19. Kekhawatiran yang mengintai

1300 Words
Gua-gua di dalam *The Weeping Vault* ternyata jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Setelah kekalahan Obsidian Sentinel, Kinry tidak membiarkan kelompoknya bersantai terlalu lama. Sebagai seorang penyintas, ia tahu bahwa euforia kemenangan adalah celah paling mematikan bagi kewaspadaan. Namun, di balik ketegasannya, ada rasa lega yang asing saat ia melihat peradaban kecil mulai bernapas di dalam kegelapan ini. Dua minggu telah berlalu sejak badai salju sistem mengubur pintu masuk permukaan. Di atas sana, dunia mungkin sudah menjadi hamparan es putih yang sunyi, namun di bawah sini, berkat bimbingan Kinry dan keanggunan kepemimpinan Terea, kehidupan justru berdenyut lebih kencang. ### Arsitektur dari Rongsokan dan Harapan Kinry memanfaatkan struktur alami *dungeon* yang memiliki aliran air geotermal. Ia merancang sistem pengairan sederhana menggunakan pipa-pipa berkarat yang mereka bawa dari reruntuhan farmasi dan beberapa bagian dari tubuh logam monster yang telah ia hancurkan. “Jiro, pasang turbin kecil ini di dekat pancuran air panas itu,” perintah Kinry. Ia sedang merakit generator magnetik sederhana dari komponen elektronik yang ia temukan di tas rongsokannya. “Jika ini berhasil, kita tidak perlu lagi bergantung pada obor yang menghabiskan oksigen. Kita akan punya cahaya listrik.” Terea berjalan di antara tenda-tenda yang kini telah berganti menjadi gubuk-gubuk batu kecil. Para pria membangun dinding, sementara para wanita mengolah jamur-jamur gua yang telah diidentifikasi Kinry sebagai bahan pangan yang aman. “Kau telah melakukan keajaiban, Kinry,” ucap Terea sambil memberikan secangkir teh herbal dari akar gua kepada Kinry. Kinry menyeka oli di tangannya, menatap sekeliling. Di sudut gua, anak-anak kecil sedang belajar membaca di bawah cahaya lampu neon darurat yang berkedip-kedip. Di sudut lain, beberapa orang sedang berlatih bertarung dengan senjata yang telah dilapisi racun oleh Kinry. “Ini bukan keajaiban, Terea. Ini hanya penundaan kematian,” jawab Kinry datar, meski matanya menunjukkan sedikit kebanggaan. “Kita membangun peradaban di dalam perut monster. Selama permukaan masih tertutup es, kita adalah tawanan di sini.” ### Kekhawatiran yang Mengintai Meskipun kehidupan mulai stabil, Kinry tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam, ia akan duduk di perbatasan area pemukiman, menatap lorong gelap yang menuju ke bagian terdalam *dungeon*. Kekhawatiran terbesarnya adalah fakta yang tak terbantahkan: **The Weeping Vault belum ditaklukkan.** Sistem tidak memberikan notifikasi bahwa *dungeon* ini telah selesai dibersihkan. Obsidian Sentinel hanyalah penjaga gerbang, sebuah mekanisme keamanan luar. Kinry tahu, di suatu tempat di bawah kaki mereka, jantung dari tempat ini masih berdenyut. Ada "Boss" yang sesungguhnya, sesuatu yang jauh lebih kuat, yang mungkin saat ini sedang mengamati mereka layaknya semut yang membangun sarang di sudut rumahnya. “Kenapa kau selalu menatap kegelapan itu, Kinry?” tanya Terea suatu malam, ikut duduk di sampingnya. “Karena kegelapan itu balas menatap kita, Terea,” jawab Kinry. Ia menggenggam pipa besinya erat-erat. “Sistem ini tidak pernah memberikan tempat tinggal gratis. Kita berada di dalam *dungeon* yang masih aktif. Setiap hari kita tinggal di sini, kita sebenarnya sedang mencuri waktu.” Kinry merasa cemas. Ia adalah seorang *Healer* sampah dengan level yang masih sangat rendah dibandingkan standar pahlawan. Jika "Boss" yang sebenarnya bangun, apakah ramuan racunnya akan cukup? Apakah ia bisa melindungi tiga puluh orang ini? Ia merasa seperti sedang membangun istana pasir di tengah pasang laut yang akan datang. “Dunia di luar sana membeku karena musim dingin sistem,” gerutu Kinry. “Aries dan pengikutnya mungkin sedang bersembunyi di kastil mewah, dan kita di sini, bersembunyi di liang monster. Kadang aku berpikir, apakah sistem ini sengaja mengurung kita di sini agar kita menjadi 'makanan' yang tetap segar untuk Boss dungeon ini?” Terea memegang tangan Kinry. “Jika saat itu tiba, kita akan menghadapinya bersama. Kau sudah memberi kami alat untuk melawan. Kau memberi kami racun, pengetahuan, dan yang terpenting, kau memberi kami keberanian untuk tidak menyerah pada nasib.” ### Peradaban di Balik Racun dan Jamur Untuk mengalihkan kecemasannya, Kinry semakin gila dalam bekerja. Ia menciptakan laboratorium mini di dekat sumber air panas. Ia menyulap jamur-jamur gua menjadi penisilin alami dan antiseptik. Ia bahkan mulai melatih beberapa anggota kelompok yang memiliki bakat sihir rendah untuk menggabungkan sihir mereka dengan bahan kimia buatannya. Ia menjadi jantung dari peradaban ini. Jika ada yang sakit, mereka mencari Kinry. Jika senjata mereka patah, mereka mencari Kinry. Kinry, sang "Karakter Sampah", kini adalah orang paling penting di bawah tanah. Namun, ia tetaplah Kinry yang penuh gerutu. “Jangan gunakan salep itu terlalu banyak, dasar boros!” teriaknya pada seorang pemuda yang mengolesi lukanya terlalu tebal. “Bahan kimianya sulit dicari! Kau pikir aku bisa memetik botol dari pohon?” Terea hanya tersenyum melihat tingkah laku Kinry. Ia tahu bahwa gerutuan itu adalah cara Kinry menunjukkan perhatian. Di bawah lapisan kebenciannya pada dunia, Kinry memiliki hati yang sangat ingin melindungi. Suatu hari, Kinry menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang berisi sisa-sisa petualang dari masa lalu—orang-orang yang mungkin mencoba menaklukkan *dungeon* ini sebelum sistem menjadi seburuk sekarang. Di sana, ia menemukan catatan-catatan tua tentang anatomi monster bawah tanah. “Ini dia,” gumam Kinry. “Kunci untuk bertahan hidup bukan dengan kekuatan murni, tapi dengan memahami bagaimana musuhmu bernapas.” Ia mulai memasok racun yang lebih kuat untuk kelompok perburuan. Ia menciptakan *paralytic dart* yang bisa menembus kulit keras krustasea gua. Dengan bantuan racun Kinry, anggota kelompok yang levelnya hanya belasan kini mampu menjatuhkan monster level tiga puluh. Mereka menjadi unit gerilya bawah tanah yang sangat efisien. ### Teka-teki Musim Dingin yang Tanpa Ujung Sudah sebulan berlalu, dan musim dingin di permukaan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Dari celah-celah ventilasi alami di langit-langit gua, salju sistem terus berjatuhan dalam bentuk debu abu-abu. Kinry sering memanjat ke titik tertinggi gua untuk mengamati debu tersebut. “Sistem ini sedang melakukan pembersihan besar-besaran di permukaan,” pikirnya. “Hanya mereka yang memiliki perlindungan tingkat tinggi atau mereka yang bersembunyi di dalam tanah yang akan selamat. Aries mungkin sedang membangun tatanan dunia baru di atas sana, sementara kita membangun harapan di bawah sini.” Ketidakpastian ini menghantui setiap pikirannya. Berapa lama persediaan bahan kimia mereka akan bertahan? Berapa lama energi geotermal ini akan stabil? Dan yang paling penting, kapan Boss *dungeon* ini akan merasa terganggu oleh keberadaan mereka? Rasa cemas itu memuncak ketika suatu malam, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh pemukiman. Suara raungan rendah, jauh lebih dalam dan berwibawa daripada Obsidian Sentinel, bergema dari lorong yang selama ini ditatap Kinry. Kinry segera berdiri, pipa besinya menyala redup karena Mana yang dipaksakan. Ia melihat orang-orang yang mulai panik. “Semuanya, masuk ke dalam gubuk batu! Jiro, siapkan granat asap! Terea, kumpulkan Mana di gerbang utama!” perintah Kinry dengan suara yang menggelegar, menghilangkan ketakutan di hati mereka. Ia berdiri di garis terdepan, menatap lorong gelap itu. Di tangannya, ia memegang botol terbaru dari *Corruption of the Saint*—yang kali ini ia campur dengan kristal mineral dari jantung *dungeon*. “Ayo, tunjukkan dirimu,” bisik Kinry. “Aku sudah membangun rumah di sini, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan pemilik tempat ini sekalipun, mengusirku atau orang-orangku.” Di bawah tanah yang dalam, di tengah musim dingin sistem yang mematikan, peradaban kecil itu berdiri di balik punggung seorang pria yang dulunya dianggap sampah. Kinry masih merasa cemas, ia masih merasa tidak adil, dan ia masih merasa dunia ini b******k. Namun, saat Terea berdiri di sampingnya dengan tongkat sihirnya, Kinry tahu satu hal. Dia bukan lagi sekadar penyintas. Dia adalah pelindung. Dan bagi seorang manusia yang telah lama kehilangan segalanya, memiliki sesuatu yang layak untuk dilindungi adalah kekuatan yang lebih besar daripada bakat apa pun yang bisa diberikan oleh sistem. “Kita belum menaklukkan tempat ini,” ucap Kinry pada Terea. “Tapi kita akan membuatnya menyesal karena membiarkan kita masuk.” Gelap di lorong itu mulai bergerak. Sesuatu yang besar sedang mendekat. Namun di dalam pemukiman kecil itu, lampu-lampu listrik buatan Kinry tetap menyala terang, simbol dari peradaban kecil yang menolak untuk mati di tengah musim dingin yang abadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD