Yasmin masih duduk bersandar di atas tempat tidur dengan kaki yang berselonjor. Dia menatap kosong ke sembarang arah dengah wajah yang tampak kacau. Ditangannya terdapat sebuah figura berisi potret kebersamaannya dengan sang mantan kekasih.
Ya, sejak tiga hari lalu, dia memang selalu seperti itu. Mengurung diri di kamar sambil menangis sesenggukan. Meratapi nasib yang nyaris menghilangkan akal sehatnya. Bagaimana tidak? Sungguh ini terlalu berat untuk dia lalui begitu saja, tanpa merasa ada beban.
Sakit rasanya harus merelakan orang terkasih tanpa alasan yang jelas. Belum lagi keluarga dari Arya yang juga tidak kunjung menemui keluarganya, meski sekadar meminta maaf atau memberi penjelasan. Informasi terakhir yang dia dapatkan dari sang kakak ipar, justru makin membuatnya hilang kesempatan.
Arya dan keluarganya telah pindah rumah, entah ke mana. Bukankah mereka seperti sengaja ingin mempermainkan Yasmin dan keluarganya?
"Dek, mau sampai kapan kamu kayak gini?"
Kemunculan Nana berhasil membuat Yasmin menoleh sejenak. Entah sejak kapan sang kakak berdiri di sampingnya, tepat di depan nakas. Dia kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke sembarang arah, tanpa berniat menanggapi sang kakak.
Nana duduk di bibir ranjang, tepat di samping Yasmin. Ditatapnya sayu wajah Yasmin yang terlihat sangat berantakan. Bibir pucat dan mata menghitam, menunjukkan betapa rapuhnya sang adik saat ini. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan, selain hanya memberi dukungan.
"Mbak bawain makan siang untukmu. Mbak suapin kamu ya, Dek," lirih Nana seraya tersenyum tipis.
Diraihnya piring berisi makanan yang sengaja dia bawa untuk Yasmin. Tampak nasi, rendang daging dan kentang balado yang mengisi penuh piring itu.
"Lihat, nih, Mbak masak rendang kesukaan kamu. Kamu cobain, deh. Pasti kamu suka," bujuk Nana bak kepada seorang anak kecil.
Tidak berpengaruh sama sekali. Yasmin masih tetap bergeming, bahkan ketika Nana sudah menyodorkan satu sendok makanan itu ke mulutnya.
Nana menghela napas berat. Lagi-lagi dia harus gagal membujuk sang adik untuk makan, setelah usaha tadi pagi pun gagal.
"Dek, Mbak tahu apa yang sedang kamu hadapi saat ini. Berat. Pasti sangat berat. Tapi, kamu enggak bisa kayak gini terus. Apa kamu tidak kasihan sama Ibu yang setiap hari mikirin kamu? Mikirin masalah ini?" tutur Nana seraya menatap serius wajah Yasmin yang masih fokus ke arah lain.
"Ayah, Ibu, Mbak, dan Mas Zacky. Kita juga sangat kecewa dengan dengan keputusan Arya, bukan cuma kamu—"
"Tapi tetap saja, aku yang paling kecewa di sini!" tukas Yasmin seraya menatap nanar wajah Nana. Sepertinya dia mulai terpancing dengan ucapan sang kakak. Pertahanannya kembali runtuh. Air mata pun seketika membanjiri pipi dengan begitu derasnya.
Nana meletakkan kembali piring itu di atas nakas, lalu meraih figura dari tangan Yasmin, menyingkirkannya ke sembarang arah.
"Kakak tahu. Tanpa kamu jelasin pun, kami semua tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tapi kamu juga harus berpikir logis. Enggak bisa terus-terusan larut dalam kekecewaan. Percayalah, Allah enggak akan ngasih ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Bukankah kamu sendiri yang selalu ingetin Mbak? Sekarang giliran kamu yang ingetin diri kamu sendiri. Semua masalah yang sedang kita hadapi, pasti akan ada jalan keluarnya."
Nasihat panjang lebar yang Nana ucapkan berhasil membuat hati Yasmin bergetar, bahkan seketika isak tangisnya pun melemah.
"Semua orang di rumah ini percaya bahwa kamu adalah wanita yang kuat dan akan mampu menghadapi semua masalah ini. Ingat! Tuhan enggak pernah tidur dan kami di sini akan selalu ada untuk kamu dalam keadaan apa pun," lirih Nana seraya menyeka air mata Yasmin. Bibirnya tampak melengkung membentuk senyuman, sengaja berusaha menenangkan Yasmin.
"Aku masih enggak percaya kenapa Mas Arya begitu tega sama aku." Yasmin berkata dengan sedikit terbata-bata.
Lagi-lagi Nana membalas dengan senyuman. Kali ini dia meraih tangan Yasmin yang tampak putih mulus, tanpa cacat sedikit pun. Dingin. Itulah yang dia rasakan dari tangan adiknya. Mungkin karena tidak adanya asupan makan yang masuk ke tubuh Yasmin seharian ini. Bahkan hari-hari sebelumnya pun, Yasmin hanya makan sedikit. Itu pun karena dipaksa.
"Pasti ada hikmah di balik semua ini, Dek. Kamu boleh menangis, tetapi jangan pernah menyesali pertemuan dan kebersamaan kalian. Kamu harus selalu ingat bahwa setiap pertemuan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita, pasti memiliki makna." Nana memandang adik semata wayangnya itu. Memberikan pelukan hangat untuk membuat Yasmin merasa lebih tenang.
"Tapi aku enggak kuat menghadapi semua ini," desis wanita itu seraya menggeleng pelan.
"Kamu itu wanita terpilih, Dek. Kalau kamu enggak kuat, Tuhan enggak akan milih kamu untuk menghadapi semua ini." Nana berusaha menguatkan adiknya.
Yasmin tampak menoleh kepada Nana sesaat. Lalu, kembali meraih figura yang tadi diletakkan oleh wanita itu di sampingnya. Dia mengusap perlahan potret kebersamaan dengan sang mantan kekasih menggunakan jung-ujung jari, sambil membayangkan setiap detik kebersamaan yang telah mereka lalui.
"Aku enggak akan bisa hidup tanpa Mas Arya, Kak."
Nana tersenyum lembut, menatap kedua pipi tirus sang adik. Pandangan mereka tampak terkunci beberapa saat. "Pasti bisa. Sebelum bertemu dengannya kamu bisa hidup, kali ini pun pasti bisa. Ingatlah selalu kalau kamu enggak sendiri. Ada Mbak, Ibu, dan Ayah, yang akan selalu setia menemanimu dalam kondisi apa pun."
"Kenapa takdirku sangat buruk, Mbak?" Tubuh Yasmin kembali bergetar. Cucuran air mata lagi-lagi membasahi pipinya.
"Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Boleh jadi, apa yang sangat kita inginkan bukanlah yang terbaik menurut-Nya. Kadang pula kita menolak sesuatu, tetapi hal itu justru baik untuk kita. Jangan menilai takdir dari potongan-potongan kecil sebuah kejadian, Dek. Takdir adalah suatu kisah lengkap dan bukannya potongan sebuah episode kehidupan. Jika nanti kamu telah menemukan hikmah di balik semua ini, yakinlah kamu akan berterima kasih kepada-Nya."
Hening mendominasi beberapa saat. Tidak ada yang memulai percakapan. Mereka hanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Kamu harus semangat, demi dirimu sendiri. Waktu akan tetap berjalan apa pun keadaanmu." Perkataan Nana menyadarkan Yasmin. Ya, apa pun yang terjadi padanya, waktu tidak akan pernah menunggunya untuk kembali baik-baik saja. Hidup bukan hanya tentang Arya. Masih banyak cita-cita yang belum dia raih. Begitu banyak pula angan yang belum terwujudkan.
"Sekarang kamu makan dulu, ya? Biar kamu punya tenaga untuk menghadapi semuanya. Bagaimana kamu bisa menghadapi dunia, kalau kamu sendiri malah sakit?"
Yasmin mengangguk perlahan setelah berpikir beberapa saat. Mungkin beberapa suap makanan bisa membuatnya sedikit lebih kuat untuk menghadapi kenyataan. Untuk memikirkan hal yang harus dilakukan memang butuh tenaga. Terlebih lagi untuk memikirkan sang mantan kekasih, tentunya butuh tenaga yang lebih besar lagi.
Bahkan, jika sakit pun dia tetap akan memikirkannya. Namun, bedanya bukan hanya hati tetapi raganya pun akan tersiksa. Lebih dari itu keluarga yang sangat menyayanginya pun akan ikut menderita melihatnya merana dan menyakiti diri sendiri.
Nana kembali menyodorkan sesendok makanan. Yasmin pun membuka mulut meski tidak lebar. Suapan demi suapan berhasil memasuki rongga mulut wanita itu, walau hanya sebatas ujung sendok. Dia tetap bersyukur setidaknya sang adik telah bersedia untuk makan.
Nana meraih segelas air di atas nakas . Meminumkan dengan hati-hati kepada Yasmin. Lalu, kembali meneruskan menyuapi sang adik.
Namun, untuk suapan yang ke lima kali, Yasmin tiba-tiba mengangkat tangan dan menghalau sendok berisi makanan yang diarahkan Nana kepadanya. Dia menggeleng perlahan, sebagai tanda bahwa sudah tidak lagi menginginkan makanan itu.
Nana melihat ke arah piring yang dipegang. Masih tersisa separuh makanan di sana.
"Tapi ...." Nana masih ingin membujuknya, tetapi terpaksa dia urungkan. Setidaknya sang adik bersedia untuk makan, meski tidak banyak. "Baiklah. Kamu istirahat lagi, ya. Mbak mau beresin ini dulu," imbuhnya seraya mengangkat gelas dan piring yang masih berisi sisa makanan.
Nana kembali memandang adiknya sesaat, sebelum memutuskan untuk melangkahkan kaki, meninggalkan ruangan itu. Senyumnya kembali mengembang. Setelah itu dia berlalu dari sana dan menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
"Gimana? Dia mau makan?" tanya Zacky yang tiba-tiba menghampiri Nana, saat baru saja menutup pintu.
"Nih, sisa segini, Mas." Nana sedikit mengangkat nampan, seolah-olah sengaja ingin menunjukkan pada sang suami sisa makanan itu.
Zacky menghela napas berat, lalu menggeleng pelan beberapa kali. "Malang sekali nasib adikmu, Yank," ucapnya memasang ekspresi memelas.
"Iya, Mas. Kasihan banget dia. Aku jadi enggak tega lihatnya. Baru kali ini dia sesedih itu," lirih Nana dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, ikut merasakan rasa sakit yang tengah diderita adiknya.
Sosok adik yang sebelumnya selalu terlihat ceria. Kali ini justru berbanding terbalik 180°. Bagaimana Nana tidak khawatir melihat semua itu. Dalam sekejap, masalah ini seakan-akan merampas seluruh kebahagiaan adiknya.
"Ya, semoga Yasmin diberi kekuatan menghadapi kenyataan ini," balas Zacky.
"Aamiin." Nana mengalihkan nampan itu ke sebelah kiri, sementara tangan kanan tampak mengusap lembut wajahnyan. "Tapi aku tetap khawatir kalau terjadi sesuatu sama Yasmin," imbuhnya seraya menyandarkan punggung di dinding sebelah pintu kamar sang adik.
"Aku malah lebih khawatir, kalau Ayah benar-benar ...." Zacky memutus ucapannya, dengan alasan tidak ingin membuat sang istri makin khawatir.
"Benar-benar apa, Mas?" Nana menegakkan kembali badannya dan menatap Zacky penuh tanya. Sungguh dia belum bisa menebak ke mana ucapan suaminya akan bermuara.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirin. Nanti kamu ikut stres lagi," balas Zacky yang justru membuat sang istri makin penasaran.
"Ah, Mas ... bilang dulu. Benar-benar apa?" Nana menarik ulur lengan suaminya sambil merengek manja.
"Bukan apa-apa," balas Zacky yang berhasil membuat sang istri memberengutkan wajah. "Aku lapar, Sayang," rengeknya seraya mengusap perut, sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
"Kamu nyebelin, Mas!" Nana mengentakkan kakinya dan langsung berlalu dari hadapan sang suami. "Apa-apaan coba, bikin orang penasaran aja!" gerutunya sambil melangkah menuju dapur.
Sementara itu, Zacky yang mengekori di belakang, hanya tersenyum memerhatikan kelakuan sang istri.