20. Tau yang terusik

1338 Words
Di puncak dunia yang membeku, di dalam benteng kristal yang dikenal sebagai **Aethelgard**, Aries berdiri di balkon utama yang dilindungi oleh kubah sihir transparan. Di luar sana, Musim Dingin Sistem sedang mengamuk dengan beringas. Salju abu-abu yang turun bukan lagi sekadar kepingan es, melainkan partikel kode yang rusak yang mampu membekukan Mana hingga ke akar-akarnya. Aries, sang Pahlawan dengan zirah emas yang tak pernah luntur cahayanya, menatap hamparan putih di bawah sana dengan raut wajah masam. Kelompoknya, **The Sun-Eaters**, baru saja kembali dari ekspedisi pembersihan Menara Ketiga. Mereka berhasil, tentu saja. Namun, harganya sangat mahal. Tiga ksatria elitnya mati membeku karena pelindung sihir mereka pecah, dan puluhan lainnya menderita luka permanen akibat radang dingin sistem. "Dunia ini semakin tidak stabil," gumam Aries. Suaranya rendah, namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Sistem ini ingin menyaring yang lemah, tapi bahkan yang kuat pun mulai merasa sesak." Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar. Valerius masuk dengan langkah tergesa, wajahnya pucat pasi, dan zirahnya yang biasanya mengkilap kini tampak kusam. "Aries-sama," ucap Valerius sambil berlutut. "Kami baru saja menerima laporan dari unit intelijen yang beroperasi di wilayah perbatasan Zona Luar sebelum badai besar kemarin mengisolasi segalanya." Aries menoleh perlahan. "Kabar buruk lagi?" "Ini tentang... si hama itu. Kinry," jawab Valerius dengan nada benci yang tertahan. Aries mengerutkan kening. Nama itu terasa seperti noda kecil di dalam ingatannya yang agung. "Si penyintas sampah itu? Bukankah seharusnya dia sudah menjadi patung es di selokannya? Levelnya bahkan tidak cukup untuk menahan udara malam di musim normal." "Itulah masalahnya, Tuan," Valerius menelan ludah. "Laporan terakhir menyebutkan bahwa Kinry tidak hanya selamat, tetapi dia memimpin sekelompok pembangkang—orang-orang buangan yang gagal—masuk ke dalam *The Weeping Vault*. Dan yang lebih mustahil lagi... mereka tidak mati." Aries terdiam sejenak. Matanya menyipit. "The Weeping Vault? Dungeon level tinggi yang bahkan belum kita sentuh karena anomali suhunya? Kau bercanda, Valerius." "Kami menemukan sisa-sisa pos penjagaan kita yang hancur di dekat sana. Bukan oleh monster, tapi oleh ledakan kimia dan racun yang sangat mirip dengan pola serangan Kinry. Warga desa di sekitar sana membicarakan tentang sebuah 'Peradaban Bawah Tanah'. Mereka bilang si sampah itu menciptakan cahaya listrik dari rongsokan dan menyembuhkan penyakit dengan jamur-jamur aneh. Mereka menyebutnya... *The Alchemist of the Depths*." ### Ego yang Terusik Tawa rendah keluar dari tenggorokan Aries. Itu bukan tawa kebahagiaan, melainkan tawa predator yang merasa terhina. Bagi Aries, dunia ini adalah panggungnya. Segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan skenario yang ia bangun. Dia adalah pusat dari sistem ini, matahari yang memberikan cahaya. Mendengar bahwa seorang "sampah" tanpa bakat bisa menciptakan perlindungan yang lebih stabil daripada benteng kristalnya di tengah Musim Dingin Sistem adalah sebuah tamparan keras bagi egonya. "Jadi, sementara ksatria-ksatriaku mati karena kedinginan di atas sini, seekor kecoak membangun sarang yang hangat di bawah tanah?" Aries berjalan mendekati Valerius, tekanan Mana-nya mulai memenuhi ruangan hingga membuat meja-meja kayu berderit. "Dia menggunakan *Dungeon* yang belum takluk sebagai rumah? Itu bukan hanya penghinaan terhadapku, tapi penghinaan terhadap hukum Sistem." Aries mengepalkan tangannya. Ia ingat bagaimana Kinry menghina pengikutnya tempo hari. Ia mengira itu hanya gonggongan anjing liar yang sekarat. Namun kini, anjing liar itu ternyata telah membangun bentengnya sendiri. "Jika dia benar-benar menemukan cara untuk menstabilkan suhu dan menciptakan energi di dalam *Dungeon* tanpa bantuan berkat cahaya," ucap Aries, "maka dia memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar keberuntungan. Dia memiliki rahasia eksploitasi Sistem yang tidak kita miliki." ### Ambisi dan Kebencian Aries menyadari satu hal penting. Jika berita ini menyebar ke rakyat jelata dan petualang kelas bawah lainnya, otoritasnya akan hancur. Orang-orang akan mulai bertanya: *Kenapa kita harus mengabdi pada Aries yang sombong jika si 'sampah' Kinry bisa memberikan tempat tinggal yang lebih aman dan hangat?* Loyalitas di dunia RPG ini dibangun atas dasar keamanan dan kekuatan. Jika Kinry bisa menawarkan keamanan, maka Kinry adalah ancaman politik terbesar bagi Aries. "Kita butuh tempat itu," ucap Aries tiba-tiba. Valerius mendongak terkejut. "Tuan? Tapi badai salju di permukaan sangat gila. Mengirim pasukan ke sana sekarang adalah bunuh diri." "Bukan jika kita menggunakan 'Orb of Helios' untuk membelah badai," balas Aries dengan mata berkilat ambisi. "Dengarkan aku, Valerius. Kita tidak hanya akan membunuh Kinry. Kita akan mengambil alih peradaban kecilnya. Jika dia bisa membangun generator dari rongsokan, bayangkan apa yang bisa kita bangun dengan sumber daya kita di dalam dungeon yang hangat itu." Aries melihat ini sebagai peluang. *The Weeping Vault* bukan hanya tempat persembunyian; itu adalah lokasi strategis untuk bertahan dari musim dingin yang tidak tahu kapan akan berakhir. Dan bagi Aries, tidak ada tempat di dunia ini yang boleh dimiliki oleh orang lain jika tempat itu berguna baginya. "Pahlawan selalu butuh tempat yang layak untuk beristirahat," kata Aries sambil tersenyum kejam. "Dan Kinry hanyalah seorang tukang kebun yang telah merapikan tempat tidur untukku. Sudah saatnya kita menagih 'pajak' atas tanah yang dia tempati." ### Persiapan Perburuan Sang Pahlawan Aries mulai memberikan perintah dengan cepat. Ia tidak akan meremehkan Kinry lagi. Jika Kinry bisa menjatuhkan unit elit dengan racun, maka ia akan membawa *Purification Squad*—orang-orang dengan resistensi racun tertinggi dan sihir pelindung tingkat dewa. "Siapkan unit ke-7 dan ke-9," perintah Aries. "Kita akan berangkat dalam tiga hari. Aku ingin melihat wajah si 'Penyintas' itu saat dia menyadari bahwa semua yang dia bangun dengan susah payah hanya akan menjadi fondasi bagi kemuliaanku." Di dalam hatinya, Aries juga penasaran dengan koin hitam yang dilaporkan Valerius. Sebagai pemain peringkat atas, ia memiliki insting bahwa koin itu adalah *Item Unik* yang seharusnya menjadi miliknya. Ia merasa bahwa Sistem telah melakukan kesalahan dengan memberikan benda itu pada Kinry. "Sampah tetaplah sampah," gumam Aries sambil menatap peta wilayah yang kini tertutup lapisan es. "Kau mungkin bisa bertahan di dalam lumpur, Kinry. Tapi saat matahari datang ke liangmu, lumpur itu akan mengering dan pecah." Aries merasa sangat tidak adil bahwa seorang seperti Kinry—yang tidak memiliki silsilah heroik, tidak memiliki *skill* estetis, dan hanya mengandalkan trik kotor—bisa mendapatkan rasa hormat dari warga desa dan kelompok pelarian. Aries adalah pahlawan yang dipilih oleh Sistem, dan dia tidak akan membiarkan seorang pengganggu mengacaukan narasi sucinya. ### Bayang-bayang di Bawah Tanah Sementara itu, jauh di bawah tanah, di dalam kehangatan *The Weeping Vault*, Kinry sedang memperbaiki salah satu turbinnya. Ia tiba-tiba merinding hebat. Bukan karena dingin, tapi karena insting penyintasnya berteriak bahwa predator paling berbahaya di dunia ini baru saja mencium jejaknya. Kinry berhenti bekerja, menatap langit-langit gua yang berbatu. "Dunia ini benar-benar tidak pernah membiarkanku bernapas, ya?" bisiknya pada kegelapan. Terea, yang sedang mengatur distribusi makanan, mendekatinya. "Ada apa, Kinry? Kau terlihat pucat." "Matahari akan segera turun ke sini, Terea," jawab Kinry dengan suara yang berat. "Dan saat dia datang, dia tidak membawa kehangatan. Dia membawa api yang akan membakar semua yang kita bangun." Kinry mengepalkan tangannya di pipa besi yang ia pegang. Ia tahu, egonya Aries adalah musuh yang jauh lebih sulit dihadapi daripada monster *dungeon* mana pun. Aries bukan hanya kuat dalam hal level, tapi dia memiliki legitimasi sebagai "Pahlawan". "Aku hanya ingin bertahan hidup," gerutu Kinry, tawa pahitnya kembali terdengar. "Aku harus melawan monster, melawan musim dingin, dan sekarang aku harus melawan simbol harapan umat manusia hanya karena aku ingin tidur di tempat yang hangat. Benar-benar hidup yang sampah." Kinry berdiri, wajahnya kini dipenuhi keteguhan yang gelap. Ia tidak akan membiarkan Terea dan kelompoknya menjadi korban ego Aries. Jika Aries ingin merebut rumah mereka, maka Kinry akan memastikan pahlawan itu harus berjalan melewati sungai racun yang paling dalam yang pernah diciptakan manusia. "Terea, beri tahu semua orang," ucap Kinry. "Berhenti membangun gubuk. Mulailah membangun jebakan. Tamu agung kita akan segera datang, dan aku ingin menyambutnya dengan penyembuhan yang tidak akan pernah dia lupakan." Di atas sana, badai mengamuk di bawah perintah Aries. Di bawah sini, Kinry mulai meracik racun terakhirnya. Pertemuan antara Cahaya yang Sombong dan Sampah yang Bertahan Hidup tidak bisa lagi dihindari. Dan bagi Kinry, ini bukan lagi tentang level. Ini tentang membuktikan bahwa seekor kecoak di bawah tanah bisa membuat matahari sekalipun tersedak oleh kotorannya sendiri. "Selamat datang di liangku, Aries," desis Kinry. "Mari kita lihat, seberapa suci cahaya kalian saat terendam dalam lumpurku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD