12. Bencana yang berjalan

1027 Words
Kabar tentang "Healer Sampah" yang mempermalukan Paladin Valerius menyebar seperti infeksi di zona pengungsian. Kinry tahu, bagi orang-orang seperti Aries, martabat adalah segalanya. Mereka tidak akan membiarkan seorang pemain level rendah dengan kelas "cacat" meludah ke arah zirah perak mereka tanpa konsekuensi. "Tim Pembersihan" akan datang. Mereka bukan lagi sekadar pengikut pemula, melainkan unit elit yang bertugas menghapus "glitch" atau gangguan dalam sistem sosial yang mereka bangun. Kinry duduk di sudut gubuknya, dikelilingi oleh barang-barang yang bagi orang lain adalah sampah, namun baginya adalah komponen perang. Napasnya berat, rusuknya masih terasa nyeri, tapi matanya berbinar dengan kegilaan yang terhitung. "Mereka akan datang dengan *Magic Resistance* yang tinggi," gumam Kinry sambil menumbuk kristal garam rawa dengan serbuk besi. "Mereka akan mengira aku akan menggunakan gas saraf lagi. Mereka akan memakai masker alkimia. Bagus. Pakailah. Itu akan membuat penglihatan kalian semakin sempit." --- ### Membangun Labirin Maut Kinry tidak menunggu di gubuknya. Itu adalah jebakan maut bagi dirinya sendiri. Ia pindah ke sebuah reruntuhan pabrik pengolahan limbah kimia yang sudah lama ditinggalkan di zona terlarang. Tempat ini adalah rumah bagi monster level 20 hingga 25, namun Kinry sudah memetakan setiap inci lantainya. Persiapannya bukan tentang meningkatkan *Attack Power*, melainkan memanipulasi probabilitas. 1. **Sistem Sensor Rongsokan:** Kinry merangkai senar pancing tipis yang dihubungkan dengan kaleng-kaleng berisi pecahan kaca di sepanjang lorong. Bukan untuk melukai, tapi untuk menciptakan kebisingan yang akan memicu monster-monster penghuni pabrik—*Corrosive Slugs*—untuk keluar dari sarangnya tepat saat tim pembersihan lewat. 2. **Modifikasi 'Healer' Terlarang:** Ia mempelajari resep baru dari koin hitamnya: **'Penyembuhan Terlarang'**. Ia mengambil beberapa bangkai tikus, menyuntikkan mana-nya yang terbatas, dan mencampurnya dengan zat katalis. Hasilnya adalah "Bom Regenerasi". Jika dilempar, bom ini akan mempercepat pertumbuhan sel secara abnormal. Bagi orang sehat, ini akan menumbuhkan tumor seketika atau membuat otot membengkak hingga pecah. 3. **Kamuflase Biologis:** Kinry meluluri tubuhnya dengan lendir dari *Corrosive Slug*. Bau busuknya tak tertahankan, dan kulitnya terasa seperti terbakar, tapi ini satu-satunya cara agar monster di pabrik itu menganggapnya sebagai bagian dari lingkungan, bukan mangsa. "Sakit sekali," gerutu Kinry, giginya bergeletuk menahan perih lendir asam itu di atas luka lamanya. "Dunia ini benar-benar tidak adil. Aries mungkin sedang berendam di mata air suci untuk memulihkan statusnya, sementara aku harus mandi kotoran monster agar tidak mati." Ia teringat wajah Valerius yang penuh penghinaan. Kemarahan itu memberinya energi tambahan untuk menyeret drum besi berat ke atas balkon. --- ### Menunggu Badai Tiga hari berlalu. Kinry menghabiskan waktunya dengan memakan akar-akar pahit dan meminum air sulingan dari uap limbah. Levelnya tidak naik, tapi *Inteligensi*-nya terasa lebih tajam. Dia merasa seperti tikus yang sedang membangun jebakan untuk kucing. Tiba-tiba, detektor sederhana yang ia pasang di gerbang pabrik—sebuah cermin pecah yang memantulkan cahaya matahari—memberikan sinyal. Lima orang muncul. Mereka bergerak dengan formasi militer yang sempurna. Dua *Guardian* dengan tameng besar, satu *High Priest* dengan tongkat emas, dan dua *Assassin* yang bergerak di bayangan. Mereka adalah level 45 ke atas. Kekuatan gabungan mereka bisa meratakan satu desa dalam hitungan menit. "Target terdeteksi di dalam gedung," suara salah satu *Assassin* bergema melalui perangkat komunikasi sihir. "Status: Level 12, Kelas Penyintas Tanpa Bakat. Perintah: Eliminasi total. Ambil koin hitamnya." Kinry, yang bersembunyi di balik pipa-pipa berkarat di langit-langit, mendengar itu dan mendengus pelan. "Eliminasi total untuk seorang Level 12?" bisiknya. "Kalian benar-benar pengecut yang sombong. Kalian takut pada satu orang yang tidak punya apa-apa." --- ### Eksekusi Dimulai Tim Pembersihan masuk ke ruang utama. Saat mereka menginjak lantai yang tampak kokoh, Kinry menarik tuas pertama. *Klang!* Bukan ledakan yang terjadi, melainkan tumpahan oli mesin hitam yang sangat licin. Para *Guardian* yang berat kehilangan keseimbangan. Di saat yang sama, bunyi kaleng-kaleng Kinry memancing puluhan *Corrosive Slugs* keluar dari pipa-pipa pembuangan. "Monster! Bersihkan mereka!" teriak sang *High Priest*. Dia merapalkan sihir cahaya luas, *Holy Nova*. Cahaya itu menghanguskan monster-monster kecil itu, tapi itu adalah kesalahan fatal yang sudah dihitung Kinry. Cahaya terang itu membutakan penglihatan malam mereka selama beberapa detik di dalam pabrik yang gelap. Dalam kebutaan sesaat itu, Kinry melepaskan drum besi yang digantungnya. Drum itu tidak berisi batu, melainkan bubuk kalsium karbida. Saat drum itu pecah dan isinya terkena air limbah di lantai, gas asetilen yang sangat mudah meledak mulai memenuhi ruangan. "Apa bau ini?" salah satu *Assassin* bertanya, hidungnya mengendus udara. Kinry muncul di balkon atas, memegang sebuah busur tua yang ia temukan di tumpukan sampah, dengan anak panah yang ujungnya membara. "Selamat datang di duniaku, para Dewa," suara Kinry terdengar dingin dan parau. "Di sini, level kalian hanyalah angka yang akan hangus terbakar." --- ### Harapan yang Hangus "Kau pikir trik murahan ini bisa membunuh kami?" Valerius—yang ternyata ikut dalam tim itu dengan zirah baru—berteriak sambil menatap ke atas. "Kami punya proteksi dewa!" "Dewa kalian tidak tinggal di selokan ini, Valerius," balas Kinry. "Hanya aku yang tinggal di sini." Kinry melepaskan anak panahnya. Anak panah itu tidak mengenai mereka. Ia mengenai genangan air yang sudah bercampur dengan karbida dan gas asetilen. **BOOOOOOOOOOOOOM!!!** Ledakan berantai mengguncang seluruh pabrik. Api biru dan jingga membumbung tinggi, menelan formasi sempurna Tim Pembersihan. Ledakan kimia jauh lebih tidak stabil daripada sihir api; ia mencari celah oksigen, masuk ke dalam helm mereka, dan membakar paru-paru mereka dari dalam. Kinry terlempar ke belakang oleh gelombang kejut, punggungnya menghantam tembok dengan keras. **[HP: 2/40]** **[Status: Ambang Kematian]** Ia terbatuk, darah segar mengucur dari hidungnya. Ia merasa lucu. Bahkan dalam rencananya sendiri, dia hampir terbunuh. Dunia benar-benar tidak membiarkannya menang dengan mudah. Namun, di bawah sana, jeritan para petualang elit itu adalah musik baginya. Para penjaga cahaya yang agung itu kini berguling-guling di lantai yang dipenuhi api kimia, mencoba merapalkan mantra penyembuh yang terus menerus gagal karena gas beracun tersebut menginterupsi konsentrasi mereka. Kinry merangkak menuju tepian balkon, menatap kekacauan di bawahnya dengan mata yang mulai mengabur. "Lihat..." bisik Kinry pada dirinya sendiri. "Lihat bagaimana 'sampah' ini menyembuhkan kesombongan kalian." Di tengah kobaran api, ia melihat koin hitam di tangannya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Dan di sudut matanya, ia seolah melihat sosok misterius itu lagi, berdiri di tengah api tanpa terbakar sedikit pun, memberikan hormat yang elegan kepadanya. Persiapan Kinry telah selesai. Kini, dia bukan lagi sekadar penyintas. Dia adalah bencana yang berjalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD