14. Kebaikan bisa menjadi racun

1019 Words
Gua itu sunyi, hanya menyisakan tetesan air dari langit-langit batu yang jatuh mengenai genangan limbah. Di tengah keremangan itu, Kinry duduk bersila, dikelilingi oleh peralatan yang lebih mirip laboratorium penyihir gila daripada klinik seorang penyembuh. Di hadapannya, tiga botol **"Elixir of Heavenly Grace"** berdiri tegak. Cairan di dalamnya berwarna emas murni, memancarkan aroma bunga melati dan kedamaian—sebuah kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang berada di puncak rantai makanan dunia baru ini. Bagi petualang biasa, satu tetes ramuan ini adalah mukjizat. Bagi Kinry, ini adalah bahan mentah untuk sebuah tragedi. "Satu botol ini harganya cukup untuk memberi makan seluruh pengungsi di Zona Luar selama sebulan," gerutu Kinry. Suaranya serak, bergetar karena amarah yang dingin. Tangannya yang kasar dan penuh luka bakar kimia memegang botol itu dengan gemetar. "Tapi tentu saja, pahlawan seperti Aries lebih suka menyimpannya di gudang untuk luka lecet kecil di jarinya daripada membiarkan orang-orang sepertiku menyentuh sisa-sisanya." Kinry menuangkan cairan emas itu ke dalam kuali kecil yang terbuat dari drum besi bekas. Saat cairan suci itu menyentuh dasar wadah yang kotor, ia mengeluarkan suara mendesis pelan, seolah-olah kesucian itu menolak untuk bersentuhan dengan realitas hidup Kinry yang kumuh. "Dunia ini sudah gila," lanjutnya, bicara pada bayangannya sendiri. "Sistem ini berubah menjadi game RPG, monster muncul dari mana saja, dan bertahan hidup satu hari lagi adalah kemenangan besar. Aku harus merangkak di selokan, memakan jamur beracun, dan mempertaruhkan nyawa melawan tikus hanya untuk melihat matahari esok pagi. Tapi itu belum cukup bagi mereka, bukan?" Ia mengambil empedu *Shadow Stalker* yang sudah dikeringkan dan sari tumbuhan *Void-Root*—tanaman parasit yang hanya tumbuh di atas bangkai monster. Ia mencampurkannya ke dalam kuali. Seketika, warna emas yang damai itu mulai bergejolak. Bintik-bintik hitam muncul seperti tinta yang mengotori air jernih. "Kalian menyebut diri kalian pahlawan," Kinry mendesis, giginya bergeletuk. "Aries, Valerius, dan seluruh sirkus cahaya kalian. Kalian bilang kalian adalah pelindung umat manusia. Tapi pahlawan macam apa yang justru memburu orang paling malang di duni ini? Aku butuh bantuan, aku butuh perlindungan, aku butuh seseorang yang menjamin bahwa besok perutku tidak akan melilit karena lapar. Tapi alih-alih itu, kalian mengirim 'Tim Pembersihan' hanya karena aku tidak bertarung dengan 'cara yang terhormat'." Kemarahan Kinry memuncak. Ia membayangkan wajah-wajah suci para pengikut Aries yang selalu memandang rendah dirinya. Mereka yang tidak pernah tahu rasanya harus memilih antara minum air yang terkontaminasi atau mati karena dehidrasi. Mereka yang memiliki segalanya, namun tetap merasa perlu untuk merebut koin hitam kecil dari tangan seorang penyintas yang tidak punya apa-apa lagi. "Kalian membuatku pusing," gerutunya sambil mengaduk campuran itu lebih cepat. "Aturan kalian, kode etik kalian, kesucian kalian... itu semua hanya rantai untuk memastikan orang-orang di bawah tetap berada di bawah. Baiklah. Jika kalian ingin mengusikku, aku akan memberi kalian alasan yang benar-benar bagus untuk takut." Tiba-tiba, reaksi kimia di dalam kuali mencapai puncaknya. Sebuah kepulan asap berwarna ungu pekat naik ke langit-langit gua. Cairan di dalamnya kini telah berubah total. Ia tidak lagi berwarna emas, melainkan hitam pekat dengan pendaran cahaya yang berdenyut tidak stabil, seperti jantung yang berdetak terlalu kencang. **[Item Unik Berhasil Diciptakan: 'Corruption of the Saint']** **[Kelas: Ramuan Biologis/Kutukan]** **[Deskripsi: Sebuah penghinaan terhadap ilmu penyembuhan. Menggunakan basis 'Elixir of Heavenly Grace' yang diputarbalikkan oleh pemahaman anatomi 'Penyintas Tanpa Bakat'.]** **[Efek: 'Over-Regeneration'. Target yang terkena cairan ini akan mengalami pertumbuhan sel yang dipercepat hingga 10.000%. Luka akan menutup, namun sel tidak berhenti tumbuh, berubah menjadi massa daging yang membengkak dan meledak karena tekanan internal dalam 10 detik.]** Kinry menatap cairan hitam itu. Pantulan matanya yang cekung terlihat di permukaan ramuan tersebut. Untuk sesaat, keheningan menguasai gua itu, sebelum akhirnya sebuah suara tawa pecah dari mulut Kinry. Awalnya hanya tawa kecil, sebuah kekehan parau yang terdengar menyakitkan. Namun lama-kelamaan, tawa itu mengeras, berubah menjadi gelak tawa histeris yang mengguncang bahunya. Kinry tertawa hingga air mata mengalir di pipinya yang kotor. "Hahahaha! Ini dia! Ini adalah 'penyembuhan' terbaikku!" teriaknya pada dinding batu yang bisu. "Kalian sangat mencintai berkah cahaya? Kalian sangat ingin disucikan? Aku akan memberikan kalian regenerasi yang begitu hebat sampai tubuh kalian sendiri tidak sanggup menanggungnya!" Ia mengambil botol kosong dan mulai mengisi ramuan itu satu per satu. "Pahlawan... pahlawan yang mengincar orang miskin. Benar-benar ironi yang indah. Kalian seharusnya menjadi solusi bagi kekhawatiranku, tapi kalian malah menjadi sumber pusing terbesarku. Jika kalian tidak bisa memberiku kedamaian, maka aku akan memberiku sendiri kedamaian dengan cara menghapus kalian dari peta." Tawa Kinry perlahan mereda, menyisakan kesunyian yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Ia menatap telapak tangannya. Meskipun ia baru saja menciptakan senjata biologis yang mengerikan, tangannya tidak lagi gemetar. Untuk pertama kalinya sejak dunia ini berubah, Kinry merasa memegang kendali. "Pahlawan benar-benar hanya pahlawan bagi mereka yang setara dengan mereka," bisiknya dengan nada dingin. "Bagiku, mereka hanya monster yang memakai baju zirah perak." Kinry mulai mengemasi barang-barangnya. Ia memasukkan botol-botol **'Corruption of the Saint'** ke dalam kantong-kantong tersembunyi di balik jubah compang-campingnya. Ia tidak lagi merasa seperti pengecut yang bersembunyi di lubang. Ia merasa seperti seorang dokter yang sedang bersiap untuk melakukan operasi pengangkatan tumor dari dunia ini. Dan tumor itu, dalam pandangannya, adalah kemunafikan faksi Cahaya Suci. "Dunia ini tidak butuh pahlawan seperti Aries," Kinry bergumam sambil memadamkan api kecil di guanya. "Dunia ini butuh seseorang yang tahu bagaimana rasanya membusuk. Karena hanya mereka yang pernah membusuk yang tahu cara untuk benar-benar bertahan hidup." Sambil memanggul tas rongsokannya yang kini berisi kematian dalam botol suci, Kinry melangkah menuju pintu keluar gua. Sinar matahari pagi mulai menembus masuk, menyinari wajahnya yang penuh bekas luka. "Terima kasih untuk ramuannya, Aries," katanya dengan seringai miring. "Aku pastikan setiap tetesnya akan membuat pengikutmu merasa sangat... 'sehat' hingga mereka meledak." Kinry berjalan keluar, menghilang di balik pepohonan hutan yang layu. Ia tidak tahu apa yang menantinya di luar sana, mungkin unit pembersihan yang lebih kuat, atau mungkin Aries sendiri. Tapi satu hal yang pasti: Kinry tidak lagi peduli pada level atau statistik. Dia telah mempelajari satu pelajaran berharga dari koin hitam dan kelas penyembuhnya yang cacat. Bahwa di dunia yang rusak ini, kebaikan bisa menjadi racun yang paling mematikan jika diberikan oleh tangan yang salah. Dan Kinry adalah tangan yang paling salah yang pernah ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD