Di lain tempat. Saudara kandung Joseon, tepatnya kakak kandung Joseon yaitu Leon berada di sebuah mension pribadi yang mewah. Leon saat ini sedang duduk di ruang tengah. Leon sedang menunggu seseorang yang akan menemuinya. Asistennya masih setia menemani minum di sana. Mereka tidak saling bicara namun hanya meminum wine yang sudah di atas meja itu.
"Wanita itu sudah di depan, tuan muda!" ucap sang asisten pribadi Leon. Dia adalah Max.
"Hemm? Suruh dia masuk!" ucap Leon dingin.
"Baik tuan muda!" sahut Max sang asisten pribadi. Dia mulai berjalan ke depan mencari tamu yang hendak menjumpai tuan mudanya.
"Kamu boleh masuk dan tuan muda ku sudah menunggu kamu di ruang tengah," kata Max pada wanita muda dengan rambut panjang nya. Tentu saja wanita itu sangat paham betul bagaimana cara berpenampilan yang menarik dan elegan. Badannya sangat proporsional dengan body yang menantang.
"Baiklah," gumam Amira. Wanita itu bernama Amira.
Seorang model sekaligus aktris yang beberapa tahun ini namanya selalu di deretan teratas. Dia berjalan mengikuti Max sang asisten itu masuk ke ruang tengah.
"Tuan muda!" panggil Max, sang asisten pribadi Leon.
Leon menengok ke arah suara dimana Max masuk bersama Amira. Amira masih menunggu dan berdiri mematung di tempat nya. Netranya menatap lekat Leon, pria dewasa yang cukup membuat wanita manapun akan rela menyerahkan tubuh nya. Mungkin saja dengan ikhlas diperlakukan apa saja oleh laki-laki blesteran itu demi kesenangannya. Bahu dan dadanya yang lebar cukup menghangatkan wanita ketika dalam dekapannya. Amira tertegun dengan kesempurnaan tubuh pria matang itu.
"Oke! Kamu bisa keluar dan kerjakan tugas kamu yang lain," perintah Leon. Pria dewasa itu mulai menyalakan batang rokoknya. Masih duduk santai dan cuek dengan kedatangan wanita itu. Max pun melangkah keluar dan mulai meninggalkan ruangan itu sambil memberikan isyarat pada Amira untuk mendekati tuan mudanya.
"Terimakasih," ucap Amira dengan melebarkan kedua sudut bibirnya. Senyum itu begitu manis hingga Max dibuat terpana dengan senyuman Amira. Pasti tuan mudanya tidak bakal menolak ketika bibir merah delima itu menyentuh bibir nya, pikiran Max lalu dia benar-benar berlalu membiarkan tuan mudanya bersenang-senang dengan model cantik itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Leon. Amira dengan tenang menatap netra pria matang di depan nya.
"Amira," jawab Amira.
"Apa kepentingan kamu?" Tanya Leon. Dia seperti menginterogasi pegawai yang hendak bekerja di perusahaan nya.
"Aku ingin menjadi pemeran utama di film SSS, " ucap Amira dengan lantang tanpa ragu-ragu.
"Kontribusi apa yang akan kamu berikan padaku? Kamu sangat berani mencari ku nona" tanya Leon. Amira tetap tenang dia tidak takut sama sekali menghadapi Leon.
"Apa kontribusi kamu untuk ku?" Leon kembali bertanya.
"Aku sudah membicarakan nya dengan asisten kamu!" jawab Amira. Amira mulai berani mendekati Leon di kursi nya. Leon pun melihat penampilan Amira dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya hampir tidak berkedip dengan keindahan Amira.
"Hem lumayan," batin Leon. Amira mulai menuangkan botol wine ke gelas Leon. Sedangkan Leon masih menghisap rokoknya pelan sambil melihat bagian d**a Amira yang membusung menantang. Ukurannya cukup besar. Mungkin saja telapak tangan Leon tidak akan cukup meraup nya.
"Apakah kita bisa memulainya?" kata Amira tanpa ragu. Dia tergolong wanita yang tidak mau membuang-buang banyak waktu. Amira selain tipe wanita pekerja keras. Dia juga pantang menyerah untuk mencapai impiannya.
"Jangan terburu-buru! Aku tidak menyukai hal yang cepat," kata Leon dengan menyesap minumannya.
"Dan aku juga menyukai pria yang lembut," sahut Amira dengan mengusap pundak Leon tatkala dirinya sudah mendekati Leon. Amira ingin lebih agresif karena dialah yang memiliki motif dengan Leon.
"Kamu sering melaksanakan ini?" tanya Leon penuh selidik.
"Kamu orang yang kesekian," jawab Amira tanpa malu. Amira tidak mau membohongi Leon bahwasanya dia memang sudah beberapa kali melakukan hubungan dengan pria selain dengan kekasih nya sendiri.
"Apakah kamu selalu barter dengan kecantikan dan permainan kamu di atas ranjang?" Leon kembali memberondong pertanyaan. Jiwa seorang jurnalis maupun wartawan seperti mengalir di darahnya.
"Maaf! Dunia hiburan memang sadis tuan! Aku sudah terbiasa dengan permainan ini untuk mendapatkan popularitas," jawab Amira terus terang. Dia mengakui itu pada Leon. Sebagai model dan aktris, dia sering mendapatkan tawaran dalam hubungan cinta satu malam dengan om om atau pria kaya yang membelinya dalam satu malam. Tentu saja ini seperti pelacuran yang tersembunyi.
"Dan berhasil?" sahut Leon. Dia juga penasaran dengan aktris Amira yang cukup dikenal.
"Tentu saja!" jawab Amira singkat.
"Apakah tidak ada satupun yang mengingkari janji setelah kamu melakukan permainan cinta satu malam?" tanya Leon.
"Semuanya bisa dipercaya," jawab Amira. Kini Amira mulai berani berjongkok di hadapan Leon yang masih duduk di kursinya. Tangan lentik Amira melepaskan satu, dua dan tiga kancing kemeja Leon. Lalu tangannya yang indah diusapnya di d**a bidang Leon. Leon tersenyum terkekeh dengan sikap Amira yang sudah tidak sabaran.
"Lalu? Apakah kamu akan mempercayai aku dengan mudahnya?" tanya Leon lagi.
"Tentu saja. Kalau pun kamu mengingkari nya, aku rela saja. Lagi pula kamu tidak mengecewakan dan keren," ucap Amira jujur. Leon terkekeh dibuatnya.
"Mungkin saja! Semua tergantung partner ranjang saya," sambung Amira. Leon mencoba menahan rasa geli dari usapan telapak tangan Amira yang mengusap bagian perut bawahnya.
"Kamu memang benar-benar w*************a!" ucap Leon dengan suara yang sudah serak.
"Semua karena ada tujuan utama dari apa yang sudah aku jual kepada orang yang bersangkutan tuan! Dan seperti dengan anda saat ini," Amira semakin menggoda Leon.
"Kalau kamu mengecewakan aku? kata Leon meremehkan Amira.
"Tidak mungkin! Aku pastikan, kamu akan kembali meminta aku datang lagi ke Mansion pribadi kamu yang mewah ini," sahut Amira dengan percaya diri.
"Aku perlu bukti tidak sekadar kata- kata kamu yang sangat percaya diri, " ucap Leon.
"Hahaha... tentu saja! Kapan kita akan mulai!" tanya Amira. Kini jari lentiknya mulai menyentuh bibir seksi Leon yang tebal. Sungguh itu membuat Leon semakin tidak kuasa menahan godaan Amira.
"Kapan kita akan mulai?" Amira bertanya lagi.
"Duduklah dan nikmati minuman ini bersama aku," ucap Leon. Leon bahkan menarik tangan Amira hingga terduduk di atas pahanya.
"Baiklah Amira," gumam Amira yang kini benar-benar sangat dekat menatap wajah tampan Leon. Amira duduk di atas pangkuan Leon dan keduanya saling berpandangan.
"Apakah kamu bisa menunjukkan adegan yang membuat aku terpancing untuk segera melakukan nya?" tantang Leon.
"Kamu menginginkan itu?" sahut Amira. Amira berdiri dari pangkuan Leon. Dengan kemampuannya Amira menunjukkan aksinya.
"Heem," bahkan Leon menelan saliva nya sendiri saat Amira hendak melakukan apa yang diminta Leon.
"Baiklah! Apakah disini?" tanya Amira ragu.
"Di ruangan ini hanya ada kamu dan aku saja," kata Leon dengan netra yang tidak lepas menatap keindahan tubuh Amira di depannya.
"Baiklah," sahut Amira.
Amira di depan Leon mulai bereaksi melakukan sesuatu yang menggoda Leon.Amira mulai menari- nari yang membuat mata Leon tidak berkedip.Amira mulai sedikit membuka kancing kemejanya. Amira mulai meliuk-liuk memperlihatkan bodynya yang seksi.
" Cukup! Ikutlah denganku!" perintah Leon.
"Kemana?" tanya Amira.
"Aku akan melihat kamu, bagaimana kamu akan menaklukkan aku," ujar Leon.
"Hahaha siapa takut!" sahut Amira.
Amira dan Leon berjalan masuk menuju kamar pribadinya yang sungguh elegan. Amira mengikuti Leon dengan penuh kemenangan.
"Sebentar lagi peran utama itu akan aku dapatkan!" pikir Amira.
Selanjutnya Amira mulai barter dengan Leon sesuai kesepakatan.