Kabut rawa yang kental menyelimuti kaki Kinry seperti napas dingin orang mati. Di depannya, *Shadow Stalker* itu tidak bergerak, namun kehadirannya terasa seperti tekanan udara yang memberat. Monster ini adalah predator Level 15 yang murni terdiri dari otot, cakar tajam, dan kemampuan unik untuk membiaskan cahaya di sekitar tubuhnya, membuatnya hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.
Bagi petualang Level 15, ini adalah pertarungan yang membutuhkan koordinasi tim dan ramuan *True Sight*. Bagi Kinry, yang hanya Level 9 dengan status yang cacat, ini adalah bunuh diri.
Tapi Kinry tidak lagi melihat dunia dengan angka. Dia melihatnya sebagai serangkaian reaksi kimia dan hukum fisika yang bisa dimanipulasi.
*Shadow Stalker* itu mulai bergerak. Udara sedikit berdesir di sisi kiri Kinry. Jika dia mengandalkan statistik **Kelincahan 7** miliknya, kepalanya pasti sudah terlepas dari lehernya dalam hitungan detik. Namun, Kinry telah memasang "indera" tambahan. Di sekelilingnya, dia telah menebar benang pancing tipis yang diikatkan pada lonceng-lonceng kecil dari tutup botol.
*Ting.*
Bunyi halus itu memberitahu Kinry posisi tepat si monster.
Kinry segera merunduk, bukan untuk menghindar, tapi untuk menarik sebuah tuas tersembunyi yang terkubur di bawah lumpur. Sebuah kantong goni besar berisi tepung terigu murah yang sudah kedaluwarsa melenting ke udara melalui mekanisme pegas dari dahan pohon yang ia lengkungkan.
"Sekarang," bisik Kinry.
Dia melemparkan sebuah korek api yang telah dimodifikasi dengan sumbu panjang.
**BOOM!**
Terjadilah *Dust Explosion* atau ledakan debu. Tepung yang tersebar di udara dalam konsentrasi tinggi bersifat sangat mudah terbakar. Ledakan itu tidak cukup kuat untuk membunuh monster itu, tapi tujuannya bukan itu. Tepung yang terbakar dan hangus menempel pada kulit transparan *Shadow Stalker*, menyelimuti tubuhnya dengan lapisan putih abu-abu.
Sang predator tidak lagi bisa bersembunyi. Sosoknya kini terlihat jelas, seekor binatang mirip macan tutul yang berdiri tegak dengan cakar sepanjang belati, meraung kesakitan karena bulunya terbakar.
---
### Perlawanan di Lumpur Beracun
Monster itu mengamuk. Ia menerjang dengan kecepatan yang masih jauh di atas reaksi Kinry. Cakar makhluk itu menyambar bahu Kinry, merobek kain dan kulitnya.
**[HP: 14/35]**
**[Peringatan: Kerusakan Berat Diterima!]**
Kinry terhempas ke dalam air rawa yang berbau busuk. Rasa sakitnya luar biasa, tapi di dalam benaknya, dia justru tertawa. *Hanya segini? Aku sudah pernah merasakan yang lebih buruk saat mencoba memakan jamur beracun hanya karena lapar.*
Saat *Shadow Stalker* melompat untuk serangan final, Kinry mengeluarkan senjatanya yang paling "hina": sebuah semprotan pembersih karat yang dicampur dengan sari cabai hutan yang telah difermentasi selama berminggu-minggu.
*Pshhhhhh!*
Cairan pekat itu tepat mengenai mata besar sang monster. Cairan kimia yang keras bereaksi dengan selaput mata monster itu, menimbulkan rasa perih yang membuat *Shadow Stalker* kehilangan arah. Ia melolong, mencakar udara dengan membabi buta.
Inilah saatnya. Kinry tidak menggunakan pedang cahaya. Dia mengambil sebuah pipa besi berkarat yang ujungnya telah ia lilit dengan kabel baja dan beberapa keping koin yang ia pertajam secara manual.
**[Efektivitas Alat Lingkungan Aktif: 250%]**
Pipa itu bukan sekadar pipa lagi di tangan Kinry. Dengan perhitungan sudut yang presisi, dia menghantamkan pipa itu ke sendi lutut belakang monster tersebut.
*Krak!*
Pipa besi itu melengkung, tapi tulang monster itu hancur. Berkat bonus 250% efektivitas, hantaman benda tumpul dari Kinry memiliki daya hancur yang setara dengan palu godam seorang *Warrior* Level 20.
---
### Kekejaman Sang Penyintas
Kinry tidak berhenti. Dia tahu statistiknya tidak mengizinkannya untuk bermain-main. Dia memanjat punggung monster yang sedang meronta itu, melilitkan kabel baja di lehernya, dan menariknya sekuat tenaga.
Monster itu berusaha mengibaskan tubuh Kinry, membantingnya ke pohon dan batu. Darah mengucur dari mulut Kinry, rusuknya mungkin patah lagi, tapi cengkeramannya tidak goyah. Dia menggunakan berat tubuhnya sendiri sebagai pemberat, menenggelamkan kepala monster itu ke dalam genangan lumpur beracun yang mengandung gas metana.
"Mati... mati kau... dasar sistem sialan..." geram Kinry di sela-sela giginya yang berdarah.
Dunia RPG ini menginginkan pertarungan yang elegan, dengan kilatan *skill* dan teriakan nama jurus. Tapi apa yang terjadi di rawa itu adalah eksekusi yang kotor. Kinry menyeret monster itu ke dalam lubang gas metana yang telah ia siapkan sebelumnya, lalu menyumbat lubang itu dengan tubuh si monster sendiri.
Udara di sana beracun. Monster itu mulai tersedak, paru-parunya terbakar oleh gas alam yang terkonsentrasi. Setelah sepuluh menit perjuangan yang brutal dan menjijikkan, *Shadow Stalker* Level 15 itu akhirnya berhenti bergerak. Tubuhnya yang besar lunglai di atas lumpur.
**[Selamat! Anda telah mengalahkan Shadow Stalker (Level 15)]**
**[EXP didapat: 45 (Penalti Kelas Terlampaui oleh Bonus Pencapaian)]**
**[Loot: Taring Patah (Sampah), Kulit Hangus (Sampah)]**
Kinry jatuh telentang di samping bangkai monster itu. Dia terengah-engah, menatap langit ungu yang mulai gelap. Dia bersimbah darah, lumpur, dan muntah. Hasil jarahannya? Sampah. Lagi-lagi sampah.
Tapi Kinry tersenyum. Senyum yang lebar dan mengerikan. "Level 15... hanya butuh beberapa botol kimia dan pipa karat. Dunia ini... benar-benar bisa dibohongi."
---
### Sosok di Balik Kabut
Di kejauhan, di atas dahan pohon ek hitam yang tinggi, sebuah sosok duduk dengan santai, mengamati pemandangan tersebut.
Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang yang seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya. Dia tidak mengenakan baju zirah berkilau seperti Aries, juga tidak membawa senjata yang terlihat hebat. Di tangannya hanya ada sebuah buku catatan kecil yang halamannya terbuat dari kulit manusia atau sesuatu yang mirip dengan itu.
Wajahnya tersembunyi di balik topeng porselen putih yang hanya memiliki satu lubang mata. Dari balik lubang itu, sepasang mata berwarna merah redup bersinar dengan kegembiraan yang aneh.
"Luar biasa," bisik sosok itu. Suaranya terdengar seperti gesekan amplas pada logam, penuh dengan nada kekaguman yang gelap. "Dia tidak menggunakan kekuatan yang diberikan dunia. Dia menggunakan kebenciannya terhadap dunia untuk menciptakan kekuatannya sendiri."
Sosok misterius itu berdiri, menyeimbangkan dirinya di atas dahan yang setipis jari tanpa membuat daun sedikit pun bergoyang. Dia telah melihat ribuan pahlawan, ribuan pemain berbakat yang hancur karena ego mereka sendiri. Tapi Kinry? Kinry adalah sesuatu yang baru. Kinry adalah anomali yang ia cari selama ini.
"Statistiknya sampah. Kelasnya adalah kutukan. Tapi dia membunuh predator Level 15 dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan oleh para *Grandmaster*," sosok itu terkekeh pelan, sebuah tawa yang mengirimkan getaran dingin ke seluruh rawa.
Dia mengambil sebuah koin hitam dari saku jubahnya dan melemparkannya ke arah tempat Kinry berbaring. Koin itu tidak jatuh ke tanah, melainkan menghilang di udara sebelum menyentuh lumpur, seolah-olah berpindah dimensi.
"Teruslah bertahan hidup, Kinry," gumam sosok misterius itu saat tubuhnya mulai memudar menjadi bayangan. "Teruslah menjadi sampah yang menyumbat roda takdir. Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa merangkak sebelum kau menyadari bahwa kaulah satu-satunya 'Pemain' yang sebenarnya di panggung sandiwara ini."
Dalam sekejap, sosok itu hilang sepenuhnya, meninggalkan Kinry yang masih terkapar di rawa, tidak menyadari bahwa seseorang—atau sesuatu—baru saja mengakui keberadaannya dengan cara yang tidak akan pernah dilakukan oleh sistem mana pun.
Kinry terbatuk, memuntahkan darah, lalu perlahan bangkit berdiri. Dia harus segera mengumpulkan taring monster itu. Sampah atau bukan, itu masih bisa ditukar dengan sepotong roti. Dia belum tahu bahwa mulai malam ini, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.