Penolakan

1007 Words
"Apa?" Yasmin terbelalak saat baru saja mendengar pernyataan dari sang ayah. Terlalu dalam luka yang menyayat hatinya sehingga tidak bisa dilupakan begitu saja. Namun, kenapa Frans justru membuatnya makin terluka dengan keputusan yang secara sepihak. Bahkan di saat dia masih belum bisa menetralkan perasaannya sendiri. Sejak tiga hari lalu, Frans memang tidak mengajaknya berbicara. Mungkin karena kekecewaan yang begitu besar padanya dan juga Arya. Namun, kali ini dia tidak menyangka jika kedatangan sang ayah ke kamarnya, hanya untuk menyampaikan hal yang di luar dugaan dan tidak pernah terbayangkan sedikit pun dalam benaknya. "Ya, demi kebaikan kita semua," ucap Frans dengan nada rendah. Kini Frans duduk di bibir Ranjang, berhadapan dengan Yasmin yang sedari tadi masih duduk bersandar. Sementara itu, di samping Yasmin tampak Sri yang setia mendapingi sambil terus mengelus puncak kepala putrinya. Dari tatapannya dapat dipastikan bahwa Frans juga sangat terluka melihat putrinya yang tampak rapuh menghadapi kenyataan pahit ini. Namun, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membebaskan putrinya dari keterpurukan. "Kebaikan apa, Yah? Mana mungkin Yasmin bisa baik-baik saja menikah dengan orang yang tidak Yasmin cintai," jelas Yasmin berusaha memberi pengertian. "Cinta itu urusan belakangan. Kalau kalian sudah hidup bersama, lama kelamaan cinta itu juga akan tumbuh. Percayalah pada Ayah." Frans tetap berusaha membujuk Yasmin yang masih bersikeras menolak keputusannya. Ya, tentu saja Yasmin menolak. Bahkan wanita mana pun pasti akan menolak jika dijodohkan secara tiba-tiba dengan pria asing yang tidak mereka cintai. Bukankah pernikahan itu bukan hal yang main-main dan tidak bisa dipermainkan. Lantas, bagaimana dia akan menjalani pernikahan dengan serius tanpa beban, jika yang menjadi pendamping hidupnya adalah orang asing yang tidak pernah diharapkan kemunculannya di waktu yang tidak tepat seperti ini? Tidakkah itu justru akan semakin memperburuk keadaan? Bagaimana bisa ayahnya berpikir semudah itu? Melupakan orang yang sudah lama menemani hari-harinya, tentu tidak mudah bagi Yasmin. Apakah mungkin dia akan mudah jatuh cinta pada pria lain, hanya karena sering menghabiskan waktu bersama? Ah, itu terlalu klise bagi seorang Yasmin Mahliqa Tarigan, yang nyatanya tidak mudah utnuk jatuh cinta. Namun, sekalinya itu terjadi. Dia juga tidak akan mudah melupakannya, seperti yang tengah dialami saat ini pada Arya. "Tapi, Yah ... Yasmin enggak mau menikah dengan orang itu—" "Namanya Ghibran, Yasmin. Dia punya nama, jangan memanggilnya seperti itu!" pungkas Frans penuh penekanan. "Maaf, Yah." Yasmin menunduk sejenak, menghindari tatapan sarkastis yang dilemparkan Frans padanya. "Tapi, Yasmin benar-benar tidak mau menikah dengan lelaki lain. Tidak apa-apa Yasmin batal menikah dengan Mas Arya, asal jangan jodohkan Yasmin dengan siapa pun Yah," pinta Yasmin masih berusaha menolak. Nadanya sedikit berat karena ragu dan takut jika sang ayah akan marah kembali padanya. "Kamu setuju atau tidak, Ayah tetap akan menjodohkanmu dengan Nak Ghibran, anak dari Almarhum sahabat baik Ayah!" tegas Frans, tidak peduli dengan penolakan dari Yasmin. "Hanya itu satu-satunya cara, agar keluarga kita tidak menaggung malu, karena perbuatan mantan kekasihmu yang tidak bertanggung jawab itu!" Lagi-lagi Frans mengumpat Arya di depan putrinya. Hal itu sungguh membuat Yasmin makin terluka. Arya yang dia kenal sesungguhnya, tidaklah seperti yang ayahnya tuduhkan. Pria itu sangat baik dan bertanggung jawab. Namun, entah kenapa kali ini dia melakukan kesalahan besar di luar dugaan, seolah-olah ada sesuatu yang tengah disembunyikan darinya. Berbeda dengan Yasmin. Dari awal Frans justru sudah mencium sesuatu yang tidak beres dengan Arya. Namun, Yasmin tetap bersikeras dan percaya bahwa Arya adalah pria baik-baik, tidak seperti yang dituduhkan olehnya. Hingga membuatnya bingung harus bagaiman caranya mencegah hubungan mereka, setelah beberapa upaya telah dilakukan. Namun, nyatanya Yasmin tidak pernah mengerti kekhawatirannya. "Lagi pula, dari kecil kalian memang sudah kami jodohkan, jadi ini waktu yang tepat sekali," sambung Frans sebelum Yasmin menanggapi. "Sekarang ganti pakaianmu dan temui calon suamimu di depan!" Frans bangkit, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu, meninggalkan istri dan putrinya. Bahkan dia tidak peduli dengan isak tangis Yasmin yang kembali memecah karena ulahnya. "Bu, bagaimana ini? Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu, Bu. Aku mohon, lakukanlah sesuatu." Yasmin langsung memeluk Sri yang masih setia duduk di sampinganya. Menyampaikan semua keluh kesah yang tengah mengganggu pikirannya saat ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bagaimana mungkin dia mampu menghadapi dua kenyataan pahit sekaligus, dalam waktu bersamaan. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu sudah berusaha membujuk ayahmu, tapi kamu tahu sendiri bagaimana watak Ayah. Ikhlaskan semuanya dan turuti kemauan Beliau. Ibu yakin, lelaki yang dipilihkan Ayah untukmu adalah lelaki baik-baik," balas Sri yang masih berusaha menenangkan dengan cara mengelus puncak kepala purtrinya. "Tapi, Bu—" "Ayah sangat menyayangimu, Nak. Tidak mungkin Beliau mau menghancurkan putrinya sendiri," potong Sri yang berhasil membuat Yasmin bungkam. Yasmin makin terisak mendengar ucapan sang ibu. Apakah sungguh ini jalan terakhir yang harus dia tempuh, sebagai baktinya kepada orang tua? "Dek, kamu yang sabar, ya," lirih Nana yang tiba-tiba muncul di sana dan duduk berhadapan dengan ibunya. Dipeluknya tubuh sang adik yang masih berada dalam dekapan ibunya. Ikut merasakan bagaimana terpukulnya Yasmin saat ini. Dia tidak menyangka jika kedatangannya ke rumah itu kali ini, hanya untuk melihat adegan mengharu biru keluarganya. Tidak tega? Tentu. Namun, apalah daya. Tidak ada satu pun yang bisa melawan ataupun mencegah takdir Tuhan. Bukankah kejadian yang dilalui adiknya juga sebagian daripada takdir? Ah, berdosakah jika dia menyebut bahwa takdir itu begitu kejam untuk adik dan orang tuanya? "A-aku harus bagaimana, Bu, Mbak?" tanya Yasmin dengan isak yang tak tertahankan. "Ikhlaskan," jawab Nana seraya mengusap punggung adiknya. Dia tidak menyangka ternyata ini yang dimaksud ucapan suaminya tadi siang. Sungguh ini akan membuat Yasmin makin terpuruk. Rasa khawatir dan pikiran negatif pun kembali memenuhi isi kepalanya. Bagaimana jika Yasmin melakukan hal yang tidak diinginkan karena masalah ini? 'Tidak! Yasmin tidak mungkin melakukan itu!' gumam Nana, berusaha menepis kembali pikiran negatifnya. "Tuhan itu memberi apa yang kita butuhkan, bukan memberi apa yang kita inginkan. Jadi, yakinlah apa pun yang kamu hadapi saat ini adalah jalan terbaik untukmu, Dek. Pasti akan ada rencana terindah Tuhan di balik kejadian ini," tutur Nana kembali menasihati. "Ibu sudah mengenal Nak Ghibran, kok. Dia lelaki yang baik. Ibu yakin dia bisa memperlakukanmu dengan baik juga," timpal ibunya yang juga berusaha memberi pengertian. Hingga akhirnya, Yasmin tersadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD