Engahan napas yang begitu memburu, membuat Kenneth semakin merasakan kesakitan pada perut bawah bagian kanannya. Sedari tadi, ia memegangi itu sembari terus berlari menghindari kejaran 2 orang lelaki yang memiliki tubuh gagah perkasa.
Meskipun, Kenneth tidak kalah gagahnya, ia baru saja kalah dalam perkelahian. Yang mana, ia baru saja diserang oleh beberapa orang sehingga mengakibatkan luka tusuk yang cukup dalam di bagian tubuhnya itu.
Karena merasa tidak sanggup lagi untuk berlari, Kenneth lantas bersembunyi di balik tembok bangunan terbengkalai yang cukup gelap.
Keheningan pun terjadi, hingga 2 orang lelaki yang mengejarnya tadi melewatinya. Setelah itu, barulah Kenneth mengembuskan napasnya – sedikit lega.
Kenneth mengangkat sedikit bajunya untuk melihat seberapa dalam luka tusuknya.
“Kenapa mereka menyerang begitu tiba-tiba? Apa ada yang memata-mataiku sampai membuat mereka tahu kalau aku sedang di luar sendirian?” tanya Kenneth pada dirinya sendiri.
Sepasang sepati boots yang memiliki heels sedikit tinggi berada di depan pandangannya. Kenneth lantas menaikkan pandangannya untuk melihat siapa pemiliknya.
‘Tuan, kamu terluka. Apa perlu bantuan?” tanya gadis pemilik sorai coklat bergelombang di hadapannya.
Kenneth perlahan menaikkan tangannya, memberikan isyarat untuk membantunya berdiri.
Gadis itu pun menarik Kenneth dengan sekuat tenaga yang ia punya. Hingga Kenneth berdiri dengan bertopang pada gadis yang memiliki postur tubuh hampir 2 kali lebih kecil darinya itu.
Gadis itu terkejut ketika melihat kemeja putih Kenneth terdapat darah segar yang cukup banyak.
“Aku harus membawamu ke rumah sakit!”
Sekalipun tergopoh-gopoh memapah Kenneth, gadis itu seperti tak menyerah. Ia membawa Kenneth ke tempat dirinya memarkirkan mobilnya.
Setibanya di sana, gadis itu memasukkan Kenneth ke bagian kursi belakang mobil – ia merebahkan Kenneth di sana.
Sepanjang perjalanan, Kenneth sudah tidak bergerak lagi. Gadis itu hanya bisa berdoa agar nyawa lelaki yang masih asing baginya itu selamat.
***
“Apa?! Anakku baru saja diserang?!”
“Iya, Bu. Kami sudah menggeledah tempat penyerangan itu. Hanya saja...”
“Hanya saja apa?!”
“Tuan Kenneth tidak ditemukan di sana. Kami hanya menemukan mobilnya di jarak beberapa meter.”
“Telfon dia!”
“Kalau bisa, sudah sedari tadi kami lakukan, Bu. Masalahnya, ponsel Tuan Kenneth berada di dalam mobilnya.”
“Geledah isi kota! Anakku harus ditemukan!”
“Baik, Bu.”
***
“Baru kali ini, saya menemukan Tuan Kenneth datang kemari dengan dibawa oleh seorang gadis.”
“Saya baru bangun dan kamu langsung mengajukan kalimat itu?!”
“Tuan Kenneth tidak boleh terlalu bersemangat. Luka anda, masih basah.”
“Di mana gadis itu?”
“Sebenarnya, setelah mengantar Tuan Kenneth semalam, dia tidak langsung pergi. Dia yang mengurus segala prosedur rumah sakit. Gadis itu...baru saja pergi pagi tadi. Semalaman, dia tidur di samping ranjang Tuan Kenneth.”
Tidak heran jika Kenneth akrab dengan dokter di rumah sakit tempat dirinya dibawa oleh gadis yang semalam menemuinya. Sebab, Kenneth memang acap kali bolak-balik ke sana untuk membalut lukanya setelah berkelahi.
“Di mana ponselmu?” tanya Kenneth pada dokter itu.
Tanpa berkata, dokter itu memberikan ponselnya kepada Kenneth.
Kenneth pun memasukkan nomor telfon sang Ibu di ponsel dokter itu dan menelponnya.
Tidak lama setelah Kenneth menelpon, seorang wanita paruh baya memasuki area rumah sakit dengan langkah yang begitu tergesa – diikuti oleh 8 orang laki-laki bertubuh kekar di belakangnya.
“Ya Tuhan!”
Pekikan itu mengisi seisi ruang inap Kenneth. Yang mana, bahkan tanpa melihat orangnya, Kenneth tahu siapa pelakunya.
“Sudah Mama katakan kalau kamu tidak boleh berkeliaran sendirian,” ucap wanita paruh baya yang baru selesai memekik memanggil nama Tuhan itu. Ia tidak lain adalah Mamanya Kenneth.
“Aku juga pengin waktu sendiri, Ma. Nggak harus sama mereka terus,” tegas Kenneth.
“Lihatlah. Setiap kali kamu berkeliaran sendiri, kamu selalu berakhir di ranjang ini, Ken,” ucap sang Mama lagi. “Mama masih ingin menggendong cucu dari kamu,” sambungnya.
Kemudian, wanita paruh baya itu pergi meninggalkan ruang inap Kenneth dan berjalan menuju ruang dokter yang menangani anak sulungnya itu.
“Setelah hampir 3 bulan tidak berjumpa, akhirnya saya dipertemukan dengan Nyonya Besar lagi,” ucap Erwin. Dokter yang semalam menangani seluruh luka-luka Kenneth. “Silakan duduk, Nyonya Casandra,” ujarnya mempersilakan.
Wanita paruh baya itu pun duduk di bangku yang ada di hadapan Erwin. Ia menatap setiap inci wajah dokter berusia 30 tahun itu.
Kecurigaan muncul di wajah puan bernama Casandra ini.
Bagaimana tidak?
Meskipun sudah kurang-lebih 3 bulan tidak berjumpa dengan Erwin, Casandra tahu betul bagaimana gelagat dokter ini jika bertemu dengannya.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Casandra sembari mengeluarkan segepok uang berjumlah 10 juta dari dalam tas berkulit buaya miliknya.
“Sepertinya, penantian Nyonya akan berakhir,” ucap Erwin sembari menarik pelan gepokan uang yang diletakkan Mamanya Kenneth di atas meja kerjanya itu.
“Maksud kau?” tanya Casandra keheranan.
“Setelah sekian lama, Nyonya memakai saya untuk menjadi dokter pribadi. Baru kali ini saya melihat Tuan muda diantarkan oleh seorang gadis,” ungkap Erwin.
Erwin pun mengeluarkan ponsel dari saku seragam putihnya. Ia mengutak-atik benda persegi panjang itu sebentar sebelum memerintahkan kepada Casandra agar membuka ponselnya juga.
“Itu adalah rekaman CCTV semalam yang sudah saya kumpulkan,” ungkap Erwin. “Dari CCTV depan rumah sakit – tempat mereka turun dari mobil. Sampai dengan gadis itu mengantar Tuan muda dengan begitu tulusnya sampai ke UGD,” pungkasnya.
“Dalam waktu sehari ini, kumpulkan semua informasi tentang gadis ini,” perintah Casandra pada salah satu pengawalnya.
Pengawalnya itu mengangguk tegas – tanda menerima tugas dari Nyonya besarnya.
“Ingat, Nyonya. Saya berkontribusi besar dalam keluarga kalian,” ujar Erwin. “Maka, jika mereka berjodoh, kalian harus membawanya ke hadapan saya untuk memperkenalkannya,” sambungnya.
“Mana mungkin saya melupakan hal itu,” sahut Casandra.
***
Sebuah video dikirim ke ponsel milik Kenneth. Ia bergegas membuka video itu dan menontonnya.
“Ternyata, semalam bukan mimpi. Hal yang tidak pernah terbayang di benakku pun, akhirnya terjadi,” gumam Kenneth.
Mendengar suara langkah berhenti di depan pintu ruang inapnya, Kenneth bergegas menghentikan tontonannya.
“Permisi, Tuan,” ucap seorang pria bertubuh kekar yang baru saja memasuki ruang inap lelaki ini.
“Donald! Saya pikir siapa tadi!” kesal Kenneth.
“Maaf, Tuan,” sesal Donald.
Donald tidak lain adalah seseorang yang sudah bekerja begitu lama dengan Kenneth. Bahkan, sedari mereka masih duduk di bangku sekolah. Donald sudah berada di bawah naungan keluarga Kenneth. Bisa dikatakan, Donald menjadi orang kepercayaan Kenneth meskipun jarak usia mereka hanya terpaut 3 tahun saja.
“Nyonya sedang mengerahkan orang-orang untuk mencari informasi tentang gadis yang membawa Tuan semalam,” ungkap Donald.
“Bukankah itu bagus?” tanya Kenneth. “Jadi, saya tidak perlu bekerja keras mencarinya sendiri,” ujarnya.
Ucapan itu, membuat kening Donald berkerut sempurna.
Bagaimana tidak?
Selama ia mengenal Kenneth, ia tidak pernah berpisah dengan Kenneth sehari pun. Hingga membuatnya mengetahui, bahwa Kenneth tidak mudah untuk didekati atau bahkan mendekati seorang perempuan.
“Tapi...kenapa Mama mencari informasinya?” tanya Kenneth.
“Tuan muda tetaplah Tuan Muda. Yang mana, jika sehabis terluka, maka jalan pikirannya ada sedikit hambatan.”