15. Persimpangan jalan

1303 Words
Kinry memandangi botol-botol hitam di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di balik kebenciannya, di balik tawa histerisnya saat menciptakan racun dari ramuan suci, ada satu bagian di lubuk hatinya yang paling dalam yang masih terasa nyeri. Bagian itu adalah kemanusiaannya. Sejujurnya, Kinry enggan melakukan ini. Ia tidak pernah bercita-cita menjadi penjahat besar atau pembantai pahlawan. Ia murni hanya ingin bertahan hidup. Jika saja ia bisa bangun di pagi hari tanpa harus memikirkan apakah ada ujung pedang yang menantinya di balik pintu, ia akan dengan senang hati membuang semua racun ini ke sungai dan kembali menjadi pemulung biasa. “Kenapa harus begini?” gumam Kinry. Suaranya memantul di dinding gua, terdengar hampa. Ia menahan dirinya. Ia tidak langsung berangkat menuju kamp logistik Aries untuk menebar maut. Di dalam hatinya, ia masih ingin memberikan satu kesempatan terakhir—sebuah celah kecil—pada kelompok Cahaya Suci. Ia ingin percaya bahwa di balik zirah perak yang berkilau dan ego yang melangit itu, masih ada sisa-sisa kemanusiaan yang bisa diajak bicara. Jika mereka berhenti memburunya, jika mereka mau memperlakukan "orang tanpa bakat" seperti dirinya sebagai sesama manusia yang berjuang, maka Kinry tidak akan pernah melepaskan *Corruption of the Saint*. ### Misteri yang Terabaikan Kinry berjalan menuju mulut gua, menatap langit yang berwarna ungu lebam. Pikirannya melayang pada gambaran besar yang selama ini terabaikan karena ia terlalu sibuk melarikan diri. Dunia telah berubah menjadi RPG. Menara-menara raksasa (Tower) telah muncul di berbagai belahan dunia, dan *dungeon-dungeon* misterius terus terbuka, memuntahkan monster ke pemukiman manusia. Ada sebuah misteri besar yang belum terpecahkan: Kenapa dunia berubah? Apa tujuan dari sistem ini? “Dunia sedang di ambang kehancuran,” Kinry berbisik pada angin malam. “Ada menara yang harus ditaklukkan, ada teka-teki tentang eksistensi kita yang harus dijawab. Tapi kenapa... kenapa manusia justru lebih sibuk saling menjatuhkan?” Pertanyaan itu meruah dalam pikirannya, menciptakan rasa pusing yang lebih hebat dari sekadar kelaparan. Logikanya berkata bahwa dalam situasi kiamat seperti ini, umat manusia seharusnya bersatu. Si kuat melindungi si lemah, si jenius membimbing yang tertinggal, dan bersama-sama mereka mencapai puncak menara untuk mengembalikan dunia seperti semula. Tapi realitanya? Si kuat seperti Aries justru sibuk mengonsolidasi kekuasaan, membangun faksi yang eksklusif, dan membasmi siapa pun yang dianggap "cacat" atau tidak sesuai dengan standar estetika mereka. Ego telah menjadi monster yang lebih menakutkan daripada *Shadow Stalker* di rawa. “Apa gunanya menjadi pahlawan di dunia yang hancur jika kau sendiri yang menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan di dalamnya?” Kinry menggerutu. Ia merasa muak. Hidup sudah terlalu rumit tanpa harus ada drama perburuan antar manusia. ### Kerinduan pada Sosok Lain Kinry menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang dingin. Di tengah semua persiapan perangnya, ia merasakan kesepian yang teramat sangat. Ia menekankan pada dirinya sendiri bahwa meskipun ia dianggap sampah oleh sistem, ia tetaplah seorang manusia. Dan sebagai manusia, ia membutuhkan orang lain. Ia merindukan percakapan normal. Bukan percakapan tentang statistik, level, atau cara membunuh monster, melainkan percakapan tentang hal-hal sepele. Tentang rasa kopi yang enak, tentang cuaca yang cerah tanpa semburat ungu, atau tentang rencana masa depan yang tidak melibatkan pertumpahan darah. “Aku tidak bisa melakukan ini selamanya sendirian,” akunya pada kegelapan. Kehadiran sosok misterius bernama Cinder memang memberinya rasa aman sementara, tapi Cinder bukanlah teman. Cinder adalah investor, seorang pengamat yang menikmati kekacauan. Kinry membutuhkan seseorang yang setara dengannya—seseorang yang juga tertatih-tatih di dasar jurang, namun masih memiliki hangatnya tangan manusia. Ia membayangkan jika saja kelompok Aries mau menerimanya. Jika saja ia bisa duduk di sekitar api unggun mereka, berbagi sup hangat, dan menggunakan kemampuan *Healer*-nya untuk sesuatu yang benar-benar baik tanpa harus merasa terancam. Tapi bayangan itu segera buyar saat ia mengingat tatapan dingin Valerius. “Mereka tidak memberiku pilihan,” desisnya, namun ada nada sedih dalam suaranya. “Aku memberikan kalian kesempatan untuk tetap menjadi manusia. Tolong... jangan paksa aku untuk berhenti menjadi manusia juga.” ### Persimpangan Jalan Kinry memutuskan untuk menunggu satu hari lagi. Ia akan turun ke pemukiman terdekat, bukan untuk menyerang, tapi untuk melihat apakah masih ada ruang untuk perdamaian. Ia akan menyembunyikan identitasnya, masuk ke zona netral, dan mencoba mencari tahu apakah ada kelompok lain yang lebih waras daripada pengikut Aries. Jika ia menemukan setitik saja kemanusiaan, ia berjanji akan mengubur ramuan racunnya sedalam mungkin. Keesokan harinya, dengan jubah yang menutupi wajahnya, Kinry masuk ke sebuah desa perdagangan kecil yang berada di bawah perlindungan faksi Cahaya Suci. Ia melihat anak-anak kecil bermain di jalanan, mencoba menirukan gerakan pahlawan pujaan mereka. Ia melihat seorang ibu yang menangis karena putranya terluka dalam perburuan monster, namun ditolak oleh kuil karena mereka tidak memiliki cukup "kontribusi" untuk mendapatkan penyembuhan suci. Kinry mendekati ibu itu secara diam-diam. Di pojok gang yang sempit, ia menggunakan *Basic Heal*-nya. Cahaya hijau redup muncul, dan meskipun efeknya kecil, ia berhasil menutup luka di lengan anak itu. "Siapa kau?" tanya ibu itu dengan mata membelalak haru. "Hanya seorang lewat," jawab Kinry singkat. Tepat saat itu, segerombolan penjaga berbaju zirah perak lewat. Mereka tidak membantu ibu itu; mereka justru menendang keranjang dagangan yang menghalangi jalan mereka sambil berseru, "Minggir! Jalan ini untuk patroli suci!" Kinry mengepalkan tangannya di balik jubah. Hatinya hancur melihat pemandangan itu. Para pahlawan ini benar-benar telah buta. Mereka tidak lagi melihat individu, mereka hanya melihat kepatuhan dan kontribusi. "Kenapa kalian tidak berjuang untuk mereka?" Kinry berbisik sangat pelan, menatap punggung para penjaga itu. "Dungeon di utara semakin aktif, monster level tinggi mulai mendekat, tapi kalian justru sibuk menindas rakyat kalian sendiri hanya demi menjaga citra Aries." ### Keputusan Akhir Kinry kembali ke persembunyiannya dengan langkah yang berat. Harapannya untuk menemukan sisa-sisa kemanusiaan dalam sistem yang dibangun Aries telah hancur. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi diam. Selama kelompok Aries memegang kendali dengan cara yang tiran, umat manusia tidak akan pernah bersatu untuk menaklukkan menara yang sebenarnya. "Kalian adalah sumbatan di pembuluh darah dunia ini," gumam Kinry saat ia kembali memegang botol *Corruption of the Saint*. "Jika aku tidak menghancurkan kalian, dunia ini akan mati sebelum menara itu sempat ditaklukkan." Namun, di tengah kemantapannya, ia tetap menyisihkan satu botol kecil ramuan penyembuh murni yang belum ia racuni. Ia menyimpannya sebagai pengingat—sebagai simbol bahwa ia masih ingin menjadi seorang penyembuh, bukan pembunuh. "Aku akan menghadapi kalian," ucapnya tegas. "Bukan karena aku ingin menang, tapi karena seseorang harus mengingatkan kalian bagaimana rasanya menjadi manusia yang takut akan hari esok. Dan jika aku harus menempuh jalan ini sendirian, maka biarlah." Kinry menatap koin hitam di atas meja batu. Ia merasa koin itu seolah merespons tekadnya. Hidup memang sudah terlalu rumit, dan misteri tentang dunia RPG ini mungkin masih jauh dari jangkauan. Tapi setidaknya, Kinry tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan kemanusiaannya mati karena ego orang lain. Ia butuh orang lain di sisinya, itu benar. Tapi jika ia tidak bisa menemukan mereka dalam cahaya palsu Aries, maka ia akan mencarinya di dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Kinry mengemasi botol-botol hitamnya ke dalam kantong kulit. Besok, ia tidak akan lagi merangkak. Ia akan berjalan tegak menuju kamp logistik Aries. Bukan untuk memicu perang yang ia benci, tapi untuk mengakhiri pengejaran yang menghambat hidupnya. "Satu kesempatan terakhir telah habis, Valerius," ucap Kinry sambil memadamkan lampu minyak di dalam gua. "Sekarang, mari kita lihat apakah doa-doa suci kalian bisa menyembuhkan racun yang lahir dari keputusasaan seorang manusia." Gua itu kembali gelap total. Di luar, suara monster dari kejauhan melolong, mengingatkan bahwa musuh yang sebenarnya masih ada di sana, menunggu di puncak menara. Tapi sebelum Kinry bisa menghadapi musuh itu, ia harus membereskan "pahlawan" yang lebih berbahaya dari monster mana pun. Kinry tertidur dengan tangan menggenggam pipa besinya. Dalam mimpinya, ia melihat menara raksasa itu runtuh, dan di reruntuhannya, ia berdiri bersama orang-orang yang senasib dengannya—orang-orang tanpa bakat yang akhirnya bisa tertawa tanpa takut akan hari esok. Itu adalah mimpi yang sangat indah, dan ia berjanji akan menjadikannya nyata, apa pun harganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD