18. Persembunyian

1447 Words
Langit ungu yang biasanya statis kini mulai bergejolak, berubah menjadi gradasi kelabu yang memuakkan. Partikel cahaya yang menyerupai salju mulai turun, namun ini bukan salju biasa. Ini adalah "Debu Frost-System", partikel mikroskopis yang menyedot Mana dan panas tubuh dari setiap makhluk hidup yang menyentuhnya. Musim Dingin Sistem telah tiba, fenomena siklus yang mengubah dunia RPG ini menjadi kulkas raksasa yang mematikan. Di lembah tersembunyi, Terea berdiri menatap horison dengan kecemasan yang mendalam. Suhu udara anjlok hingga mencapai angka yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Tanaman membeku dalam sekejap, dan monster-monster hutan yang biasanya agresif kini melarikan diri atau mati membeku di tempat. "Kinry, kita tidak bisa bertahan di sini," ucap Terea, napasnya membentuk uap putih yang tebal. "Tenda kita tidak akan mampu menahan suhu di bawah **-40°C**. Debu ini mulai menembus lapisan kain." Kinry, yang sedang sibuk mencampurkan alkohol murni dengan lemak monster untuk membuat salep penghangat, mendongak. Wajahnya terlihat pucat, namun matanya tetap tajam. "Aku tahu. Aku sudah menghitungnya. Jika kita tetap di sini, dalam tiga jam kita semua akan menjadi patung es." Satu-satunya pilihan mereka adalah bergerak menuju koordinat yang selama ini dihindari oleh semua petualang di wilayah itu: **Dungeon 'The Weeping Vault'**. Sebuah labirin bawah tanah yang belum terjamah karena pintu masuknya berada di area anomali suhu. Namun, di dalam tanah yang dalam, panas geotermal mungkin bisa menyelamatkan mereka. --- ### Perjalanan Menuju Persembunyian Terakhir Kelompok Terea yang berjumlah tiga puluh orang mulai bergerak. Anak-anak dibungkus dengan kain berlapis-lapis yang telah diolesi minyak penghangat buatan Kinry. Setiap langkah terasa seperti menusukkan ribuan jarum ke kulit. "Terus bergerak! Jangan berhenti atau darah kalian akan membeku!" teriak Kinry. Sebagai seorang *Penyintas Tanpa Bakat*, Kinry justru menjadi yang paling tahan di kondisi ini. Tubuhnya yang sudah terbiasa dengan penderitaan ekstrem seolah memiliki ambang batas rasa sakit yang lebih tinggi daripada para petualang yang bergantung pada *buff* sihir. Saat mereka sampai di mulut *Dungeon*, sebuah gerbang batu raksasa yang tertutup lumut es menyambut mereka. Kinry mendekat, memeriksa mekanisme pintunya. Tidak ada slot kunci, hanya sebuah teka-teki logika kuno yang tertulis dalam bahasa sistem yang rusak. "Ini bukan pintu fisik," gumam Kinry. "Ini adalah filter massa. Ia hanya terbuka jika mendeteksi 'Entitas yang Membutuhkan Perlindungan'." Dengan tangan gemetar karena kedinginan, Kinry menempelkan telapak tangannya. Koin hitam di sakunya berdenyut panas, memberikan dorongan energi yang asing. Pintu itu bergeser pelan, mengeluarkan suara gesekan batu yang memekakkan telinga. Mereka masuk tepat saat badai salju sistem meledak di belakang mereka, mengubur pintu masuk tersebut dalam tumpukan es setinggi tiga meter. Mereka terjebak, namun mereka hangat. --- ### Di Dalam The Weeping Vault Dungeon ini terasa hidup. Dindingnya terbuat dari mineral yang memancarkan cahaya biru redup, dan udara di dalamnya berbau seperti belerang dan tanah basah. Panas dari inti bumi merayap naik, memberikan kelegaan instan bagi anggota kelompok Terea yang sudah hampir menyerah. "Kita aman untuk sementara," Terea menghela napas, terduduk di lantai batu. Namun Kinry tidak menurunkan kewaspadaannya. "Kita tidak aman. Kita hanya pindah dari kuali es ke sarang serigala. Dungeon yang belum terjamah berarti monster di dalamnya memiliki level yang belum terukur." Kinry mulai membagi tugas. Ia menggunakan pengetahuannya sebagai apoteker untuk menciptakan api unggun yang tidak mengeluarkan asap (untuk menghindari deteksi monster) menggunakan campuran bubuk mesiu rendah dan minyak monster. Sambil anggota kelompok yang lain beristirahat, Kinry mulai mengitari area pintu masuk. Ia memasang sensor kawat pancing dan botol-botol racun *Corruption of the Saint* di titik-titik strategis. "Hidup ini benar-benar lelucon," gerutu Kinry sambil mengikat simpul benang. "Di luar sana ada pahlawan seperti Aries yang mungkin sedang duduk di kastil hangat dengan pemanas sihir tak terbatas. Sementara di sini, aku harus merangkak di dalam lubang gelap bersama tiga puluh orang yang nyawanya bergantung pada pipa besi dan racun sampahku." Terea mendekatinya, membawa sedikit air hangat. "Kau terus menggerutu, Kinry, tapi tanganmu tidak berhenti bekerja untuk keselamatan mereka. Kau tahu, kau adalah pahlawan yang sebenarnya bagi kami." Kinry berhenti sejenak, lalu mendengus. "Pahlawan? Jangan hina aku dengan gelar itu. Pahlawan itu bersih, suci, dan dicintai. Aku? Aku adalah orang yang akan membakar seluruh dungeon ini jika itu artinya aku bisa melihat hari esok. Aku hanya... aku hanya tidak ingin sendirian lagi." Kejujuran itu menggantung di udara. Terea tersenyum lembut, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kinry yang kaku. "Kita tidak akan membiarkanmu sendirian lagi." --- ### Ancaman dari Kegelapan Ketenangan mereka hanya bertahan beberapa jam. Dari kedalaman *The Weeping Vault*, suara langkah kaki yang berat dan berirama mulai terdengar. Itu bukan langkah kaki manusia, melainkan dentuman logam yang menghantam batu. **[Peringatan: Boss Dungeon Terdeteksi!]** **[Nama: Obsidian Sentinel - Level 35]** Monster setinggi tiga meter yang terbuat dari batuan vulkanik hitam muncul dari kegelapan koridor. Matanya adalah lubang yang berisi lava cair. Kehadirannya membuat suhu di dalam ruangan naik drastis, namun bukan jenis panas yang nyaman—ini adalah panas yang memanggang. "Semuanya mundur ke sudut!" perintah Kinry. Ia tahu, kelompok Terea tidak akan sanggup melawan monster ini. Jiro mencoba maju dengan pedangnya, namun satu ayunan tangan sang *Sentinel* menghancurkan pilar batu di dekatnya, membuat Jiro terlempar karena gelombang kejut. "Dunia ini memang tidak adil!" teriak Kinry, suaranya menggema penuh kemarahan. "Kenapa kami tidak bisa diberi istirahat sejenak saja?!" Kinry berlari maju. Ia tidak memiliki zirah, tidak memiliki perisai. Ia hanya memiliki tas penuh racun dan otak yang terbiasa berpikir di bawah tekanan kematian. "Terea! Gunakan sihir airmu untuk mendinginkan lantai di bawah kakinya!" teriak Kinry. "Tapi itu tidak akan melukainya, Kinry!" balas Terea panik. "Lakukan saja!" Terea merapalkan mantranya, menciptakan genangan air dingin di sekitar kaki lava sang *Sentinel*. Uap panas mengepul hebat. Saat batuan vulkanik yang panas itu terkena air dingin secara mendadak, retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan kakinya akibat kejutan termal. Kinry melihat celah itu. Ia mengeluarkan botol *Corruption of the Saint* miliknya. Namun, ia tidak melemparkannya. Ia mencampurnya dengan cairan kimia reaktif yang ia temukan di reruntuhan farmasi sebelumnya. "Jika kau terbuat dari batu dan lava, maka aku akan membuat sel-sel batumu tumbuh secara menjijikkan!" Kinry memanjat punggung monster itu dengan kegesitan seorang pemulung yang biasa memanjat tumpukan rongsokan. Ia menusukkan pipa besinya ke sendi leher monster itu, lalu menuangkan ramuan suci yang telah ia rusak ke dalamnya. **[Efek 'Over-Regeneration' Terdeteksi pada Struktur Anorganik!]** Mineral di dalam tubuh *Sentinel* itu mulai bereaksi secara abnormal. Batuan vulkanik itu mulai tumbuh seperti kristal kanker yang tajam, saling bertabrakan satu sama lain di dalam tubuh monster itu sendiri. Sang *Sentinel* meraung, suaranya seperti batu yang digiling. Tubuhnya mulai membengkak secara tidak wajar. Kristal-kristal tajam keluar dari matanya, dari mulutnya, merusak struktur internalnya. "Mati kau! Mati dengan 'kebaikan' yang kuberikan!" seru Kinry sambil melompat turun tepat saat monster itu meledak dalam pecahan kristal hitam yang tajam. --- ### Sisa-Sisa Kemanusiaan di Dasar Dunia Setelah pertempuran usai, Kinry terkapar di lantai, tubuhnya penuh goresan kristal. Napasnya tersengal. Sistem memberikan notifikasi kenaikan level, namun ia mengabaikannya. **[Level Naik: 13, 14, 15]** Anggota kelompok Terea berlari mendekatinya. Mereka tidak melihatnya sebagai monster atau orang gila, mereka menatapnya dengan rasa syukur yang mendalam. Jiro membantu Kinry berdiri, sementara anak-anak kecil membawakan kain bersih untuk menyeka darah di wajahnya. "Kau melakukannya, Kinry," bisik Terea sambil membalut luka di tangannya. Kinry menatap mereka semua. Di dalam *Dungeon* yang belum terjamah ini, di tengah musim dingin yang mematikan di luar sana, ia menyadari sesuatu yang sangat ironis. Aries mungkin memiliki panggung yang megah, pengikut yang jutaan, dan kekuatan yang tak tertandingi. Namun Aries tidak pernah tahu rasanya berjuang di lumpur bersama orang-orang yang benar-benar mencintaimu bukan karena levelmu, tapi karena keberadaanmu. "Hidup ini memang rumit," gumam Kinry. "Tapi kurasa... aku mulai menyukai kerumitan ini jika kalian ada di sini." Ia melihat ke arah pintu masuk yang tertutup salju es. Di luar sana, dunia mungkin masih memburunya. Pahlawan palsu mungkin masih merencanakan pembersihan. Misteri menara dan sistem mungkin belum terpecahkan. Namun bagi Kinry, malam ini, ia telah memenangkan pertempuran yang paling penting: pertempuran melawan rasa kesepiannya sendiri. Ia mengambil koin hitamnya, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke saku. Ia tidak butuh koin itu untuk memberitahunya siapa dia. "Besok kita akan menjelajahi bagian lebih dalam dari dungeon ini," ucap Kinry pada kelompoknya. "Kita akan menemukan sumber air, kita akan menemukan makanan, dan kita akan membangun rumah di sini sampai badai di atas sana berakhir. Karena di dunia sampah ini, hanya sampah yang tahu cara bertahan hidup di tempat yang paling gelap." Terea menggandeng tangan Kinry, dan kali ini, Kinry tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kehangatan manusia itu mengalir ke dalam tubuhnya yang dingin. Mereka mulai berjalan lebih dalam ke dalam *The Weeping Vault*, meninggalkan bangkai monster dan sisa-sisa ketakutan mereka. Di dasar dunia yang belum terjamah, seorang pria tanpa bakat baru saja menemukan bakat terbesarnya: menjadi alasan bagi tiga puluh orang lainnya untuk tetap berharap pada hari esok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD