9. Akhir yang baru

1200 Words
Kinry terbatuk keras, memuntahkan sisa lumpur dan darah yang mengental di tenggorokannya. Matanya yang merah menyapu sekeliling rawa yang sunyi. Dia merasakan bulu kuduknya meremang; insting bertahan hidupnya yang tajam membisikkan bahwa ada sepasang mata yang baru saja menguliti keberadaannya dari kegelapan. Namun, dia tidak menoleh. Dia tidak bangkit untuk mencari tahu siapa yang sedang menontonnya. "Siapa pun kau... aku tidak punya waktu untuk bermain petak umpet," desis Kinry sambil menekan rusuknya yang patah. Bagi petualang seperti Aries, pertemuan dengan sosok misterius biasanya berarti dimulainya sebuah *Hidden Quest* yang epik. Bagi Kinry, itu berarti ancaman tambahan yang tidak sanggup dia tanggung. Dia harus segera pergi sebelum bau darah *Shadow Stalker* mengundang predator lain, atau sebelum tubuhnya benar-benar menyerah pada hipotermia. Saat dia mencoba menyeret bangkai monster itu, tangannya menyentuh sesuatu yang dingin di atas lumpur. Sebuah koin hitam legam, tidak memantulkan cahaya sedikit pun, seolah-olah ia adalah lubang kecil yang menyedot realitas di sekitarnya. Kinry memungutnya. Seketika, sebuah jendela sistem yang berbeda—berwarna hitam dengan tulisan merah darah—muncul di depan matanya. **[Item Unik Terdeteksi: 'Koin Sisi Gelap']** **[Kondisi Terpenuhi: Bertahan hidup melawan kemustahilan tanpa bantuan sistem.]** **[Efek: Membuka Kelas Tambahan (Sub-Class) secara paksa.]** Jantung Kinry berdegup kencang. Apakah ini saatnya? Apakah ini kompensasi atas penderitaannya selama ini? Apakah koin ini akan memberinya kelas "Assassin Bayangan" atau "Berserker" yang akan melipatgandakan kekuatannya? Layar itu berkedip, lalu sebuah teks muncul: **[Selamat! Anda telah mendapatkan Kelas Tambahan: HEALER (Penyembuh)]** **[Skill Didapat: 'Basic Heal' (Level 1), 'Purify' (Level 1)]** **[Peringatan: Karena kelas utama Anda adalah 'Penyintas Tanpa Bakat', efektivitas penyembuhan dikurangi 90% pada orang lain, dan hanya berfungsi 100% pada diri sendiri menggunakan bahan organik busuk.]** --- ### Lelucon Kosmik Kinry tertegun. Dia menatap layar itu selama satu menit penuh, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kemudian, bahunya mulai berguncang. Suara tawa yang serak dan menyedihkan meledak dari mulutnya, menggema di rawa yang gelap. "Healer?" tawanya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan isak tangis yang frustrasi. "Dunia ini benar-benar punya selera humor yang b******k! Aku adalah sampah yang dibenci semua orang, dan sekarang aku diberi kemampuan untuk menyembuhkan?" Dia melihat statistik *Mana* miliknya yang hanya 5 poin. Sebuah *Basic Heal* membutuhkan 4 poin. Artinya, dia hanya bisa melakukan satu kali penyembuhan kecil sebelum pingsan karena kehabisan energi. Dan kelas itu bahkan memberinya penalti jika dia mencoba menyembuhkan orang lain. "Healer tanpa bakat untuk penyintas tanpa bakat," gumamnya sambil menyeka darah di bibir. "Satu-satunya cara aku bisa sembuh adalah dengan memakan sampah organik. Luar biasa. Aku baru saja naik pangkat dari 'Pemulung' menjadi 'Pemulung yang Bisa Mengobati Dirinya Sendiri'." Di dunia RPG ini, *Healer* adalah posisi yang sangat dihormati dan dilindungi. Mereka berada di garis belakang, mengenakan jubah putih bersih, dan dipuja layaknya santo. Tapi Kinry? Dia membayangkan dirinya berdiri di tengah pertempuran, mencoba menyembuhkan luka dengan menempelkan lumut busuk ke kulitnya sendiri sementara semua orang menatapnya dengan jijik. --- ### Tertinggal di Belakang Cahaya Kinry mencoba berdiri, menggunakan pipa besinya sebagai tongkat. Dia melihat ke arah horison, di mana cahaya lampu dari Kota Pusat memancar ke langit. Di sana, para *player* top mungkin sedang merayakan kenaikan level ke-50 atau ke-60. Mereka memiliki tim medis yang canggih, ramuan regenerasi tingkat tinggi, dan berkah dari dewa-dewa sistem. Sementara itu, Kinry baru saja mempertaruhkan nyawa untuk mengalahkan monster Level 15 dan hadiahnya adalah kemampuan untuk memakan sampah agar lukanya sembuh sedikit lebih cepat. Ketertinggalan itu bukan lagi sebuah celah; itu adalah jurang yang tidak terhingga. Kinry tahu dia tidak akan pernah bisa mengejar mereka. Di saat para pemain lain bertarung untuk menyelamatkan dunia atau menaklukkan takdir, Kinry masih bertarung untuk sekadar tidak mati karena infeksi luka. "Setidaknya..." dia menghela napas, mencoba menggunakan *Basic Heal* pertamanya. Cahaya redup, seukuran kunang-kunang yang hampir mati, muncul di telapak tangannya. Cahaya itu berkedip-kedip, seolah-olah merasa malu untuk bersinar di tangan Kinry yang kotor. Dia menempelkan tangannya ke luka robek di bahunya. Rasa perihnya sedikit berkurang, tapi luka itu tetap menganga, hanya berhenti mengeluarkan darah secara aktif. **[Mana: 1/5]** **[Kelelahan: Tinggi]** "Cukup untuk membuatku tetap berjalan," katanya pahit. Dia mulai menyeret kaki monster *Shadow Stalker* itu menuju zona luar. Perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam. Punggungnya sakit, paru-parunya terasa terbakar, dan kelas barunya terasa seperti beban tambahan daripada berkah. --- ### Filosofi Sang Karakter Sampah Sambil berjalan tertatih-tatih di bawah rembulan yang pucat, Kinry mulai merenung. Dia menyadari satu hal yang fundamental. Jika dunia ini menganggapnya sebagai karakter sampah, maka dia harus menjadi sampah yang paling tajam dan paling beracun yang pernah ada. "Mereka ingin aku menjadi Healer?" gumamnya. "Baik. Aku akan menjadi Healer. Tapi bukan tipe yang memberikan kehidupan. Aku akan menjadi Healer yang tahu persis di mana titik anatomi makhluk hidup yang paling rapuh untuk dihancurkan." Dia mulai memikirkan potensi dari pengetahuannya tentang anatomi. Sebagai Healer, sistem memberinya pemahaman dasar tentang sirkulasi energi dan struktur tubuh. Jika dia tidak bisa memberikan penyembuhan yang besar, setidaknya dia sekarang tahu di mana letak syaraf utama yang jika ditekan dengan pipa besinya, akan menyebabkan kelumpuhan instan. Dia bukan lagi hanya seorang pria dengan jebakan. Dia adalah seorang praktisi medis yang sesat. Seorang penyintas yang tahu cara menjahit lukanya sendiri dengan kabel baja dan menyumbat pendarahannya dengan lumpur yang diberkati mana. "Kalian boleh punya pedang suci," kata Kinry, menatap bintang-bintang. "Kalian boleh punya sayap malaikat dan sihir penyembuh yang bisa menghidupkan orang mati. Tapi aku punya daya tahan seekor kecoak." --- ### Akhir yang Baru Kinry mencapai gerbang zona pengungsian tepat saat fajar menyingsing. Para penjaga yang melihatnya kembali dengan bangkai *Shadow Stalker* tampak terkejut, namun keterkejutan mereka segera berubah menjadi ejekan saat melihat Kinry jatuh pingsan di depan pos jaga, memeluk taring monster yang tidak berharga itu. "Lihat dia. Level 9 mencoba melawan monster Level 15 sendirian. Benar-benar cari mati," salah satu penjaga meludah ke tanah. Kinry tidak mendengarnya. Di dalam tidurnya yang penuh rasa sakit, dia bermimpi tentang sosok bermata merah di atas pohon. Sosok itu tidak tertawa padanya. Sosok itu seolah sedang menantinya di ujung jalan yang sangat panjang dan berdarah. Di saku celananya yang robek, koin hitam itu tetap dingin. Koin itu tidak memberikan kekuatan instan, tidak memberikan kekayaan, dan tidak memberikan kehormatan. Tapi koin itu memberikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi sistem: sebuah alasan bagi si "Karakter Sampah" untuk tetap tertawa di tengah penderitaan. Kinry bangun beberapa jam kemudian di sebuah ranjang reot di klinik darurat. Dia melihat seorang perawat sedang mencoba mengobatinya dengan ramuan standar. "Jangan buang-buang ramuan itu padaku," kata Kinry parau, mengejutkan si perawat. Dia mengambil sepotong jamur liar yang tumbuh di sela-sela dinding lembap klinik tersebut, memasukkannya ke mulutnya, dan menggumamkan mantra *Basic Heal* yang menyedihkan itu. Lukanya menutup perlahan dengan lapisan kerak hijau yang menjijikkan. Si perawat mundur dengan wajah pucat, merasa mual. Kinry duduk, merapikan baju compang-campingnya, dan menatap pantulan dirinya di jendela yang retak. "Sampah ya?" bisiknya. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh sampah ini bisa mencemari dunia kalian yang sempurna." Dia melangkah keluar dari klinik, bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai pemain hebat, tapi sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan: seorang pria yang sudah kehilangan segalanya, termasuk rasa malunya terhadap kegagalan. Perjalanan Kinry baru saja dimulai, dan kali ini, dia tidak lagi peduli pada level. Dia hanya peduli pada siapa yang akan dia seret jatuh bersamanya ke dalam lumpur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD