Pandangan Kinry mulai mengabur. Dunia terasa berputar, dan suara derak api yang melahap sisa-sisa pabrik perlahan memudar menjadi keheningan yang hampa. Rasa sakit di punggung dan dadanya kini berubah menjadi dingin yang menjalar—tanda bahwa nyawanya sedang meluncur keluar melalui celah-celah lukanya.
**[HP: 1/40]**
**[Peringatan: Kesadaran menurun. Sistem akan segera memasuki mode mati permanen.]**
"Satu HP..." Kinry tersenyum getir, darah menggenang di mulutnya. "Bahkan di saat terakhir, sistem ini masih ingin mengejekku dengan angka yang menyedihkan."
Dia mencoba merogoh kantongnya, mencari sisa bahan organik untuk memicu *Basic Heal*, tapi tangannya terlalu lemah untuk bergerak. Dia merasa dirinya mulai tenggelam ke dalam kegelapan lantai balkon yang panas. *Yah, setidaknya aku membawa mereka bersamaku,* pikirnya sebelum matanya terpejam sepenuhnya.
Tepat saat kesadarannya hampir hilang, sebuah sensasi dingin yang sangat kontras dengan kobaran api menyentuh dahinya. Itu bukan dinginnya kematian, melainkan dingin yang tajam dan murni, seperti es yang menyentuh kulit yang terbakar.
---
### Tangan di Balik Bayangan
"Belum waktunya, Kecoak Kecil," sebuah suara serak yang akrab berbisik tepat di telinganya.
Kinry merasakan tubuhnya diangkat. Dia tidak merasa melayang, melainkan merasa seolah-olah dia sedang ditarik melalui sebuah lorong yang sempit dan hampa udara. Suara ledakan pabrik menghilang seketika, digantikan oleh suara tetesan air yang jatuh ke permukaan batu yang tenang.
Saat Kinry membuka matanya dengan susah payah, dia tidak lagi berada di pabrik yang terbakar. Dia berbaring di atas meja batu di dalam sebuah gua yang remang-remang. Di sekelilingnya, ribuan botol kaca kecil berisi cairan berwarna-warni tergantung di langit-langit, bersinar redup seperti bintang di malam yang terkutuk.
Sosok berjubah hitam dengan topeng porselen itu berdiri di sana, membelakangi Kinry. Dia sedang mencampurkan sesuatu di dalam cawan perak.
"Kau..." Kinry mencoba bicara, tapi suaranya hanya berupa desisan lemah.
"Jangan banyak bicara. Paru-parumu baru saja aku 'jahit' kembali menggunakan Mana yang dipaksakan," sosok itu berbalik. Mata merah di balik lubang topengnya berkilat. "Aku sudah mengawasimu cukup lama, Kinry. Tapi malam ini, kau benar-benar melampaui ekspektasiku. Seorang Level 12 membakar habis unit elit Level 45... Jika Aries tahu, dia mungkin akan membelah bulan karena malu."
Sosok itu mendekat, lalu menuangkan cairan berwarna ungu gelap ke mulut Kinry. Rasanya seperti menelan bara api yang dicampur dengan madu, tapi seketika, notifikasi sistem di mata Kinry menggila.
**[Status: 'Ambang Kematian' dihapus]**
**[HP: 10/40 (Regenerasi Paksa Aktif)]**
**[Peringatan: Anda telah menerima 'Darah Kuno'. Statistik keberuntungan Anda meningkat sementara secara tersembunyi.]**
---
### Sedikit Keberuntungan di Dasar Jurang
Kinry menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang tidak lagi terasa seperti tusukan pisau di dadanya. Dia duduk perlahan, menatap tangannya yang mulai pulih meskipun bekas lukanya tetap tertinggal—sistem tampaknya tidak mau memberikan kesembuhan total tanpa cacat pada orang seperti dia.
"Kenapa?" tanya Kinry, menatap sosok misterius itu. "Kenapa menyelamatkanku? Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu. Aku hanya sampah yang tidak punya bakat."
Sosok itu terkekeh, sebuah suara yang terdengar seperti tulang yang beradu. Dia berjalan menuju sudut gua dan mengambil sebuah benda dari bayangan—sebuah kotak kecil yang terbakar sebagian. Itu adalah kotak perlengkapan milik faksi Cahaya Suci yang seharusnya ikut hangus dalam ledakan.
"Kau punya sesuatu yang lebih berharga dari bakat, Kinry. Kau punya kemampuan untuk 'merusak'. Di dunia yang sudah diatur dengan rapi oleh algoritma dewa ini, kau adalah variabel yang salah. Dan aku? Aku sangat suka kesalahan," sosok itu melemparkan kotak itu ke arah Kinry.
Di dalam kotak itu, terdapat beberapa botol ramuan mana tingkat tinggi dan sebuah gulungan sihir yang belum terpakai. Harta karun yang bagi Kinry adalah sebuah mukjizat.
Kinry menatap barang-barang itu, lalu tertawa pelan. Tawa yang kali ini terasa sedikit lebih ringan.
"Jadi, aku masih punya keberuntungan, ya?" gumamnya. "Setelah semua kesialan ini, ternyata ada 'iblis' yang memutuskan untuk menjadikanku hewan peliharaan."
"Bukan hewan peliharaan," sosok itu mengoreksi, tubuhnya mulai memudar menjadi kepulan asap hitam. "Anggap saja aku adalah investor. Aku ingin melihat seberapa besar kekacauan yang bisa diciptakan oleh seorang Healer yang membenci dunianya sendiri. Gunakan barang-barang itu. Tim Pembersihan berikutnya tidak akan sebodoh yang tadi."
---
### Sumpah di Dalam Gua
Sebelum sosok itu menghilang sepenuhnya, Kinry memanggilnya. "Siapa kau sebenarnya? Setidaknya beri aku nama untuk kutuju jika suatu saat aku ingin membalas budi—atau membunuhmu."
Sosok itu berhenti sejenak. Topeng porselennya miring sedikit, seolah sedang tersenyum. "Panggil aku **Cinder**. Dan jangan khawatir soal membalas budi. Teruslah hidup, Kinry. Teruslah menjadi noda yang tidak bisa dihapus. Itu sudah cukup bagiku."
Lalu, sepi kembali menguasai gua.
Kinry sendirian sekarang. Dia menatap ramuan-ramuan mewah di depannya. Baginya, ini bukan sekadar alat untuk sembuh. Ini adalah senjata. Dia menyentuh koin hitam di sakunya, yang kini terasa berdenyut seirama dengan jantungnya.
"Aku selamat," bisik Kinry pada kegelapan. "Lagi-lagi, aku selamat."
Dia merasa sedikit lucu. Dunia mencemoohnya, Aries memburunya, dan sistem mencoba membunuhnya setiap detik. Namun, di tengah semua itu, dia masih bernapas. Dia memiliki koin misterius, sub-class healer yang aneh, dan sekarang, seorang penyokong yang tidak kalah gila darinya.
Dia mengambil salah satu ramuan mana tingkat tinggi, meminumnya hingga habis, dan merasakan energi yang meluap—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aries, Valerius... kalian pikir kalian adalah pusat dari dunia ini," Kinry berdiri, pipa besinya kini berpijar dengan sisa-sisa energi ungu dari ramuan tadi. "Tapi kalian lupa satu hal. Dunia ini berdiri di atas fondasi yang kotor. Dan akulah yang menguasai kotoran itu."
Kinry melangkah keluar dari gua menuju fajar yang menyingsing. Dia masih tertinggal jauh dalam hal level, tapi dia tidak lagi peduli. Dia telah menemukan jalannya sendiri. Jalan seorang penyintas yang akan menyembuhkan dunia ini dengan cara menghancurkan setiap ilusi suci yang melindunginya.
Mungkin dia memang karakter sampah. Tapi sampah yang satu ini baru saja belajar cara membakar panggung para pahlawan.