirkan lebih jauh, Anna berniat melanjutkan langkahnya, hingga terpaku pada sosok laki-laki yang tengah duduk bersandar di bawah pohon sambil melipat tangannya di d**a dengan mata terpejam.
"Malaikat Tampan?" celetuk Anna sambil menepuk-nepuk pipinya, berharap objek pandangannya bukanlah halusinasi.