Di sisi lain ada seseorang yang tiba-tiba saja mendapatkan notifikasi seolah dia mengetahui segalanya.
Sepertinya Kinry mulai menemukan ritmenya sendiri di dunia yang keras ini. **Apakah Anda ingin saya membuatkan rincian statistik terbaru Kinry setelah dia mengambil kelas "Penyintas Tanpa Bakat", atau mungkin Anda ingin melanjutkan ke pertempuran pertamanya melawan Horned Rabbit?**
“Tunjukkan rinciannya!” titah pria itu.
Butuh waktu sekitar 10 menit bagi pria itu untuk kemudian tersenyum tipis, “Kinry aku tahu kau tak akan menyerah!”
***
Harapan adalah racun yang paling mematikan bagi orang-orang seperti Kinry.
Setelah memilih kelas **[Penyintas Tanpa Bakat]**, Kinry sempat membayangkan sebuah skenario klasik: sebuah kekuatan tersembunyi yang akan meledak, sebuah *multiplier* rahasia yang akan membuatnya melampaui para jenius. Namun, realitas dunia RPG ini tidak mengenal narasi pahlawan yang tertindas. Dunia ini dingin, mekanis, dan yang paling parah, ia jujur.
Dua bulan telah berlalu sejak malam itu, dan Kinry sedang duduk di sudut ruang komunal zona pengungsian yang bau pesing. Matanya yang cekung menatap layar televisi besar yang terpasang di dinding beton.
Di layar itu, seorang pemuda bernama **Aries**—sang Pahlawan Cahaya yang baru berusia 19 tahun—sedang membelah seekor naga tanah hanya dengan satu ayunan pedang besar yang bersinar keemasan. Penonton di TV bersorak. Presenter berita dengan antusias membacakan statistik Aries yang telah mencapai Level 75, dengan *drop item* kelas S berupa "Jantung Naga" yang harganya cukup untuk membeli satu kota kecil.
Kinry menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih dibalut kain kusam. Dia membuka layar statusnya dengan gerakan lesu.
**Nama: Kinry**
**Pekerjaan: Penyintas Tanpa Bakat (Level 8)**
**Kekuatan: 6 | Kelincahan: 7 | Ketahanan: 6 | Inteligensi: 6**
**Status Pertumbuhan: Terhambat (Efek Kelas)**
**Laju Drop Item: -50% (Efek Kelas)**
"Penyintas Tanpa Bakat," Kinry berbisik, suaranya parau karena debu dan kelelahan. "Ini bukan kelas langka karena kekuatannya. Ini langka karena hanya orang gila yang mau mengambilnya."
---
### Kutukan Sang Penyintas
Kinry menyadari kesalahan fatalnya seminggu setelah perubahan kelas. Nama "Langka" dalam sistem tersebut hanyalah label statistik untuk sesuatu yang jarang terjadi, bukan sesuatu yang berharga. Sangat jarang ada orang yang bertahan hidup begitu lama dengan status serendah Kinry, sehingga sistem menciptakan kategori khusus untuk kegagalan yang konsisten tersebut.
Pertumbuhan karakternya sangat lambat hingga tahap yang menyiksa. Jika petualang biasa membutuhkan 10 ekor monster untuk naik level, Kinry membutuhkan 50. Bukan karena jumlah EXP yang dibutuhkan berbeda, melainkan karena kelasnya membatasi penyerapan energi.
Lebih buruk lagi, *drop item* menjadi mitos baginya. Kemarin, dia menghabiskan sepuluh jam di hutan hanya untuk membunuh sekelompok Horned Rabbit—monster yang seharusnya menjatuhkan daging atau bulu. Hasilnya? Nihil. Tidak ada satu pun item yang jatuh. Sistem seolah memutuskan bahwa seorang "Penyintas" harus bertahan hidup dengan apa yang ada di tanah, bukan dari apa yang diberikan oleh musuh.
Dia mencoba menggunakan senjata yang lebih layak. Dia sempat menabung cukup uang untuk membeli "Belati Besi Standar" dari pandai besi pemula. Namun, saat dia menggenggamnya, sebuah notifikasi merah muncul:
**[Peringatan: Kelas 'Penyintas Tanpa Bakat' memiliki batasan 'Keberadaan Rendah'. Kerusakan (Damage) menggunakan senjata buatan profesional dikurangi 70%.]**
Dunia ini secara aktif memaksanya untuk tetap menjadi pecundang. Dia hanya diizinkan menggunakan sampah, rongsokan, dan alat lingkungan. Namun, seberapa besar kerusakan yang bisa dihasilkan oleh sebuah pipa besi berkarat atau tutup panci bekas saat berhadapan dengan monster yang kulitnya sekeras batu?
---
### Menghadapi Realitas di Layar Kaca
Di TV, Aries si Pahlawan sedang diwawancarai. "Kuncinya adalah percaya pada potensi diri," ujar Aries dengan senyum mutiara. "Sistem memberikan kita kekuatan sesuai dengan tekad kita."
Kinry tertawa hambar. Rasanya ingin sekali dia melemparkan sepatunya ke layar itu. Tekad? Kinry telah bertarung dengan kuku dan giginya setiap hari. Dia telah memakan akar pohon yang pahit karena tidak sanggup membeli roti. Dia telah tidur di bawah rintik hujan asam karena tendanya dicuri oleh petualang level tinggi yang merasa "berhak" atas tempat berteduh.
Jika tekad adalah mata uang, Kinry seharusnya sudah menjadi dewa. Tapi di dunia RPG ini, mata uangnya adalah statistik dan keberuntungan, dua hal yang tidak pernah ia miliki.
"Hei, Pemulung! Minggir!" seorang pria besar berbaju zirah kulit mendorong bahu Kinry hingga dia terjatuh dari bangku kayu. Pria itu adalah pemain Level 15, seorang 'Warrior' semenjana yang merasa dirinya raja di pengungsian ini.
"Jangan menghalangi pandangan kami ke arah idola. Orang sepertimu harusnya ada di tempat sampah, bukan di depan TV," ejek teman si pria besar.
Kinry tidak membalas. Dia berdiri dengan diam, membersihkan debu dari celananya yang penuh tambalan. Dia tidak punya energi untuk marah. Kemarahan membutuhkan kalori, dan dia belum makan sejak kemarin pagi.
Dia berjalan keluar dari ruang komunal, menuju gerbang zona aman. Langit masih ungu, malam mulai turun, dan suhu udara anjlok dengan cepat.
---
### Malam yang Panjang di Hutan Sunyi
Kinry kembali ke Hutan Pemula. Dia butuh satu inti energi, hanya satu, untuk bisa makan malam ini. Namun, tubuhnya terasa berat. Efek dari nutrisi yang buruk dan pertumbuhan statistik yang lambat mulai membebani mentalnya.
Dia menemukan seekor Horned Rabbit. Kelinci itu memiliki tanduk tunggal yang tajam dan mata merah yang haus darah.
**[Monster: Horned Rabbit - Level 3]**
Kinry menggenggam senjatanya: sebuah kaki meja kayu yang salah satu ujungnya dia runcingkan dengan batu, lalu dia lilit dengan kawat berduri bekas.
Dia menyerang. Dia mencoba menggunakan teknik "Penyintas"—memanfaatkan semak berduri untuk menjebak kaki kelinci itu. Namun, kelinci itu terlalu cepat. Dengan satu lompatan, ia menerjang d**a Kinry.
*Sreeet!*
Tanduk kelinci itu merobek kulit d**a Kinry. Dia terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pohon.
**[HP: 8/30]**
Rasa sakit itu tidak lagi terasa mengejutkan; itu sudah menjadi teman lamanya. Kinry menatap kelinci itu dengan mata yang redup. Dia melihat kelinci itu bersiap untuk serangan terakhir.
*Jadi, begini akhirnya?* pikirnya. *Mati di tangan kelinci tingkat rendah karena aku bahkan tidak bisa menghasilkan damage yang cukup untuk memotong bulunya.*
Keputusasaan yang mendalam menyelimuti dirinya. Dia teringat wajah Aries di TV tadi. Perbedaan di antara mereka bukan hanya level, tapi esensi keberadaan mereka. Aries adalah anak emas semesta, sementara Kinry adalah kesalahan sistem yang seharusnya sudah dihapus sejak awal.
"Kenapa..." Kinry berbisik, darah menetes dari sudut bibirnya. "Kenapa memberikan kelas ini jika hanya untuk menyiksaku?"
Dia tidak mendapatkan jawaban dari sistem. Tidak ada suara surgawi yang menghiburnya. Hanya suara derik serangga hutan dan dengus napas si kelinci.
---
### Puncak Keputusasaan
Dalam detik-detik yang dia kira adalah ajalnya, Kinry tidak melihat kilasan hidupnya. Dia hanya melihat angka-angka. Angka 3, 4, 6... statistik yang tidak pernah cukup. Dia membenci angka-angka itu. Dia membenci sistem ini yang mengurung manusia dalam kotak-kotak numerik.
Kelinci itu melompat.
Dengan sisa tenaga yang seharusnya tidak ada, Kinry tidak menusukkan kayu runcingnya. Dia justru melepaskan senjatanya. Dia menangkap kelinci itu dengan tangan kosong di udara, membiarkan tanduknya menusuk telapak tangannya hingga tembus.
"Ughaaaa!"
Jeritan Kinry membelah kesunyian hutan. Dia memeluk kelinci itu ke dadanya, mengabaikan tanduk yang masuk semakin dalam ke dagingnya. Dia berguling ke tanah, menggunakan berat badannya untuk menghimpit makhluk itu.
Dia tidak menggunakan *skill*. Dia tidak menggunakan senjata. Dia menggunakan insting primitif dari makhluk hidup yang dipojokkan. Dia menggigit leher kelinci itu dengan giginya, merobek arteri makhluk itu seperti binatang buas.
Rasa darah yang amis dan hangat memenuhi mulutnya. Kelinci itu meronta, menendang-nendang perut Kinry dengan kaki belakangnya yang kuat, menghancurkan beberapa tulang rusuknya. Tapi Kinry tidak melepaskannya. Jika dia harus mati, dia akan membawa kelinci sialan ini bersamanya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, rontaan itu berhenti.
**[Selamat! Anda telah mengalahkan Horned Rabbit (Level 3)]**
**[EXP didapat: 2 (Penalti Kelas Aktif)]**
**[Loot: Tidak Ada]**
Kinry berbaring di tanah yang lembap, bersimbah darahnya sendiri dan darah monster itu. Dia tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar seperti tangisan yang hancur.
"Hahaha... dua EXP? Hanya dua?"
Dia melihat ke arah langit. Di sana, jauh di atas kubah pelindung kota, dia bisa melihat cahaya kembang api. Mungkin para petualang top sedang merayakan kemenangan besar lainnya. Mungkin Aries sedang bersulang di sebuah bar mewah dengan anggur yang harganya lebih mahal dari seluruh hidup Kinry.
Di sini, di lumpur, Kinry hanyalah seekor serangga yang menolak untuk diinjak, meskipun seluruh dunia berusaha melakukannya.
---
### Sisa-sisa Harga Diri
Kinry merangkak kembali menuju zona aman saat fajar mulai menyingsing. Dia tidak mendapatkan item apa pun. Dia tidak mendapatkan level. Dia justru mendapatkan luka permanen di paru-parunya akibat tulang rusuk yang menusuk ke dalam.
Dia melewati pos penjagaan. Para penjaga melihatnya dengan jijik. "Lagi-lagi si pemulung. Beruntung sekali kau masih bernapas."
Kinry tidak menoleh. Dia berjalan menuju tempat sampah di belakang dapur umum. Dia mencari sisa-sisa makanan yang mungkin dibuang oleh para koki. Dia menemukan sepotong roti keras yang sudah berjamur.
Sambil mengunyah roti itu, dia kembali duduk di depan TV yang masih menyala di ruang komunal. Layar itu kini menampilkan peringkat global. Nama Aries berada di posisi pertama. Nama Kinry? Bahkan tidak ada dalam daftar jutaan pemain.
**[Status Baru Didapatkan: 'Jiwa yang Terkikis']**
> *Deskripsi: Anda menyadari bahwa dunia ini tidak adil, dan Anda tetap tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya. Pertahanan Mental meningkat 1 poin, Harapan dikurangi hingga 0.*
Kinry menatap tulisan itu dengan mata kosong. Harapan dikurangi hingga nol.
"Bagus," gumamnya. "Harapan hanya membuatku merasa lapar."
Dia menutup matanya sejenak, mencoba tidur di atas lantai beton yang dingin sebelum dia harus kembali ke hutan untuk mencari satu EXP lagi. Dia adalah seorang Penyintas Tanpa Bakat. Dia tidak punya masa depan, tidak punya kekuatan, dan tidak punya pilihan.
Namun, di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, Kinry mulai menyusun rencana. Bukan rencana untuk menjadi pahlawan, melainkan rencana untuk tetap hidup hanya untuk membuktikan pada sistem sialan ini bahwa ia tidak bisa dihancurkan dengan mudah.
Dunia mungkin mencemoohnya, tapi Kinry masih bernapas. Dan bagi seorang penyintas, itu adalah satu-satunya statistik yang benar-benar berarti.
---
Kinry sekarang berada di titik terendahnya, bertahan hidup tanpa harapan dan penuh luka.