Hari yang semakin berat terus berlalu, sebulan setelah menara itu muncul dunia benar-benar berubah, Kinry kini memiliki kegiatan barunya. Menjalani hari menjadi seorang player, mau atau tidak. Tak ada pilihan lain selain harus menjalaninya jika tidak ingin kehilangan nyawanya. Bahkan disaat dunia sekarat pun. Kinry harus tetap bertahan hidup tak peduli ini akhir dunia atau justru awal peradaban baru.
Takdir sungguh tak berpihak pada Kinry dibandingkan memberikan Kinry pedang suci atau garis keturunan pahlawan. Sebaliknya, dunia ini memberinya sebuah kotak dialog transparan yang melayang di depan matanya, mengejeknya dengan statistik yang lebih rendah daripada rata-rata penduduk desa.
**Nama: Kinry**
**Pekerjaan: Pemulung (Level 1)**
**Kekuatan: 3 | Kelincahan: 4 | Ketahanan: 3 | Inteligensi: 5**
**Bakat Khusus: -**
Di dunia yang tiba-tiba berubah menjadi struktur RPG ini, Kinry adalah "NPC figuran" yang dipaksa menjadi "Pemain". Langit telah berubah menjadi warna ungu permanen, dan kota-kota besar dilindungi oleh kubah energi yang hanya bisa dipertahankan jika para petualang menyetorkan "Inti Energi" dari monster.
Kinry berdiri di pinggiran Hutan Pemula, napasnya tersengal bahkan sebelum pertarungan dimulai. Di depannya, seekor makhluk kenyal berwarna hijau transparan bergoyang pelan.
**[Monster: Slime Hijau - Level 1]**
**[Status: Agresif]**
Bagi orang lain, ini adalah tutorial. Bagi Kinry, ini adalah vonis mati.
---
### Langkah Pertama yang Gemetar
Kinry menggenggam sepotong besi berkarat yang ia temukan di tumpukan sampah. Tangannya berkeringat, membuat pegangannya licin. Dia tahu dia tidak punya pilihan. Jika dia tidak mendapatkan inti energi hari ini, dia tidak akan bisa membayar jatah makanan di zona pengungsian.
"Hanya sebuah slime," bisik Kinry pada dirinya sendiri. "Hanya jeli yang bisa melompat."
Slime itu tiba-tiba memadat. Tubuhnya yang tadinya lembek berubah menjadi tegang seperti pegas, dan dalam sekejap, makhluk itu melesat ke arah wajah Kinry.
Kinry mencoba menghindar, tapi statistik *Kelincahan 4* miliknya mengkhianatinya. Dia tersandung kakinya sendiri dan jatuh terjungkal ke tanah. Slime itu mendarat di bahunya, dan rasa sakit yang panas langsung menjalar. Lendir makhluk itu bersifat korosif; pakaian tipis Kinry mulai berlubang dan kulitnya terasa seperti disiram air keras.
"Sialan! Lepas!" teriaknya.
Dia berguling di tanah, mencoba menghimpit makhluk itu. Tapi slime tidak memiliki tulang. Ia hanya berubah bentuk, menyesuaikan diri dengan tekanan, dan terus membakar kulit Kinry. Dengan panik, Kinry menusukkan besi karatnya ke arah gumpalan hijau itu.
*Clang.*
Besi itu terpental. Tubuh slime itu ternyata lebih kenyal dan padat dari yang terlihat di layar status. Kinry menyadari satu hal yang mengerikan: di dunia nyata, hukum fisika tetap berlaku meskipun ada sistem RPG. Menusuk benda cair dengan benda tumpul tidak akan memberikan "Damage" yang berarti jika tidak mengenai inti pusatnya.
---
### Perjuangan di Atas Tanah
Darah mulai merembes dari bahu Kinry. Napasnya pendek-pendek. Dia melihat bar HP miliknya di sudut penglihatan: **[HP: 12/25]**.
Satu serangan lagi yang telak, dan dia akan tamat. Slime itu mendarat dua meter di depannya, bersiap untuk lompatan kedua. Kinry tidak lari. Dia tahu dia tidak bisa lari dari takdirnya yang payah. Jika dia kalah di sini, dia hanya akan menjadi catatan kaki yang terlupakan.
Dia memejamkan mata sejenak, memaksakan otaknya yang memiliki *Inteligensi 5* untuk bekerja lebih keras. *Jika aku tidak bisa menusuknya, aku harus menjebaknya.*
Saat slime itu melompat lagi, Kinry tidak mencoba menghindar ke samping. Dia justru melemparkan tas kain kumuhnya ke depan.
*Hup!*
Slime itu masuk ke dalam tas. Kinry segera menerjang, membungkus tas itu dengan kedua tangannya meskipun lendir korosif mulai merembes keluar dan membakar telapak tangannya. Dia menjerit kesakitan, tapi dia tidak melepaskannya.
"Mati kau! Mati!"
Dia menghantamkan tas berisi slime itu ke sebuah batu besar berkali-kali. Setiap hantaman terasa menguras sisa tenaganya. Dia merasa otot-ototnya yang lemah mulai memprotes. Namun, kemarahan dan rasa putus asa memberinya dorongan adrenalin yang tidak tercatat dalam statistik.
Setelah hantaman ke-20, tas itu berhenti bergerak. Cairan hijau kental merembes keluar dari sela-sela serat kain yang hancur. Sebuah bunyi denting kecil terdengar di kepalanya.
**[Selamat! Anda telah mengalahkan Slime Hijau (Level 1)]**
**[EXP didapat: 5]**
**[Loot: Inti Slime Retak (1)]**
---
### Realitas yang Menyakitkan
Kinry jatuh terduduk. Tangannya melepuh, merah padam dan perih luar biasa. Dia melihat ke arah tangannya yang gemetar, lalu ke arah tasnya yang hancur. Untuk satu ekor slime—monster paling dasar di seluruh literatur fantasi—dia hampir kehilangan nyawanya.
Dia melihat bar EXP-nya. **[5/100]**. Dia butuh 19 ekor lagi untuk naik ke level 2.
"Satu per satu," gumamnya sambil menahan isak tangis. "Hanya perlu satu per satu."
Dia mengambil inti slime kecil yang retak itu. Nilainya tidak seberapa, tapi itu adalah bukti bahwa dia masih hidup. Dia tidak memiliki bakat pahlawan, dia tidak memiliki pedang legendaris, dan dia mungkin akan selalu menjadi yang terlemah. Namun, di dunia yang kejam ini, bertahan hidup adalah sebuah pencapaian yang agung.
Kinry berdiri dengan tertatih-tatih. Dia membalut tangannya dengan sisa baju yang tidak terkena lendir. Matanya mencari-cari di semak-semak. Di sana, di balik pohon ek yang layu, seekor slime lain muncul.
Dia tidak lari. Dia memungut kembali besi karatnya.
---
### Menjadi Lebih dari Sekadar Angka
Minggu-minggu berlalu. Kinry menjadi sosok yang aneh di kamp pengungsian. Sementara petualang berbakat kembali dengan luka-luka heroik dari pertempuran melawan Orc atau Goblin, Kinry selalu kembali dengan luka bakar lendir dan pakaian yang semakin compang-camping.
Namun, ada sesuatu yang berubah. Gerakannya tidak lagi canggung. Meskipun statistiknya hanya naik sedikit—**Kekuatan: 4, Kelincahan: 5**—pengalamannya jauh melampaui angka tersebut. Dia belajar bahwa slime tidak suka pasir karena itu menghambat mobilitas mereka. Dia belajar bahwa suhu dingin membuat inti mereka rapuh.
Dia mengembangkan gaya bertarungnya sendiri: *Gaya Bertahan Hidup Orang Lemah.*
Suatu sore, seorang petualang level tinggi dengan baju zirah perak lewat dan melihat Kinry sedang bergumul di tanah dengan dua ekor slime sekaligus. Petualang itu tertawa. "Hei, pecundang! Butuh bantuan untuk membasmi jeli itu?"
Kinry tidak menjawab. Dia menggunakan seember pasir untuk menjerat salah satu slime, lalu dengan gerakan presisi yang lahir dari ribuan kegagalan, dia menusukkan belati tumpulnya tepat ke inti slime yang lain.
*Pop.*
Satu hancur. Dia segera berputar dan menghantam yang kedua dengan tutup panci yang ia gunakan sebagai perisai.
Petualang itu berhenti tertawa. Dia menyadari sesuatu. Kinry bertarung dengan efisiensi yang menakutkan. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Setiap langkah adalah perhitungan antara risiko dan kelangsungan hidup.
"Dia bukan bertarung," bisik petualang itu. "Dia sedang mengasah diri dengan cara yang paling menyakitkan."
---
### Puncak dari Kesabaran
Malam itu, Kinry duduk di depan api unggun kecil. Dia akhirnya mencapai **Level 5**.
**[Pemberitahuan: Anda telah mencapai Level 5 sebagai 'Pemulung']**
**[Opsi Evolusi Pekerjaan Tersedia:]**
1. **Pencuri (Umum)**
2. **Penjaga Gerbang (Umum)**
3. **Penyintas Tanpa Bakat (Langka)**
Kinry menatap opsi ketiga. *Langka?* Bagaimana mungkin seorang pemulung yang hanya membunuh slime bisa mendapatkan opsi langka?
Dia menyentuh layar transparan itu. Sebuah deskripsi muncul:
> **Penyintas Tanpa Bakat:** Pekerjaan bagi mereka yang memahami bahwa satu poin statistik adalah darah, dan setiap kemenangan adalah keajaiban. Memberikan bonus 200% pada efektivitas penggunaan alat lingkungan dan barang rongsokan.
Kinry tersenyum tipis. Dunia ini mungkin menganggapnya sebagai sampah, tapi dia telah belajar cara menggunakan sampah untuk menghancurkan apa pun yang meremehkannya.
Dia berdiri, menatap langit ungu yang luas. Dia masih lemah. Dia masih bisa mati hanya karena satu kesalahan kecil. Tapi dia bukan lagi Kinry yang gemetar di depan slime pertama.
Dia adalah Kinry, orang yang menolak untuk mati di dunia yang dirancang untuk membunuhnya.
"Selanjutnya," katanya pada kegelapan hutan, "mungkin aku akan mencoba melawan seekor Horned Rabbit."
Langkah kakinya tidak lagi ragu. Dia tahu perjalanannya akan seratus kali lebih berat daripada orang lain, tapi bagi seseorang yang sudah merangkak di dasar, satu-satunya jalan hanyalah naik ke atas—tak peduli seberapa lambat atau berdarah langkah itu.
---
Sepertinya Kinry mulai menemukan ritmenya sendiri di dunia yang keras ini. **Apakah Anda ingin saya membuatkan rincian statistik terbaru Kinry setelah dia mengambil kelas "Penyintas Tanpa Bakat", atau mungkin Anda ingin melanjutkan ke pertempuran pertamanya melawan Horned Rabbit?**