Dunia memiliki cara yang sangat sinis untuk mempertemukan orang-orang. Bagi Kinry, pertemuan itu terjadi di depan papan pengumuman zona pengungsian yang basah oleh sisa hujan asam. Sebuah kelompok kecil yang menamakan diri mereka "The Silver Dawn" sedang kekurangan satu anggota untuk misi pembersihan selokan bawah tanah yang telah diambil alih oleh *Fanged Rats* Level 12.
"Kami butuh *Healer*," teriak kapten mereka, seorang pria bernama Boran yang memiliki kelas *Shield Warrior* Level 18. Peralatannya cukup mewah untuk ukuran zona pinggiran—baju zirah kulit yang dipoles dan perisai besi yang berat.
Kinry, yang sedang menghitung beberapa koin tembaga hasil menjual taring *Shadow Stalker*, mengangkat tangannya. "Aku bisa melakukannya."
Boran menatap Kinry dari ujung rambut ke ujung kaki. Penampilan Kinry lebih mirip gelandangan yang baru saja bertarung dengan penggilingan daging daripada seorang penyembuh. "Kau? Jangan bercanda. Mana jubah putihmu? Mana tongkat suci atau simbol dewa?"
"Aku tidak punya itu," jawab Kinry datar. "Tapi aku murah. Aku hanya butuh 10% dari hasil jarahan dan jatah makan malam ini."
Dua anggota lainnya, seorang pemanah bernama Elara dan penyihir pemula bernama Kael, tertawa terbahak-bahak. "Sepuluh persen untuk seorang pemulung? Hei Boran, lihat statusnya! Dia Level 9 dengan kelas... *Penyintas Tanpa Bakat*? Dan sub-class *Healer*?"
"Itu kelas paling cacat yang pernah kulihat," ejek Kael sambil memutar-mutar tongkat kayunya. "Tapi hei, Boran, kita butuh 'umpan' yang bisa menutup lukanya sendiri. Kalau dia mati, kita tidak perlu membayarnya."
Boran mendengus, lalu meludah ke tanah. "Baiklah, Sampah. Ikut kami. Tapi jangan harap kami melindungimu. Tugasmu hanya satu: pastikan kami tidak mati kehabisan darah. Jika kau gagal, aku sendiri yang akan mengumpankanmu pada tikus-tikus itu."
---
### Kedalaman yang Memuakkan
Selokan bawah tanah itu gelap, lembap, dan dipenuhi bau busuk yang bahkan membuat Boran menutup hidungnya. Namun bagi Kinry, bau ini terasa akrab. Ini adalah bau tempat ia biasa mencari barang rongsokan.
Mereka baru berjalan seratus meter ketika puluhan mata merah menyala muncul dari kegelapan. *Fanged Rats*. Tikus-tikus ini sebesar anjing, dengan taring yang bisa menembus kulit zirah.
"Formasi bertahan!" teriak Boran.
Pertempuran pecah. Boran menahan hantaman tikus-tikus itu dengan perisainya, sementara Elara dan Kael menyerang dari belakang. Namun, jumlah tikus itu terlalu banyak. Salah satu tikus berhasil melompati perisai Boran dan merobek paha pria itu.
"Sial! Healer! Lakukan tugasmu!" raung Boran sambil memukul tikus itu hingga hancur.
Kinry mendekat. Dia tidak merapal doa yang indah. Dia merogoh kantongnya, mengeluarkan segumpal sarang laba-laba yang sudah dia campur dengan lumut dari rawa kemarin.
"Apa yang kau lakukan dengan kotoran itu?!" Kael berteriak saat melihat Kinry menempelkan gumpalan menjijikkan itu ke luka Boran.
"Diam dan bertarunglah," balas Kinry. Dia merapal *Basic Heal*.
Cahaya hijau pucat yang sakit-sakitan muncul. Karena efek kelasnya, penyembuhan itu hampir tidak terasa oleh Boran. Luka di pahanya hanya berhenti menyembur, namun rasa sakitnya tetap ada.
"Hanya segini?!" Boran menggeram. "Kau benar-benar sampah! Skill macam apa yang tidak bisa menutup luka kecil?"
"Luka itu tidak akan menutup karena kau terus bergerak, bodoh," kata Kinry sambil menusukkan pipa besinya ke seekor tikus yang mencoba menyerang kakinya. "Tapi setidaknya kau tidak akan mati kehabisan darah dalam lima menit ke depan."
---
### Saat Segalanya Hancur
Keadaan menjadi buruk ketika mereka sampai di pusat sarang. Di sana bukan hanya ada *Fanged Rats*, melainkan sesosok *Broodmother* Level 20. Tikus raksasa seukuran sapi itu mengeluarkan raungan yang membuat langit-langit selokan bergetar.
Boran mencoba menahan terjangannya, tapi dia terpental hingga menghantam pilar beton. Perisainya retak. Elara kehabisan anak panah, dan Kael panik karena mana-nya terkuras habis.
"Kita harus lari! Ini bukan misi Level 12!" teriak Elara dengan wajah pucat.
"Pintu keluar tertutup! Tikus-tikus kecil itu mengepung kita!" balas Kael histeris.
Boran tergeletak di tanah, kakinya gemetar. Dia menatap Kinry yang berdiri diam di tengah kekacauan. "Lakukan sesuatu, Healer! Gunakan skill terkuatmu!"
Kinry menatap Boran dengan mata kosong. "Aku sudah bilang, aku tidak punya skill hebat. Aku hanya punya sampah."
Kinry berjalan maju, melewati rekan-rekannya yang gemetar. Dia melihat *Broodmother* itu bersiap untuk melompat.
"Kalian menyebut ini bencana?" tanya Kinry pelan, suaranya terdengar sangat tenang di tengah jeritan tikus. "Bagiku, ini hanya hari Selasa yang biasa."
Kinry melepaskan tas punggungnya yang berat. Di dalamnya bukan berisi ramuan atau emas, melainkan tumpukan kantong plastik berisi gas metana yang dia kumpulkan dari rawa, botol-botol alkohol murni hasil curian, dan tumpukan serbuk gergaji.
"Healer... menyembuhkan kehidupan," gumam Kinry sambil memantik api dari pemantik rongsokannya. "Tapi seorang penyintas tahu bahwa terkadang, satu-satunya cara menyembuhkan penyakit adalah dengan membakar seluruh selnya."
---
### Penyembuhan Melalui Pemurnian Api
Kinry melempar kantong-kantong gas itu ke arah langit-langit selokan yang dipenuhi sarang tikus kering yang mudah terbakar. Dia lalu menyiramkan alkohol ke pipa besinya yang telah dililit kain.
"Merunduklah jika kalian masih ingin punya wajah," perintah Kinry.
Dia menghantamkan pipa berapinya ke salah satu kantong gas.
**BOOOOOM!!!**
Ledakan besar memenuhi terowongan sempit itu. Karena area ini tertutup, gelombang kejutnya berlipat ganda. *Broodmother* itu menjerit saat api melahap bulunya yang berminyak. Tikus-tikus kecil terpanggang seketika.
Panasnya sangat menyiksa. Boran dan yang lainnya hanya bisa berlindung di balik perisai yang rusak, menatap punggung Kinry yang berdiri tegak, membiarkan kulitnya sendiri sedikit terbakar oleh ledakan yang ia ciptakan.
**[Selamat! Anda telah mengalahkan Fanged Rat Broodmother (Level 20)]**
**[EXP didapat: 150 (Bonus Eksploitasi Lingkungan)]**
**[Level Naik: 10, 11, 12!]**
Setelah api mereda, selokan itu kini dipenuhi aroma daging terbakar yang memuakkan. Kinry berjalan menuju bangkai tikus raksasa itu, mengambil sepotong daging yang belum hangus sepenuhnya, dan memakannya mentah-mentah.
**[Skill Aktif: 'Basic Heal' (Varian Penyintas) dipicu melalui asupan organik.]**
**[Luka bakar Anda pulih 40%.]**
"Kau... kau gila," bisik Elara, menatap Kinry dengan ngeri. "Kau hampir membunuh kami semua bersama tikus-tikus itu!"
Kinry menoleh, darah tikus menetes dari dagunya. "Tapi kalian masih hidup, bukan? Itu tugas Healer."
Boran berdiri dengan susah payah, menatap Kinry dengan rasa takut yang baru. Dia tidak lagi berani menghina pria di depannya. Kinry bukan seorang pahlawan. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih menakutkan: seseorang yang sudah tidak merasa sakit dan tidak peduli pada metode.
---
### Tepuk Tangan dari Bayangan
Kinry meninggalkan kelompok itu segera setelah mereka keluar dari selokan. Dia tidak meminta bagian emas mereka; dia hanya mengambil jatah makanannya dan pergi. Dia tahu mereka tidak akan pernah mau bekerja sama dengannya lagi. Baginya, itu tidak masalah. Dia lebih suka bekerja sendirian daripada harus mendengarkan ocehan orang-orang yang menganggap dunia ini adalah taman bermain.
Saat dia berjalan melewati gang gelap menuju gubuknya, sebuah tepuk tangan pelan terdengar.
*Plak. Plak. Plak.*
Sosok berjubah hitam dari rawa itu muncul kembali, bersandar pada tembok bata yang berlumut. Topeng porselennya berkilau di bawah cahaya bulan.
"Healer yang menggunakan ledakan debu dan daging busuk untuk pengobatan," suara serak itu terdengar penuh kegembiraan. "Benar-benar puitis, Kinry. Kau adalah noda paling indah dalam sistem yang sempurna ini."
Kinry berhenti, tapi tidak berbalik. "Koin itu... apa maumu sebenarnya?"
"Aku?" sosok itu terkekeh, tubuhnya mulai menyatu dengan bayangan tembok. "Aku hanya penonton yang bosan. Aku ingin melihat seberapa jauh seorang 'sampah' sepertimu bisa merayap sebelum para 'dewa' di atas sana menyadari bahwa ada serangga yang sedang menggerogoti pondasi dunia mereka."
Sosok itu menghilang, meninggalkan sebuah aroma samar bunga kamboja dan bau karat.
Kinry mengepalkan tangannya. Dia merasa levelnya yang naik ke 12 memberinya sedikit tambahan tenaga, tapi itu tetap bukan apa-apa dibanding para pemain top. Namun, dia merasakan sesuatu yang lain. Koin hitam di sakunya terasa hangat.
"Dewa, ya?" Kinry menatap langit malam dengan senyum miring. "Jika mereka benar-benar ada, mereka harus segera turun ke sini. Karena sebentar lagi, sampah ini akan membuat dunia mereka sangat berantakan."
Kinry melangkah masuk ke gubuknya. Dia tidak butuh tidur. Dia perlu merancang bom kimia baru dan mempelajari titik saraf pada monster Level 25. Sebagai seorang Healer tanpa bakat, dia punya banyak sekali "pasien" yang harus dia "sembuhkan" dari keberadaan mereka.