7. Sains Bertahan Hidup

1458 Words
Tawa itu keluar begitu saja. Bukan tawa pahlawan yang menemukan pencerahan, melainkan tawa kering seorang pria yang baru saja menyadari bahwa lelucon paling lucu di dunia ini adalah dirinya sendiri. Kinry duduk di pinggir parit pembuangan limbah zona luar, membersihkan luka di lengannya dengan air yang warnanya lebih mirip sup kimia daripada air bersih. Dia teringat betapa paniknya dia dulu saat pertama kali terkena lendir slime. Sekarang? Dia menatap luka robek di perutnya akibat serangan Horned Rabbit kemarin seolah-olah itu hanyalah noda kopi di baju lama. "Benar-benar luar biasa," gumamnya sambil mengikat luka itu dengan sobekan kain dari kaos kaki bekas yang ia temukan. "Sistem ini berusaha keras membuatku mati, tapi dia lupa satu hal: aku sudah terbiasa menjadi sampah bahkan sebelum dunia ini menjadi video game." Ironi itu terasa sangat manis. Dunia RPG ini dirancang untuk mereka yang ambisius, mereka yang ingin naik level, mereka yang ingin menjadi dewa. Namun, bagi Kinry, tujuannya telah menyusut hingga ke titik yang paling murni dan paling primitif: **Bertahan hidup sampai besok pagi.** Ketika ambisi hilang, rasa takut pun ikut menguap. Yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin seorang manusia yang tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan. --- ### Logika Sampah: Penemuan Tak Terduga Kinry mulai memperhatikan sekelilingnya dengan cara yang berbeda. Jika sistem memberinya penalti saat menggunakan senjata buatan profesional, maka dia harus berhenti mencoba menjadi "pemain". Dia harus menjadi "bagian dari lingkungan". Dia mulai mengumpulkan barang-barang yang bahkan para pemulung lain abaikan. Botol kaca pecah, kabel tembaga yang sudah terbakar, oli mesin yang bocor dari kendaraan militer yang rusak, dan yang paling penting: deterjen bubuk dari reruntuhan gudang logistik. Dia kembali ke Hutan Pemula, tapi kali ini dia tidak membawa kayu runcing. Dia membawa sebuah botol plastik yang diisi campuran aneh. Di depannya, seekor Slime Hijau—monster yang dulu hampir membunuhnya—mendekat dengan gerakan membal yang lambat. Kinry tidak lari. Dia tidak menyerang. Dia justru menuangkan sedikit oli mesin ke tanah di depan jalurnya, lalu menaburkan deterjen bubuk di atasnya. Slime itu, yang merupakan makhluk berbasis cairan organik, merayap di atas campuran tersebut. Seketika, reaksi kimia terjadi. Lendir slime yang bersifat asam bereaksi keras dengan surfaktan kuat dari deterjen dan viskositas oli. Makhluk itu mulai berbusa secara tidak terkendali. **[Peringatan: Kerusakan Lingkungan Terdeteksi]** "Bukan kerusakan lingkungan, Kawan," bisik Kinry sambil menonton slime itu menggelembung dan kehilangan bentuknya. "Ini namanya pembersihan." Tanpa perlu mengayunkan pedang, tanpa perlu mengeluarkan tenaga fisik yang besar, slime itu meletus menjadi genangan cairan tak berbentuk. **[Selamat! Anda telah mengalahkan Slime Hijau (Level 1)]** **[EXP didapat: 1]** **[Loot: Tidak Ada]** Kinry tidak kecewa dengan 1 EXP itu. Dia justru tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia tidak kehilangan HP. Dia tidak berkeringat. Dia hanya menggunakan otaknya untuk mengeksploitasi hukum alam yang tetap berlaku di bawah sistem RPG yang kaku ini. --- ### Eksperimen Sang Penyintas Keberhasilan itu memicu sesuatu di dalam diri Kinry. Dia menghabiskan hari-harinya bukan untuk *grinding* seperti pemain lain, melainkan untuk "riset". Dia menyadari bahwa meskipun kelasnya adalah sampah, ia memiliki deskripsi yang sangat spesifik: *Memberikan bonus 200% pada efektivitas penggunaan alat lingkungan dan barang rongsokan.* Selama ini dia mengira itu berarti dia hanya bisa memukul lebih keras dengan pipa besi. Dia salah. "Efektivitas" berarti bagaimana benda itu berinteraksi dengan dunia. Dia mulai membuat jebakan-jebakan yang tidak masuk akal. Dia mencampur debu korek api dengan bubuk magnesium dari puing-puing elektronik untuk membuat bom cahaya darurat. Dia merangkai senar pancing tipis dengan pecahan kaca yang telah ia rendam dalam racun dari tanaman hutan yang pahit. Suatu sore, dia melihat sekelompok pemain baru—anak-anak muda dengan perlengkapan berkilau—sedang kesulitan melawan seekor *Great Boar* Level 10. Mereka berteriak-teriak, menggunakan *skill* yang memakan banyak Mana, tapi babi hutan itu terlalu keras kulitnya. Kinry berdiri di balik pohon, menonton. Dia melihat babi hutan itu bersiap menerjang. Dengan tenang, Kinry melempar sebuah bola kecil yang terbuat dari campuran karet bekas dan resin pohon ke arah jalur lari si babi. Bola itu pecah, mengeluarkan cairan super lengket tepat saat kaki babi hutan itu menginjaknya. Makhluk seberat 200 kilogram itu kehilangan keseimbangan, terpelesat, dan menghantam pohon dengan kekuatan penuh. Kepalanya retak seketika. Para pemain itu melongo. Mereka melihat ke arah Kinry yang keluar dari balik pohon dengan pakaian compang-camping dan wajah kotor. "Level berapa kau, Bang?" tanya salah satu pemuda dengan gemetar. "Skill apa tadi itu? *Earth Bind*? *Slow?*" Kinry melewati mereka sambil memungut sisa bola karetnya yang masih bisa dipakai. "Level 9," jawabnya pendek. "Dan itu bukan *skill*. Itu hanya fisika." Dia tidak mengambil *loot* babi itu. Dia tahu tingkat drop-nya sangat buruk sehingga kemungkinan besar dia hanya akan mendapatkan tulang busuk. Dia lebih memilih mencari kabel baja di reruntuhan dekat sana. --- ### Menonton Puncak Dunia dari Selokan Malam itu, Kinry kembali ke depan TV di ruang pengungsian. Di layar, Aries sedang merayakan keberhasilannya menaklukkan *Dungeon* tingkat menengah. Aries terlihat sangat bersih, sangat heroik, sangat... tidak nyata. Seorang pria tua duduk di sebelah Kinry, memperhatikannya yang sedang asyik mengasah sepotong logam bekas menjadi gergaji kecil. "Kau tahu, Nak," kata pria tua itu, "orang-orang seperti mereka di TV itu... mereka bertarung melawan monster. Tapi kau? Kau sepertinya sedang bertarung melawan sistem itu sendiri." Kinry berhenti mengasah. Dia menatap layar TV, lalu menatap tangannya yang penuh kapalan dan bekas luka kimia. "Aku tidak bertarung melawan sistem, Kek. Aku hanya mencoba mencari celah agar tidak terjepit di antara roda-rodanya." "Banyak yang menyerah saat mendapatkan kelas sepertimu," lanjut si kakek. "Mereka lebih memilih menjadi pengemis atau bunuh diri di luar tembok. Kenapa kau masih mencoba?" Kinry terdiam. Kenapa dia masih mencoba? Dia tidak punya keluarga. Dia tidak punya bakat. Dia bahkan tidak punya masa depan yang jelas. "Mungkin karena aku ingin melihat wajah sistem ini saat seorang 'Tanpa Bakat' mencapai akhir game," jawab Kinry pelan. "Aku ingin tahu, apakah sistem ini punya algoritma untuk rasa malu." Si kakek tertawa kecil, lalu batuk-batuk. "Kalau begitu, teruslah hidup. Hidup adalah pemberontakan terbesar bagi orang-orang seperti kita." --- ### Menghadapi Ambang Batas Kinry menyadari bahwa meskipun dia bisa membunuh monster dengan cerdas, levelnya tetap akan lambat naik. Namun, dia menemukan satu keunggulan dari kelas **[Penyintas Tanpa Bakat]** yang tidak disadari siapa pun. Karena dia tidak bergantung pada *skill* sistem, dia tidak pernah kehabisan "Mana". Karena dia tidak bergantung pada senjata sistem, dia tidak perlu khawatir tentang "Durability". Dunianya adalah gudang senjata raksasa. Dia mulai membangun sebuah "persembunyian" di area yang dianggap terlalu berbahaya bagi level pemula, namun terlalu tidak berharga bagi level tinggi: rawa-rawa beracun. Di sana, dia membangun sistem pemurnian air manual, perangkap gas metana dari rawa, dan alarm yang terbuat dari kaleng bekas. Suatu malam, sebuah notifikasi muncul di depan matanya. **[Pencapaian Unik Terdeteksi: 'Insinyur Sampah']** **[Deskripsi: Anda telah bertahan hidup 100 hari tanpa menggunakan satu pun Skill Aktif dari sistem.]** **[Hadiah: Peningkatan Efisiensi Alat Lingkungan +50% (Total: 250%)]** Kinry tertawa lagi. Dia merasa lucu bagaimana sistem ini tetap mencoba memberinya "hadiah" yang terdengar seperti ejekan. Tapi bagi Kinry, 250% efektivitas berarti dia bisa membuat jebakan yang sanggup melumpuhkan monster Level 20 jika dia merancangnya dengan benar. Dia mulai mengerti. Dia tidak akan pernah bisa menjadi Aries. Dia tidak akan pernah bisa membelah gunung dengan pedang cahaya. Tapi dia bisa menjadi "Hantu" di dalam mesin. Sesuatu yang tidak seharusnya ada, sesuatu yang merayap di bawah statistik, sesuatu yang bertahan hidup bukan karena sistem menginginkannya, melainkan karena sistem tidak bisa menghentikannya. --- ### Langkah Kecil Menuju Kegelapan Keesokan paginya, Kinry berdiri di perbatasan rawa-rawa. Di kejauhan, dia melihat seekor *Shadow Stalker*—monster Level 15 yang ditakuti karena kemampuannya menghilang. Dulu, Kinry akan lari sambil kencing di celana melihat monster seperti itu. Sekarang? Dia memeriksa kantongnya. Dia punya dua botol minyak goreng bekas, sekantong tepung terigu (yang bisa menyebabkan ledakan debu jika dipicu dengan benar), dan beberapa keping koin logam yang telah dia pertajam pinggirannya. "Level 15, ya?" gumamnya. Dia merasakan lapar di perutnya, tapi kali ini bukan lapar yang melemahkan. Itu adalah lapar yang menuntut untuk dipuaskan. Dia bukan lagi pemulung yang menunggu sedekah dari dunia. Dia adalah predator paling rendah dalam rantai makanan, yang belajar cara memakan predator yang lebih tinggi. Dia melangkah masuk ke dalam kabut rawa. Langkah kakinya ringan, hampir tak terdengar. Dia tidak menggunakan *Stealth Skill*—dia hanya tahu cara menginjak tanah tanpa mematahkan ranting. Itu adalah pengetahuan yang didapat dari seratus hari rasa sakit. Dunia mungkin masih mencemoohnya. Statusnya mungkin masih menyedihkan. Tapi saat Kinry menghilang ke dalam kegelapan rawa, dia tidak merasa putus asa lagi. Dia merasa penasaran. Dia ingin tahu seberapa jauh "sampah" ini bisa melangkah sebelum akhirnya sistem ini terpaksa mengakui keberadaannya. --- Kinry kini telah mengubah keputusasaannya menjadi semacam sains bertahan hidup yang brutal. *** Siluet hitam yang bersembunyi dibalik gelapnya malam tanpa bulan terkekeh pelan, ia terus menatap bar notifikasi. Dengan suara seraknya ia berkata, “Kinry kamu benar-benar tidak mengecewakanku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD